jump to navigation

Misteri Kecerdasan Otak dan Hati 10 December 2013

Posted by decazuha in Artikel.
Tags: , , , , ,
trackback

Misteri-Kecerdasan-Otak-dan-HatiSecara umum, struktur otak terbagi menjadi tiga; bagian depan, tengah dan belakang. Adapun mengenai proses berfikir, itu terpusat pada otak bagian depan atau lobus frontalis. Di sinilah tempat proses mengonsep, menganalis dan membuat perencanan. Kecerdasan otak juga dipengaruhi oleh ukuran besar-kecilnya otak. Sehingga volume dan banyaknya lekukan pada otak, akan sangat mempengaruhi bagaimana memori lebih lama dan lebih mudah disimpan. Faktor cerdas-tidaknya seseorang, sangat dipengaruhi pula faktor genetik atau faktor bawaan sejak lahir.

Menurut DR. dr. Hj. Siti Nur Asiyah, M.Ag, selain otak sebagai tempat berfikir, tentunya bagian tubuh lain saling ikut bersinergi. Tetapi untuk proses berfikir, memang hanya ada di otak – meski otak dalam bekerja tidak sendiri. “Jadi ketika otak melakukan proses berfikir, menganalisa, dia butuh organ lain,” jelasnya.

Namun demikian, berbicara kecerdasan tentu harus dibatasi kecerdasan yang mana dulu. Sebab saat ini sudah ditemukan kecerdasan intelektual, kecerdasan emosi dan kecerdasan spiritual. Kecerdasan intelektual berada di lobus frontalis. Kalau kecerdasan lain tentu berbeda letaknya – meski sama-sama di otak. Seperti halnya emosi lebih banyak diperankan oleh bagian otak yang namanya sistem limbik. Sedangkan mengenai persepsi, itu sudah masuk area kognitif.

Tentang god spot, lanjut wanita kelahiran Gresik 27 September 1972 ini, terdapat pada lobus temporalis yang terletak di bagian kanan dan kiri samping. Itu berdampingan dengan wilayah yang menjadi pusat pendengaran. Dengan god spot inilah, seseorang bisa memahami ketuhanan. “Jadi terkait aspek-aspek spiritual dan metafisik, itu berada pada wilayah kerja lobus temporalis,” terangnya.

Meski demikian, tutur doktor jebolan Universitas Airlangga tahun 2010 ini, dalam kehidupan persentase pemanfaatan tiga kecerdasan tersebut tentu tidak dengan harga mati. Artinya tidak bisa dilihat hitam putih. Jadi perilaku seseorang itu dipengaruhi ketiga kecerdasan tersebut, yang persentasenya tidak bisa diangkakan secara tegas. “Jadi tergantung bagaimana pembiasaan seseorang itu dalam menggunakan kecerdsan-kecerdasan yang dimiliki,” simpulnya.

Untuk mempertajam kecerdasan, sambung dosen Akademi Analisis Kesehatan YPM Sidoarjo ini, tentu dibutuhkan latihan mempertajam kemampuan kognitif. Jadi perlu perlu pembiasaan untuk mengoptimalkan daya fikir yang dimiliki otak. Terkait penelitian bahwa ternyata IQ hanya menyumbang 10-30 persen dalam kehidupan seseorang, menurutnya, itu tergantung penelitian dilakukan dalam kondisi seperti apa. Tetapi secara umum, antara individu satu dengan individu lain itu sangat variatif. “Jadi, tidak bisa digeneralisir,” tukasnya singkat.

Di sisi lain, dalam teks sebuah hadits ada term ‘qalb’ atau hati. Tentu saja ada yang menyepakati, bahwa itu tak berkaitan dengan neurologi tapi berhubungan dengan anatomi tubuh. Jadi memang ada perbedaan pemaknaan antara hati dalam term agama dengan hati yang dimaksud dalam konteks kedokteran.

Dalam kedokteran, hati yang dimaksud adalah organ liver. Tapi kalau hati dalam konteks agama itu masih debatable. Tetapi ‘qalb’ dalam pengetian liver sepertinya tidak pas. Ada pula yang mengartikan ‘qalb’ sebagai jantung. Ini sedikit relevan. Sebab jantung – kalau dihubungkan dengan fisiologi – berfungsi untuk memompa darah ke seluruh tubuh.

Jika aliran darah yang diwarnai dengan nilai ketuhanan – dalam bahasa al-Ghazali, tentu dia akan menggiring pada perilaku yang baik. Jadi sebenarnya kehidupan itu banyak ditentukan oleh bagaimana jantung itu bisa memompa darah ke seluruh tubuh. Jika jantung berhenti tentu kehidupan juga terancam berhenti.

Didalam sebuah hadits juga disebutkan ada kalimat ‘istafti qalbak’. Artinya ada anjuran untuk meminta jawaban kepada hati. Menurut Siti Nur Asiyah, kalau hal itu ditarik pada organ yang mana tentu sulit. Sebab hati dalam konteks itu mengarah pada aspek spiritual dan keilmuan. Tetapi jika dikaitkan dengan organ jantung tadi – karena jantung adalah poros kehidupan, makna istafti qalbak’ sebenarnya mengandung makna filosofis. “Jadi tak selalu harus dimaknai tekstual,” pintanya.

Jika ‘qalb’ dimintai pertimbangan, ungkap Dokter Klinik IAIN Sunan Ampel ini, berarti qalb juga memiliki daya berfikir seperti halnya otak. Tapi tentu saja hati yang dimaksud itu bukan hati dalam konteks kedokteran yang dimaknai liver. “Saya tidak tahu persis. Tapi hati dalam konteks liver itu punya fungsi yang sangat banyak perannya dalam mekanisme yang terjadi di dalam tubuh,” urainya.

Nah, kalau redaksi hadis istafti qalbak dikaitkan dengan liver, maka mungkin makna filosofis yang didapat dari situ adalah bagaimana orang bisa memiliki peran yang cukup kompleks sesuai dengan kompetensinya. “Apakah seperti itu? Asbabul wurud haditsnya saya masih kurang paham,” akunya jujur. “Cuma memang jika dikaitkan dengan organ, bisa ke otak atau jantung atau bahkan ke liver. Jadi tergantung kita memaknai apa yang dimaksud dengan redaksi hadits tadi,” kilahnya.

Hanya yang perlu digarisbawahi, katanya mengingatkan, bahwa objek otak itu tak sebatas pada hal-hal yang material. Sebab otak juga mampu mengabtraksikan sesuatu yang immaterial. Peran ini juga dimiliki oleh otak pada lobus frontalis tadi. “Jadi objek otak selain material juga non-material. Maka sangat pas jika SQ itu bersarang di otak,” tandasnya.

Hingga kini, sambungnya, para ahli belum menemukan ruang kecerdasan selain otak. Sejauh ini, bahwa itu adalah titik yang dimiiki kemampuan orang bisa menangkap pengetahuan tentang Tuhan yang kemudian dinamakan god spot. Peneriman kebenaran agama dan keimanan pun terletak di titik ini.

Dalam Islam, tutur dr. Muhammad Thohir, SpKJ, ternyata kecerdasan intelektual (IQ) sangat penting. Ini disinyalir dari banyaknya ayat-ayat kauniyah yang bertebaran di berbagai surat. Ayat-ayat yang merangsang kecerdasan lebih banyak dari pada ayat-ayat ahkam.

Artinya, ada perhatian besar Islam mendorong umatnya untuk menumbuhkembangkan kecerdasannya. Ayat hukum itu mungkin tak lebih dari 100. Tapi ayat kauniyah yang merangsang manusia untuk memperhatikan dan berfikir tentang semesta itu lebih dari 1000 ayat. “Ini tentu demi merangsang IQ. Betapa Allah mementingkan memberikan rangsangan otak manusia untuk berfikir, berfikir, dan berfikir,” simpulnya.

Tapi ada kecerdasan yang lebih penting dari kecerdasan intelektual, yaitu kecerdasan emosional (EQ) yang intinya adalah kesadaran dan pengendalian diri dan lingkungan. Itu rumus umumnya. Orang pintar, tapi kecerdasan emosinya jelek, tentu tidak banyak bermanfaat.  Meski demikian ada yang paling penting, yaitu kecerdasan spiritual (SQ).

Menurut Ketua Yayasan Pesantren Nurul Qur’an al-Basyuni Peneleh Surabaya ini, jika ada rangsangan yang bersifat ketuhanan, rangsangan yang bersifat ukhrawi, maupun masalah yang bersifat supra inderawi termasuk di dalamnya kejujuran, kebenanaran dan kepedulian, itu berasal dari satu nokta di lobus temporalis yang disebut god spot. Semakin banyak dirangsang akan semakin besar.

Di dalam al-Quran pada surah al-A’raf ayat 172 disebutkan: “Dan (ingatlah), ketika Tuhanmu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berfirman): Bukankah aku ini Tuhanmu? Mereka menjawab: Betul (Engkau Tuban kami), Kami menjadi saksi. (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan: Sesungguhnya Kami (Bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini (keesaan Tuhan).”

Di sini dijelaskan, ternyata sejak dari pertemuan sperma dan ovum hingga proses pembelahan sel menjadi kromosom-kromosom dan seterusnya, telah memiliki akad fundamental dari kecerdasan spiritual. Sebab saat petama kali proses kejadian manusia di rahim hal pertama yang didapatkan, adalah akidah tauhid. “Nah, baru ketika lahir dituntun untuk belajar. Nasib tauhidnya seperti apa? Tergantung lingkungan, pendidikan, orang tua, adat budaya. Maka fitrah tauhid itu tumbuh berkembang atau terhijab,” ungkapnya.

Tolok ukur kesuksesan seorang, bagi Wakil Ketua Yayasan RSI Surabaya ini, sangatlah ditentukan oleh otak. Namun demikian, orang yang IQnya tinggi tapi EQ dan SQnya rendah, maka dia akan menjadi orang yang penting tapi tak memiliki interaksi sosial. Ada juga orang yang IQnya di bawah standar, maka emosinya tidak bisa dikembangkan dengan baik. Dalam Islam, orang seperti itu tidak ada hukum atau tidak mukallaf. Hukum hanya bagi orang yang sudah baligh dan berakal.

Tentu saja yang baik adalah ketiga kecerdsan tadi tinggi. Ini yang namanya memperoleh puncak kebermaknaan. Jadi, tandas pria kelahiran Surabaya 26 Maret 1943 ini, kita harus melatih IQ terus sambil mengembangkan EQ dan SQ. “Saking petingnya IQ, al-Qur’an mengingatkan wala takunanna minal jahilin. Janganlah menjadi orang bodoh. Sebab itu menyebabkan tidak bisa berkembang,” tegasnya.

Maka al-Qur’an sangat menekankan pengembangan IQ, EQ dan SQ. Seperti disebutkan dalam surat Ali Imron ayat 190-191, dimana Rasulullah sempat menangis semalaman saat turunnya ayat ini. Ayat pertama dari firman tersebut sudah mengajak berpikir untuk melihat semesta dan isinya. Setelah itu lalu berdzikir yang ditutup dengan berpikir lagi. “Ini menunjukkan kapasitas kecerdasan itu harus beriringan antara IQ, EQ dan SQ. Ketika tiga kecerdasan ini sampai pncaknya, maka dia akan mencapai the ultimate meaning atau pucak kebermaknaan,” terangnya.

Dalam ilmu kejiwaan, tutur suami Dra. Hj. Diana Cholidah ini, faktor penunjang kesuksesan itu bisa berupa semangat dan ada visi ke depan. Ketika hal itu tumbuh, maka seluruh potensi akan dikerahkan menuju ke sana. Hanya saja, tak semua hal yang ada dalam diri manusia bisa dibuka seluruhnya. Masih banyak yang misteri. God spot memang sudah diketemukan. Namun untuk keberlanjutannya, hingga kini kita belum tahu.

Penulis buku ‘Sepuluh Langkah Menuju Jiwa Sehat’ ini memaparkan, bahwa Hadits yang berkenaan dengan qalb itu adalah kalimat anatomis, fa’ali, dan bukan kalimat spiritual. Dalam tubuh ada organ liver. Kalau dia baik, maka seluruh tubuh baik. Kalau tidak baik, maka tubuh juga tidak baik. “Jadi hati yang dimaksud merujuk pada organ pencernaan. Jadi bukan organ berfikir. Organ berfikir hanya di otak,” katanya menandaskan.

Di otak banyak pusat-pusat berfikir, mengingat, pusat merancang, pusat reaksi. Bahkan IQ, EQ dan SQ semua itu di otak. Kata aql dalam al-Qur’an juga merujuk pada otak. Tapi kadang ada yang bersifat simbolik seperti hati nurani. Hati nurani itu fitrah. Dan fitrah sendiri adalah akidah tauhid. Ilmu yang dibawah manusia sejak di dalam kandungan adalah tauhid. “Hanya saja, bisa saja setelah dilahirkan ilmu bawaan ini tidak berkembang atau terhijab yang disebabkan beberapa faktor seperti lingkungan, pendidikan, tradisi budaya,” urainya.

Orang berempati, lanjut penulis buku ‘Ayat-ayat Tauhid’ ini, juga ada di otak. Sebab pikiran itu ada di otak. Hanya saja, memang data ini sebagian besar belum terungkap. Para ahli syaraf saja, hingga saat ini belum mampu mengungkap secara detil. Selama ini otak hanya diketahui secara anatomisnya saja.

Sedangkan yang mikro anatomis (susunan terkecil tak bisa dilihat mata) belum banyak terungkap. Mikro anatominya yang terkait fungsi-fungsi, histologi (ilmu jaringan syaraf yang mengarah pada mikro anatomi), hormonalnya, keseimbangan neuro transmiternya, itu semua lebih banyak yang belum terungkap misterinya. “Tapi justru itu yang harus dikejar terus. Semakin banyak yang kita tahu, semakin tahu ketidaktahuan kita.,” tandasnya. “Maka wajar jika semua potensi kecerdasan ditumpuhkan di otak. Sebab memang yang ditemukan masih sebatas itu. Dan menjadi tugas para ilmuwan, baik Muslim maupn non-Muslim, untuk menggalinya terus,” tambahnya. Ahmad Suprianto

Sumber: Majalah Jendela Santri Edisi Desember 2013

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: