jump to navigation

Menggagas Inteligensi Qur’ani 10 December 2013

Posted by decazuha in Artikel.
Tags: , , , , ,
trackback

Menggagas-Inteligensi-Qur'aniInteligensi, selama ini, hanya dipahami sebagai kecerdasan otak semata. Sedangkan masalah mentalitas dan spiritualitas, dianggap bukanlah hal yang berkaitan langsung dengan masalah inteligensi. Tapi menurut DR. Kharisuddin Aqib, M.Ag, rumusan tentang inteligensi tersebut bisa dirujuk pada konsep ulul albab.

Ciri-ciri ulul albab itu diungkapkan secara jelas oleh al-Qur’an dalam surah Ali Imran ayat 190-191. Di dalam ayat tersebut diisyaratkan, bahwa ulul albab itu adalah orang yang memiliki tiga potensi besar; potensi tadzakkur, potensi tafakkur, dan potensi amal shaleh. “Konsep ulul albab menurut para mufassir, khususnya al-Qosimy, yaitu dzu fikratin salimatin khalyatin ‘anil hawa. Yakni orang yang memiliki pemikiran sehat yang bebas dari pengaruh hawa nafsu,” tutur Mursyid Thariqah Qodiriyah wan Naqsabandiyah ini menerangkan. “Artinya, pemikirannya objektif,” tukasnya.

Pengasuh pondok pesantren terpadu Daru Ulil Albab, Kelutan-Ngeronggot-Nganjuk ini menjelaskan, bahwa ketiga hal itu bisa dijadikan sebagai pentahapan dalam membentuk kecerdasan ulul albab. Dengan begitu setiap orang bisa melatih diri untuk tadzakkur, tafakkur dan amal shaleh. “Jadi tahapannya adalah tadzakkur dulu, kemudian tafakkur, dan kemudian membiasakan amal,” jelasnya.

Dalam prakteknya, lanjur pria kelahiran Nganjuk 17 Juli 1968 ini, setiap kali akan melakukan amal shaleh, maka sebelum itu terlebih dahulu dilakukan aktivitas tadzakkur dan tafakkur. Jadi ketika mau melakukan sesuatu hendaknya mengingat Allah dulu, baru kemudian memikirkan teknik dan caranya. Setelah itu barulah berbuat.

Seorang ulul albab, kata suami Ninik Nurbani ini, akan memperoleh ilmu laduni. Sebagaimana yang dinyatakan pada sebuah hadits: ‘man ‘amila bima ‘alima ‘allamallahu ma lam ya’lam. Artinya, orang yang berbuat berdasarkan ilmunya itu nanti akan mendapatkan ilmu yang belum pernah dia pelajari. “Nah, inilah yang dikatakan sebagai ilmu laduni itu,” ucapnya singkat. “Jadi kuncinya itu dengan senantiasa mengingat Allah, selalu berkomunikasi dan connected denganNya,” tegasnya.

Menurut ayah lima anak ini, setiap pribadi memiliki potensi ilmu laduni. Namun sayangnya, tak banyak orang yang mau memfollowupi potensi tadzakkur. Padahal tadzakkur itu justru merupakan tahapan pertama dalam redaksi al-Qur’an. “Jika seseorang sudah merasa selalu bersama Tuhan, tentu saja tidak ada tindakannya yang keluar dari koridor syariat,” ujarnya.

Alhasil, simpul Kharisuddin Aqib, tiap orang punya potensi untuk menjadi seorang ulul albab. Sebab dengan tadzakkur dan tafakkur, tentulah kecerdasan spiritual dan emosional seseorang pasti berubah. Dengan keduanya, otomatis akan menata semua perangkat kecerdasan seperti IQ, EQ dan SQ. Jadi tinggal keterampilan badan yang harus diasah. Seperti tahajjud, pembiasaan belajar dan seterusnya. “Jika ingin melahirkan generasi ulul albab, maka ketiga komponen tersebut harus diaplikasikan,” tuturnya mengungkapkan.

Menurutnya, dari ketiga hal itu, semua ada ahlinya. Tadzakkur itu ahlinya para sufi, tafakkur itu ahlinya para filosof, taklim itu spesialisasi praktisi pendidikan. Meski agak sulit, seharusnya ada perpaduan antara para ahli dzikir, ahli pemikir dan praktisi. Artinya, konsep ulul albab yang tiga itu harus dibreakdown lagi menjadi lebih aplikatif. Semisal bagaimana berdzikir dengan benar, tentu hendaknya belajar kepada ahlinya. Begitupun untuk berpikir dan berketerampilan secara benar.

Menengok zaman kejayaan Islam, waktu itu banyak sekali lahir para ahli ilmu dengan spesialisasi keilmuan rangkap. Pada saat itulah, profil ideal generasi ulul albab atau kaum generalis tumbuh bak jamur di musim penghujan. Ini sangat berlainan dengan era sekarang yang sangat mengagung-agungkan para profesionalis dan spesialis, sementara kaum generalis justru terpinggirkan. Penyebabnya, lantaran saat ini kajian keilmuan masih bersifat fakultatif dan terkotak-kotak.

Padahal untuk melahirkan sosok ulul albab, seharusnya pendidikan saat ini tak mengenal lagi dikhotomi ilmu dan pembatasan bidang keilmuan. Analoginya seperti penggali sumur yang harus fokus pada titik galinya, agar sampai pada sumber mata air. “Jadi pendidikan itu harus selesai dan tuntas. Harus sampai pada filsafatnya hinga hakikatnya. Nah, ketika diketahui bahwa hakikat ilmu itu adalah Allah sendiri, baru bisa dikatakan rasikhuna fil ilmi (orang yang memiliki keilmuan mumpuni),” terangnya.

Kharisuddin menekankan, bahwa ulul albab itu sosok generalis. Sedangkan keilmuan yang berkembang saat ini adalah fakultatif. Nah, untuk memunculkan generasi ulul albab saat ini, maka para sarjana yang telah mendalami bidang keilmuannya masing-masing, tinggal menambah tadzakkurnya saja. “Jadi nantinya ada ulul albab tingkat S1, S2 dan S3, bahkan ulul albab tingkat profesor,” tukasnya sambil tersenyum simpul.

Target dari pendidikan Islam, menurut Prof. Dr. H. Ali Mudlofir, M.Ag, adalah akhlak. Sebagaimana tertera pada sebuah Hadits: “Innamaa bu’itstu liutammima makaarim al-akhlak.” Jadi pendidikan Islam itu adalah pendidikan berbasis karakter. Akhlak itu kata lain dari karakter.

Hanya saja, yang perlu digarisbawahi, akhlak itu bukan hanya sekedar soal sopan santun saja. Sebab akhlak itu sangat luas sekali. Akhlak terhadap diri sendiri, terhadap sesama manusia, terhadap alam, dan terpenting akhlak tehadap Allah SWT.

Akhlak pada diri sendiri, kata Dekan Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kependidikan UIN Sunan Ampel Surabaya ini, seperti menghargai potensi diri, bekerja keras, semangat ingin tahu, gemar membaca, senang ilmu pengetahuan, bertanggung jawab, mengembangkan kreativitas, berprestasi, menghargai karya orang lain dan seterusnya.

Al-Ghazali dalam banyak kitabnya menyatakan, bahwa tujuan akhir pendidikan itu adalah al-kamaala al-insaniyah (insan kamil). Insan kamil itu berpikiran cerdas, berbudi pekerti luhur, berakhlak mulia, memiliki keterampilan. aqliyah atau head (kecerdasan), khuluqiah atau heart (hati: spiritual dan emosional), serta sulukiyah atau hand (keterampilan).

Inteligensi, tutur pria kelahiran Ponorogo 16 Nopember 1963 ini, adalah merupakan bagian dari diri manusia. Inteligensi itu IQ, yang bertempat di otak. Maka simbolnya head. Kalau emosional dan spiritual disimbolkan dengan heart, karena tempatnya di hati. Lalu skill di hand, simbol dari perilaku nyata. “Kalau ditanyakan apakah pendidikan Islam sama dengan pendidikan karakter, itu tidak hanya cocok tapi itulah modal utama menuju insan kamil,” ujarnya.

Otak tersebut, sambung suami Siti Nurul Hidayah ini, hanyalah salah satu sumber penggali kebenaran. Dalam Islam itu ada bahasa hidayah, yaitu petunjuk ke arah yang benar. Dari yang paling dasar, adalah khawas (panca indera). Kalau yang logis, maka menggunakan hidayatul aql (otak). Yang paling tinggi – dan ini adalah suprarasional – dalam psikologi disebut metakognitif. Sesuatu yang tidak bisa dicerna oleh akal, maka dengan hidayatul ma’unah wa al-taufik. Ini telah disepakati oleh ulama’ sebagai yang paling tinggi. “Tidak semua orang yang tahu kebenaran itu melakukan kebenaran, kalau tidak mendapat hidayat ma’unah wa al-taufiq,” tegasnya

Namun demikian, ayah empat anak ini mengurai, bahwa otak yang cerdas tak mesti menumpulkan hati. Seperti penelitian yang dilakukan Yoception Institut, ternyata rata-rata anak-anak yang berkarakter bagus mendapatkan prestasi akademik yang tinggi. Ini menunjukkan, bahwa karakter emosional-spiritual yang bagus mampu mencerdaskan otak dan meningkatkan prestasi.

Seperti juga yang dilansir Thomas J. Neff and James M. Citrin, dalam bukunya ‘Lessons from The Top’. Di sana dijelaskan, bahwa 80 persen keberhasilan seseorang itu ditentukan oleh fakktor non intelektual (soft skill). Sementara faktor hard skill cuma 20 persen. “Kalau melihat hal itu, kan intelektual bukan faktor penentu,” kilahnya.

Lantas untuk menyingkronkan antara soft skill dengan hard skill? Menurut Guru Besar Pendidikan Agama Islam UIN Sunan Ampel ini, hal itu telah menjadi tugas pendidikan. Dunia pendidikan harus sanggup merangkum keduanya. Sehingga akhlak yang dicontohkan melalui emosional dan spiritual, haruslah melahirkan soft skill, karakter kepribadian. “Bukan liutammima al-‘aqla, menyempurnakan akal. Sebab biasanya akal melahirkan hard skill,” selahnya.

Paduan antara soft skill dan hard skill itulah, sehingga di masa kejayaan Islam memunculkan pada filosuf dan ilmuwan besar seperti Ibnu Sina, Ibnu Khaldun, Al-Farabi, Prof. Baiquni, Ismail Raji Al-Faruqi, Abdul Rahman, Iqbal dan lain sebagainya.

Orang-orang besar tersebut, lanjut pria yang menyelesaikan S2 dan S3nya di UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta ini, dalam hidupnya telah menemukan Tuhan. Dengan demikian, rasional bisa berpadu dengan suprarasional. Ketika otaknya sudah klimaks dan tidak menemukan solusi dengan otaknya, dia lari ke suprarasional. “Jadi puncak rasional itu bukan irrasional, tetapi suprarasional. Jika tak sampai mencapai suprarasional, berarti ada yang salah dalam proses berpikirnya,” simpulnya.

Namun sayangnya, Indonesia masih tertinggal. Di Barat sudah bukan eranya lagi rasionalisme, sementara kita masih mengagungkan rasionalitas. Maka untuk mengejar ketertinggalan itu, kita bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi informasi untuk bisa belajar dari dunia luar melalui internet.

Menurut alumnus Pesantren Al-Islam Ponorogo ini, saat ini pendidikan kita harus sudah mulai mengarah ke arah sana dengan menggabungkan antara Kompetensi Inti (KI) 1 iman dan takwa, KI 2 sikap sosial, KI 3 teori keilmuannya, dan KI 4 keterampilan.

Yang pasti, katanya, orang yang akhlaknya baik itu sangat mendukung bagi kecerdasan seseorang. Terbukti, anak-anak yang tengah menghafalkan al-Qur’an ternyata anak yang sainsnya bagus. Paling tidak itu sangat membantu pada tingkat hafalannya yang semakin cepat. “Ini menunjukkan, bahwa ada hubungan antara kognitif dan spiritualitas. Dengan kata lain, kecerdasan otak jika didorong oleh nilai spiritual akan terjadi lompatan yang luar biasa,” pungkasnya. Dedy Kurniawan, Ahmad Suprianto

Sumber: Majalah Jendela Santri Edisi Desember 2013

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: