jump to navigation

Mengaktifkan DNA Hati dan DNA Akal 10 December 2013

Posted by decazuha in Wawancara.
Tags: , , , , ,
trackback

Prof-Abdul-HarisMasalah kecerdasan memang masih menjadi sebuah perbincangan yang hangat. Perbincangan itu berporos pada kecerdasan otak dan inteligensi hati. Lantas, model kecerdasan manakah yang terpenting? Dan ke arus kecerdasan manakah kita mesti berpihak? Untuk mengungkap hal tersebut lebih jauh, Dedy Kurniawan menemui Ketua LP Maarif NU Jawa Timur Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag di rumahnya. Berikut petikan wawancara selengkapnya:

 

Apa definisi inteligensi menurut Anda?

Inteligensi itu adalah kecerdasan. Ada beragam kecerdasan antara lain kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional, maupun kecerdasan spiritual. Kalau menurut saya, inteligensi adalah kecerdasan untuk menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat.

Saat ini banyak dikembangkan pula keilmuan untuk memprediksi peristiwa yang akan terjadi di masa mendatang…

Saya kira itu termasuk bagian dari kecerdasan futuristik. Dengan menggunakan pendekatan keilmuan dan kaidah-kaidah tertentu, mereka bisa memprediksi hal-hal yang mungkin akan terjadi di masa mendatang. Tapi tetap dalam domain saintific, bukan paranormal. Misalnya untuk memprediksi kapan Gunung Sinabung bakal meletus. Itu kan ada indikator-indikatornya.

Dengan beragamnya problematika kehidupan yang begitu cepat dan tingkat kompleksitas permasalahan yang tinggi mendera seseorang, bukankah kecerdasan seperti itu lebih dibutuhkan untuk mewaspadai apa yang akan terjad di masa datang?

Saya kira iya. Penting untuk selalu melihat peluang dan tantangan yang bakal terjadi di masa depan. Orang yang maju itu akan senantiasa menatap ke masa depan, bukan masa lalu. Boleh menengok masa lalu, tapi hal itu dijadikan pelajaran (ibrah). Sebab al-Qur’an sendiri juga banyak menceritakan tentang masa lalu, tapi hal itu untuk membangun masa depan. Jadi saat ini, kita masuk ke dalam Tri Dimensional Kecerdasan: kecerdasan masa lalu yang diproyeksikan ke masa sekarang, dan masa kini yang diproyeksikan untuk masa depan. Jadi, antara masa lalu (past), masa kini (present) dan masa depan (future) tidak boleh lepas.

Lalu bagaimana Anda melihat banyaknya hadits Nabi SAW tentang masa depan yang diawali dengan redaksi ‘saya’ti zamanun’?

Itu adalah sebuah prediksi yang mendapat bimbingan dari Allah SWT. Sebab Nabi mendapati pengetahuan tentang itu, tidak terlepas dari in huwa illa wahyuyyuuha. Jadi pengetahuan semacam itu, bukan pada perolehan, tapi lebih banyak pada pemberian. Dengan informasi tentang masa depan itu, kita bisa mewaspadai dan menghindari apa-apa yang akan menjadi sebab terjadinya hal tersebut. Misalnya saja hadits Nabi tentang zaman akhir mendekati hari kiamat. Disebutkan salah satu tandanya, adalah dipanggilnya para ulama’ yang shaleh. Dengan itu, maka habis pula ilmu agama yang disertai dengan banyak bermunculannya ulama’ su’. Artinya, banyak lahir tokoh agama, tapi mereka tidak memiliki pengetahuan agama itu dengan sesungguhnya. Pesan hadits ini, agar umat Islam menjaga ulama’-ulama’ yang konsis dengan ilmunya.

Seakan-akan kecerdasan saintific dan kecerdasan suprarasional itu mesti bertentangan…

Pada hakikatnya, pengetahuan itu cuma satu. Apakah pengetahuan perolehan ataupun pengetahuan pemberian. Hanya cara mendapatkannya saja yang berbeda. Ada yang diberi tanpa usaha. Ada pula yang menemukan dengan usaha. Jadi tidak mungkin jika kebenaran saintific dan kebenaran supranatural (suprarasional) itu akan berbenturan. Hanya saja, memang seringkali kebenaran suprarasioanal itu tidak mudah didekati dengan logika akal. Karena akal tidak sampai menemukan pemahaman, maka seakan-akan antara saintific dan suprarasional itu bertentangan. Tapi ketika logika akal menjangkaunya, maka kebenaran antara keduanya pasti akan ketemu.

Dengan memerhatikan hasil produk kecerdasan, maka menurut Anda di mana letak sumber kecerdasan itu?

Beberapa pakar inteligensi ada yang mengatakan, pusat kecerdasan itu berada di otak. Namun ada pula yang menyebut, bahwa sumber kecerdasan itu letaknya di hati. Tapi menurut saya, kecerdasan itu adalah hasil kerja otak dan hati. Keduanya tidak bisa saling dipisahkan. Jadi, akal itu tidak mungkin berjalan kalau tidak ada hati. Karena struktur jiwa, menurut Al-Ghazali, terdiri dari akal, nafsu, qalb dan ruh. Sementara Sigmund Freud membaginya menjadi tiga unsur yaitu id, ego dan super ego. Nah, kecerdasan itu dihasilkan dari kombinasi kinerja antara struktur jiwa tersebut. Jadi tidak mungkin, jika jiwanya rusak tapi akalnya cerdas. Andaikata itu terjadi, namanya Tahawur. Jika diartikan dalam bahasa Jawa, ya.. ngawur artinya. (tertawa)

Lantas, menurut Anda, kinerja otak yang memengaruhi hati atau energi hati yang memengaruhi otak?

Wilayah kerja otak itu menghasilkan nilai (value) berupa benar dan salah. Sedangkan ranah kerja hati menghasilkan kesimpulan baik atau buruk. Jadi, orang dikatakan cerdas itu bila dia telah melakukan sesuatu yang baik dan benar. Jika ada orang melakukan sesuatu dengan tepat dan benar tapi tidak baik, itu tidak bisa dikatakan cerdas. Sebab efek kecerdasan itu haruslah membawa nilai manfaat bagi kebaikan seluruh umat, di manapun dia berada.

Pada kenyataanya, memang banyak orang cerdas tapi rusak akhlaknya. Begitu sebaliknya, banyak orang yang khusu’ tapi tidak cerdas. Bagaimana menurut Anda?

Barangkali itulah yang dinamakan dengan kecerdasan tidak sempurna. Oleh karena itulah, saya mendefinisikan inteligensi itu sebagai kecerdasan untuk memecahkan problem. Tidak saja dengan cepat, tepat dan benar, tapi juga harus baik. Misalnya saja, ketika ada seseorang yang tengah dilanda krisis finansial, tapi dia menyelesaikannya dengan cara yang tidak benar, contohnya dengan merampok, korupsi dan lain sebagainya. Sepintas, permasalahannya memang terselesaikan. Tapi pada hakikatnya masalah yang diselesaikan dengan cara tidak baik, maka akan menimbulkan masalah baru lainnya. Sebab dengan cara itu, dirinya menjadi merasa berdosa, dikejar perasaan bersalah dan takut masuk penjara. Berarti ini tidak cerdas, karena ada sisi yang hilang yaitu pembersihan hati (qalb).

Bagaimana Anda memahami tentang al-‘ilmu nuurun?

Ilmu itu cahaya. Bahwa dengan ilmu, maka tampaklah mana yang benar dan mana yang salah. Dengan ilmu, maka jelaslah mana yang baik dan mana yang buruk. Kebeningan hati itu, sesungguhnya memang memberikan pengaruh terhadap tingkat kecerdasan seseorang. Nabi SAW pernah mengatakan, berhati-hatilah dengan firasat kaum mukmin. Mengapa demikian, karena orang mukmin itu mengalami pencerahan dengan ilmunya itu. Ini tidak hanya disinari oleh akal, tapi juga oleh hati. Terkait dengan pengetahuan perolehan, metode yang digunakan adalah tazkiyatun nafs (pembersihan jiwa). Imam Syafi’i suatu ketika pernah mengeluhkan tentang buruknya kekuatan hafalannya kepada gurunya, Kiai Waki’. Maka Kiai Waki’ menyuruh Imam Syafi’i untuk meninggalkan maksiat. Nah.. maksiat itu kan sangat berkaitan erat dengan hati. Untuk itu, kaitannya dengan al-‘ilmu nuurun, maka cahaya ilmu itu bisa masuk dalam diri seseorang jika tempatnya itu juga bersih dan bercahaya. Al-‘Ilmu nuurun wa nuurullaahi laa yahdii li’aashii; nur (ilmu) Allah itu tidak akan ditunjukkan kepada orang-orang yang terus-menerus berbuat maksiat (melakukan kedurhakaan kepada Tuhan). Jika ada orang yang mampu memperoleh banyak ilmu dari Tuhan, maka cahaya dalam dirinya itu cukup besar. Itulah konsep Islam, yang memandang ilmu itu tidak bebas nilai. Sementara pandangan Barat, ilmu itu bebas nilai.

Dengan kata lain, kita harus menyiapkan hati yang bersih dan luas sebagai wadah ilmu terlebih dahulu?

Em.. ada penyediaan kesiapan jiwa dan akal untuk memperoleh pengetahuan. Jika tidak, maka ketika seseorang akan melakukan research dan di dalam hatinya tidak terdapat cahaya Tuhan, boleh jadi dalam mengambil kesimpulan akan salah. Karena ada kepentingan pribadi. Padahal sebuah penelitian itu harus objektif. Nah, untuk menentukan kesimpulan yang objektif itu bergantung pada cahaya dalam hati. Jadi selain kita menyediakan hati dengan cukup melalui tazkiyatun nafs, otak kita juga harus dilatih agar memiliki keterampilan berpikir logis yang senantiasa dipandu oleh hati yang bening dan suci.

Selain untuk mengawal otak agar tidak berjalan menyimpang, apakah hati yang suci dapat pula mendorong lompatan kecerdasan otak?

Itu sangat dimungkinkan. Dalam khazanah keilmuan Islam itu ada yang namanya ilmu khudluri (ilmu pemberian) atau yang dalam tradisi pesantren disebut ilmu laduni. Ilmu itu didapat dari proses pembersihan jiwa dari faktor-faktor eksternal yang merusak jiwa. Kita perhatikan bagaimana ulama’ dahulu semisal al-Ghazali, al-Khawarizmi, Ibn Sina, Ibn Rusyd dan yang lainnya mampu membuat karya yang spektakuler hanya dalam kurun waktu yang singkat. Kalau dihitung karyanya saja dengan usianya, sangat tidak masuk akal jika mereka hanya mengandalkan kecerdasan rasional biasa tanpa ada keterlibatan hati yang suci. Di saat hati itu suci, maka akan ada banyak cahaya Allah yang muncul. Dan energi kesucian hati itulah yang mendorong otak melakukan lompatan kecerdasan yang luar biasa.

Apakah masa keemasan Islam seperti yang terjadi pada zaman Abasiah bisa kita ulang kembali?

Sangat mungkin dan saya yakin itu, meskipun harus ditempuh dengan jalan Kasab. Caranya, dengan melakukan tazkiyatun nafs sekaligus melatih nalar dengan maksimal. Jadi dari keduanya ada proses aktualisasi potensi yang maksimal. Dari proses itu diharapkan nanti akan lahir ilmu khudluri. Dalam QS. Ali ‘Imraan [3]: 191 disebutkan, “Alladziina yadzkuruunallaaha qiyaaman wa qu’uudan wa ‘alaa junuubihim wa yatafakkaruuna fii khalqissamaawaati wal ardl. Rabbanaa maa khalaqta haadzaa bathilan subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar.” Ayat ini menjelaskan, bahwa kita harus melakukan proses berdzikir dan berpikir secara bersamaan. Jadi belajar apa pun, baik itu matematika, fisika, kimia, biologi maupun keilmuan yang lain, tidak boleh lepas dari berdzikir. Sehingga dalam setiap kesempatan belajar, maka akan muncul kesadaran rabbanaa maa khalaqta haadzza bathilaa. Dan ujung dari hasil belajar itu harus mengarahkan pembelajar pada kekagumannya pada Allah dengan pernyataan, subhaanaka faqinaa ‘adzaabannaar. Sehingga pendidikan ke depan, memang harus diarahkan seperti itu.

Jadi dengan bertambahnya ilmu, bertambah pula keimanan seseorang?

Seharusnya begitu. Nabi pernah memperingatkan dengan keras dalam sebuat Haditsnya, “Manizdaada ‘ilman walam yazdad hudan, lam yazdad minallaahi illaa bu’dan.” Barangsiapa ilmunya bertambah namun hidayahnya tidak bertambah, maka tak kan menambahi dia kecuali jauhnya dari Allah. Nah.. barangkali inilah ruang kosong yang harus diisi oleh konsep pendidikan Islam, yaitu mempraktekkan proses pendidikan yang mengaktifkan DNA hati dan DNA akal.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: