jump to navigation

Jiwa Itu Tersimpan di Balik Otak 10 December 2013

Posted by decazuha in Wawancara.
Tags: ,
trackback

Agus-MustofaIr. Agus Mustofa banyak menulis buku, yang menghubungkan tasawuf dan sains modern. Banyak ide-ide pengetahuan yang selama ini jarang dikaji orang, tetapi berhasil diungkapkannya secara detil dan mendalam. Kepada Ahmad Suprianto dari ‘Jendela Santri’ pengasuh Kajian Tasawuf Modern ini mengurai soal inteligensi manusia. Yang menarik, dirinya mendekatinya melalui pilahan antara ruh, nafs dan jasad. Berikut petikan wawancaranya:

Anda mendefinisikan manusia terdiri dari tiga unsur; ruh, jiwa dan jasad. Bagaimana Anda menjelaskan hal tersebut?

Saya berangkat dari terminologi al-Qur’an terkait pembagian tersebut. Jika berangkat dari terminologi umum itu hanya terbagi menjadi dua; jiwa-raga, lahir-batin, tubuh-nyawa. Tapi al-Qur’an ternyata memilahnya ke dalam tiga bagian; jisim/jasad, jiwa/nafs-anfus, dan ruh. Secara saintifik, jasad terdiri dari organ. Organ terdiri dari jaringan sel. Sel terdiri dari molekul. Molekul terdiri dari atom dan seterusnya. Itu semua merupakan sesuatu yang material. Dan material itu benda mati.

Lalu korelasinya dengan jiwa?

Kalau kita analogikan dengan komputer, jasad itu ibarat hardware atau perangkat kerasnya. Tentu ada pentium satu, dua, dan seterusnya. Semakin hebat sirkuitnya, kian hebat chip atau otak komputer tersebut. Tapi perlu diingat, hadware itu adalah benda mati. Dan setiap benda itu memiliki energi. Nah, energi inilah yang disebut dengan jiwa. Karena Allah mencipta badan manusia itu berbeda-beda, maka energinya juga berbeda pula setiap orang. Energi itu tersimpan di balik otak. Jadi, otak adalah merupakan perbatasan antara badan dan jiwa.

 

Lantas dengan keberadaan ruh sendiri..

Badan dan jiwa itu benda mati, karena keduanya tak memliki kehendak sendiri. Jadi harus ada yang mengendalikan. Nah, ruhlah yang menghidupkan keduanya. Dengan kata lain, ruh adalah OS (operasional system). Ruh merupakan sifat-sifat ilahiah yang ditularkan kedalam skala makhluk. Maka ketika badan dan jiwa yang tadinya mati, ketika ditiupi ruh ketuhanan dia menjadi hidup. Begitu OS yang berupa ruh dimasukkan ke dalam jasad atau hardwarenya. maka jiwa mulai bisa dididik. Istilah komputernya bisa dimasuki program-program aplikasi. Itupun harus sesuai dengan hardwarenya.

Jadi.. ruh itu adalah sistem informasinya?

Iya. Setiap diri itu sudah menyimpan potensi ilahiah. Jika potensi itu bisa disalurkan ke luar, maka kita disebut sebagai orang yang mendekat kepada Allah. Tetapi konsep dekat di sini tidak seperti konsep dekat benda. Dalam al-Qur’an dijelaskan, bahwa Allah itu lebih dekat dari pada urat nadi. Artinya Tuhan itu lebih dekat dari sesuatu yang tak berjarak.

 

Dari uraian Anda bisa disimpulkan, bahwa dalam diri manusia itu sudah ada potensi kecerdasan, potensi kreativitas, serta potensi-potensi lain yang bersifat ilahiah. Dan setiap orang punya potensi yang sama..

Betul.

Lantas apa yang menyebabkan sehingga keluarnya berbeda-beda?

Taruhlah ada bola kaca yang bersinar, kemudian dilapisi dua lapis lagi bola kaca. Lapisan terdalam adalah ruh, lapisan kedua adalah jiwa, dan lapisan terluar adalah jasad. Jika lapisan di tengah yakni jiwa dikotori, maka cahaya dari inti bola kaca akan terhijab. Dalam hadits disebutkan, bahwa seitap kali seseorang berbuat dosa, itu menabung noda hitam di dalam jiwanya. Dengan demikian, maka potensi nuraninya, cahaya ruhiahnya tidak keluar lantaran terhalang oleh noktah dosa tadi. Nah, jika ingin mengeluarkan potensi ilahiah di dalam diri kita, cukup bersihkanlah jiwa. Akhlaknya diperbaiki. Maka dengan sendirinya potensi ilahiahnya itu keluar dengan sendirinya.

Tapi di dalam al-Qur’an kan disebutkan, bahwa jiwa itu punya potensi baik dan sekaligus buruk?

Itu artinya, ia bisa berubah kualitas. Bahwa jiwa itu bisa diupgrade atau di downgrade. Tapi ruh tidak. Ruh itu standar. Jadi menurut al-Qur’an, jiwa itu sebagai entitas yang bisa naik bisa turun. Sebab ada nafs al-ammarah (cenderung  emosional), nafs al-hawa (cenderung merusak), nafs al-lawwama (cenderug menyesali kesalahan), nafs al-mutmainnah (tenang). Jadi manusia itu asalnya netral. Kuncinya, kalau dirinya senantiasa menyucikan jiwanya, berarti dia akan menemui kemenangan. Tapi jika dia justru suka mengotorinya, maka hidupnya akan celaka.

Jadi intinya, senantiasa perbaikilah kualitas jiwa..

Benar. Sebab jiwa itu memilki fitur-fitur. Secara garis besar, ada fikir dan dzikir. Bagi orang yang mampu mengoptimalkan keduanya, al-Qur’an menjulukinya sebagai ulul albab. Inilah orang yang bisa mengambil pelajaran dalam arti subtansial. Sebab hatinya selalu berdzikir dan sanggup pula mendayagunakan perangkat berfikirnya untuk tafakkur secara ilmiah. Tafakkur itu ya kecerdasan intelektual atau IQ. Sedangkan tadzakuur itu lebih condong pada kecedasan emosional.

Tapi orang Barat kan sains dan teknologinya lebih canggih ketimbang kita?

Orang Barat lebih cenderung pada tafakkur. Tafakkur atau berfikir secara ilmiah itu komponennya ada yang disebut logika, rasionalitas, analisa, memori dan perangkat ilmiah yang empiris. Dengan perangkan tersebut mereka memang bisa membaca semesta, tapi hanya sebatas permukaannya saja yang bersifat materialistik. Nah, orang Barat yang menggunakan satu perangkat saja bisa luar biasa seperti itu. Alangkah indahnya jika kedua potensi tadi dipersandingkan secara mesra. Tentu akan memunculkan generasi ulul albab..

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: