jump to navigation

A. Hassan 10 December 2013

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Sosok Ulama’ Sang Pencerah Umat

MANAKIB_A-hassan-pendiri-Persis 1

Nama aslinya Hassan bin Ahmad. Tapi namanya lebih dikenal sebagai A. Hassan. Ketika tinggal di kota Bandung, orang menyebutnya dengan Hassan Bandung. Begitu pula saat menetap di Bangil, dirinya dikenal dengan sebutan Hassan Bangil. Ayahnya bernama Ahmad Sinna Vappu Maricar, yang berasal dari India. Dan ibunya bernama Muznah – yang kelahiran Surabaya – berasal dari Palekat, Madras.

Keduanya bertemu di Surabaya dan kemudian tinggal di Singapura. Disamping seorang pedagang, ayahnya yang keturunan ulama’ Mesir itu cukup ahli di bidang agama dan kepenulisan dalam bahasa Tamil. Di Singapura dia menjadi pemimpin surat kabar ‘Nurul Islam’, serta menerbitkan buku-buku keislaman.

Semasa kecil A. Hassan memperoleh pendidikan langsung dari ayahandanya. Disamping belajar di Sekolah Melayu, dirinya juga les privat bahasa; Melayu, Tamil, Arab dan Inggris. Sejak berusia 12 tahun sudah dididik dengan berbagai profesi. Mula-mula sebagai buruh di toko kain. Kemudian menjadi pedagang tekstil, permata dan minyak wangi. Lantas menjadi agen distribusi es, vulkanisir ban mobil, hingga guru bahasa Melayu, Inggris dan Arab untuk orang-orang India di beberapa tempat – di Arab Street, Baghdad Street dan Geylang di Singapura, serta menjadi guru tetap di Madrasah Assegaf.

Itulah yang membuat pria kelahiran Singapura tahun 1887 ini gemar berguru kepada banyak orang. Di antaranya adalah Haji Ahmad di Bukittiung, Muhammad Thaib di Minto Road, Said Abdullah al-Musawi al-Mausili, Abdul Latif (seorang ulama yang terkenal di Malaka dan Singapura), Syeikh Hassan al-Malabary dan Syeikh Ibrahim al-Hind. Semua itu ditempuh hingga dirinya berusia 23 tahun.

Meskipun pada masa tersebut A. Hassan belum memiliki pengetahuan luas tentang tafsīr, fiqh, fara‘id, manthiq dan ilmu-ilmu yang lain, namun dengan ilmu alat yang dimiliki dapat mengantarkannya untuk memperdalam pengetahuan agama secara otodidak. Penguasaan bahasa Arab, Inggris, Tamil, dan Melayu juga dapat digunakan dalam pengembaraan intelektualnya.

Pada masa itu dirinya telah membaca majalah Al-Manār yang diterbitkan Muhammad Rasyid Ridha di Mesir, serta majalah Al-Imām yang diterbitkan ulama’-ulama’ muda di Minangkabau. A. Hassan juga dengan tekun mengkaji kitab Al-Kafa‘ah karya Ahmad al-Syurkati, Bidāyat al-Mujtahid karya Ibnu Rusyd, Zad al-Ma‘ad karya Ibnu Qayyim al-Jawziyyah, Nayl al-Awthār karya Muhammad Ali al-Syawkaniy, dan Subul al-Salam karya al-Shan‘aniy. Bacaan-bacaan tersebut cukup mempengaruhi corak berpikirnya.

Yang menawan, A. Hassan diharapkan dapat meneruskan jejak ayahandanya sebagai penulis. Di usia remaja dirinya mulai aktif menulis. Pada tahun 1909, untuk pertama kali karyanya dipublikasikan. Tiga tahun berselang dia menjadi anggota redaksi surat kabar ‘Utusan Melayu’ yang diterbitkan Singapore Press.

Di saat itulah, dirinya banyak menulis tentang masalah agama seputar nasehat-nasehat, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemunkaran. Tulisan-tulisannya banyak mengandung kritik konstruktif, khususnya bagi kemajuan dan perkembangan umat Islam. Tak jarang pula dia menulis dalam bentuk puisi yang menyentuh. Profesi sebagai jurnalis ini diakhirinya pada tahun 1916.

Pada tahun 1921, dia hijrah dari Singapura ke Surabaya untuk meneruskan usaha tekstil milik pamannya. Di saat itulah dirinya menyaksikan pertikaian antara “kaum muda” dan “kaum tua” dalam masalah agama. “Kaum muda” melakukan gerakan pembaruan pemikiran Islam melalui tukar pikiran, tabligh, dan diskusi-diskusi keagamaan. Sedangkan “kaum tua” tetap mempertahankan pikiran keagamaan yang selama ini diyakininya.

Hal inilah yang mendorong A. Hassan kembali memperdalam masalah-masalah keagamaan. Dengan serius dipelajarinya al-Qur’an dan Hadits Sahih. Setelah dirinya merasa mantap, maka A. Hassan ikut bersuara dan berdiri dalam barisan “kaum muda”. Namun perdebatan di ‘kota pahlawan’ itu tak dapat diikutinya dalam waktu yang lama. Sebab di tahun 1924 harus berangkat ke Kediri untuk mempelajari keterampilan pertenunan. Kemudian melanjutkan ke sekolah pertenunan milik pemerintah di Bandung.

Di “kota kembang” A. Hassan tinggal bersama keluarga Muhammad Yunus – salah seorang pendiri organisasi Persis (Persatuan Islam). Setelah sering mengikuti pengajian-pengajian yang diselenggarakan organisasi tersebut, lantas menyatakan diri untuk bergabung dengan Pesis. Setelah diangkat menjadi guru agama di Persis, dia makin getol melakukan penelaahan dan pengkajian Islam. Dari sinilah, di kemudian hari – meskipun bukan sebagai pendiri – nama A. Hassan kerap diidentikkan dengan nama Persis.

Sebagai pembaharu terkemuka dari Persis, A. Hassan melakukan dakwah secara frontal. Sebab dirinya menganggap, bahwa umat Islam sudah menjadi beku dan mundur lantaran menyimpang dari ajaran al-Qur’an dan al-Hadis. Padahal, baginya, Islam itu sesuai tuntutan zaman dan tidak menghambat kemajuan zaman. Oleh karenanya, umat Islam harus terus mencari ilmu pengetahuan dan mengikuti perkembangan sains modern.

Itulah yang membuat A. Hassan kerap pula bergaul dengan tokoh-tokoh besar seperti HOS Tjokroaminoto, H. Agus Salim, AM Sangadji, Bakri Suroatmodjo, Wondoamiseno, Faqih Hasyim, Ahmad Syurkatiy, Mas Mansur, H. Munawar Chalil, Soekarno, Muhammad Maksum, Mahmud Aziz dan tokoh-tokoh lainnya. Itulah pasalnya, disamping A. Hassan dikenal sebagai ulama’ yang berpendirian teguh dan ahli dalam berbagai ilmu keagamaan, juga dikenal sebagai politikus ulung.

Meski demikian, di saat luang dia tetap meneruskan bakatnya sebagai penulis. Buah pena pertamanya yang mendapat sambutan luas masyarakat, adalah Tafsir al-Furqan. Di masa inilah, A. Hassan berkenalan dengan Soekarno dan M. Natsir. Bersama Natsir, dirinya kemudian menerbitkan majalah Pembela Islam dan Al-Lisan. Di kedua majalah inilah, A. Hassan memperlihatkan sosok dan kapasitas pribadinya sebagai pembela, pemurni, dan pembaharu Islam.

Semasa hidupnya A. Hassan banyak menelorkan karya-karya tulisan. Dalam bidang Al-Qur‘an dan Tafsir: Tafsir Al-Furqān, Tafsir Al-Hidāyah, Tafsir Surah Yāsīn, dan Kitab Tajwīd. Dalam bidang Hadis, Fiqh, dan Ushūl Fiqh: Soal Jawab: Tentang Berbagai Masalah Agama, Risalah Kudung, Pengajaran Shalat, Risalah Al-Fatihah, Risalah Haji, Risalah Zakāt, Risalah Riba, Risalah Ijma‘, Risalah Qiyas, Risalah Madzhab, Risalah Taqlīd, Al-Jawahir, Al-Burhan, Risalah Jum‘at, Hafalan, Tarjamah Bulūg al-Marām, Muqaddimah Ilmu Hadis dan Ushūl Fiqh, Ringkasan Islam dan Al-Fara‘idh.

Sedangkan di bidang Akhlaq: Hai Cucuku, Hai Putraku, Hai Putriku, Kesopanan Tinggi. Secara Islam. Dalam bidang Kristologi: Ketuhanan Yesus, Dosa-dosa Yesus, Bibel Lawan Bibel, Benarkah Isa Disalib?, Isa dan Agamanya. Dan dalam bidang Aqidah, Pemikiran Islam dan Umum: Islam dan Kebangsaan, Pemerintahan Cara Islam, Adakah Tuhan?, Membudakkan Pengertian Islam, What is Islam?, ABC Politik, Merebut Kekuasaan, Risalah Ahmadiyah, Topeng Dajjal, Al-Tauhid, Al-Iman, Hikmat dan Kilat, An-Nubuwwah, Al-‘Aqa’id, al-Munāzharah, Surat-surat Islam dari Endeh, Is Muhammad a True Prophet?

Dalam bidang Sejarah, A. Hassan menulis tentang Al-Mukhtār, Sejarah Isrā‘ Mi’rāj. Sedangkan di bidang Bahasa dan Kata Hikmat: Kamus Rampaian, Kamus Persamaan, Syair, First Step Before Learning English, Al-Hikam, Special Dictionary, Al-Nahwu, Kitab Tashrīf, Kamus Al-Bayān, dan lain-lain.

Itulah yang membuat namanya menjadi terkenal di pelosok Nusantara, Malaysia, bahkan Singapura. Ketika membela panji-panji ajaran Islam, A. Hassan tak hanya melakukannya lewat karya tulisan. Dirinya juga dikenal sebagai tokoh debat yang sangat piawai. Satu hal penting, dia tidak pernah memilih-milih lawan berdebat; siapa saja, kapan saja, dan dimana saja debat akan dilakoninya asal demi upaya menegakkaan ajaran Islam.

Berdebat dalam hal agama, bagi A. Hassan, bagaikan membebaskan katak dari kurungan tempurung. Dengan begitu dapat memberi kesempatan orang untuk memilah dan memilih kebenaran sejati. Dia menyadari kalau caranya ini tengah ditentang banyak orang. Namun dengan perdebatan itu dirinya berharap, agar orang dapat beragama secara cerdas dan jelas. Bagaimnapun juga Islam tidak boleh dipahami secara beku.

Yang menarik dari sikap A. Hassan, bahwa musuh dalam perdebatan bukanlah musuh orangnya. Itulah sebabnya, dirinya selalu menaruh hormat meski itu adalah musuh debatnya. Ketika mereka bertamu akan dilayaninya sebaik mungkin. Dan bagi yang melayangkan surat padanya, tiada pernah tak dibalasnya. Itulah yang membuat diri A. Hassan dijuluki “singa dalam tulisan, domba dalam pergaulan”.

Ahmad Hassan memang ahli dalam berbagai macam masalah agama. Beragam pertanyaan yang diajukan kepadanya, selalu dapat dijawabnya berikut dalil-dalil yang melandasinya. Dia mempunyai buku catatan mengenai hampir semua masalah agama. Setiap masalah disusun menurut abjad secara rapi. Dan dalam suatu perdebatan, dirinya hanya membawa buku catatan tersebut.

Pada tahun 1941, A. Hassan pindah ke Bangil dan mendirikan Pesantren Persis Bangil. Di sinilah dirinya semakin berkonsentrasi memperjuangkan pikirannya; dengan tetap mengajar, menulis buku, surat menyurat, serta menulis di majalah Himāyat al-Islām yang diterbitkannya. Disamping itu dirinya masih tetap bersemangat mengembangkan Persis, bertablig, berpolemik dan bahkan berdebat.

Sosok ulama’ sang pencerah umat itu, berpulang kerahmatullah pada hari Senin tanggal 10 Nopember 1958 pada umur 70 tahun dan dimakamkan di pekuburan Segok, Bangil. Hingga kini, karya-karyanya masih terasa memberikan warna dan pemahaman tersendiri kepada masyarakat tentang kesejatian Islam. Unas Khayyali/berbagai sumber

Sumber: Majalah Jendela Santri Edisi Desember 2013

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: