jump to navigation

Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag 22 November 2013

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
trackback

Menjawab Keresahan Bangsa dengan Tri Pusat Pendidikan

Ta'aruf_Prof.-Abdul-HarisMembaca garis takdir, memang tak segampang membalik telapak tangan. Sebab di balik setiap peristiwa, senantiasa terselip rahasia yang disembunyikan. Begitulah yang dirasakan Prof. Dr. H. Abd. Haris, M.Ag. Jauh sudah lelaki kelahiran Lamongan 21 Oktober 1962 ini mengarungi gelombang samudera kehidupan. Tapi teramat sedikit yang mampu dipahaminya secara pasti. “Hidup itu kan seperti puzzle. Kita tak akan benar-benar paham, jika kita tak menyatukan kepingan-kepingan pengalaman itu dalam sebuah bingkai,” ujarnya berfilosofi.

Dikala sedang sendiri, anak pasangan Paedjan dan Suparti ini pun kerap merenung. Dalam keheningan itu, dia mulai membuka lembaran-lembaran kisah sejarah hidupnya. Dengan penuh kehati-hatian, diejanya perlahan pengalaman demi pengalaman agar tak ada yang terlewatkan. “Saya coba mengurai dan mencari titik temu dari tiap persimpangan pengalaman itu,” ungkap pria bersahaja ini bagai menyulam puzzlepuzzle masa silamnya. “Dengan begitu, kita menjadi tahu posisi kita di mana dan harus melakukan apa,” simpulnya.

Ketika garis nasib menuntunnya menjadi seorang Guru Besar Filsafat Pendidikan Islam IAIN Sunan Ampel Surabaya, seolah baru tersadar tentang apa yang diinginkan Tuhan bagi dirinya. “Saat saya merenung dan mulai memahami, Tuhan seperti menuntun saya menyaksikan kembali slide film dari tiap episode perjalanan hidup mulai kecil hingga saat ini,” ucapnya takjub.

Episode awal-awal perjalanan hidupnya pun menggambar di kelopak mata. Masa-masa kecil saat dia hidup dan belajar di alam pedesaan Kalanganyar Kec. Karanggeneng Kab. Lamongan pun kembali menggenang. Sebagai anak seorang tentara, tentu saja harus patuh dengan pendidikan kedisiplinan dan kehidupan yang serba teratur. “Ketika masuk ke kamar tidur, kami tak boleh menaruh dan menata sandal seenaknya. Sandal yang kami pakai harus ditata rapi dengan posisi sandal siap pakai ketika kami keluar kamar,” kenangnya sambil menerawang ke masa silam kanaknya.

Setelah pensiun dari tentara, ayahnya menjabat Sekretaris Desa dan mendapat jatah tanah 2 bahu atau sekitar 1,5 hektar. Haris kecil pun diajaknya menggarap sawah. Tak ubahnya anak-anak kecil lain, sesekali dia mangkir dari tugasnya. “Kalau ayah hampir menghilang dari pandangan, saya langsung beranjak pulang,” ujarnya sambil tertawa lirih. “Biasanya ayah pun balik menyusul untuk memastikan saya pulang dan tidak pergi ke mana-mana,” tukasnya.

Tentu saja sang ayah juga memarahi lantaran ronta-kenakalannya. Tapi yang membuat hatinya sembab, adalah alasan yang menyulut api kemarahan itu. “Dengan tegas ayah mengatakan: kuajak kamu ke sawah bukan karena ingin menjadikanmu petani. Aku hanya ingin kamu bekerja keras dan memiliki etos kerja yang tinggi,” kisah Haris sambil mengenang silamnya airmata penyesalan. “Ayah orangnya sangat sederhana. Beliau selalu bilang, tak akan meninggali harta bagi anak-anaknya. Tapi pendidikan… pendidikan,” ucapnya dengan pandangan yang berkaca-kaca.

Dari sang ayah, diwarisinya pula beragam ketangkasan, jiwa nasionalisme, falsafah hidup dan juga tentang harapan. Sebab ayahnya senantiasa mengajaknya untuk berpikir jauh ke depan. Itulah pasalnya, kenapa dirinya selalu menganggap anak-anaknya sebagai manusia kecil. “Bahasa yang digunakan ayah sangat tinggi untuk ukuran bocah seusia kami waktu itu,” jelasnya. “Apalagi ayah kerapkali mengaitkan segala sesuatu dengan kepentingan bangsa dan rasa nasionalisme. Jadi tak semua yang disampaikan ayah dapat kami pahami,” katanya.

Sedangkan dari sang ibunda, Haris banyak belajar tentang kesabaran, ketawadlu’an, kejujuran dan nilai-nilai religiusitas lainnya. Seperti silaturrahmi, keprihatinan hidup, serta makna berbagi dengan orang lain. “Bisa dibilang, ibu yang menempa kami dengan pendidikan agama. Sementara ayah yang memupuk jiwa nasionalisme,” tukasnya menggarisbawahi.

Laiknya bocah desa yang lain, Haris kecil juga gemar mengaji di Mushalla. Berangkat mengaji pukul 4 sore dan baru selesai selepas shalat Isya’. “Kami kerapkali tidur di mushalla dan bangun menjelang Shubuh,” terangnya. “Seusai menunaikan shalat Shubuh berjamaah, lantas diteruskan dengan mengaji al-Qur’an,” tambahnya.

Selain mengaji di mushalla, dirinya juga mengaji kepada KH. Jayadi – yang di kemudian hari menikahkan Haris dengan cucunya. “Entah kebetulan atau tidak. Tapi saya tidak pernah berniat mengaji untuk menikahi cucunya,” selorohnya sambil melepas tawa.

Selain belajar al-Qur’an, Haris juga mengaji kitab kuning. “Hanya kitab kecil seperti Sulam-Safina dan kitab kecil lainnya,” ujarnya merendah. Meski demikian, dasar-dasar penguasaan kitab kuning yang diajarkan Kyai Jayadi, diakuinya, kelak menjadi pondasi dasar dirinya belajar keilmuan di tingkat berikutnya.

Setamat sekolah dasar di MI Ma’arif tahun 1975, bungsu empat bersaudara ini melanjutkan sekolah ke PGAN 6 Tahun Kauman Utara Jombang dan mondok di Pesantren At-Taufiq Sambong Dukuh Jombang yang diasuh oleh Kyai Baihaqi. Selain dikenal karena kecerdasan dan kedalaman ilmunya, Kyai Baihaqi juga memiliki wawasan luas. “Kata Kyai Bisri Syansuri, di Jombang waktu itu ada dua orang pemuda yang cerdas, yaitu Gus Dur dan Kyai Baihaqi,” ungkapnya.

Berguru kepada Kyai Baihaqi, mengingatkannya pada sosok ayahnya. Saat mengajar kitab, Kyai Baihaqi kerap bercerita dan mengaitkannya dengan isu-isu terbaru yang menyangkut problem zaman, baik nasional maupun dunia internasional. “Beliau sering berpesan, agar kami tidak takut untuk menjadi Sekjen PBB,” ujarnya. “Bagi anak sekelas Tsanawiyah, kami tak sepenuhnya paham maksud beliau. Yang kami tahu, bahwa beliau sangat ingin generasi penerusnya memiliki cita-cita yang besar,” tandasnya.

Di PGAN, Haris hanya menempuh pendidikan selama 3 tahun karena PGAN 6 Tahun berubah menjadi MTs dan MA tahun 1979. Secara kebetulan, kabar duka juga diterimanya seiring meninggalnya Kyai Baihaqi di masa itu. Dia lalu mondok ke Tebuireng dan melanjutkan ke SMA A. Wachid Hasyim Jurusan IPA dan tamat tahun 1982. “Lagi-lagi saya harus ketemu sosok seperti Kyai Yusuf Hasyim, seorang Islamis dan nasionalis sejati,” paparnya.

Pertemuannya dengan tokoh-tokoh Islam yang religius dan nasionalis, ternyata tak berhenti sampai di situ. Saat kuliah di Malang, ketika menyelesaikan Sarjana Muda Jurusan PBA dan S1 PAI di Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang, kembali dia dipertemukan dengan tokoh seperti KH. Tholchah Hasan dan Prof. Drs. H. Abdul Malik Fadjar, M.Sc.

Jiwa nasionalismenya semakin tumbuh ketika dirinya terlibat aktif di berbagai organisasi. Diantaranya sebagai Ketua Umum Sema Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Malang (1988), Ketua Umum PMII Cabang Malang (1988-1989) dan Pengurus KNPI Malang (1988-1990). “Sejak saat itu saya mulai menyadari betapa berharganya bekal yang saya dapat dari orangtua dan kyai. Saya pun sedikit demi sedikit memahami bagaimana cara membaca masa depan saya,” terang penulis buku ‘Filsafat Pendidikan Islam’ dan ‘Pemikiran Etika Hamka’ ini.

Tahun 1992, dirinya diangkat sebagai PNS di Fak. Tarbiyah IAIN Sunan Ampel Surabaya. Tahun 1994, suami Dra. Rif’atul Choiriyah ini meneruskan studi S2 di IAIN Alauddin Makasar mengambil Jurusan Islamic Studies dan lulus tahun 1996. Tiga tahun berselang, dia mengambil S3 Prodi Islamic Studies di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan selesai tahun 2006. Setahun kemudian, dirinya dikukuhkan sebagai Guru Besar di bidang Filsafat Pendidikan Islam.

Haris ternyata memiliki keresahan yang sama dengan ayah dan para gurunya mengenai problem kebangsaan. Jiwa nasionalismenya tersulut tatkala menyaksikan beragam ketidakadilan dan problem moral yang melanda negeri ini. “Seperti ayah dan kyai saya dulu, saya melihat betapa susahnya membangun bangsa dalam kondisi seperti ini,” katanya bernada keluh. “Sebab untuk membangun sebuah bangsa, generasi berikutnya harus memiliki karakter yang religius dan nasionalisme yang tinggi,” tegas ayah empat putra ini.

Tentu saja, karakter kepribadian sedemikian itu tidak terbentuk secara tiba-tiba. Proses pendidikan dan buah pengalaman hidup yang dialami semenjak masih bocah hingga dewasalah yang membentuk kepribadian seseorang. Belajar dari pengalaman hidupnya, maka Haris menyimpulkan, bahwa keberhasilan pendidikan ditentukan oleh tiga tempat yang biasa disebut dengan ‘Tri Pusat Pendidikan’; yaitu keluarga, sekolah dan masyarakat. Problem hari ini, ketiganya seakan berjalan sendiri-sendiri. Sekolah dan pesantren sekarang pun mahal dan sulit dijangkau masyarakat miskin. Keberadaannya juga semakin eksklusif di tengah-tengah masyarakat.

Maka seiring dirinya dilantik sebagai Ketua LP Maarif NU Jawa Timur periode 2013-2018, dia berharap dapat menyatukan kembali ketiga elemen penting dalam pendidikan tersebut. “Semoga ini adalah jawaban sekaligus pertolongan Tuhan atas keresahan saya tentang persoalan pendidikan dan kebangsaan,” harapnya. “Tapi dapat jabatan atau tidak, misi saya tetap membangun bangsa ini dari jalur pendidikan,” tegas pria yang kini tengah merampungkan buku berjudul “Etika Islam” ini. Dedy Kurniawan

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: