jump to navigation

Prof. Dr. Ir. Abdullah Shahab, MSc 30 May 2013

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags: , ,
trackback

Menemukan Dunia yang Tak Pernah Dibayangkan

Prof-Dr-Ir-Abdullah-Shahab-MScJangan coba-coba meminta penjelasan ilmiah tentang Isra’ Mi’raj pada Prof. Dr. Ir. Abdullah Shahab, MSc. Pasalnya, Guru Besar Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknologi Industri ITS Surabaya yang satu ini, tak akan pernah mendekati peristiwa agung tersebut melalui berbagai macam teori sains.

Baginya, fenomena diperjalankannya Rasulullah dari Masjidil Haram ke masjidil Aqsha lalu berdialog langsung dengan Allah di Sidratul Muntaha itu tak butuh penjelasan ilmiah. “Terlalu naif Isra Mi’raj dijelaskan dengan terori saintifik. Yang dibutuhkan hanyalah mengimaninya dengan sebenar-benar keimanan. Itu saja!” ucap profesor ke-100 ITS ini dengan tegas.

Tentu saja itu bukan lantaran keengganannya menjelaskan rentetan teori sains. Dosen bidang studi metalurgi ini justru sudah sampai pada titik kesimpulan, bahwa sains tak akan pernah mampu menjangkau wilayah fenomena agama. Seperti adanya surga, neraka, alam akhirat, dan malaikat, ilmu pengetahuan tak akan mampu menjelaskannya. “Karena ilmu pengetahuan butuh pembuktian dan pengulangan. Apakah bisa surga neraka dibuktikan? Kita hanya butuh mengimaninya saja,” tegas doktor bidang produksi dan metalurgi ini menandaskan.

Keimananlah yang harus lebih dikedepankan dalam menjelaskan tiap peristiwa maupun fenomena dalam ajaran agama. Abdullah Shahab menyadari bahwa dalam menyatakan kebesaran Allah, tidak dibutuhkan bantuan sedikitpun dari sains untuk mendukungnya. Tapi sayangnya, kenyataan ini seringkali tidak diindahkan oleh para ilmuwan terutama generasi baru saintis Muslim. “Mereka terlanjur mempercayai, bahwa semua ajaran agama pasti bisa didekati dari kacamata sains. Bagi mereka, ajaran agama tidak sahih sebelum diuji dengan terori ilmiah,” tandas lelaki asal Lawang Malang ini getir.

Atas kenyataan itu, trainer Nara Qualita Ahsana ini menduga, mereka yang ngotot mengotak-atik ajaran agama bukan cendekiawan yang senantiasa mencurahkan waktunya untuk mendalami bidang sains. Bahkan disinyalir mereka merupakan ilmuwan pendatang baru. Sebab jika mereka benar-benar mendalami metodologi penelitian sains, pasti paham betul bahwa fenomena agama seperti Isra’ Mi’raj bukan lahan garapannya. “Pendekatan teori apapun terhadap Isra’ Mi’raj dari perpektif ilmu pengetahuan, seharusnya langsung dimasukkan ke tong sampah. Sebab sains tidak akan mau menerima sesuatu di luar jangkauannya,” tukas Komisaris Utama Taqi Power Indonesia ini menandaskan. “Jika masih saja dipaksakan, itulah kegenitan kaum saintis,” sindirnya.

Namun dengan maraknya buku-buku atau penelitain sains terhadap fenomen agama, lulusan S2 University of Wisconsin Madison Amerika Serikat ini bisa sedikit mengurai ikhwal kegenitan para ilmuwan tersebut. Ketidakmampuan para saintis untuk menghasilkan karya sains murni inilah sebagai pemicunya. Akhirnya, mereka mencoba masuk pada wilayah pseudo sains yang sifatnya superlatif. “Artinya, boleh ngawur. Karena kebenarannya tidak bisa dilacak,” tukasnya.

Untuk membuktikan kebenaran atau kesalahanya pun kita tidak bisa. Lihat misalnya.. mereka memaparkan kecepatan Nabi saat Isra’ Mi’raj itu sebanding dengan kecepatan cahaya. “Saya heran, dari mana mereka tahu? Apa pernah dapat wahyu atau membuktikannya?” ujarnya merasa geli.

Juru dakwah di berbagai forum ini mengingatkan, jika kebenaran ajaran agama bisa dibuktikan dengan sains, tentu tidak dibutuhkan lagi iman. Sebab sesuatu yang masuk dalam domain sains, tidak membutuhkan keimanan. Dia mentamsilkan keberadaan kota New York di Amerika atau teori bahwa bumi itu bulat, tentu tak dibutuhkan iman untuk menerimanya. Tetapi lantaran banyak data-data yang mendukung, jadi cukup mempercayainya saja.

Ustadz Abdullah Shahab – demikian dirinya kerap dipanggil, meski hidup dan besar di dunia sains, tapi tidak jumawa menggunakan spesialisasi keilmuanya memasuki ranah agama. “Mungkin karena saya mengenal agama lebih pagi. Dan saya beruntung terlahir di lingkugan keluarga agamis. Sehingga mampu belajar agama lebih banyak,” tuturnya penuh syukur.

Terlahir sebagai bungsu dari 10 bersaudara, dia banyak mendapatkan bimbingan agama dari saudaranya. Sebab sejak usia 5 tahun, dirinya harus hidup sebagai yatim lantaran sang ayah Ustad Hasan Shahab harus pergi selama-lamanya. Dia pun harus rela tumbuh besar bersama sang ibu Aisyah.

Meski menjadi yatim sejak belia, tak lantas Abdullah Shahab kecil kehilangan sosok figur seorang ayah. Sebab figur itu banyak ditemukan pada saudaranya tertutama sosok (alm.) Ustad Anis Shabab, kakak tertuanya. Dialah yang banyak mewarnai sisi mentalitas maupun pengetahuan bagi lelaki yang masa SMP dan SMA diselesaikannya di Malang ini. Tak sedikit pesan ustad Anis yang masih diingatnya. “Biarpun keluarga kita tidak kaya, tapi keluarga kita keluarga ilmuwan,” ucap Abdullah Shahab menirukan ucapan sang kakak.

Memang secara ekonomi, kehidupan keluarga Abdullah Shahab tergolong pas-pasan. Ibunya hanyalah seorang janda yang tak memiliki penghasilan. Sedangkan kakaknya – yang menghidupinya – hanyalah  seorang guru ngaji. “Dulu, jangankan  makan enak, makan kenyang saja tidak,” ucap Abdullah Shahab menggambarkan masa kecilnya.

Meski demikian, kecintaan keluarganya terhadap ilmu pengetahuan melebihi tetangga di kampungya. Tak heran jika perabotan rumahnya lebih sedikit dibandingkan jumlah buku koleksi ayah dan kakaknya. Bukunya sangat beragam, tidak terbatas jenis buku agama saja. Tapi juga buku sains, filsafat hingga sastra pun ada. “Ketika itu saya tak mengerti isinya. Lha wong rata-rata berbahasa Inggris. Tapi saya berusaha terus membacanya,” tukas pria kelahiran Malang 17 April 1952 ini. “Ketika di perguruan tinggi saya baru bisa mengerti isinya,” imbuh pria yang sempat diberi kamus bahasa inggris temannya lantaran terlalu sering meminjamnya.

Hingga kini dirinya masih meluangkan waktu khusus untuk membaca buku. Setiap hari dua hingga lima jam dikhususkan buat membaca buku koleksinya. Baginya, membaca dapat menemukan dunia yang bahkan belum pernah dia bayangkan sebelumnya. Bahkan bukulah yang telah “mengubah” garis takdirnya.

Berkat buku-buku berbahasa asing yang dibacanya, menjadikan kemampuan berbahasanya semakin terasah. Inilah yang turut mengantarkannya mendapatkan beasiswa S2 dari University of Wisconsin, Madison Amerika Serikat dan S3 di Ecole Centrale de Nantes, Perancis. “Alhamdulillah, saya bisa menikmatinya. Sebab studi ke luar negeri memang mimpi saya sejak kecil,” tukas pria hobi bersepada ini.

Meski berhasil menggapai mimpi, tak lantas itu menjadikannya bermata kuda dalam menilai bangsanya sendiri. Dai tidak pernah terbawa arus pemikiran, bahwa peradaban negeri tempat dirinya belajar merupakan peradaban unggul. Dan peradaban bangsannya sendiri adalah peradaban sampah. “Saya bukan tipe orang yang mudah silau dengan peradaban maupun budaya Barat,” tegasnya.

Usai menyelesaiakn studinya, dirinya tetap berpenampilan sederhana dan bersahaja dalam menjalani hidup kesehariannya. Dia masih saja bersepeda dalam beragam aktivitas, baik di kampus maupun di luar kampus. “Asalkan tidak terlalu jauh, saya pasti menempuhnya sambil bersepeda,” katanya sambil melepas senyum.

Meski melek teknologi informasi, hingga kini dia tak mau memanfaatkan teknologi telepon seluler atau ponsel. Banyak kolega maupun mahasiswa yang merasakannya musykil dan agak ganjil. Dia selalu menjawabnya dengan membuat sebuah ilustrasi; jika ada seorang yang sehat tiba-tiba memakai tongkat, tentu layak diajukan pertanyaan perihal alasannya memakai tongkat. “Jadi tidak dibutuhkan alasan bagi orang tak memakai ponsel. Justru pertanyaan itu harus diajukan kepada orang yang menggunakan ponsel kan?” ujarnya balik bertanya.

Di kediamannya, yang berada di komplek perumahan dosen ITS, tak akan dijumpai banyak barang mewah. Bangunannya pun masih banguan lama, dengan halaman ditumbuhi berbagai macam tanaman dan pepohonan. Jika masuk ke dalam rumah, di ruang tamu hanya ada deretan sofa tua, lemari kecil dan dipan tua.

Selebihnya, yang ada cuma deretan rak buku. Satu-satunya barang mewah adalah mini van yang terparkir di garasi. Itu pun jarang dipergunakannya. “Kalau boleh memilih, lebih baik saya tidak punya mobil. Tapi karena sekolah anak-anak jauh, mobil ini sangat dibutuhkan. Dan saya masih lebih senang bersepeda,” pungkasnya. Suprianto

 

Advertisements

Comments»

1. Waru - 11 July 2014

Saya tiga kali mendapat tausiya Ust. Abdullah dalam keg tarawih. Selalu menarik untuk disimak. Bisa tidak saya memperoleh informasi dimana saja ada ceramah agama beliau?
Terima kasih Imam

2. Oriana - 11 July 2016

Dakwah pak Abdullah Shahab masuk akal dan nalar keimanan yang menurut saya ….yaa seharusnya mikirnya atau menghayati agama seperti itu …. Dakwah nya bermutu tidak esek2.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: