jump to navigation

Dra. Hj. Ucik Nurul Hidayati, MPdI 26 April 2013

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
trackback

 

 Tak Mau Jadi Pemanah tanpa Anak Panah

 

Dra.-Hj.-Ucik-Nurul-Hidayati,-MPdISiapa tak kenal Nyai Hj. Ucik? Setiap Minggu siang wajahnya menghiasi TV9 menyapa pemirsa melalui acara bertajuk “Apa Kata Bu Nyai”. Di luar itu, pemilik nama lengkap Dra. Hj. Ucik Nurul Hidayati, MPdI ini rutin berkeliling ke berbagai pelosok daerah untuk berdakwah. Tak hanya dalam negeri, melainkan sudah meramba hingga ke luar negeri.

Saban Shubuh Nyai Hj. Ucik punya ritual khusus; menjadi imam shalat Shubuh bagi para santri dan membaca istighatsah secara berjamaah. “Ini tidak pernah saya tinggalkan. Sebab saya menyadari, waktu saya lebih banyak mendatangi berbagai tempat untuk ceramah,” tutur pengasuh pondok pesantren putri Al Islahiyah Pasuruan ini.

35 tahun sudah istri KH. Abdul Aziz Hadrawi ini memberikan ceramah ke berbagai daerah. Terkadang sehari bisa di sembilan tempat yang berbeda. Namun rata-rata empat hingga tujuh kali sehari. Maklum, jika baru dini hari dirinya dapat melepas penat dengan leluasa. “Saya sudah bertekad untuk mengabdikan diri bagi umat. Keluarga juga sangat memakluminya,” ucap ibu satu anak ini penuh syukur.

Wanita kelahiran Pasuruan 14 Pebruari 1963 ini, memang sejak bocah sudah merambah ruang publik. “Saya ingat betul ketika itu masih sekolah TK. Saya membacakan shalawat Badar di atas gendongan ibu di sebuah acara pengajian,” kenang putri pasangan (alm.) H. Sutamak Umar Faruq dan (almh.) Hj Lailatul Arofah ini.

Pada usia lima tahun, nama Ucik kecil sudah dikenal masyarakat sekitar Wonorejo Pasuruan. Dirinya biasa diminta untuk melantunkan ayat suci al-Qur’an atau “shalawatan”. Yang menggemaskan, kala itu Ucik membacakan ayat suci al-Qur’an di atas panggung dengan polos dan tanpa mengenakan kerudung. “Maklum, masih anak-anak. Toh waktu itu kan belum ada jilbab,” kata lulusan SDN Sambisirah Wonorejo Pasuruan ini berkilah.

Lantas dia nyatri di pondok pesantren putri Al Islahiyah Singosari, sambil meneruskan studinya di SMP Islam Al Ma’arif Singosari. Sebagai remaja, gaya berpakaiannya berubah pula. Di sana dirinya mulai mengenal busana jilbab. Skill qira’ahnya juga berkembang, lantaran bisa belajar langsung kepada KH. Bashori Alwi. Saat itu, sebagai qari’ah namanya pun cukup berkibar di seantero Malang. Julukan sebagai qari’ah cilik telah tersematkan di pundaknya.

Pada tahun 1978, saat menginjakkan kaki di bangku kelas 1 SMA Islam Al Ma’arif, dirinya mulai mengenal dunia da’i. Ibu dari Iffa Nazmi Maryam ini berlatih khithabah ketika nyantri di pesantren asuhan KH. Mahfudz Kholil dan Hj. Hasbiyah Hamid. Setiap pekan memang ada agenda wajib khithabah. Menjelang gilirannya tiba, dirinya berlatih keras menghafalkan materi yang hendak disampaikan. “Meski sempat nervous, tapi tak mengecewakan. Joke-joke yang saya lontarkan mendapat sambutan luar biasa,” ucap penggemar berbagai jenis seni ini dengan bangga.

Seminggu berselang, tak disangka tiba-tiba datang undangan ceramah dari pesantren di daerah Turen Malang. Tak tanggung-tanggung, Kafilah Jawa Timur dalam MTQ Nasional tahun 1983 ini didapuk sebagai penceramah tunggal. “Anehnya, joke-joke saya tak memperoleh respon. Ya.. mungkin karena dari teks sehingga terasa kering dan hambar,” imbuhnya sambil tertawa renyah.

Sejak itulah permintaan ceramah terus berdatangan – meski dirinya masih berstatus santri. Setelah kuliah di IAIN Sunan Ampel Surabaya, undangan ceramah pun membanjirinya. Bahkan sampai ke Jawa Tengah dan pulau Bali. Dengan jam terbang yang tinggi, skill ceramahnya semakin terasah. Joke-joke dan guyonan kreatifnya kerap membuat tawa pemirsa.

Tentu saja dirinya tak mau mengedepankan joke-joke saja. Sebab yang terpenting, adalah isi dakwahnya. Joke hanya selingan untuk menyegarkan suasana. Yang utama, adalah isi ceramah. Oleh karenanya, dia tak sepakat dengan guyonan yang melenceng dari isi materi dakwah. “Apalagi guyonan-guyonan yang terkesan vulgar,” ucap wanita humoris ini menandaskan.

Bagi wanita yang pernah qira’ah saat kunjungan Presiden Mesir Ziaul Haq ke IAIN Sunan Ampel Surabaya ini, joke dan guyonan diperlukan agar isi ceramah bisa lebih mudah tersampaikan. Sebab berdakwah juga harus bisa membahagiakan masyarakat. “Dengan humor kan membuat orang bahagia. Nah, ketika orang merasa bahagia, mereka lebih gampang menerima isi dakwah,” terang wanita yang awalnya bercita-cita menjadi dokter ini.

Apalagi dunia dakwah saat ini dihadapkan pada makin melemahnya kadar keimanan pada pribadi masyarakat. Terbukti kian rapuhnya berbagai bidang kehidupan baik sosial, politik, ekonomi dan budaya. Lantaran itulah, di setiap ceramahnya selalu ditekankan pentingnya pendidikan keimanan dalam keluarga. Dengan banyaknya keluarga yang menitikberatkan pada pendidikan keimanan, niscaya bisa melahirkan solusi atas segala permasalahan di negeri ini.

Di sisi lain, dengan banyaknya bermunculan da’i-da’i dadakan – di televisi khususnya, menyebabkan profesi da’i menjadi sorotan. “Seorang da’i yang seharusnya mampu menggerakkan umat untuk lebih mendekatkan diri kepada agama, disinyalir telah dibajak untuk kepentingan sesaat,” tengarainya.

Padahal seorang da’i, tuturnya, harus siap menerima kenyataan yang enak maupun tak enak. Tak sedikit peristiwa tak nyaman yang dialaminya. Pernah suatu ketika dirinya diundang ke Banyuwangi. Setelah perjalanan tujuh jam, sampailah di tempat tujuan. Tapi ternyata yang ada cuma sepi. Sang tuan rumah pun terlelap sudah. “Secara lahiriah memang terjadi mis-komunikasi. Tetapi secara bathiniah, ini harus dijadikan sebagai pengingat diri,” simpulnya. “Pernah juga setelah mengisi ceramah, mobil rusak dan harus turun mesin dengan biaya yang tak sedikit. Saya pun langsung beristighfar, barangkali tersisa niatan kotor di hati,” ucap mantan pengurus PW Muslimat Jawa Timur ini lirih.

Untuk itulah, setiap da’i haruslah memiliki kekuatan ruhani yang mumpuni. Sebab tugas dakwah itu teramat berat. Tak mungkin jika sekedar megandalkan kekuatan lisan tanpa dibarengi aplikasi secara haliyah. “Da’i tanpa amal nyata, laksana pemanah tanpa anak panah. Saya tidak ingin demikian,” tandas wanita yang tiap bulan Ramadhan memberikan taushiah di KJRI Hongkong ini mengingatkan. “Kita harus selalu berdoa, agar untaian kata yang terucap mampu menjadi jalan hidayah bagi orang lain,” imbuhnya mewanti-wanti. Suprianto

Advertisements

Comments»

1. hanna az-zahra - 28 October 2013

pesantren ini sngguh asyik, sy prnh k tmpt psntren itu. . . beliau sngguh hebt bs mndrikn pesntren ini. . . sy pngin mcba khdpn pesantren.x Dra.Hj.Ucik Nurul Hidayati,MPdi


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: