jump to navigation

Prof. Dr. Abd. A’la 21 February 2013

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags:
trackback

Menuju UIN yang World Class University

Prof. Abd A'laJangan gampang marah pada bocah nakal. Sebab siapa tahu kelak dia bakal jadi orang ternama? Setidaknya kisah hidup Prof. Dr. Abd. A’la mencerminkan hal tersebut. Meski hidup di lingkungan pesantren, A’la kecil kebilang sebagai bocah yang nakal. Baik semasih belajar di Madrasah Ibtidaiyah maupun saat sekolah di Madrasah Muallimin 4 tahun Annuqayah Sumenep. ”Pada jam yang seharusnya belajar, saya justru begadang ke mana-mana,” kenang Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya ini sambil melipat senyum.

Setelah masuk di Madrasah Muallimin 6 tahun – di tempat yang sama, pikiran pria kelahiran Sumenep 5 September 1957 ini mulai suka aneh-aneh. Nilai-nilai pesantren dan tradisi keagamaan yang pada galibnya biasa dijalani masyarakat, justru kerap ditafsir-ulang secara bebas. Untung saja kedua orangtuanya – H. Ahmad Basyir AS dan Hj. Umamah Makkiyah – tak beranjak memarahinya. “Meski saya nakal, orangtua saya mendidik tidak dengan marah tapi dengan cara pengasuhan,” kilahnya. “Ketika pikiran saya mulai macam-macam, ayah bilang: A’la itu orang pesantren, pasti akan kembali lagi ke sumbernya,” ungkapnya sembari menerawang ke masa silam.

Terbukti, ketika lulus dari Muallimin di tahun 1978, dia justru memilih nyantri ke pesantren Tebuireng Jombang. Setelah setahun mondok di sana, lalu melanglang-buana mengikuti kata hati. Kemudian masuk ke Fakultas Adab IAIN Sunan Ampel dan lulus di tahun 1987. Sedangkan S2nya selesai pada tahun 1996 di Pascasarjana IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Tiga tahun kemudian juga menyelesaikan S3nya di tempat yang sama, dengan judul disertasi ”Pandangan Teologi Fazlur Rahman (Studi Kritis tentang Pembaruan Teologi neo-Modernisme)”.

Ahli sejarah perkembangan pemikiran Islam ini mulai meniti karir pada tahun 1990, dengan menjadi dosen Fak. Adab IAIN Sunan Ampel Surabaya. Sebelumnya, tepatnya sejak tahun 1987, juga sudah mengajar di STIKA (Sekolah Tinggi Keagamaan Islam) Annuqayyah. Dia pernah menjabat Asisten Direktur Bidang Akademik di program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel dari tahun 2005 hingga 2009. Lalu diangkat sebagai Pembantu Rektor Bidang Akademik hingga tahun kemarin. Dan tepat pada tanggal 20 Oktober 2012, dirinya resmi terpilih sebagai Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Tapi bagi A’la, menerima sebuah jabatan bukanlah persoalan gampang. Sebab semula dia cuma ingin belajar dan mengajar. Sehingga tak saja punya waktu luang untuk melakukan penelitian, tapi juga bisa menuangkan gagasan dengan bebas dalam berbagai karya tulis ilmiah secara kritis. Jadi ketika ditawari jabatan Asdir di Pascasarjana, dia sangat kaget dan gemetar. Sebab tak bisa membayangkan harus ngantor setiap hari. ”Saya merasa terbebani.. karena di situ ada tanggung jawab moral, akademik, formal dan organisasi. Terus terang itu semua sangat membebani diri saya,” tandasnya.

Lantaran tak bisa lagi mengelak, akhirnya suami Dra. Psi. Nihayatus Sa’adah ini pun menjalani tugas sebagai ’orang kantoran’. Apalagi hasil istikharahnya juga mengarah agar tawaran jabatan itu tak ditampiknya. Setelah dijalani, beban yang dirasakan terasa semakin berat. ”Selama dua bulan saya mengalami stress. Sebab saya tak sebebas dulu lantaran harus menjalani rutinitas sebagai orang kantoran,” akunya jujur. ”Akhirnya saya putuskan dalam diri, karena sudah menerima maka saya harus melakukan yang terbaik dari apa yang bisa saya lakukan,” pungkasnya.

Sebelum masa jabatan Asdir itu berakhir, dirinya malah didapuk untuk menduduki jabatan Pembantu Rektor I. Dan tawaran itupun langsung ditampik. Sebab baginya, itu bukanlah tugas yang ringan. Meski demikian, pengasuh PP. Annuqayah Guluk-Guluk Sumenep ini masih saja tetap diminta untuk menerima jabatan tersebut. Shalat istikharah pun dijalaninya kembali. Bahkan kali ini para santri dan orangtuanya pun diminta pula untuk melakukan ritual yang sama. Hasilnya, bahwa jabatan Pembantu Rektor I baik untuk dilaksanakan. “Aduh.. akhirnya ya saya tidak bisa menolak,” tuturnya bersahaja.

Belum genap setahun menjabat, Rektor IAIN ditarik ke pusat untuk menjadi Dirjen Pendidikan Islam. Yang itu artinya, bahwa dirinya harus menjadi Pgs. Rektor. Tak berselang lama, dirinya pun terpilih untuk menduduki jabatan Rektor IAIN Sunan Ampel Surabaya. ”Niat saya cuma satu; bagaimana mengembangkan yang sudah baik, memperkuat aspek akademik di IAIN Sunan Ampel, serta mengurangi aspek politisasi di dunia pendidikan,” tegasnya.

Jika nantinya IAIN Sunan Ampel Surabaya menjadi universitas, ujarnya, harus menjadi world class university. Disamping harus setara dengan universitas ternama di level internasional, UIN Sunan Ampel juga harus berkarakter. Salah satu karakternya adalah Islam Indonesia; yang berwatak sejuk dan mampu melakukan kontekstualisasi dengan realitas, tempat dan waktu. “Disamping rajin shalat dan ibadah, juga mampu mentransformasikan nilai-nilai Islam dalam hidup keseharian dengan wajah sejuk dan moderat,” terangnya.

Meski berubah jadi UIN, ujarnya, materi keagamaan tak akan terpinggirkan. Sebab materi keagamaan menjadi materi wajib yang harus diambil mahasiswa – apapun fakultasnya. Dan secara kultural, pesantren dalam kampus yang sudah ada akan dikembangkan hingga berkapasitas lima ribu mahasiswa. ”Jadi nantinya, misal jurusan Tafsir Hadits.. harus mempunyai imej yang lebih baik dari fakultas kedokteran atau sains dan teknologi,” harapnya. ”Kita harus memberikan imej kepada masyarakat, bahwa tanpa agama maka sains dan teknologi akan berjalan liar,” paparnya.

Alhasil, targetnya adalah bagaimana mensosialisasikan Islam yang fungsional sehingga betul-betul bermakna bagi kehidupan. Sebab Islam itu tak sekedar ibadah, tetapi bagaimana memaknai ibadah dalam konteks sosial. Ketika seseorang melakukan shalat namun tidak berusaha meningkatkan kualitas dirinya, maka dia belum menjadi Mukmin yang sejati. ”Jika kini umat Islam banyak yang terlindas, karena orang Muslim belum bisa mengembangkan peradaban,” simpulnya. ”Umat Islam akan gampang dilibas, ketika dirinya tidak memiliki pengetahuan yang kuat, tidak memiliki moralitas, dan semacamnya,” tambahnya.

Menurut A’la, sebagai Khalifatullah fil ardh umat Islam harus sanggup membangun peradaban dalam kehidupan. Jadi bagaimana Islam itu menghadirkan kesejukan dan pengembangan moral berupa keadilan dan kedamaian. Salah satunya, mereka harus mampu melahirkan karya-karya tentang tafsir atau pemaknaan Hadits yang kontekstual dengan kekinian. ”Orang Muslim harus mampu memperlihatkan betapa pentingnya agama dalam kehidupan,” cetusnya.

Prof. A’la – demikian dirinya karib disapa, adalah lelaki dengan segudang kreasi dan prestasi. Pantas pada tahun 2004 dirinya dinobatkan sebagai Dosen Terbaik dalam bidang penulisan karya ilmiah di lingkungan PTAI se-Indonesia. Dan pada tahun 2007 juga dianugerahi sebagai Dosen Teladan di lingkungan Perguruan Tinggi Islam se-Indonesia. Sedangkan karya tulisnya yang berupa buku; Melampaui Dialog Agama (Penerbit Kompas, 2002), Dari Neomodernisme ke Islam Liberal (Paramadina, 2003), Pembaruan Pesantren (Pustaka Pesantren dan LKiS, 2006), Praksis Pembelajaran Pesantren (LKiS, 2007), dan Agama Tanpa Penganut (Kerjasama IAIN Sunan Ampel-Impulse-Kanisius, 2009).  Muhammad Hisyam

Advertisements

Comments»

1. Fahmi juneid - 13 June 2014

Saya berharap besar pada Pak kisi a’la untuk menjadikan uin Sunan Ampel sebagai the Islamiyah universitas yang paling bonafide dan kompetitif di wilayah Jatim sampai Nusa tenggara, terimakasih

2. Nurwanto - 10 April 2016

Tanggal 9-13 April 2016, saya bersama Prof. A’la mengikuti British Association of Islamic Studies Conference di London. Kesan saya, Beliau sangat tawadhu’ dan supel dengan kami yang muda-muda. Salam kenal Prof .. (Nurwanto, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: