jump to navigation

KH. Abdurrahman Navis, Lc, M.HI 21 January 2013

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , ,
trackback

Model Dakwah “Kitab Kuning yang Berjalan”

Abdurrahman-NavisIngin tahu kitab kuning yang berjalan? Ikutilah tanya jawab yang diasuh KH. Abdurrahman Navis, Lc, M.HI di berbagai media. Pria kelahiran Sampang, 10 Mei 1963 ini, banyak berinteraksi dengan masyarakat melalui media.

Beberapa media telah mempercayainya untuk mengasuh rubrik tanya jawab seputar persoalan-persoalan fiqhiyah. Selain radio Suzana, juga mengisi di radio el-Victor Surabaya. Juga di TV9 dan BSTV. Sedangkan konsultasi agama via media cetak, bisa diikuti di majalah Aula, koran Duta, majalah Yatim Mandiri, Nurul Hayat, Mustahiq, dan media BAZ Jatim.

Persinggungan dengan media tersebut, dimulainya sejak tahun1990. Tepatnya sepulang dari tugas studinya di Saudi Arabia. Ketepatan waktu itu dirinya diminta untuk mengajar di LPBA (Lembaga Pengajaran Bahasa Arab) Sunan Ampel, yang terletak di ilngkungan Masjid Ampel Surabaya. Sehubungan dengan wafatnya Direktur LPBA KH. A. Hadi Dahlan yang mengisi rutin di radio Suzana, dirinya didapuk untuk menggantikan acara Syiar Shubuh yang berisi tanya jawab agama tersebut.

Sejak itulah namanya dikenal luas oleh masyarakat Surabaya dan sekitarnya. Ketua Bidang Fatwa MUI Jawa Timur ini merasa senang dengan siaran tersebut. Sebab dia merasa masyarakat Kota Pahlawan belum banyak mengenal isi kitab-kitab kuning, yang telah lama sekali digelutinya. Apalagi acara itu bersifat interaktif. ”Dari banyaknya pertanyaan yang diajukan masyarakat, memang sebagian belum bisa saya jawab,” akunya jujur.

Pertanyaan-pertanyaan yang belum sanggup dijawabnya itulah, yang mendorong Wakil Katib Syuriah PW NU Jatim ini membuka-buka kitab kuning kembali. Berkat ketekunan dalam menguasai kitab kuning, menjadikan dirinya sebagai tempat rujukan banyak orang untuk bertanya. Berbagai media dijadikannya tempat untuk berdakwah; mulai yang model salaf hingga khalaf, dari textbook hingga facebook. Demi mendekatkan kitab kuning ke masyarakat, pengasuh PP Nurul Huda Sencaki Surabaya ini memang ramah dengan facebook dan website. ”Agar para peselancar dunia maya juga bisa berinteraksi dan mendapat jawaban dengan rujukan kitab kuning,” kilahnya.

Hal itu dilakukan untuk menjaga keotentikan jawaban, agar sesuai dengan referensi kitab-kitab turats (kitab kuning). Kebiasaan tersebut dilakukan setiap kali menjawab pertanyaan di berbagai media, baik cetak maupun elektronika. Layak jika masyarakat menjulukinya sebagai ’kitab kuning yang berjalan’. “Karena masalah hukum tidak mungkin hanya memakai rasio saja. Harus ada jawaban otentik dan referensi yang jelas, dan itu ada di kitab kuning,” tegasnya.

Sayangnya, tengarai Direktur Aswaja Centre PWNU Jatim ini, justru minat mengkaji kitab kuning saat ini sangat berkurang – hatta di pondok pesantren sekalipun. Di beberapa pondok memang tampak begitu giat untuk mengkaji kitab kuning. Tetapi minat santrinya sudah tak seperti dulu lagi. Mungkin itu lantaran perkembangan teknologi yang kian massif. “Lebih gampang langsung tanya ke ustadz Google dan kiai Yahoo,” sindirnya bernada canda.

Beberapa orang sudah mencoba mempermudah metode agar kitab kuning banyak diminati. Seperti adanya teori membaca kitab kuning cuma dalam waktu sehari. Namun lagi-lagi itu hanya bersifat perkenalan semata. Sebab untuk mampu memahaminya, metode tersebut tidaklah cukup. Sebab belajar kitab kuning itu menyangkut kosakata. Yang dipakai di kitab-kitab kuning itu adalah bahasa-bahasa kuno, dan bukan bahasa muhadatsah modern. ”Sehingga kadang-kadang interpretasinya berbeda. Seperti kata-kata dukhul yang dipakai di kitab-kitab kuning. Itu berbeda dengan yang banyak dipasang di pintu-pintu; mamnu’ud dukhul,” katanya mencontohkan.

Saat ini memang ada ikhtiar memendekkan waktu memahami kitab kuning. Kalau dulu, belajar itu asalnya dari matan (teks aslinya). Lantas diberi syarah-syarah (penjelasan-penjelasan), sehingga bertambah banyak. Sekarang sebaliknya, tinggal matan. Kemudian dimukhtashar, kemudian di mukhtashar jiddan. ”Maunya cepat dan singkat. Tetapi itu hasilnya akan berbeda,” tukasnya. “Ayam saja, yang kampung dengan yang horen, itu beda. Karbitan dengan yang alami itu berbeda,” ucapnya memisalkan.

Untuk itulah, suami Hj. Maidah Mukarromah ini berpesan kepada anak semata wayangnya, agar dia melanjutkan ilmu-ilmu kitab kuning tersebut. Dengan begitu sang anak dapat mewarisi kitab-kitab kuning yang terpajang di beberapa almari yang ada di ruang tamu rumahnya. Sebab dirinya teringat semangat kuat orangtuanya, yang bahkan rela menjual Mushalla untuk keberlangsungan belajarnya. “Tapi alhamdulillah, Mushalla itu tidak sampai dijual,” ujar putra pasangan H. Hasanuddin dan Hj. Nur Hasanah ini mengenang.

Anak sulung tiga bersaudara ini, memulai pendidikannya di pondok pesantren al-Ihsan Desa Jerenguan, Kecamatan Omben, Kabupaten Sampang asuhan pamannya sendiri. Setelah menamatkan pendidikan Ibtidaiyah, lantas melancong ke daerah Pasuruan dan belajar di pondok pesantren Sidogiri.

Di sanalah pengetahuan tentang khazanah kitab kuning semakin terasah. Penguatan khazanah ilmu kitab-kitab kuning dari sisi qowa’id, melengkapi pelajaran basic yang direngkuh di pondok al-Ihsan. Di sela-sela belajarnya di pondok pesantren Sidogiri, dirinya sempat menyelesaikan pendidikan Tsanawiyah.

Lalu dia memutuskan untuk melang-lang buana ke Jakarta. Tujuannya jelas, belajar di pondok pesantren Darur Rohman asuhan KH. Syukron Makmun. Dan tentu saja, juga ingin menamatkan jenjang Aliyah di sana. Yang agak mengagetkan, di pondok tersebut dalam keseharian wajib menggunakan bahasa Arab dan Inggris. ”Dengan terpaksa saya mencoba mempraktekkan,” keluhnya. ”Lha di Sidogiri yang ditekankan kan qawaid, sehingga terpaku apakah sesuai dengan susunan bahasanya. Jadi ya.. lebih sulit mempraktekkan muhadatsah,” katanya berkilah.

Lantaran dorongan pembina di qismul lughoh (penggerak bahasa), dirinya jadi terbiasa berbahasa asing. Seiring bertambahnya waktu, kemampuan percakapannya pun menjadi semakin baik. “Pembina saya mempunyai semboyan man khoofa ‘anil khotho’-i fahuwa khoth-tho’un (orang yang takut bersalah berarti dia bersalah),” ucapnya menirukan sang pembina.

Setelah studinya berjalan tiga tahun, ada kenyataan pahit yang harus rela diterima di penghujung perjalanan. Navis tak bisa mengikuti ujian akhir lantaran tak adanya dana. Lalu mengadu ke pengurus pondok untuk diperbolehkan menjual kalender pesantren. Setelah berpeluh keringat mendatangi dari pintu ke pintu, usaha itupun nyatanya tak sia-sia. “Dan alhamdulillahnya lagi, saya diberiNya kemudahan pada saat ujian sehingga mendapatkan rangking,” ujarnya lega.

Kabar gembira itupun langsung disampaikan ke orangtua. Namun sayang seribu sayang, dia justru tertegun mendengar kabar yang datang dari orangtuanya; bahwa biaya untuk melanjutkan ke jenjang selanjutnya sudah tak ada. Sebab kedua adiknya juga membutuhkan biaya.

Tekad untuk melanjutkan studilah, yang membuatnya untuk tetap bertahan di ibukota. Dengan berbekal ilmu yang diperolehnya, dia mengajar di lembaga yang sama. Dan di sela-sela itulah, Navis menyempatkan menimba ilmu pada Diploma Bahasa Arab di LIPIA Jakarta cabang Riyadh selama satu tahun. Pagi hari belajar di LIPIA, malamnya mengajar di pondok Darur Rahman. “Jadi, di LIPIA itu ada mukafa’ah, di pondok ada makan gratis,” kenang alumnus S2 UNDAR Jombang ini seraya tersenyum.

Berkat basic ilmu dan komunikaasi yang baik dengan para dosen, masuklah dia ke dalam kategori mahasiswa terbaik yang mendapatkan rangking. Dengan itu, Navis mendapatkan beasiswa untuk melanjutkan pendidikan S-1 di Riyadh Arab Saudi, pada Fakultas Dakwah di Jaami’atul Imam Ibnu Saud al-Islamiyah University. Selama empat tahun – sejak 1985 s/d 1989, terbukalah jalan baginya untuk mendalami kitab kuning dari ummahatul kutub (buku-buku induk) dan memahami berbagai madzhab. Muhammad Hisyam

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: