jump to navigation

Sirikit Syah 20 Dec 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , ,
trackback

Menulis itu Medium Dakwah yang Sangat Efektif

Sirikik-Syah-bersama-Suami_Cinta kerap membuat orang menjadi tak kritis pada yang dicinta. Tapi itu tak berlaku bagi Sirikit Syah. Meski cintanya pada profesi jurnalis bagai laut dan birunya, tapi dirinya begitu kritis terhadap dunia jurnalisme yang membesarkannya.

Nama Sirikit memang cukup dikenal publik. Apalagi dia seorang jurnalis senior yang telah melanglang buana di berbagai negara. “Jurnalisme.. mula-mula bukan dunia yang saya cita-citakan sih. Tapi entah kenapa justru bidang inilah yang mengantarkan saya hingga menjadi seperti ini,” tukasnya datar.

Hernani Sirikit, MA – yang lebih dikenal sebagai Sirikit Syah, sejak kecil memang tak pernah bermimpi untuk menjadi seorang pewarta. Yang diangankannya waktu itu justru profesi guru. Itulah pasalnya, selepas menyelesaikan studinya di SMA, langsung mendaftarkan diri ke Fakultas Pendidikan Bahasa dan Seni (FPBS) Jurusan Sastra Inggris IKIP Surabaya – yang kini berubah menjadi Unesa.

Impian pun telah berbenih kenyataan. Setelah lulus di tahun 1984, tak tanggung-tanggung Prof. Dr. Budi Darma (Rektor IKIP Surabaya waktu itu) langsung menawari Sirikit untuk mengajar di almamaternya. Namun entahlah, kenyataan mimpi itu justru dibuyarkannya sendiri. Sebab dia tiba-tiba saja merasa tertantang dengan dunia jusnalistik. Maka dimulailah profesi wartawan di harian Surabaya Post.

Anehnya, dia begitu jatuh cinta pada profesi barunya tersebut. Baginya, profesi wartawan dirasakan telah memberikan banyak pelajaran hidup yang sangat berarti. ”Tak saja berupa beragam informasi yang bisa diserap, tapi lebih dari itu.. pengalaman dan networking juga terbuka lebar,” ujar ibu dua anak ini bersemangat.

Tak puas dengan media cetak, Sirikit pun merambah ke media pertelevisian. Bermula sebagai seorang reporter, lalu dipercaya menjadi produser, hingga sebagai koordinator liputan wilayah Indonesia Timur untuk SCTV dan RCTI – yang saat itu kedua station bersatu dalam program berita Seputar Indonesia. Tak berselang lama, akhirnya dia beralih ke News Departemen SCTV sebagai reporter, script editor, koordinator liputan, produser program berita, hingga asisten manajer.

Dan waktu pun tak henti berjalan. Namun adakah kesibukan jurnalis telah membuatnya benar-benar alpa pada mimpi yang pernah digambar sewaktu kecil? Sirikit Syah dengan cekatan menampik. Sebab dia tak merasa telah meninggalkan dunia mengajar sepenuhnya. Baginya, menjadi wartawan sama mulianya dengan menjadi pendidik. “Selain sebagai sarana informasi, kontrol sosial dan hiburan, pers juga berperan untuk mengedukasi masyarakat melalui suguhan berita dan fakta,” kata penulis buku  ’Rambu-rambu Jurnalistik’ ini dengan mimik serius. “Apalagi pers merupakan pilar keempat pendidikan setelah keluarga, sekolah, dan masyarakat,” kilahnya.

Namun apa boleh dikata, suara hati adalah nurani kejujuran yang tak gampang dipungkiri. Setelah bertahun-tahun menggeluti media cetak dan elektronik, terbesitlah niatan tulus untuk membagi ilmu jurnalisme kepada para mahasiswa. Maka sejak tahun 1996 Sirikit bermula merealisasikan mimpinya secara nyata. Tak tanggung-tanggung, dia mengajar hampir di semua perguruan tinggi di Surabaya yang memiliki Jurusan Ilmu Komunikasi atau prodi Jurnalistik.

Nama Sirikit pun bertengger mulai di Fakultas Ilmu Komunikasi UK Petra Surabaya, Fakultas Dakwah IAIN Sunan Ampel Surabaya, STIKOSA AWS dan juga Universitas Airlangga. Tak saja mengajar program S1, tapi juga di Pascasarjana konsentrasi Komunikasi dan Ilmu Hukum dan Pembangunan. “Saya tidak bisa memungkiri, inilah mungkin yang namanya panggilan jiwa sebagai pengajar yang sesungguhnya,” tutur Master bidang Komunikasi dari Westminster University, London ini sambil melepas tawa lirih.

Meski wanita berjilbab – lantaran tersentak malu saat meliput kegiatan NU – ini sibuk terjun di kampus, namun itu tak membuat mahasiswa program Doktoral Pascasarjana Unesa ini menghapus jejaknya di media massa. Terbukti, sambil mengajar dia pun masih membagi waktu menjadi koresponden Harian The Jakarta Post dan juga sebagai editor The Brunei Times – sebuah harian di Brunei Darussalam.

Tak semata itu saja. Pada tahun 1999 peraih anugerah Warga Surabaya Teladan versi Radio Suara Surabaya ini, juga mulai dilanda kerisauan atas tidakan semena-mena media massa dalam pemberitaan pasca reformasi. Pers begitu bebas dan liar tanpa kendali. Tak sedikit isi pemberitaan yang membahayakan publik.

Wanita yang banyak mengisi seminar di dalam maupun luar negeri ini pun, lantas menggagas berdirinya sebuah Lembaga Konsumen Media; MediaWatch. Hingga tahun 2003, dirinya didapuk menjadi direktur lembaga yang mengawasi media tersebut. Inilah sikap fair dari seorang Sirikit Syah. Meski dirinya dibesarkan di dalam dunia media, namun bisa bersikap kritis terhadap media itu sendiri.

Menurutnya, media boleh saja mengawasi pemerintah dan masyarakat. Tapi media pun harus juga diawasi. “Sebab jika ada orang salah makan, mungkin korbannya hanya yang makan saja. Tapi jika ada orang salah konsumsi berita, efeknya bisa mengakibatkan perkelahian hingga peperangan,” papar Anggota Kehormatan Pusat Hak Asasi Manusia (Pusham) Universitas Surabaya ini mengingatkan.

Kedewasaan dan keterbukaan sikap Sirikit semacam itu, tak bisa dilepaskan dari masa kanaknya. Dia terlahir dan dibesarkan di daerah Jl. Melati Surabaya – sekarang daerah di belakang Grand City Mall – 53 tahun silam. Sejak bocah dirinya sudah berbaur dengan orang-orang Belanda, China, Jawa, Ambon, Batak dan etnis lainnya. Lingkungan hidup seperti itulah, yang membuat pandangan-pandangannya tak berkacamata kuda.

Sirikit kecil sudah terbiasa melihat tetangga Bataknya yang menyembelih babi dan anjing di sebelah rumahnya. Itu merupakan pemandangan yang lumrah-lumrah saja, meski keluarganya sebagai pemeluk Islam. Meski diakuinya, cukup sulit merasakan suasana keberagaman laiknya orang Muslim lainnya. “Kami kalau mencari masjid cukup jauh sampai di daerah Kanginan,” ungkap anak keenam dari 13 bersaudara (6 saudara kandung, 4 saudara tiri, dan 2 saudara seibu) ini sambil menerawang ke masa silamnya.

Keberadaan keluarga besar inilah, yang membuat orangtuanya tak sempat mengajarkan agama. Ayahnya seorang Perwira Angkatan Laut, yang meninggal semasa Sirikit masih berusia tiga tahun. Dan ibunya terpaksa menjanda 29 tahun dengan 7 anak. Pesan ibunya yang tak pernah terlupakan; jadilah orang baik yang senantiasa menebar kebaikan. “Saya belajar shalat dan mengaji di sekolah. Kesadaran itupun baru muncul ketika saya duduk di bangku SMA,” ucapnya jujur.

Semasa usia SMA itulah, wanita yang memiliki hobi menulis sejak SD ini banyak bergaul dengan seniman Bengkel Muda dan Dewan Kesenian Surabaya. Dia pun berkenalan dengan sejumlah seniman dan budayawan seperti Gombloh, Leo Kristi, Franky Sahilatua, WS. Rendra dan Emha Ainun Najib. “Cak Nun dulu waktu masih muda sering mampir rumah saya. Bahkan Gombloh dulu sering makan dan menginap juga,” kenangnya tentang karibnya itu.

Pertemuannya dengan para seniman dan budayawan itulah, yang semakin mengasah keterampilan Sirikit dalam menulis puisi maupun cerpen. Sewaktu mahasiswa malah memperoleh bimbingan langsung dari begawan sastra Budi Darma. Dialah yang senantiasa mengilhami Sirikit dalam menulis. Pada tahun 1997, dirinya berhasil menerbitkan buku ‘Harga Perempuan’. “Karya ini begitu berarti bagi saya. Ini kumpulan cerpen pertama saya yang amat bernuansa perempuan,” tandasnya sumringah.

Sederet karya Sirikit Syah yang telah terbit: Media Massa di Bawah Kapitalisme (kumpulan esai tentang media massa, 1999), Muhammad; A Biography (terjemahan dari buku Karen Arsmstrong, 2001), Budaya, Media, dan Politik di Indonesia (terjemahan buku David T. Hill & Krishna Sen, berjudul Culture, Media, and Politics in New Order Indonesia, 2002), Memotret dengan Kata-kata (kumpulan puisi, 2005), Sensasi Selebriti (kumpulan cerpen, 2007), Rambu-rambu Jurnalistik (2011) dan Watch the Dog! (kumpulan esai, 2012).

Dengan kepiawaiannya dalam hal tulis-menulis, dia pun merintis sebuah sekolah menulis ‘Sirikit School of Writing’. Dengan adanya lembaga tersebut, wanita yang ingin segera menunaikan ibadah haji ini berharap mampu melahirkan penulis-penulis yang mendakwahkan Islam dan mengangkat harkat dan martabat manusia. Dengan menulis pun gairah Kebangkitan Islam bisa disuarakan. “Karena itu harus ada lebih banyak penulis, kolumnis dan kritikus dari kalangan Muslim. Sebab menulis itu merupakan medium dakwah yang sangat efektif,” tandasnya. Suprianto

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: