jump to navigation

Justru PKI yang Telah Melanggar HAM 23 Oct 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Wawancara.
Tags: , , , , , ,
trackback

Orang-orang komunis tak pernah surut langkah untuk menghapus jejak tragedi kemanusiaan tahun 1965. Targetnya, apa yang pernah dilakukan PKI bukanlah merupakan tindakan makar terhadap negara. Lantas, apa yang sesungguhnya terjadi di balik usaha tersebut? Dan bagaimana seharusnya pemerintah mengatasinya? Untuk mengupas masalah itulah, reporter MIMBAR Kab. Malang Syaifudin Ma’arif menemui Prof. Dr. Mohammad Noor Syam, SH. Berikut petikan wawancara dengan Ketua Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang ini:

Selama ini banyak pihak yang berdalih, bahwa apa yang dilakukan PKI bukanlah tindakan makar terhadap negara?

Itu skenario yang sengaja dibuat oleh PKI dan pendukungnya, yang berharap agar peristiwa kelam pemberontakan Madiun dan G30S/PKI tahun 1965 bukanlah tindakan makar terhadap pemerintah yang sah. Kalau peristiwa itu dianggap bukan tindakan makar, maka isu Dewan Jenderal yang dihembuskan PKI adalah sebuah kebenaran sejarah. Konsekuensinya, maka sebagai ideologi dan partai politik PKI berhak hidup dan berkembang di wilayah NKRI. Untuk itulah, mereka selalu memanfaatkan setiap peluang yang ada dan menyusup ke dalam berbagai sistem lembaga negara maupun organisasi kemasyarakatan.

Lalu konsekuensinya bagi pemerintah?

Karena pemerintah telah dianggap melanggar HAM dan menzalimi PKI, maka negara harus merahabilitasi nama baik mereka dan memberi kompensasi berupa materi yang ditentukan oleh mereka. Dan semua kezaliman yang diperbuat pemerintah harus dipertanggungjawabkan, atau harus dihukum. Sebab telah terjadi pelanggaran berat HAM, maka harus di diadili di MA atau Mahkamah Internasional. Oleh karenanya, kalau sampai PKI sebagai partai maupun ideologi hidup lagi dan menjadi partai resmi, sangat berbahaya bagi integritas dan keberadaan NKRI. Saat ini, orang-orang yang memiliki semangat keagamaanlah yang menjadi incaran mereka.

Mengapa justru kaum agamawan yang dipersalahkan?

Grand disain PKI adalah menghancurkan umat beragama, terutama umat Islam. Sebab dianggap sebagai penghalang pencapai tujuan. Umat Islam dipancing untuk berbuat onar agar bisa dipakai sebagai cara untuk melakukan tindakan balasan, atau mencemarkan nama baik maupun citra umat beragama. Kalau orang sudah ragu dengan kebenaran agamanya sendiri, yang terjadi adalah tindakan murtad. Kerusuhan dan tindak kekerasan di negara-negara Timur Tengah yang mayoritas beragama Islam, dimanfaatkan sebagai pintu masuk agar bisa menginvasi suatu negara. Dalihnya untuk menegakkan demokrasi, keamanan, maupun keadilan.

Bagaimana dengan NKRI sendiri

NKRI ini bisa kokoh berdiri dengan Pancasila sebagai dasar negara. Lambang negara berupa Burung Garuda dengan dengan dua sayapnya yang terbentang, mencerminkan kiprah dua ormas keagamaan (NU dan Muhammadiyah) yang selalu menjadi pendukung setia NKRI. Kalaupun toh ada bulu-bulu yang berjatuhan, itu karena perbedaan sudut pandang antar ormas saja.

Lantas dengan falsafah PKI?

PKI tentu menganut falsafah 5 a dalam menjalankan aksinya. Pertama, atheis; yang artinya anti Tuhan. Kedua, amoral;  yakni dalam mencapai tujuan segala cara dilakukan, yang penting tujuan tercapai. Ketiga, anasional; artinya tidak ada semangat kebangsaan atau mengokohkan jati diri sebagai sebuah bangsa, tetapi yang dikedapankan paham internasional (komunis) yang bersumber dari negara lain. Keempat, anti demokrasi; artinya sistem pemerintahan yang diterapkan cenderung diktator, dengan kewenangan absolut di tangan pemerintah tanpa partisipasi rakyat dalam mengambil keputusan.  Kelima asosial; selama ini yang menjadi isu pokok perjuangannya adalah membela kaum buruh, yang merupakan kaum tertindas yang menjadi korban sistem kapitalis. Mereka menyebutnya dengan sebutan prajurit revolusi. Itu hanyalah trik untuk menarik simpati dan dukungan kaum buruh untuk mencapai tujuan.

Itu sangat bertentangan dengan sila-sila dalam Pancasila..

Iya. Coba kita uraikan satu-persatu. Sila pertama, Ketuhanan Yang Maha Esa. Intinya mengakui adanya Tuhan, tetapi PKI justru anti Tuhan. Sila kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Tetapi praktek yang dilakukan mereka, kadang-kadang menggunakan cara yang biadab dan tak beradab, fitnah, teror dan sebagainya. Ketiga, Persatuan Indonesia. Tetapi mereka tidak memiliki identitas kebangsaan. Keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Tetapi mereka justru otoriter, rakyat tidak memiliki kekuasaan dan negaralah yang mutlak berkuasa. Kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh rakyat Indonesia. Kalau ini ada sedikit unsur sosialnya, tetapi dipakai sebagai alat propaganda perjuangan kaum buruh dan sebagainya.

Jika demikian, berarti tindakan pembubaran PKI bukanlah tindakan yang melanggar HAM?

Itu tidak melanggar HAM. Sebab konteksnya, pemerintah dan rakyat Indonesia mempertahankan integritas dan kedaulatan pemerintah berdasarkan undang-undang dan dasar negara. Justru PKI yang telah melanggar HAM, karena meniadakan hak-hak orang lain dengan membunuh para Jenderal. Juga tokoh-tokoh masyarakat yang dianggap menghalangi tujuan mereka. Para pemimpin dan masyarakat sekarang ini sangat risau dengan tindakan anarkhis yang sekarang bermunculan di mana-mana. Dan ujung-ujungnya adalah kerusakan fasilitas, kemiskinan, serta tercabik-cabiknya persatuan dan kesatuan bangsa.

 

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: