jump to navigation

Anggito Abimanyu, M.Sc, Ph.D 5 Sep 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Menjadi Dirjen PHU Atas Campur Tangan Tuhan

Tak banyak orang yang punya prinsip seperti Anggito Abimanyu, M.Sc, Ph.D. Baginya, bekerja adalah sepenuhnya merupakan ladang ibadah. Prinsip itulah yang membuat Direktur Jenderal Penyelenggara Haji dan Umroh (PHU) Kemenag RI ini selalu enjoy menjalani pekerjaannya. Bahkan ketika bidang pekerjaan itu di luar bidang spesialisasinya. “Kita harus optimal dalam bekerja,” tegasnya. “Kalau pekerjaan selalu diorientasikan dengan materi, pasti akan cepat bosan dan stress,” tukasnya mengingatkan.

Niatan ibadah itulah yang menyuntikkan energi luar biasa, sehingga menghindarkan dirinya dari rasa bosan dan tekanan stress. Sebab dengan menjalaninya sebagai amal ibadah, pekerjaan akan dilakukan secara profesional dan optimal. “Tujuan ibadah itu tentu tak berjangka pendek tapi lebih jauh ke depan lagi,” kilahnya. “Dengan begitu tak mungkin merampungkan pekerjaan dengan asal jadi. Tapi minimal harus sesuai target dan ada sentuhan optimalisasi dalam pekerjaan tersebut,” imbuhnya.

Prinsip dan nilai-nilai semacam itulah yang ditebarkan suami Darmayanti Lathif ini ke rekan-rekan di jajaran direktorat PHU. Sebab dirinya menyadari, bahwa tugas pokok direktorat yang dipimpinnya adalah melayani kaum Muslimin yang hendak menunaikan ibadah haji ke tanah suci. “Jika mereka tidak bisa bekerja secara optimal, tentu akan mengganggu seluruh rangkaian proses pelayanan yang diberikan kepada para tamu Allah,” tuturnya serius. “Dan itu akan mengurangi kekhusukan ritual peribadatan jamaah haji yang diharapkan mampu membuahkan kemabruran haji,” jelasnya.

Ayah Mahditya Putra Mahardhika dan Nadia Rahma Pratiwi ini lantas mengurai; Jika setiap tahun ada 225 ribu jamaah haji dan jamaah umroh ada sekitar 500 ribu orang, maka dalam lima tahun ada sekitar 3.625 ribu jamaah. Jadi hampir mencapai 4 juta jamaah. “Saya yakin dengan jumlah kemabruran sebanyak itu, akan mampu mengubah Indonesia lebih baik,” tandasnya.

Untuk mewujudkan hal itulah, pria kelahiran Bogor 19 Februari 1963 ini melakukan serangkaian gebrakan baru. Salah satunnya, dirinya akan membahas biaya perjalanan haji (BPIH) bersamaan dengan pembahasan RAPBN. Sebab ada sejumlah fasilitas yang dibebankan pada APBN. Sulung dari empat bersaudara ini juga akan menghapus privelese haji, serta memperbaiki pola setoran awal haji agar didapatkan dana manfaat yang lebih besar lagi. Dalam tubuh internal direktorat sendiri tak luput dari sentuhan pembaharuannya. Putra pasangan Soeharsono dan Suwarni ini juga akan melakukan pengetatan biaya perjalanan dinas. Jika selama ini perjalanan seorang dirjen menggunakan tiket pesawat VIP, diubahnya menjadi tiket pesawat ekonomi.

Pria ramah ini juga meminta kepada pihak penerbangan untuk memberikan diskon tiket pesawat, baik ke dalam maupun ke luar negeri dalam rangka perjalanan dinas. Bagai gayung bersambut pihak penerbangan pun memberikan potongan 30 persen. Pun ketika melakukan kunjungan ke berbagai daerah, dirinya lebih memilih menginap di Asrama Haji ketimbang di hotel. “Ini kan termasuk efisiensi anggaran, agar bisa dialihkan ke dalam program yang lebih bermanfaat,” kilahnya.

Mantan Kepala Badan Pengkajian Ekonomi, Keuangan, dan Kerjasama Internasional (Bapekki) ini juga menanggalkan jabatan komisaris di seluruh Asrama Haji di Indonesia. Menurutnya, anggaran yang dialokasikan kepada komisaris itu bisa dipergunakan untuk perbaikan fasilitas maupun meningkatkan kesejahteraan pegawai. Ini tentu demi meningkatkan pelayanan bagi jamaah. “Saya sudah bertekad bekerja di Direktoral PHU ini hanya untuk ibadah. Saya pun tidak mau tahu digaji berapa,” katanya serius. “Sebab saya sudah dalam posisi di mana materi itu terasa tak begitu penting lagi,” tukasnya.

Mantan Kepala Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu ini memahami, bahwa bukan saatnya lagi mengejar materi dalam bekerja. Sebab sebelumnya dirinya mengaku telah terjerembab dalam kubangan godaan materi. Tapi di direktorat PHU ini dia berikrar untuk menghijrahkan diri; mengubah orientasi hidup yang sebelumnya bersifat duniawi, menuju pandangan hidup yang bersifat ukhrawi.

Mantan Komisaris Bank International Indonesia (BII), Lippo Bank dan PT Telkom Indonesia menyadari, kalau dirinya termasuk orang yang terlambat dalam memahami agama. Semasa kecilnya pendidikan agama memang sangat minim didapatkan dari lingkungan keluarganya. Sebab orientasi pendidikan orang tuanya kala itu lebih fokus pada pendidikan umum dan bukan pendidikan agama. “Saya baru mulai belajar agama ketika menjadi mahasiswa S1 di UGM,” beber pria yang menyelesaikan studi magister dan doktoralnya di University of Pennsylvania Philadelphia Amerika Serikat ini.

Saking terlambatnya mendalami agama, mantan anggota Dewan Ekonomi Nasional ini baru lancar membaca al-Qur’an hampir bersamaan ketika anak pertamanya mengikuti ngaji di TPQ dekat rumahnya. “Ketika anak saya masuk ke TPQ, saya terhentak untuk serius belajar membaca al-Qur’an. Malu ah.. kalau ditanya anak tentang cara baca al-Qur’an dan saya tidak bisa menjawab,” tuturnya sambil melepas tawa renyah.

Sang istri tercintalah yang berjasa menghantarkannya mendalami agama. Apalagi Ketua Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi) ini tak memiliki guru khusus dalam memahami ilmu agama. Dari pengetahuan agama yang didalaminya, nyatanya mampu menyegarkan rasa haus spiritual dan kekeringan ruhaninya. Istinya pula yang telah mendorongnya untuk menyempurnakan rukun Islam ke lima pada tahun 1997 dan 2001 silam.

Anggito memang termasuk sosok pribadi yang tak banyak memiliki teman untuk diajak sharing. Padahal dia memiliki banyak komunitas mulai akademisi, musik, hingga basket. Sebab ketika seseorang dalam posisi strategis, sering hanya dijadikan objek mendulang manfaat saja. “Karena itu teman sejati saya hanyalah istri,” ucapnya dengan senyum dikulum.

Kini dirinya merasa beruntung bisa mengabdikan diri di lingkungan Kementerian Agama. Sebab disamping bekerja, dapat berkumpul dengan orang-orang baik dan belajar ilmu agama dari mereka. Itulah pasalnya, dia menganggap hal ini bukanlah peristiwa biasa. “Selama ini terlalu banyak peristiwa hidup yang saya biarkan lewat begitu saja. Tapi bergabungnya diri saya ke Kemenag, sungguh adalah pelajaran dan sekaligus peringatan Allah untuk saya,” ungkapnya jujur. “Kalau dengan ini saya tidak berubah, ya.. tak tahu apa yang bakal terjadi pada diri saya nanti,” ucapnya lirih.

Mantan Direktur Pusat Antar Universitas UGM ini merasa, tak mungkin menjadi Dirjen PHU tanpa campur tangan Tuhan. Apalagi tak terbesit sedikitpun dibenaknya untuk kembali ke birokrasi pasca pengundurannya dari Kemenkeu 2010 lalu. “Kemenag, bagi saya, adalah merupakan kepanjangan tangan Allah saja. Sebab saya tak memiliki kecakapan dalam bidang haji,” tuturnya merendah. “Andaikan diberi pilihan, lebih baik saya memilih menjadi direktur keuangan atau dirjen pajak dan bea cukai, atau apalah sesuai latar belakang keilmuan saya,” jelasnya.

Tapi pemilik beberapa karya di dunia musik saxophone ini berusaha husnudhan akan titah takdir kehidupan. Dirinya merasa selama ini telah banyak diberikan Tuhan talenta; mulai dari kemampuan bermusik, prestasi olah raga, kemampuan berbahasa asing, dan prestasi akademik. “Pokoknya soal urusan dunia, alhamdulillah. Tapi urusan akhirat saya masih nol. Inilah mungkin saatnya saya mewakafkan potensi diri saya untuk umat,” pungkasnya. Suprianto

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: