jump to navigation

Kebutahurufan Muhammad 28 Jul 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , ,
trackback

Oleh Ilung S. Enha

Sewaktu kecil, saya begitu ta’dzim mendengar guru ngaji yang menceritakan perihal Nabi yang ummiy. Ketika remaja, saya merasa tersinggung setiap kali mendengar ucapan bahwa Rasulullah itu seorang buta huruf. Sebab pikiran saya waktu itu, betapa mungkin Tuhan mempercayakan amanah besar – berupa misi makarimal akhlaq yang rahmatan lil alamin – kepada seorang gembala padang pasir yang buta terhadap aksara?

Bukankah bagi peradaban yang melek huruf, kebutahurufan selalu diedentikkan dengan kebodohan, kekolotan, cupetnya nalar, keterbelakangan pengetahuan, kesempitan wawasan waashabihi? Sekedar foot note, peradaban Arab waktu itu telah dirayakan dengan sajak-sajak – dan bagi tulisan sajak yang dianggap telah memenuhi kreteria ketinggian, biasanya digantungkan pada dinding-dinding Ka’bah.

Saya bahkan pernah didamprat oleh guru ngaji saya, gara-gara  mereka-reka bahwa terjemahan ummiy dengan buta huruf itu perlu dikaji ulang. Sebab sikap ABG saya waktu itu memang agak kelewatan bin kebablasan lantaran berani mengatakan, bahwa hadits-hadits yang menerangkan tentang keummiyan Muhammad adalah hadits palsu – atau minimal hadits dhaif. Alasan saya waktu itu, karena salah satu sifat Rasul adalah fathanah yakni kecerdasan atau kecendekiaan. “Ah, bagaimana mungkin kecerdikan bisa datang dari seorang yang buta huruf?” pikir saya waktu itu.

Untung saja Tuhan telah melahirkan diri saya melalui rahim seorang perempuan yang buta huruf. Melalui asuhan kasih sayang ibu yang buta huruf aksara itulah, lambat laun saya menjadi tahu berbagai kelebihan seorang buta huruf dibandingkan dengan mereka yang melek huruf. Semisal tentang kemandiriannya berfikir, cara mengambil sudut pandang yang khas, gaya analisisnya yang tak rasional namun sangat masuk akal, daya hafalnya yang mengagumkan, cekatannya dalam menelurkan ide-ide yang inovatif, atau tentang loncatan-loncatan logikanya yang bahkan tak mungkin ditemukan pada mereka yang melek huruf – lantaran setiap penjuru logikanya telah dibatasi oleh jeruji penjara referensial. Bayangkan, hingga menjadi profesor doktor, cendekiawan kita masih sangat gemar untuk menyuguhkan nukilan-nukilan daripada buah kemandirian berpikirnya sendiri.

Setidaknya, kecermatan telinga orang-orang buta huruf tak akan tertandingi oleh kepekaan mereka yang melek huruf. Seperti halnya orang yang buta, kekuatan telinganya berlipat berlipat-lipat dibandingkan dengan mereka yang melek huruf. Bagi orang yang buta huruf, setiap apa yang didengar dengan sendirinya akan menjadi biji pengetahuan. Lantas secara otomatis pula, otak dan intuisinya bekerjasama melakukan tanggapan, koreksi dan bahkan solusi.  Baik secara kuantitatif, pengetahuan dan informasi yang masuk lewat telinga, jauh lebih cepat dibandingkan yang masuk melalui mata.

Yang pasti, yang menemukan pertama kali simbol-simbol huruf tersebut, adalah mereka yang masih buta huruf. Hanya faktor sejarah peradaban yang berjalan secara timpanglah, sehingga mengakibatkan orang-orang buta huruf menjadi tersisih. Seperti halnya pada saat ini, terlampau banyak orang-orang yang bukan sarjana kepintarannya melebihi mereka yang bertitel. Cuma faktor peraturan dan administrasi, peluang dan kesempatan, serta konfigurasi dan faktor sosial yang tak fair sajalah, yang dengan keji menindas dan menguburkan kepintaran mereka.

Itu semua cuma secuil alasan, betapa saya merasa kagum penuh tawadlu’ terhadap Rasul  yang meski buta huruf. Bayangkan, dengan bekal kebutahurufan itulah dirinya menghadapi perintah iqra; sedangkan al-Qur’an waktu itu masih belum ada. Lantas apa sesungguhnya yang diperintahkan olehNya dengan ayat tersebut? Sayangnya, lagi-lagi dengan persepsi peradaban melek huruf kita terlampau gegabah menafsirkannya, bahwa yang diperintahkanNya adalah membaca rentetan huruf pada tulisan buku-buku. Ah, betapa musykil!?

*) Penulis Buku Laduni Quotient; Model Kecerdasan masa Depan

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: