jump to navigation

PP. Nurul Qur’an Ponorogo 26 June 2012

Posted by decazuha in Pesantren di Jawa Timur.
Tags: , , , , , ,
trackback

Mencetak Huffadh yang Berjiwa Enterpreneur

Terasa ada yang lain dari pesantren pencetak para Huffadh ini. Para santrinya tak hanya dipacu untuk sukses menghafal al-Qur’an 30 juz semata, melainkan didorong pula agar sukses di bidang usaha perekonomian. Maka jangan heran jika calon-calon Huffadh dari PP Nurul Qur’an, juga disibukkan dalam proses produksi batubata merah di lingkungan pesantren.

Boleh saja sebagian orang menganggap hal itu berada di luar kewajaran. Tapi memang itulah yang dilakukan oleh Pondok Pesantren Nurul Qur’an (PPNQ) Pakunden Ponorogo. Bahkan sejak dini setiap santri sudah diakrabkan dengan semangat kemandirian dan kerja keras agar memiliki jiwa enterpreneur yang handal. “Kami telah mencanangkan program tersebut sejak pertama kali santri masuk pesantren,” tukas KH. Sholichan.

Ketangguhan semacam itu menjadi penting, mengingat mayoritas santri mukim di pesantren yang berdiri sejak 1989 ini rata-rata berlatarbelakang ekonomi lemah. Maka seluruh pembiayaan untuk pendidikan digratiskan. Bahkan untuk kebutuhan makan sehari-hari pun, juga ditanggung oleh pesantren. “Bagi kami, semangat mereka untuk mondok itu sudah sangat luar biasa,” ujar pengasuh PPNQ ini bernada bangga.

Meskipun dana yang dimiliki pesantren sangatlah terbatas untuk mengkaver seluruh kebutuhan santri, tapi dirinya tak ingin menghalangi semangat mereka untuk mencari ilmu dan menghafal al-Qur’an. Untuk menutupi kekurangan dana tersebut, pihak pesantren menerapkan sebuah kebijakan yang harus ditaati oleh seluruh santri. Gratisnya biaya dan fasilitas pendidikan serta untuk makan keseharian, hanya diperuntukkan bagi santri baru hingga tiga tahun mondok.

Santri-santri baru tersebut belum diwajibkan untuk terjun dalam proses produksi batubata merah. Mereka hanya diberi tanggung jawab yang ringan-ringan saja. Setiap hari mereka wajib membersihkan lingkungan pesantren. Waktu yang dibutuhkan maksimal cuma satu jam saban harinya. Ini sekedar untuk memperkenalkan pada santri baru akan pentingnya menjaga lingkungan. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, haruslah dilakukan dengan semangat kerja keras.

Bagi yang telah melewati waktu tiga tahun, barulah mereka diajak untuk belajar mandiri dan membiayai kebutuhan hidupnya sendiri. Seperti membayar iuran pondok 10 ribu perbulan, atau memenuhi perlengkapan belajar lainnya. Uang iuran itulah yang nantinya dibuat untuk membayar tagihan listrik dan air.

Untuk memperoleh uang, para santri cukup meluangkan waktunya 3 hingga 4 jam sehari. Sebab pihak pesantren telah menyediakan lahan kerja berupa usaha pembuatan batubata milik pesantren. Produk batubata berlogo PPNQ merupakan sentra pembuatan bata merah terbesar di daerah Pakunden, dengan kapasitas produksi sebesar 4-5 ribu perhari. “Selama musim kemarau bahkan bisa menghasilkan hingga 200 ribu batubata,” tutur KH. Sholichan membeberkan.

Kegiatan produksinya dipusatkan di dua tempat seluas 700 m2 dan 1000 m2. Tentu saja dengan alat dan perlengkapan yang semi modern. Disamping terdapat alat pres 10 buah, sebuah mesin pres, satu alat penggiling otomatis, serta dua armada berupa mobil bak.

Bagi santri yang bekerja di pabrik batubata merah ini, semuanya akan memperoleh upah secara layak. Perseribu batubata merahnya, para santri mendapatkan upah 110 ribu rupiah. Biasanya hal itu dikerjakan oleh satu kelompok dan perkelompoknya terdiri dari 4 hingga 5 santri.

Upah tersebut meliputi beberapa komponen pekerjaan, sesuai dengan proses pembuatan bata merah dari awal hingga akhir. Untuk bagian penghalusan lumpur mendapatkan imbalan 40 ribu rupiah, bagian pencetakan batubata 40 ribu rupiah, dan bagian penghalusan batubata setelah dikeringkan dari proses cetak 30 ribu rupiah. ”Jika cuaca panas, mereka mampu menghasilkan seribu bata perharinya,” ungkapnya penuh semangat.

Sedangkan untuk proses pembakaran, pihak pesantren sengaja mendatangkan tenaga dari luar pondok. Sebab kalau semua proses dilakukan para santri, tentu akan menyita waktu yang terlalu lama. Bagaimanapun juga mereka telah memiliki kewajiban untuk menghafal al-Qur’an dan mendalami kitab kuning. Jadi praktis waktu yang dibutuhkan mereka untuk bekerja dimulai pukul 07.00 wib s/d 11.00 wib. ”Tapi yang sering dilakukan para santri malah memulai kerja pukul delapan,” tukasnya sambil tertawa lirih.

Langkah yang diambil pesanten yang letaknya tak jauh dari alun-alun Ponorogo ini, adalah untuk menjawab kegamangan santri antara belajar dan tuntutan ekonomi pasca studinya. Sebab tak semua santri memiliki lembaga pendidikan di kampung halamannya. ”Makanya saya selalu menekankan, bahwa mengajar dan mengamalkan ilmu itu bisa dimana saja,” tandas pria asal Demak Jawa Tengah ini serius.

Itulah pasalnya, setiap santri senior di PPNQ senantiasa didorong untuk bisa mengajar santri yang lebih yunior. Sedangkan untuk mematangkan kemampuan mengajarnya, mereka ditugaskan untuk memberikan les privat bagi warga sekitar pesantren. Ini mengingat lokasi pesantren yang berada di tengah kehidupan masyarak kota, yang tentu saja sangat membutuhkan layanan belajar al-Qur’an secara khusus. ”Yang paling saya tekankan kepada mereka, agar mengajar tanpa pamrih,” tegasnya. ”Selama ini mereka belajar tanpa dipungut biaya. Lha masak tiba gilirannya mengajar lantas mengharapkan imbalan,” ucap suami Nyai Siti Nur Hidayah ini dengan senyum dikulum.

Sejak awal pesantren yang berada di pinggiran kali Jenes Ponorogo ini, memang sudah mencanangkan dirinya untuk menjadi pondok pesantren yang mandiri. Disamping mandiri dalam hal pendanaan, juga dalam proses belajar-mengajarnya. Maka tak heran jika santri-santri yang berkualitas langsung ditugaskan untuk mengajar santri lainnya. Disamping untuk melatih keterampilan mengajar santri, juga untuk menopang kemandirian PPNQ di bidang SDM.

Yang pasti, kini kemandirian itu telah nyata. Banyak santri senior yang memiliki skill-mengajar secara mumpuni. Begitu pun secara finansial pesantren ini telah terbukti sanggup membiayai kebutuhannya sendiri. Setidaknya dengan unit usaha batubata merah yang dimiliki pesantren, kini mampu menkaver kebutuhan santri dan kebutuhan operasioanl pesantren.

Yang menawan, dari seluruh proses yang demikian itu telah membentuk karakter santri yang mengangumkan. Disamping menjadi figur santri yang tekun menghafal al-Qur’an dan mendalami ilmu keagamaan, juga menjadi sosok yang siap hidup mandiri dengan semangat juang yang tinggi. Hal itu sesuai wejangan dan harapan pengasuh pesantren, agar para santri jangan sampai hidup dengan menjadi beban orang lain.

Oleh karenanya dibutuhkan semangat kerja keras dan sikap kemandirian yang tinggi. Sebagaimana yang tertera dalam sebuah maqalah; Bagi siapa yang mau bekerja keras di masa mudanya, niscaya akan menuai kesuksesan di masa tuanya. ”Saya yakin dengan kemandirian dan kerja keras, mereka akan memiliki semangat yang tinggi untuk meraih kesuksesan meski latarbelakang mereka kini serba kekurangan,” tandasnya meyakinkan. Ifrah, Suprianto

Advertisements

Comments»

1. manshur hidayat - 14 August 2012

PPNQ( Pondok pesantren murul qur’an) ” Q bangga sekali BISA mengkaji di PPNQ,,! * Trimkasih pak Yai : KH SHOLIKHAN

2. heru - 15 January 2013

mau tanya apakah di PPNQ jg memberikan gemblengan ilmu2 hikmah utk org umum (diluar santri)


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: