jump to navigation

PP. Babussalam Malang 7 May 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Pesantren di Jawa Timur.
Tags: , , ,
trackback

Memacu Keberanian Santri dengan Berkuda

 

Pernah dengar pesantren yang ngajari santrinya keterampilan merawat kuda pacu? Itu terjadi di pondok Babussalam Malang. Selain dipacu untuk menguasai skill komputer dan mahir kitab kuning serta berolahraga dan berkesenian religius, mereka juga diajari bagaimana merawat kuda pacuan. Mulai dari cara beternak, memberi makanan pilihan buat kuda, hingga merawatnya dengan cara khusus. Sebab merawat kuda tak seperti beternak sapi, kerbau, kambing atau hewan piaraan lainnya.

Bukan tanpa alasan pondok yang terletak di desa Banjarejo kecamatan Pagelaran kabupaten Malang ini memberikan keterampilan tersebut. Sebab Gus Thoriq Bin Ziyad, S.PdI memang gemar olahraga berkuda. Dari hobi itulah yang mendorong pengasuh pondok pesantren Babussalam ini berusaha mengembangbiakkannya.

Kegemaran berkuda tersebut, mulanya hanya untuk mengalihkan kesedihan hatinya saat ditinggal wafat ayahandanya di tahun 2006. Sebab waktu itu dirinya belum siap untuk memangku tampuk amanah mengasuh pondok pesantren. Meski sejak kecil berkutat menimba ilmu di pondok pesantren, namun baginya menjadi santri dan menjadi pengasuh itu adalah dua hal yang sangat berbeda. “Sebagai generasi ketiga, saya merasa amanah tersebut amatlah berat. Apalagi dengan landasan harus tetap mempertahankan ciri salafiyahnya namun tetap update terhadap perkembangan zaman,” ucapnya dengan nada berat.

Untuk mengatasi kegundahan jiwanya itulah, sehingga waktunya lebih banyak dihabiskan untuk browsing informasi tentang kuda pacuan melalui internet. Menurut pria kelahiran Jember 17 Agustus 1976 ini, orang yang gemar kuda itu adalah orang yang berpengetahuan. “Kuda, dalam bahasa Jawa disebut dengan jaran. Ini adalah merupakan sinonim dari kata ajaran,” ulasnya. ”Dulu para Wali menggunakan kuda lumping sebagai media dakwah untuk menyebarkan ajaran Islam,” tukasnya.

Penunggang kuda lumping adalah seorang satria. Ini adalah kata lain dari santri. Dengan formasi lima orang yang berpakaian rapi mengikuti irama yang mengirinya, itu melambangkan kebersihan dan kesucian jiwa karena berpegangan pada jaran (ajaran agama). “Seorang santri apabila masih memegang teguh pada dalil dan ajaran, maka dia akan selamat,” urainya. “Tetapi pada saat kuda atau jaran tadi dicampakkan, yang terjadi tentu sang satria menjadi kalap, mengamuk dan berganti menunggangi babi sebagai simbol menuruti hawa nafsu dan angkara murka,” tambahnya.

Pada lontar sejarah terdapat banyak sekali tokoh-tokoh besar yang dikenal piawai dalam berkuda. Sebut saja sebagai contoh; Hamzah, Khalid bin Walid, George Washington, Columbus, Pangeran Diponegoro, Panglima Sudirman, atau tokoh besar lainnya. “Dalam sebuah Hadits disebutkan, bahwa di ubun-ubun kuda itu terdapat barokah sampai hari kiamat,” terangnya.

Kegemaran berkuda Gus Thoriq, sebenarnya juga sudah tertanam sejak kecil. Demi memenuhi keinginannya naik kendaraan bendi atau dokar, Thoriq kecil rela membayar lebih uang sewanya untuk mengelilingi desa. Dari kehendak yang kuat itulah ketika dewasa diujudkannya dengan membeli kuda pada seorang warga sekitar pondok.

Sejak memiliki kuda sendiri, dirinya sangat getol mempelajari referensi mengenai kuda baik dari internet maupun dari kitab-kitab klasik. “Dalam surat al-Adiyat dinyatakan bahwa kuda merupakan salah satu perhiasan atau harta yang akan diburu sampai hari kiamat,” ungkapnya. “Dalam Hadits Nabi juga disebutkan, agar kita mengajari anak-anak untuk memanah dan berkuda,” tambahnya.

Itulah sebabnya berkuda dijadikan sebagai salah satu kegiatan ekstra kulikuler untuk para santri. Diberikan bekal kepada mereka pengetahuan dan keterampilan untuk mengenali kuda yang baik, dengan melihat kondisi badan, rambut dan ras. Ditinjau dari aspek kesehatan, olahraga berkuda merupakan terapi kesehatan. Sebab dengan berkuda banyak otot-otot bagian paha dan punggung yang terstimulan pada saat bergesekan dengan punggung kuda. Kegiatan ektrakurikuler berkuda di pondok ini juga terbukti mampu menjadi terapi bagi santri yang memiliki rasa takut untuk menjadi lebih berani. “Bagi  siapa pun yang tak pernah berkuda, pasti akan takut terlebih dulu melihat postur kuda yang cukup tinggi dan besar,” tuturnya sambil tertawa lirih.

Banyak sekali pelajaran yang bisa diambil para santri saat merawat kuda. Mereka akan menerapkan sistem reward dan punishment untuk kuda-kuda piaraan tersebut. Kalau menuruti perintah tuannya, maka akan memperoleh tepukan atau elusan di lehernya. Sebagai tanda senang, biasanya telinga kuda mengarah ke depan. “Tapi kalau kuda tak nuruti perintah, akan dicambuk tubuhnya bagian belakang dengan tidak bertujuan menyakiti,” katanya. “Tapi ingat, jangan sekali-kali memukul bagian kepala depan kuda. Sebab kuda akan berbalik menyerang, traumatik dan cenderung susah diatur,” tegasnya.

Sistem reward dan punishment tersebut, juga diterapkan alumni UIN Maliki Malang ini untuk pembinaan para santri. Jika perilaku santri baik dan berprestasi, mereka layak mendapatkan perghargaan dan kesempatan. Namun ketika mereka melanggar, tentu akan memperoleh hukuman setimpal yang mendidik. “Seorang pendidik atau pemimpin itu, laiknya sang penunggang kuda. Harus tahu kapan memberikan penghargaan dan kapan memberikan hukuman,” imbuhnya. ”Di sisi lain, sang pemelihara kuda harus telaten dalam mengamati perkembangan masing-masing kuda yang berbeda-beda,” tambahnya mengingatkan.

Yang perlu diketahui pula, kuda memiliki tanda lahir seperti halnya manusia. Tanda lahir pada kuda itu identik dengan watak pemiliknya. Menurut filosofi Jawa, kalau kuda memiliki tanda lahir di atas punggung atau biasa disebut satriyo pinayungan, itu melambangkan karakter pemimpin. Kalau sabuk inten adalah karakter pedagang. “Jika tanda lahirnya nggak jelas, dia punya karakter suka menelikung apabila diberi kepercayaan. Seorang pemimpin, idealnya punya kuda warna putih mulus karena nuweki (dituakan).. muncul kharismanya,” ujarnya bernada harap.

Gus Thoriq juga berharap, sebagai negara agraris Indonesia seharusnya mengembangkan ternak kuda yang keunikannya tidak dimiliki negara lain. Sebab negeri ini sebenarnya memiliki potensi penyedia bibit kuda yang bagus di belahan timur. Hanya lantaran  kurang tergarap dengan baik, sehingga kurang dikenal masyarakat. “Ketika saya perkenalkan kepada santri usaha peternakan kuda, mereka melontarkan tanggapan yang cukup beragam,” katanya mencontohkan. ”Untuk menuai suatu keberhasilan, bukankah selalu dibutuhkan keuletan dan kesabaran tersendiri,” ucapnya merendah.

Dirinya menyadari, kalau ternak kuda merupakan celah bisnis yang tak banyak dilirik orang karena dianggap kurang prestise. Padahal jika dikelola dengan baik, akan mendatangkan keuntungan yang luar biasa. Dengan bekal pengalaman beternak dan merawat kuda tersebut, diharapkan kelak ada santri yang mengembangkan bisnis peternakan kuda.

Demi menggelorakan semangat santri dan masyarakat sekitar pondok untuk memulai usaha ini, pada peringatan Tahun Baru Islam 1 Muharram beberapa waktu lalu, diperkenalkanlah ikon baru; Madrasah Berkuda. “Merawat kuda ternyata tak hanya berupa peluang bisnis, tapi juga merupakan simbol prestise bagi pemiliknya,” ujarnya. “Buktinya, kalau ada orang membeli mobil mewah dianggapnya itu biasa-biasa saja. Tapi coba kalau mempunyai kuda seharga mobil tersebut, pasti pemiliknya dianggap berkelas oleh masyarakat,” tukasnya dengan nada kelakar. Syaifudin Ma’arif

Comments»

1. aditya fahamzah - 16 May 2014

selamat pagi pak Babussalam, saya adit dari sby mau tanya, ,pakan untuk kuda bapak apa?? apakah alfalfa jugaa termasuk?? terima kasih


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: