jump to navigation

Ahmad Fuadi 7 Apr 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
trackback

Melukis Kota yang Berpayung Salju 

Kepuasan kerapkali tak terdefinisikan. Ahmad Fuadi telah menggenggam kesuksesan dengan berstudi-karir ke luar negeri. Tak tanggung-tanggung. Delapan beasiswa di empat negara telah digenggamnya. Dirinya bahkan sudah berkeliling ke 30 negara di dunia. Tapi itu tak jua memuaskan hatinya.

Segugus keresahan itulah, yang mendorongnya untuk menulis novel ”Negeri 5 Menara”. Lalu dia pun mencoba mendefinisikan kepuasan. Baginya, kepuasan itu ketika seseorang sukses memberi makna kepada oranag lain. ”Apalah arti sukses jika tak berdampak manfaat bagi yang lain,” ucapnya mengail rumusan.

Rumusan itu bermula dari aliran hulu masa lalu. Sebuah pesan singkat dari Sang Ustadz, saat dirinya mengkais pelita ilmu di Pondok Modern Gontor Ponorogo. Petuah itu cukup singkat; sebaik-baik insan ketika sanggup berdayaguna bagi yang lain. Petuah ini pun menggema di ruang dalam jiwanya. ”Sebagai anak dari kampung kecil di pinggiran Dana Maninjau, apa yang teraih kini sungguh melampaui batas angan yang pernah kugambar,” putra pasangan (alm.) M. Faried Sulthany Imam Diateh dan Suhasni ini menyulam masa silamnya kembali.

Akan tetapi, sejujurnya, betapa yang bernama ”luar negeri” itu memang nyata pernah digantang dalam anganan kecilnya. Lalu anganan itupun bermetamorfosa jadi segumpal cita-cita. Kiriman foto-foto dan surat dalam amplop mungil dari kerabatnya yang belajar di sana, telah menjarah relung hatinya. Ah, indah nian foto sebuah kota yang berpayung salju! ”Melalui keindahan foto-foto yang memikat, benak pun terpikat. Lalu mulailah kulukis luar negeri di tabung kecil mimpiku,” kisahnya dari pungutan masa silam yang tak pekat.

Impian itupun kini menjelma kenyataan. Ziarah ke luar negeri benar-benar telah ujud dan bukan lagi berupa gambar dalam anganan. Direktur Komunikasi di sebuah NGO konservasi “The Nature Conservancy”, yang saat itu masih kuliah jurusan Hubungan Internasional di Universitas Padjajaran Bandung, mewakili Indonesia mengikuti program Youth Exchange Program di Quebec, Kanada (1995-1996).

Menjelang kelululusannya di tahun 1997, mendapat kesempatan kembali kuliah satu semester di National University of Singapore dalam program SIF Fellowship. Pada tahun 2011, suami Danya “Yayi” Dewanti ini juga mendapatkan beasiswa Fulbright untuk program S-2 di School of Media and Public Affairs, George Washington University.

Bersama istri – yang juga wartawan TEMPO, dirinya melang-langbuana ke Washington DC. Di sela-sela kesibukannya kuliah, masih sempat menggeluti profesi sebagai koresponden TEMPO dan wartawan VOA. Berita bersejarah ”Peristiwa 11 September”, telah dilaporkannya bersama istri tercinta langsung dari Pentagon, White House dan Capitol Hill. Tiga tahun berselang, didapatkannya pula beasiswa Chevening untuk belajar di Royal Holloway, University of London dalam bidang film dokumenter.

Beragam capaian prestasi hidup itulah, yang seringkali membuat penyuka dunia fotografi ini tertegun. Dan ketertegunan itupun mendorongnya untuk berpikir dengan keras; apa sesungguhnya yang menjadikan dirinya seperti ini? “Jawabnya, ternyata terletak pada pendidikan pesantren. Pendidikan karakter di pesantrenlah yang membuatku mendapatkan segalanya,” simpul lelaki kelahiran 30 Desember 1972 ini dengan hati mantap.

Padahal, semula dirinya enggan untuk disodorkan ke dalam pola pendidikan pesantren. Selepas Tsanawiyah, sesungguhnya dia ingin mengenyam pendidikan SMA Favorit di Kota Bukitttinggi. Sebab kelak bisa meneruskan ke perguruan tinggi dan jadi seorang insinyur, yang mengerti seluk-beluk teknologi seperti Habibie.

Kendati memperoleh nilai ujian akhir terbaik di kotanya, keinginannya tak bersua dengan kehendak sang ibunda. Orangtuanya telah memilihkan cita-cita sebagai ahli agama. Maka dititipkanlah dirinya ke model pendidikan pesantren. “Ibu merasa prihatin mengenai input pesantren yang rata-rata bukan dari bibit unggulan. Mayoritas dari mereka adalah anak-anak nakal yang gagal,” ungkapnya. ”Di sinalah kemudian aku berproses menjadi orang yang kelak banyak bermanfaat bagi orang lain,” tambahnya.

Dengan modal sebagai penulis esais, wartawan dan cerpenis, lantas diramulah pengalaman masa silam itu ke dalam sebuah novel. Dan tuturan itu pun menemui titik henti di halaman 435. Inti ceritanya, adalah kisah anak kampung yang memiliki impian besar untuk belajar ke Amerika Serikat. “Berkat belajar di pesantrenlah hingga aku berani bermimpi seperti itu,” ujarnya. ”Disamping berani menggambar mimpi, sekaligus berani membela mimpi tersebut,” tandasnya.

Mahfudzhat man jadda wa jada (siapa yang sungguh-sungguh pasti akan mendapatkan), sangat berpengaruh besar buat mentalitasnya. Di Pondok Gontor ini pula dirinya menemukan jendela dunia; bahwa penguasaan bahasa asing merupakan anak kunci untuk membelah dunia. Dan tak tanggung-tanggung, tiga bahasa asing secara mahir dikuasainya – bahasa Arab, bahasa Inggris dan bahasa Perancis.

Novel ”Negeri 5 Menara” adalah novel pertama dari rencana trilogi. Judul tersebut terinspirasi dari pertemuan dengan sahabat-sahabatnya. Ketika berkumpul di bawah menara mesjid dan menatap awan, mereka kerap mengangankan mimpinya masing-masing. ”Ketika melihat awan di langit, eh kok kayak Afrika, Amerika,” kenangnya. “Itu yang membuat kami menuntut ilmu di negara yang berbeda. Lima menara itulah yang menjadi tujuan impian kami,” kata lelaki yang hobi menulis buku harian sejak kecil ini.

Melalui tulisannya itulah, dirinya ingin merayakan pengalaman dalam menikmati atmosfir pendidikan yang sangat inspiratif. “Semoga novel-novel ini bisa menjadi jalan untuk membuka mata dan hati, serta menebar inspirasi ke beragam arah,” harapnya.

Kiranya keinginan itu pun bukanlah mimpi yang tergambar. Sebab dalam waktu 9 bulan, telah terjual 100.000 eksemplar. Sebuah rekor penjualan baru buat buku lokal terbitan Gramedia Pustaka Utama sepanjang 36 tahun. Sebagian royaltinya, telah diniatkan buat merintis Komunitas Menara; sebuah organisasi sosial berbasis relawan yang menyediakan sekolah, perpustakaan, rumah sakit, serta dapur umum secara gratis buat kalangan yang tak mampu.

”Negeri 5 Menara” telah menjadi microfon, bahwa alumni pesantren tak kalah dengan lulusan lembaga pendidkan lainnya. Bukankah telah banyak orang-orang pesantren yang menempati pos-pos penting di negeri ini? “Kebetulan aku sering keliling mancanegara. Ketemunya kok banyak yang lulusan pesantren juga,” tukasnya heran bercampur bangga.

Jadi, simpulnya, pesantren bukanlah alternatif pendidikan terakhir. Pesantren merupakan salah satu opsi penting dalam pendidikan di negeri ini. Selain mengajarkan agama dan ilmu pengetahuan, pesantren juga mengajarkan ilmu kehidupan. ”Inilah kelebihan yang tak dimiliki oleh model pendidikan manapun,” tandasnya.

Selain kedahsyatan pendidikan pesantren, yang tak kalah menariknya adalah pendidikan di keluarganya. Yang paling membekas di jiwanya, adalah cara sang ibu dalam mendidiknya. “Bayangkan, satu-satunya nilai raporku yang merah, adalah dari ibuku sendiri,” paparnya jujur. “Itu gara-gara aku tak mau ikut sebuah latihan di sekolah,” tambahnya sambil mengulum senyum.

Latar pendidikan itulah, yang melayangkan dirinya mendulang berbagai prestasi. Disamping pernah meraih penghargaan The Ford Foundation Award (1999-2000) dan Indonesian Cultural Foundation Inc. Award (2000-2001), juga berhasil meraih penghargaan “Columbus School of Arts and Sciences Award, The Goerge Washington University (2000-2001).

Kunci dari kesuksesan tersebut? “Nilai-nilai seperti kesederhanaan dan keikhlasan, serta keteladanan yang kuperoleh dari pesantren. Terus terang, aku merasa beruntung pernah mendapatkan pendidikan di pesantren,” ungkapnya. ”Kalau tak demikian, ya.. barangkali saat ini aku sudah  jadi nelayan di kampung,” imbuhnya sambil tertawa renyah. Pri

Advertisements

Comments»

1. alsoloni - 17 Apr 2012

Apa yang saya baca di sini adalah cerita dan pengalaman membumikan lima ayat wahyu Qurani pertama yang diterima rasulullah Muhammad saw. Dalam wahyu tsb jelas jemelas Muhammad dibukakan fikirnya ke arah problematika “melek huruf” sebagai langkah pertama untuk mensistimatiskan pengetahuan (knowledge). Dengan pengetahuan manusia akan dapat mengembangkan dirinya yang sekaligus akan mengerti siapa dirinya.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: