jump to navigation

Memoar Ketabahan Melawan Kematian 26 Feb 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Resensi.
trackback

Judul Buku: Bersyukur Atas Rahmat Kanker Indung Telur

Penulis: Rulianti RTS

Penerbit: Lintang Aksara, Yogyakarta

Cetakan: Pertama, Juli 2011

Tebal: 120 halaman

Harga: Rp 25.000,-

Oleh Faizah SA 

MASIH adakah sejumput harapan saat kematian yang getir telah terbubuhkan di atas pusara takdir dan tinggal menanti kapan meregang nyawa akibat penyakit akut menggerogoti raga? Bagi sebagian orang, pasrah seraya menebalkan zikir adalah zona aman dalam menjemput takdir.

Tapi, tidak bagi Rulianti RTS. Perempuan pensiunan BRI ini pantang patah arang. Penyakit kanker indung telur stadium lanjut tak membuatnya ngingir di gigir takdir. Di tengah gaung pesimisme kesembuhan sebab kanker indung telur adalah penyakit mematikan kelima yang membunuh rata-rata 115.000 perempuan tiap tahun, penyakit itu ditaklukkan di meja operasi.

Kisah heroik Rulianti itu diwartakan sepanjang 120 halaman dalam memoar buku ini. Dengan bahasa bernas nan lugas, Rulianti mendaraskan seluruh pergelutannya sebelum dan sesudah operasi kanker. Kebiasaan dan gaya hidup ia eja satu per satu untuk menyisir sebab-musabab penyakit kanker indung telur bersarang di tubuhnya.

Maka, membaca memoar ini emosi kita seketika teraduk-aduk karena larut dalam sebuah pertempuran mahadahsyat menantang maut. Dari narasi kalimat yang teruntai jalin-menjalin panjang begitu nyata optimisme Rulianti untuk merengkuh kehidupan, dan menolak kematian. Betapa tidak, masa-masa panjang diagnosa dan penantian operasi digunakannya untuk menata hati sembari instrospeksi diri.

Namun tetap saja Rulianti bukan penganut eksistensialisme sejati yang menafikan adanya kekuatan adikodrati. Sebab di ujung pergulatannya saat detik-detik menjelang operasi segugus kepasrahan total meluncur gontai dari mulutnya: “Seluruh saudara menunggu sambil menangis melihat saya siap dibawa ke ruang operasi. Saya membesarkan hati mereka agar tidak menangis, sebab saya menjalani proses kesembuhan yang telah ditunjukkan Allah.” (hlm. 41)

Di tengah euforia keberhasilan operasi, Rulianti terbersit untuk membagi syukur. Dan, buku ini adalah saksi abadi atas rasa syukur itu. Sebab, bagi Rulianti, penyakit kanker indung telur bukanlah musibah, melainkah hadiah dari Allah yang mesti disyukuri sepenuh hati.

Melalui memoar ini kita bukan saja disuguhi deskripsi seputar operasi kanker indung telur, tetapi juga segenap lika-liku kehidupan Rulianti. Memoar ini mengajak kita berpaling ke masa lalu kehidupan Rulianti. Detail yang dianggap sepele tapi sesungguhnya penting mendapat porsi besar. Deskripsi kuat menghidupkan imajinasi kita. Gaya bertutur renyah disampaikan dengan kalimat-kalimat pendek. Kita seakan diajak masuk ke ruang bedah dan ICU untuk menyaksikan sendiri proses operasi itu. Kita seolah berdialog sendiri dengan Rulianti sekaligus menyusuri lika-liku kehidupannya yang mengharukan.

Memoar ini bisa menjadi kaca pangilon bagi kaum perempuan untuk selalu waspada terhadap penyakit kanker indung telur, sekaligus penguat mental bagi pasien penderita kanker indung telur. Rulianti serasa hendak menghunjamkan selarit simpul betapa optimisme harus terus dipancangkan dengan segenap daya dan upaya untuk merawat kehidupan, meski dalam kondisi yang paling nadir sekalipun. Bahwa dalam hidup, jangan menyerah. Jangan kalah. Inilah pesan nyata Rulianti. Sebuah memoar ketabahan melawan kematian. []

*) Faizah SA, Penulis Buku “Waspada Kanker Serviks”.

Comments»

1. RE. Purnama - 2 Apr 2012

beli bukunya dimana ya.. Terimakasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: