jump to navigation

Bung Tomo 26 Jan 2012

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
trackback

Simbol Kesederhanaan dan Kedekatannya dengan Rakyat

 

…………………………………….

…………………………………….

Saoedara-saoedara ra’jat Soerabaja,

siaplah keadaan genting tetapi saja peringatkan sekali lagi, djangan moelai menembak,

baroe kalaoe kita ditembak, maka kita akan ganti menjerang mereka itu.

 

Kita toendjoekkan bahwa kita adalah benar-benar orang jang ingin merdeka.

Dan oentoek kita, saoedara-saoedara, lebih baik kita hantjur leboer daripada tidak merdeka.

Sembojan kita tetap: MERDEKA atau MATI.

 

Dan kita jakin, saoedara-saoedara,

pada akhirnja pastilah kemenangan akan djatuh ke tangan kita sebab Allah selaloe berada di pihak jang benar

pertjajalah saoedara-saoedara, Toehan akan melindungi kita sekalian

 

Allahu Akbar..! Allahu Akbar..! Allahu Akbar…!

MERDEKA!!!

Sulit memisahkan peristiwa 10 Nopember 1945 dengan Bung Tomo. Sebab Arek Suroboyo yang memiliki nama asli Sutomo inilah, yang menjadi pembakar semangat juang untuk bertempur sampai titik darah penghabisan, demi mempertahankan harga diri, tanah air dan bangsa yang telah diproklamasikan tanggal 17 Agustus 1945.

Sejak kedatangan sekutu dan pasukan NICA di Surabaya, Bung Tomo berjuang mati-matian mempertahankan Surabaya dari cengkeraman Sekutu dan NICA. Dengan orasinya yang gegap gempita, Bung Tomo memiliki pengaruh kuat di kalangan pemuda dan para pejuang. Dengan lantang dia membakar semangat pejuang untuk bertempur habis-habisan melawan pasukan sekutu.

Bung Tomo lahir di Surabaya pada tanggal 3 Oktober 1920. Hidupnya lebih banyak dihabiskan di kota kelahirannya dengan aktivitas yang beragam. Sejak remaja dia sudah aktif menjadi anggota Gerakan Kepanduan Bangsa Indonesia (KBI). Dirinya termasuk anak pertama yang Lulus Ujian Pandu Kelas I di Jawa Timur dan kedua untuk seluruh Indonesia. Waktu itu di Indonesia hanya ada tiga pandu kelas satu.

Pada tahun 1937, Bung Tomo yang waktu itu menjadi Wartawan free lance pada Harian Soeara Oemoem di Surabaya, didapuk sebagai Sekretaris Parindra ranting anak cabang di tembok duku Surabaya. Dua tahun kemudian juga dipercaya menjadi Ketua kelompok sandiwara Pemuda Indonesia Raya di Surabaya, yang mementaskan lakon-lakon perjuangan hingga balatentara Jepang datang. Di tahun 1939 ini pula dirinya mulai aktif di Koran Ekspres Surabaya. Disamping sebagai wartawan, juga dipercaya sebagai penulis Pojok pada harian berbahasa Jawa tersebut. Setahun sebelumnya, Bung Tomo juga dipercaya sebagai Redaktur Mingguan Pembela Rakyat di Surabaya.

Disamping itu dirinya juga turut membantu sebagai koresponden Surabaya untuk Majalah Poestaka Timoer Jogjakarta. Karir wartawan ini terus melejit. Terbukti dirinya diamanahi untuk menjadi Wakil Pemimpin Redaksi kantor berita pendudukan Jepang Domei bagian Bahasa Indonesia, untuk seluruh Jawa Timur di Surabaya sejak 1942 hingga 1945. Dirinya juga memberitakan Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dalam tulisan bahasa Jawa, untuk menghindari sensor balatentara Jepang. Di tahun 1945 Bung Tomo juga dipercaya sebagai Pemimpin Redaksi Kantor Berita Indonesia Antara di Surabaya.

Pada masa revolusi fisik Bung Tomo pernah menjadi Ketua Umum Barisan Pemberontak Rakyat Indonesia (BPRI), dengan cabangnya di seluruh Indonesia. Tepatnya sejak 12 Oktober 1945 hingga Juni 1947, karena BPRI harus dilebur kedalam Tentara Nasional Indonesia. Melalui BPRI itulah, Bung Tomo mendidik, melatih dan mengirimkan kesatuan-kesatuan bersenjata ke seluruh wilayah tanah air. Melalui radio PBRI yang direlai RRI seluruh wilayah Indonesia, Bung Tomo mengobarkan semangat perjuangan bangsa Indonesia.

Disamping itu dirinya juga pernah menjadi anggota Dewan Penasehat Panglima Besar Jenderal Sudirman, dan menjadi Ketua Badan Koordinasi Produksi Senjata Seluruh Jawa dan Madura. Bung Tomo juga dilantik oleh Presiden Soekarno sebagai anggota pucuk pimpinan Tentara Nasional Indonesia, dengan pangkat Mayor Jenderal TNI AD. Dirinya juga tercatat sebagai anggota Staf Gabungan Angkatan Perang RI. Disamping itu juga pernah menjadi Ketua Panitia Angkutan Darat, yang membawahi bidang kereta api, bis antar kota dan sebagainya, dengan tugas mengkoordinasikan semua alat angkutan darat di wilayah RI, serta bertanggung jawab langsung kepada Panglima Besar TNI.

Dengan bekal pendidikan di MULO dan HBS, membuat kiprahnya begitu luas baik di organisasi perjuangan maupun sosial-kemasyarakatan. Apalagi Bung Tomo memang dikenal sebagai sosok yang berkepribadian ulet, pekerja keras, dana daya juangnya sangat tinggi. Pada tahun 1944, dirinya menjadi anggota Gerakan Rakyat Baru.

Sekitar tahun 1950-an Bung Tomo mulai aktif pula dalam kehidupan politik. Ia sempat menjadi Menteri negara Urusan Bekas Pejuang Bersenjata/Veteran sekaligus Menteri Sosial Ad Interim pada 1955-1956 pada kabinet Burhanuddin Harahap. Bung Tomo juga pernah menjadi anggota DPR 1956-1959 dari Partai Rakyat Indonesia.

Pada masa pemerintahan orde Baru, Bung Tomo banyak mengkritik kebijakan Soeharto yang dianggapnya mulai melenceng. Akibatnya tanggal 11 April 1978 dirinya ditangkap dan dipenjara oleh pemerintah Soeharto. Padahal jasanya begitu besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan. Satu tahun setelah ditahan Bung Tomo kemudian dibebaskan dan tidak banyak aktif dalam kehidupan politik. Tapi sejak tanggal 2 Nopember 2008 Bung Tomo tercatat sebagai pahlawan nasional, melalui pengukungan oleh Menteri Informasi dan Komunikasi.

Dalam kehidupan sehari-hari Bung Tomo dikenal sebagai Muslim yang taat beribadah. Dirinya juga begitu taat pada para Kiai. Terbukti, sebelum mengobarkan semangat para pejuang pada peristiwa 10 Nopember 1945, dirinya selalu dekat dengan para Kiai untuk mendengar nasehat dan menunggu fatwa mereka. Ketika para Kiai menelorkan fatwa jihad untuk mempertahankan kemerdekaan RI, barulah Bung Tomo membakar dada para pejuang untuk mengobarkan api perlawanan terhadap para penjajah.

Arek asli Suroboyo ini wafat tepat ketika dirinya menunaikan ibadah Haji di padang Arafah Makkah tanggal 7 Oktober 1981. Jenazah Bung Tomo dibawa kembali ke tanah air dan dimakamkan bukan di sebuah Taman Makam Pahlawan, melainkan di Tempat Pemakaman Umum Ngagel di Surabaya. Ini adalah merupakan simbol kesederhanaan hidup dan kedekatannya dengan hati rakyat. Unas Khoyali/berbagai sumber.

 

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: