jump to navigation

Prof. Dr. Hj. Juwairiyah Dahlan, MA 24 Dec 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
trackback

Seorang Ibu Harus Berani Hidup Sengsara

Ada yang berbeda ketika Guru Besar IAIN Sunan Ampel Surabaya bidang Bahasa dan Sastra Arab berbicara tentang Hari Ibu. Ketika dimintai komentar soal ibu, Prof. Dr. Hj. Juwairiyah Dahlan, MA langsung menyitir syair  asy-Syauqi: “al Ummu madrasatun idza a’dadtaha syaiban thayyibal a’raq” (Ibu laksana taman pendidikan, jika dipersiapkan dengan matang).

Untuk berfungsi sebagai madrasah, seorang ibu harus memenuhi prasyarat; memiliki sifat cerdeik-cendekia, punya kesabaran ekstra dan ketabahan, serta memiliki pendidikan yang cukup. “Namun demikian, dengan berbagai kelebihan itu tak lantas menurunkan ketataannya pada suami,” tukasnya mengingatkan.

Tapi yang disayangkan putri pasangan Dahlan dan Fatimah ini, kini peran ibu sebagai madrasah bagi anak-anaknya makin terkikis. Sebab para wanita lebih suka memilih karir publik ketimbang domestik. “Berkarir itu sah-saha saja. Tapi perlu dipilih mana yang masih memungkinkan untuk tetap bisa merawat dan mendidik anak,” ujarnya. “Jadi, jangan sampai lebih mengutamakan karir dengan meninggalkan tanggung jawab terhadap keluarga,” tegasnya.

Sebab hilangnya tanggung jawab itulah, yang berimbas pada terjadinya kenakalan remaja. Oleh karenanya dirinya menyarankan, agar seorang ibu memiliki kepekaan yang tinggi terhadap perubahan perilaku dan sifat anaknya. “Makanya seorang ibu itu dituntut untuk mendalami agama. Jika hal ini bisa teraih, tentu keluarga akan terselamatkan,” paparnya. “Jadi.. antara kesabaran, keteladanan dan kontrol harus tiada henti. Dan yang terpenting lagi, seorang ibu harus berani hidup sengsara karena Allah,” tandasnya.

Juwairiyah Dahlan lahir di Jombang pada tanggal 29 Agustus 1954. Masa kecilnya lebih banyak dihabiskan di kampung halamannya bersama neneknya Mbah Haji Asma Hasyim. Banyak kenangan semasa kecil yang tersimpan di memori jiwanya; memanjat pohon sawo sebelah rumah, loncat tali bersama teman-teman, lomba balap lari, dan sejuta kenangan indah lainnya.

Yang tak bisa dilupakannya, ketika dirinya harus rela berjalan tanpa alas kaki sepanjang 6 Km untuk pergi ke Madrasah Ibtidaiyah Nahdhatul ‘Ulama’ (MINU) di Tapen. “Itu terjadi sekitar tahun 1962 hingga 1965-an,” jelasnya. “Waktu di MI, hampir setiap tahun saya selalu menjadi juara kelas,” tambahnya sambil mengulum senyum.

Setelah itu dirinya melanjutkan ke PGAPNU (Pendidikan Guru Agama Pertama NU). Tapi hanya berlangsung selama satu setengah tahun. Lalu mondok ke pesantren Tambakberas. Karena nilai ijazahnya cukup bagus, langsung dimasukkan kelas 2 Tsanawiyah. Hal itu berulang kembali ketika dirinya mondok di pesantren Denanyar. Lagi-lagi karena nilai rapornya bagus langsung dimasukkan ke kelas 2 Aliyah.

Sejak remaja, istri (Purn.) Kol. Drs. HA. Fauzie, SH ini memang dikenal sebagai gadis yang cerdas. Bayangkan, ketika dirinya diminta mewakili kelasnya dalam lomba membaca kitab, pidato bahasa Arab dan Inggris, dia tampil sebagai juara pertama dalam tiga cabang lomba tersebut. “Saya merasa sebagai orang bodoh yang kebetulan saja selalu beruntung,” kilahnya merendah.

Saat nyantri di Denanyar inilah, ibu tiga anak ini selalu shalat berjamaah di samping kanan Bu Nyai. Lantaran cakap dalam al-Qur’an, dirinya kerap didapuk Bu Nyai sebagai badal untuk mengajarkan al-Qur’an. “Yang menggembirakan hati, seusai mengaji saya selalu memperoleh sebungkus nasi goreng dari Bu Nyai,” kenangnya.

Yang unik, pada tahun 1967 sebenarnya dirinya sempat memiliki ijazah UGA (Ujian Guru Agama) saat di Tambak beras. Tapi ijazah itu baru diketahuinya sekitar tahun 2003 lalu. Lho? “Barangkali ayah menyimpannya karena khawatir kalau saya tahu akan memilih mengajar ketimbang meneruskan kuliah,” paparnya memberikan alasan.

 Terbukti, kemudian dia melanjutkan kuliah ke IAIN Sunan Ampel Surabaya. Meski awalnya merasa minder, berkat ketekunannya belajar akhirnya berhasil menyelesaikan Sarjana Mudanya. Padahal waktu itu dua pertiga teman sekelasnya tidak lulus. Karena proses menjadi sarjana penuh itu lama, di tengah penantiannya itulah dirinya lantas menikah sambil ikut mengajar di lab bahasa Arab IAIN Sunan Ampel. “Honornya seratus rupiah setiap pertemuan. Uangnya waktu itu masih bentuk recehan,” ucapnya sambil tertawa lirih.

Lantaran bersuamikan seorang perwira AL, dirinya sering ditinggal bertugas ke luar negeri. Untuk mengisi kekosongan waktu, dirinya diperkenankan untuk melanjutkan S2 di IAIN Sunan Kalijaga dan lulus tahun 1998. Ketika minta izin untuk melanjutkan ke jenjang S3, suaminya pun mengizinkannya. ”Anak-anak saya boyong ke Jogja. Jadi saya kuliah di sana sambil momong anak,” tuturnya. “Karena jarang sekali ketemu suami, ada teman yang menganggap saya sebagai istri kedua. Ya.. hal itu saya anggap sebagai gurauan saja,” tepisnya enteng.

Pada saat menempuh S3 inilah, dirinya sempat disambar perasaan jenuh yang amat sangat. Apalagi teman-temannya sudah banyak yang selesai. Lantas rasa jenuh itu pun dihilangkannya dengan saban hari mengurung diri di perpustakaan IAIN Sunan Kalijaga. Dengan banyak membaca itulah yang membuatnya berhasil merampungkan beberapa buku; Tarikh Adab Masa Kebangkitan, Sejarah Islam di Afrika Utara, Sejarah Sastra Arab Masa Andalus, Qosim Amin sebagai Patriotisme Mesir, serta Puisi Rifa’ah Tahtawi dan Patriotisme Mesir. “Buku-buku inilah yang juga turut menghantarkan saya dalam meraih Guru Besar,” kilahnya.

Pengalaman itu pula yang membuatnya selalu ingin menulis dan terus menulis. Banyak sekali buku – baik buku ajar maupun buku umum – yang telah berhasil ditulisnya. Bahkan sebagian besar telah diterbitkan oleh penerbit dan terpampang di toko-toko buku. Seperti Al-Islam Yuqarrir Huquq al-Islam, Hamka wa Manfaluthy Ittakhadza al-Adab Wasilatan li Islah al-Mujtama’, Problematika Pengajaran Bahasa Arab di IAIN Sunan Ampel Surabaya, dan Peranan Wanita dalam Islam; Studi Tentang Wanita Karir dan Pendidikan Anak.

Buku-buku lainnya, semisal Metode Belajar Mengajar Bahasa Arab, Sastra Arab Jahili, Sastra Arab Islami, Sastra Arab Abbasi, Sastra Arab Kebangkitan, Sastra Arab Andalus dan Mamalik, Puisi Syauqi Mengenai Pendidikan Anak, Islam di Afrika Utara, Puisi Baktsir dan Pendidikan Bangsa, Paradigma Baru dalam Pembelajaran Bahasa Arab, Al-Ma’arry dan Puisinya, serta Basyar bin Burdin dan Puisinya.

Itu masih secuil dari karya-karyanya. Sebab buku-bukunya yang lain masih seabrek. Sebut saja misalnya;  Mahfudhat Ma’had dan Pendidikan Akhlak, Maqamat al-Hariri, Nasihat Ibn Qutaibah pada Fanatisme, Puisi Madh Ali bin Jahm, Taushiyah Abu Hayan pada Para Pemimpin, Puisi Madh al-Buhturi, Keberanian dan Kejujuran Umar bin Munqidz, Pidato Mushtafa Kamil Bapak Kemerdekaan Mesir, seta Thaha Husain Reformasi Pendidikan Mesir.

Juga karya-karya lainnya; Psikologi Pendidikan Islam dan Kesehatan Mental Islami, Tokoh Pemikir dan Pembaharu dalam Islam, Tokoh Puisi-Prosa pada Masa Modern, Abu al-Qasim al-Syabi dan Puisinya; Telaah Psikologi Sosial, Puisi Syauqi dalam Patriotisme Mesir dan Kerukunan Umat Beragama, Pasang Surut Puisi dan Prosa Masa Kebangkitan, Peranan Ahmad Khan dalam Pembaharuan dan Pendidikan, Antara Jamaluddin al-Afghani dan Abdullah Nadim dalam Kebangsaan dan Kesusastraan, serta Puisi Syauqi dalam Pendidikan Beriman dan Bernegara.

Disamping aktif menulis buku, Prof. Dr. Hj. Juwairiyah Dahlan, MA juga aktif dalam organisasi kemasyarakatan. Sejak tahun 1970 hingga 1977, dirinya aktif di Fatayat/Muslimat Jombang dan Wonocolo Surabaya. Dirinya juga pernah aktif ngisi ceramah di beberapa masjid di Jombang, Sidoarjo, Surabaya dan Yogyakarta.

Disamping itu dirinya juga bergabung dengan LSM FMPI (Forum Masyarakat Peduli Indonesia) sebagai Kasi Hubungan Luar Negeri. Forkemas (Forum Komunikasi Elemen Masyarakat Surabaya), Sevy Amira; Pusat Konsultasi para Perempuan/Anak Tertindas Surabaya, dan bergabung pula dengan JEN (Jaringan Epidemiologi Nasional) konsentrasi kesehatan reproduksi dan kesehatan mahasiswa, serta bergabung pula dengan UNIM (Universitas Islam Majapahit) Mojokerto sebagai Pembantu Rektor III. Pri

Comments»

1. ima irawati - 11 Nov 2012

assalamualaikum bu ,,,, saya dari mahasiswa fak adab.
melihat sedikit dari cerita hidup ibu,, saya dapat mengambil pelajaran bahwa orang sukses itu berangkat dari usaha dan kerja keras, juga dari (kalau orang jawa menyebutnya dengan tirakat), misalnya dengan melakukan ibadah sunah yang silakukan oleh Rasulullah SAW, yang saya tanyakan tirakat apa yang ibu lakukan sehingga bisa menjadi sukses seperti sekarang ini. trimakasih bu
assalamualaikum wr wb


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: