jump to navigation

Sinetron Religi Harus Mengandung Unsur Kontemplatif 24 Nov 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Wawancara.
trackback

Sinetron religi sepertinya sudah menjadi suguhan wajib setiap ramadhan di layar kaca. Sebut saja, Para pencari Tuhan dan Ketika Cinta Bertasbih. Bahkan ada juga yang jauh-jauh hari sudah disuguhkan kepada pemirsa televisi seperti sinetron Islam KTP dan Pesantren Rock ‘n Roll. Tapi benarkah sinetron-sinetron bertema agama ini mampu mengisi ruang religiusitas pemirsa? Berikut wawancara eksklusif Ahmad Suprianto dan Dedy Kurniawan dari JENDELA SANTRI bersama Sofyan D. Surza. Pria ini terkenal setelah menyutradarai Sitkom Bajaj Bajuri dan kini tengah menyiapkan karya religi dalam bentuk sinetron maupun film.

Apa komentar anda tentang maraknya sinetron religi yang menghiasi layar kaca saat ini?

Prinsip dunia entertainment itu apapun yang tayang di televisi semua bertujuan menghibur. Jadi konsep sinetron religi saat ini kemasannya masih menonjolkan hiburannya daripada dakwahnya.

 

Berati unsur dakwah tidak bisa masuk dong?

Jujur saya tidak tahu, apakah nilai-nilai agama itu sebenarnya bisa dimix atau diramu dengan entertain atau tidak. Sehingga nilai-nilai agama tetap tampak. Atau barangkali memang tidak bisa. Cuma selama ini memang kecenderungan dakwah yang ditampilkan dalam sinetron itu kebanyakan menjadi lemah sebab tertutup oleh nilai hiburan tadi.

 

Apa penyebabnya?

Menurut saya, pada dasarnya terletak pada kekurangpiawaian si pembuatnya. Apalagi timbul anggapan bahwa sinetron yang telah ada itu yang sudah memuat nilai dakwah yang entertain atau entertain yang sudah berdakwah. Ini bahaya. Sebab jika ini menjadi kesimpulan baku dan dipercaya masyarakat, berarti selamanya kita akan menyaksikan tayangan sinetron religi seperti saat itu-itu saja.

 

Menurut Anda acara ceramah agama yang tampil di televisi saat ini bagaimana?

Hampir semua acara dakwah yang ditampilkan itu dibumbuhi oleh aksesoris-aksesoris yang hiburan. Misalkan dibumbuhi jargon “jama’ah oh… jamaah” atau juga jargon “curhat dong… Ma.” Ini merupakan aksesoris yang berusaha ditempelkan agar lebih menarik. Ada kekhawatiran acara dakwah yang ditampilkan apa adanya itu tidak menarik sehingga dibutuhkan aksesoris-aksesoris tadi agar lebih cair.

 

Apakah mungkin bisa tampil menarik tanpa aksesoris yang bersifat hiburan?

Ya tergantung dari kepiawaian si pembuat lagi. Bagaimana caranya agar aksesoris itu tidak sampai melemahkan unsur dakwahnya. Dan ketika aksesoris itu melemahkan isi dakwah, berarti acara tersebut telah tercerabut esensinya.

 

Sebenarnya dari sisi bisnis, lebih menguntungkan mana dakwah yang dientertain dan yang tidak?

Orang membuat tayangan di televisi itu itu kan targetnya kan keuntungan. Ada sebuah ketakutan bahwa jika dakwah yang disampaikan itu terlalu baku dan tidak bisa diterima masyarakat bisa menurunkan rating. Nah, penurunan ini bisa menyebabkan menurunnya omzet iklan. Dan akhrinya berujung pada keberlangsungan program tayangan teresebut.

 

Banyaknya acara dakwah yang berbau entertain diikuti pula sinetron religi. Apa ini indikasi bahwa tayangan seperti itulah yang dibutuhkan masyarakat?

Ada semacam teori bahwa semua tayangan harus mengikuti pasar. Tapi pasar itu kan bisa dibentuk. Seperti sitkom Bajai Bajuri, awalnya semua pesimistis bisa diterima pasar. Bahkan segmentasinya diperuntukkan untuk kalangan tertentu saja. Tapi ketika dilempar ke pasar, toh semua kalangan menerima. Sebab itu, saya meyakini bahwa pasar itu bisa dibentuk.

 

Ada beberapa sinetron religi yang diperankan oleh non muslim, bagaimana menurut Anda?

Saya termasuk orang yang selalu membuat kesepakatan dengan Production House (PH) atau rumah produksi bahwa jika ini sebuah karya religi, maka saya mengharuskan seluruh kru maupun pemainnya dari muslim semua. Jika nanti ada si A non muslim yang harus membaca al-Qur’an maka saya tidak bisa menerima. Si A harus ada adegan shalat di Majid saya juga tidak bisa menerima. Maksud saya begini, buat apa kita mengembangkan sebuah film dakwah tetapi nilai-nilai dakwah yang ada di dalamnya sendiri kita rusak.

Sebenarnya spesialisai anda itu jenis sinetron apa?

Saya biasa membuat sitkom atau jenis sinetron komedi situasi. Meski begitu saya tetap memasukkan unsur-unsur nasihat di dalamnya. Saya sepakat bahwa dakwah itu tak melulu dengan mengumbar ayat. Artinya ketika kita ingin menyampaikan satu dua hadis, lalu isi hadis tersebut diadegankan, berarti kan dakwah sudah tersampaikan. Jadi saya berusaha dalam setiap karya saya ada satu masukan kepada masyarakat yang bisa menjadi masukan moral atau bahkan menambah tingkat religiusitasnya.

 

Sejak kapan kesadaran itu muncul dalam diri Anda?

Memang ada semacam kegundahan spiritual selama ini dalam diri saya. Tak bisa dipungkiri bahwa dunia film sangat bertentantangan dengan sisi religiusitas seseorang. Dari situ saya mulai terusik untuk memperbaiki diri. Maka saya meminta kepada Allah agar memberi saya pegangan. Istilanya saya menuntut Allah agar diberikan banyak ide yang ketika ditampilkan tak membuatNya marah. Umpama sebuah film itu sebuah kubangan yang berisi lumpur dosa, setidaknya saya pernah memberikan madu dan gula, meski itu tidak ada dampak secara signifikan.

 

Saat ini katanya Anda sedang membuat sinetron religi apakah itu sebagai bentuk pertobatan Anda?

Jika dibilang pertobatan mungkin saja. Tapi, saya mempercayai bahwa pertobatan itu tidak butuh legitimasi ataupun momen yang diciptakan. Ia tidak memerlukan embel-embel atau tanda. Saya lebih percaya kalaupun saya membuat sinetron yang ada unsur religiusitasnya, itu merupakan kehendak Allah. Jika saya melirik bentuk religi itu juga tidak jauh dari niatan awal bahwa ini sebuah karya. Kreatifitas kan selalu menemukan ruang. Ia selalu menemukan lubang-lubang di setiap kanal yang ada. Artinya ketika ada ide yang mengharuskan saya ke kanan ya tidak masalah.

 

Bagaimana anda merasakan keresahan itu, di sisi lain anda ada di dalamnya?

Keresahan itu kan ada di hati saya. Tapi masalah membuat film kan masalah pengidean atau kreatifitas. Nah, tinggal bagaimana supaya keresahan itu mampu membuahkan sebuah kreatifitas yang bisa diterima masyarakat dan itu baik menurut Allah.

 

Anda selama ini dikenal luas sebagai sutradara sitkom, dan saa ini beranjak ke sinetron religi apa tidak sayang? Apalai kan harus merangkak dari nol lagi?

Ya, takarannya tentu berbeda. Sehingga peruntukannya saat ini pun berbeda pula. Apalagi sejak awal terjun di bidang ini, saya tidak berusaha untuk dikenal orang. Saya selalu meletakkan diri saya sebagai kreator. Ketika membuat sesuatu tujuannya ya hanya berkarya saja. Jika kemudian saya menjadi kaya dan terkenal, itu cuma ekses saja bukan tujuan.

 

Menurut anda, bagaimana memformulasikan nilah dakwah dalam sebuah karya sinetron religi?

Terus terang saya belum menemukannya saat ini. Tapi saya sangat kagum dengan sinetron Para pencari Tuhan (PPT) yang diproduseri Dedy Mizwar. Sinetron inilah yang saya anggap sudah menemukan bentuk sinetron religi yang ideal.

 

Bagaimana dengan sinetron religi yang lain?

Mereka sih hanya berusaha mencampur begitu saja antara unsur-unsur agama di satu sisi dan unsur entertain di sisi lain. Dalam mencampurkannya mereka tidak berusaha menjadikannya satu tapi hanya mengumpulkan dua bentuk saja. Sehingga tiba-tiba sering muncul adegan komedi atau pengumbaran ayat-ayat terus. Dan pada akhirnya penonton lebih suka banyolannya. Ya.. akhirnya nilai dakwahnya terabaikan. Karena yang tertangkap dari adegan itu suasana gerrnya, maka nilai-nilai agama itu hanya sebagai aksesoris belaka. Seperti misalnya sinetron “Islam KTP.” Jika diamati tokoh seperti Bang Madid itu terlalu kasar bicaranya. Sehingga itu jika ditonton anak-anak sangat tidak mendidik. Tapi namanya religi tetap harus menghitung nilai lainnya. Bagaimana mungkin kita menyampaikan nasihat baik dengan bahasa yang kasar.

Lantas bagaimana unsur dakwah dalam sebuah film layar lebar? Dan konsepnya seperti apa?

Terus terang saya belum bisa mamastikan konsepnya seperti apa. Tapi saya saat ini sedang berproses menuju itu atau membuat sebuah bentuk. Artinya, ketika sebuah bentuk coba dibuat, keakuratan, keefisienan dan keefektifan bentuk itu belum bisa dijadikan sebagai patokan baku. Jadi harus diuji dulu. Tapi menurut saya tidak akan pernah ada sebuah bentuk baku. Sebab bentuk itu sangat berkorelasi dengan pola perubahan kecerdasan masyarakat, tingkat sosial budaya atau religiusitas masyarakat. Jadi belum tentu sebuah tayangan di Indonesia bagus, ketika ditayangkan di negara lain bagus juga.

Ke depan bagaimana bentuk sebuah karya film atau sinetron religi yang baik itu bagaimana?

Sinetron atau film religi sebenarnya tidak harus banyak. Cukup beberapa tapi berkualitas sehingga menjadi tolak ukur atau barometer. Sehingga orang akan melihat dan mencermati. Jika banyak sinetron atau film dakwah bermunculan, saya takut itu bentuk euforia saja. Yang jelas Sinetron religi itu harus mengandung unsur yang bisa membuat orang berkontemplasi.


Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: