jump to navigation

Lorong Bening I’tikaf 31 Oct 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
trackback

Oleh Mulyani Taufik Ismas *)

Jika Ramadhan telah merambat ke hari sepuluh terakhir, bersunyi-sunyilah untuk beri’tikaf di keheningan masjid. Seperti halnya yang dilakukan Rasulullah SAW, beliau senantiasa menghabiskan waktu sepuluh hari penghujung Ramadhan itu dengan beri’tikaf di dalam masjid. Bahkan menjelang wafat, beliau melaksanakannya selama dua puluh hari.

Dengan beri’tikaf, kita bisa membaca keberadaan diri melalui kacapandang yang bening. Melalui lorong inilah, kita mengurai seluruh jejak sejarah kehidupan kita dengan meminjam bahasa diam. Inilah ruang jedah buat sejenak menyisihkan rumbai-rumbai persoalan yang bersifat duniawi. Bahkan lewat kesenyapan i’tikaf, kita bisa menemukan rahasia agung yang diselipkanNya pada celah-celah kesunyian sepi. Maka larutkanlah sang jiwa untuk berenang mengarungi danau tenang ini, agar bersua dengan bening mataair rahmatNya.

Di dalam lorong kesunyian i’tikaf inilah, kita menumpahkan segala peluh di atas permadani sajadah permenungan yang basah oleh airmata cinta. Biar sang diri dapat mereguk udara bersih dari atmosfir keheningan yang fitri. Pada ruang i’tikaf yang senyap, akan dengan jelas terlihat sosok kedirian kita sesungguhnya yang penuh bercak noda dan dosa. Jiwa yang berdebu. Hati yang abu-abu. Pikiran yang buntu. Perasaan yang beku.

Jika tanpa melalui proses i’tikaf, lantas kemanakah kita mesti membasuh penat dari gugusan nista yang menghampar sepanjang hari-hari yang berlalu? Bukankah dari mulut kita kerapkali meluncurkan kata-kata yang berbuih dan berpeluh? Tidakkah dari jiwa ini selalu saja meremang justa-nestapa? Bukankah kaki-kaki kita senantiasa pula menginjak hak dan perasaan orang lain yang justru disengaja? Tidakkah tangan-tangan kita acapkali merampas kesempatan dan menjarah peluang yang sebenarnya bukan menjadi hak kita? Lalu, bagaimanakah kita mencuci dosa-dosa yang menghampar sebanyak butiran pasir di tepian pantai ini?

Maka berpenuh-penuhlah beri’tikaf, agar hidup terlepas dari jeratan jeruji-jeruji penjara dunia. Biar diri tak kusut oleh daki-daki dan noktah hitam dari tapak-tapak hari kemarin yang kelam. Sebab dengan khusyu’ berdzikir di ruang i’tikaf, kita akan terbebas dari persoalan sehari-hari yang menjerat. Dengan doa-doa yang kita panjatkan, akan mengubah hidup lebih cemerlang penuh harapan. Dengan permohonan istighfar-pengampunan yang kita lafadzkan secara berulang-ulang, maka sirnalah sikap keputus-asaan dan rasa takut yang berkepanjangan.

Dengan beri’tikaf, sesungguhnya kita tengah mengarungi samudera pengembaraan ruhani. Menguntai batin di sudut Mihrab yang sunyi. Itulah lorong panjang tak berujung yang menuju kalam kebeningan asmaNya. Di ruang senyap ini, kita duduk tafakkur merenungi hari-hari yang telah hilang. Pada permadani i’tikaf ini pula, kita menebar sejuta tanya yang menunggu kepastian jawaban dariNya. Inilah saat-saat penting penantian atas diberiNya ampunan, berkah dan hidayah. Ketika mengharu-biru di danau bening i’tikaf, kita benar-benar bakal menyaksikan keberadaan diri yang teramat ringkih. Betapa rapuhnya diri ini, jika dibandingkan dengan ujud kebesaran dan kekuasanNya yang menghampar luas di semesta raya.

I’tikaf adalah merupakan ujung dari segala puncak ritualitas permenungan. Dan dari berbagai ritus ibadah, sesunggunya bermuara jua pada jalan sunyi perenungan tersebut. Seperti halnya perintah shalat yang disyariatkanNya menuju satu arah kiblat, yang itu menghadap pada batu hitam persegi empat yang di dalamnya berupa lobang kosong tak berpenghuni dan nyaris tak berisi apa-apa.

Dan inti dari seluruh gerakan shalat, saripatinya terdapat dalam sujud; yang menandakan kerendahan manusia hingga terjungkir mencium tanah bumiNya. Dalam sujud itulah, hati menghayati untaian kalimat yang mensucikan asmaNya. Bagai sang pertapa yang meniti kebisuan dari jalan sunyi dengan kekhusyukan. Begitupun dengan perintah ibadah haji, yang puncaknya justru berada pada sebuah kediaman sunyi di padang sahara keheningan wukuf.

Maka, di hamparan puasa Ramadhan yang membentang, pada penghujungnya Sang Rasul pun juga menyeru untuk melakukan ritual i’tikaf. Kita isi puncak keheningan itu dengan berbagai amalan, yang pada ujung-ujungnya bermuara pada pertahanan diri dari gejolak hawa nafsu yang meranggas.

Kebeningan i’tikaf  – seperti halnya keheningan sujud, kesenyapan ruang dalam ka’bah, dan kesunyian wukuf, menginspirasikan kepada kita untuk pandai-pandai membaca bahasa diam; kebisuan yang sepi, kesenyapan yang sunyi, keheningan yang bening, serta kekhusyu’an dan rasa kesirnaan diri di hadapan Allah Dzat Yang Maha Perkasa.

I’tikaf, adalah ruang bening tempat menyambut sapaan lembutNya. Sebuah ruang untuk menumpahkan penat demi menyongsong ampunan-maghfirahNya. Dengan berpenuh-penuh beri’tikaf pada sepuluh hari penghujung Ramadhan, kita akan bersua dengan keindahan Malam Seribu Bulan yang bertaburkan cahaya berpendar-pendar. Setidaknya, dengan beri’tikaf kita masih mempunyai seutas harapan yang bersandar pada sabda Sang Rasul SAW: “Bagi siapa yang bergegas menghidup-hidupkan malam bulan Ramadhan dengan landasan iman dan keikhlasan, niscaya akan didapatinya sebuah ampunan atas dosa-dosanya yang telah lampau.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Wallahu a’lam bish-shawab!

*) Pemimpin Redaksi Majalah Jendela Santri

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: