jump to navigation

Membangun Keunggulan Guru Agama 31 Jul 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Wawancara.
Tags: , ,
trackback

Ada ungkapan yang klise. “Jika ada anak sekolah yang nakal, itu menjadi tanggung jawab guru agama”. Meskipun tak sepenuhnya benar, tetapi ungkapan itu pun tak sepenuhnya salah. Sebab memang terdapat korelasi antara keberadaan guru agama di sekolah dan anak yang nakal. “Jika guru agamanya bagus, maka ada kecenderungan para siswanya juga bagus,” tukas DR. Imam Tolkhah, MA. Berikut penuturan Direktur Pendidikan Agama Islam pada Sekolah Kementerian Agama RI ini kepada Choirul Musthafa dari majalah Mimbar Pembangunan Agama.

 

Ada anggapan bahwa masalah keagamaan dan moralitas siswa itu cukup diserahkan pada guru agama saja. Komentar Bapak?

Saya rasa.. tidaklah demikian. Guru agama itu hanya salah satu unsur saja. Mereka memang diberi tugas dan wewenang, yang bertanggung jawab pada peningkatan mutu pendidikan agama di sekolah. Dan guru agama memang menjadi faktor yang sangat sentral untuk pengembangan pendidikan agama Islam yang ada di sekolah. Jika guru agamanya bagus, maka ada kecenderungan para siswanya juga bagus. Namun itu hanya salah satu unsur saja. Sedangkan guru-guru yang lain juga ikut bertanggung jawab. Kepala sekolah juga mempunyai kewajiban untuk itu.

 

Artinya guru agama harus lebih konsen pada ranah kognitifnya…

Nah, aspek kognitif inilah yang menjadi fokus tanggung jawab guru agama. Sedangkan mengenai aspek perilakunya menjadi tanggung jawab semua guru, termasuk kepala sekolah juga harus ikut memberikan pengawasan terhadapnya. Sebab secara fungsional, guru agama kan memang bertugas untuk mengajarkan pendidikan agama. Fungsi mengajar disini tentu saja tak hanya mengajarkan saja, tetapi juga harus mendidik. Artinya.. di luar mentransfer ilmu juga memberikan keteladanan dan memberikan pengawasan.

Dalam hal keteladanan tersebut, kriteria apa saja yang harus dipenuhi oleh seorang guru agama?

Guru agama yang baik, atau guru teladan, itu harus memiliki beberapa kompetensi. Pertama, kompetensi pedagogik. Artinya guru agama harus menguasai metode-metode pembelajaran agama, agar pengajaran agama bisa menarik dan menyenangkan bagi para siswanya. Jika itu gagal dilakukan, maka akan menyebabkan siswa bosan dan marah. Akibatnya siswa akan senang jika guru agamanya tidak masuk kelas. Sebaliknya jika metode pengajarannya bagus, tentu guru agama akan dirindukan para siswanya. Dengan demikian guru agama dituntut kreativitasnya dalam aspek metodologi tersebut. Dan yang kedua, adalah kompetensi kepribadian. Artinya guru agama harus bisa menjadi teladan. Teladan ini tidak hanya bagi para siswanya, tetapi juga teladan dalam komunitas sekolah. Jadi dia harus menunjukkan perilaku yang baik dan sopan. Tutur kata yang lemah-lembut harus mereka tunjukkan. Sebab jika tak memiliki keteladanan, maka seperti kata pepatah.. guru kencing berdiri murid kencing berlari. Jadi, guru agama harus sanggup menjadi teladan.

Lantas yang ketiga…

Yang ketiga adalah kompetensi sosial. Artinya guru harus bisa memberikan empati terhadap para muridnya. Sebab secara sosial siswa itu berbeda dalam hal karakter, watak, dan kemampuan ekonomi. Guru haruslah memahami perbedaan tersebut. Dengan memahami keberadaan itulah, sehingga guru bisa memberikan empati dan perhatian kepada siswa yang kurang dan lemah dalam aspek pembelajaran ataupun perilaku. Dengan demikian, maka guru agama dituntut untuk memiliki kemampuan berkomunikasi secara baik.

Lalu mengenai penguasaan ilmu pengetahuan bagi guru sendiri?

Itu masuk dalam kompetensi yang keempat, yaitu kompetensi profesional. Intinya, guru agama harus memiliki ilmu yang luas dan dalam. Apa yang diajarkan harus benar-benar dikuasai dan diperdalam. Sehingga saat menyampaikan kepada siswanya juga akan lebih enak. Ketika ada pertanyaan-pertanyaan dari siswa pun mereka akan dengan mudah menjawabnya. Jadi.. jangan sampai kapasitas keilmuannya itu tidak sesuai dengan apa yang diajarkannya. Di sisi lain, guru agama harus memiliki keterampilan lebih dalam menggunakan media pembelajaran. Jangan sampai guru itu kalah dengan murid-muridnya. Misalnya siswanya mahir internet, sementara gurunya justru gaptek. Ini kan bisa merendahkan wibawa guru.

Jadi.. guru agama cukup dengan memenuhi keempat kompetensi itu saja?

Memang yang tertuang dalam Undang-undang Guru dan Dosen adalah keempat kompetensi tersebut. Tapi bagi guru agama, itu masih belum cukup. Mereka harus memiliki pula dua kompetensi tambahan, yaitu kompetensi leadership dan kompetensi spiritual.

Bagaimana penjelasan mengenai kedua kompetensi tersebut?

Dengan kompetensi leadership, mengharuskan guru untuk menjadi informal leader. Mereka harus sanggup jadi pemimpin informal di dalam komunitas sekolah. Dengan kemampuan itulah guru agama akan menjalin kerjasama dengan kepala sekolah dan guru-guru lainnya, dan mengajak mereka untuk bersama-sama mengembangkan pendidikan agama. Kalau itu tak dapat mereka lakukan, maka sudah pasti pendidikan agama tidak akan bisa berjalan sesuai yang diinginkan. Jadi.. secara formal leadernya adalah kepala sekolah. Namun secara informal guru agama harus mampu berkolaborasi. Misalnya menciptakan kegiatan yang sifatnya pengembangan religious culture. Dengan begitu budaya kehidupan beragama akan dapat dibangun di dalam lingkungan sekolah.

Tugas lainnya sebagai informal leader?

Di sis lain, sebagai informal leader, guru agama harus sanggup pula memecahkan problem-problem yang muncul di sekolah. Misalnya masalah narkoba, perkelahian antar pelajar, atau yang lainnya. Jika ada perkelahian biasanya guru-guru lain tidak ada yang berani melerai, tapi dengan kedatangan guru agama hal itu bisa diatasi. Ini kan menandakan bahwa guru agama itu masih mempunyai wibawa. Bahkan di sekolah-sekolah umum, tak sedikit siswa yang mencium tangan guru agama. Padahal ke guru lain itu tak dilakukan. Sebab guru agama sering pula menjadi konselor bagi murid-muridnya.

 

Kemudian mengenai yang kompetensi spiritual tadi..

Dengan kompetensi spiritual, mengharuskan guru agama untuk memiliki semangat dan spirit untuk mendidik. Jadi semacam etos mengajar yang sangat tinggi. Ada sebelas hal yang relevan dengan spirit guru agama tersebut. Pertama, mengajar adalah amanah. Jika dia mengajar diyakini sebagai amanah, maka dia akan mengajar dengan sungguh-sungguh. Kedua, mengajar adalah aktualisasi diri. Artinya guru agama mengajar itu harus mempunyai visi ke depan untuk apa dia mengajar. Jika dia tidak memiliki visi ini, maka yang ada adalah mengajar dengan cara asal-asalan. Ketiga, mengajar itu bagian dari belajar. Artinya dia harus selalu instropeksi terhadap apa yang diajarkan. Apakah siswanya menerima atau tidak apa yang diajarkan, untuk  kemudian dilakukan perbaikan-perbaikan. Keempat, mengajar sebagai ibadah. Dengan spirit ini guru akan mengajar dengan sungguh-sungguh dan konsentrasi penuh seperti halnya orang beribadah. Jadi dalam mengajar itu ada harapan pahala, dan tak selalu komersial. Kelima, mengajar adalah panggilan jiwa seperti halnya Kiai di pondok pesantren. Jadi dia mengajar dengan sepenuh hati. Jika tidak dengan panggilan jiwa, maka dia akan merasa terpaksa. Dan kalau merasa terpaksa, maka dia tidak cocok mengajar agama. Yang keenam, mengajar adalah pengabdian. Dengan spirit ini guru agama akan mengajar dengan tuntas dan integritasnya tinggi.

Lantas dimana letak rumusan bahwa guru itu hanya sebagai fasilitator saja?

Nah, yang ketujuh bahwa mengajar itu adalah melayani. Jadi tidak menuntut untuk dilayani. Disinilah relevansinya guru sebagai fasilitator tersebut. Mengembangkan potensi maupun bakat siswa itu termasuk dari pelayanan. Kedelapan, mengajar adalah profesi. Guru harus yakin bahwa mengajar itu sebagai profesi. Maka syaratnya adalah harus menguasai ilmu dan keterampilan. Sebab guru adalah profesi.  Kesembilan, mengajar adalah rahmat. Dengan meyakini bahwa mengajar adalah rahmat dari Allah, maka dirinya akan senantiasa mensyukurinya. Yang muncul kemudian adalah sikap tulus dan ikhlas mengajar. Jadi dia tidak merasa rendah jika dibandingkan dengan profesi lain. Bisa diartikan juga bahwa mengajar merupakan anugerah. Kesepuluh, mengajar adalah kehormatan. Artinya guru dituntut untuk mengajar dengan penuh keunggulan. Misalnya murid menghormatinya, atau pemerintah menghormati guru dengan memberikan tunjangan. Jadi tidak ada orang yang memiliki kehormatan seperti yang didapat guru. Dan yang kesebelas, mengajar adalah seni. Karena seni, seorang guru harus menampilkan sesuatu yang menarik.

Jadi kesimpulannya, keunggulan-keunggulan semacam itulah yang membedakan guru agama dengan guru-guru lainnya?

Tepat. Keenam kompetensi dengan perangkat pendukungnya itulah yang harus dimiliki oleh setiap guru agama. Dengan begitu eksistensi mereka berbeda dengan keberadaan guru umum. Jika guru umum hanya memilki empat kompetensi, tapi guru agama memiliki enam kompetensi. Jika keenam kompetensi guru agama itu dapat dilakukan, insyaAllah para siswanya mampu memperoleh pembelajaran dengan sebaik-baiknya.

Adakah korelasinya secara langsung dari keenam kompetensi itu dengan konsepsi character building?

Character building itu sesungguhnya kan lebih pada soal bagaimana sesorang guru membangun karakter para siswanya. Jika seorang guru memilki keenam kompetensi tadi, dia sudah memiliki karakter yang bagus untuk menjadi seorang guru. Dengan kompetensi tersebut diharapakan mampu membangun karakter para siswanya.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: