jump to navigation

Prof. Dr. Nurul Ulfatin, M.Pd 24 Apr 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: ,
trackback

Guru Besar dari Ujung Gang Buntu

Kehidupan masa kecil, kerap mempengaruhi jalan berfikir seseorang ketika dewasa. Begitupun dengan kehidupan Prof. Dr. Nurul Ulfatin, M.Pd. Apa yang telah dicapai Guru Besar Universitas Negeri Malang ini, tak jauh dari impian masa silam kanaknya. Sejak kecil dirinya ingin menjadi seorang guru. “Sejak  kecil saya memang bercita-cita untuk menjadi guru,” akunya sambil mengulum senyum.

Hal itu dipicu oleh orang tuanya, yang selalu menekankan agar anak-anaknya kelak menjadi sarjana. Maka tak ayal jika Nurul kecil menggambar asa untuk mengenyam pendidikan setinggi mungkin. “Orang tua saya sangat keras dan disiplin dalam hal pendidikan bagi anak-anaknya,” ungkapnya bersahaja. “Sehingga meskipun beliau tak pernah mengenyam pendidikan tinggi, tetapi selalu memotivasi putra-putrinya untuk menggapai pendidikan yang tinggi,” tambahnya.

Meskipun pola asuh yang dilakukan orang tuanya masih berciri tradisional, namun hal itu sangat membekas pada jiwanya. Sebab dari pendidikan yang diterapkan orang tuanya itulah, kini menjadikan anak-anaknya menjadi orang yang berpendidikan tinggi. Itulah sebabnya, meskipun penulis buku Manajemen Kelas: Dari Tradisional Menuju Modern ini hidup pada sebuah keluarga besar, namun hal itu tak pernah menyurutkan niatnya untuk belajar dan terus belajar.

Dari sebuah rumah yang terletak di ujung gang buntu yang diapit areal persawahan, saban hari Nurul kecil melangkahkan kaki hingga berpuluh kilometer menuju tempat belajarnya. Sepulang dari sekolah SD tersebut, dia lantas belajar di Madrasah Diniyah sore hari. Kebetulan madrasah itu menempati lokasi di lingkungan masjid dekat rumahnya – yang merupakan tanah wakaf keluarga. “Madrasah Diniyah itu hingga kini masih tetap kami pertahankan. Sebab keluarga besar kami, selalu menekankan akan pentingnya pendidikan agama,’ jelasnya. “Kami selalu mengingat nasehat orang tua agar senantiasa mengerjakan sesuatu itu dengan bener lan tenan,” tambahnya.

Sebagai keluarga besar, ada kenangan yang tak pernah hilang dari tabung memori perempuan kelahiran Kediri 30 Maret 1962 ini. Ibunya selalu merasa gembira tatkala melihat putra-putrinya pulang sekolah. Sebab di rumah ada pemandangan yang sangat khas. Karena setiap anak diberikan sepeda angin untuk bersekolah, maka setiap pulang selalu terdapat delapan sepeda yang berjajar-jajar. “Kami semua memang sangat gemar belajar. Meskipun kami menyadari, dengan keterbatasan keluarga kami mengejar pendidikan tinggi bukanlah hal yang gampang,” ucapnya sambil menerawang ke masa silam.

Meskipun demikian, puteri ketiga dari 8 bersaudara ini, nyatanya sanggup merampungkan seluruh proses pendididikannya. Selepas menyelesaikan Administrasi Pendidikan di IKIP Malang tahun 1985, dirinya lantas sibuk berkarir. Setelah kesibukannya mulai reda, dirinya lantas melanjutkannya ke Pascasarjana di tempat yang sama dengan mengambil konsentrasi Manajemen Pendidikan. Setelah rampung pada tahun 1999, dia langsung melanjutkan studinya ke jenjang S3 di UM Malang dengan konsentrasi yang sama. Dan dua tahun kemudian, studi itu berhasil diselesaikannya. Yang menarik, dirinya dikukuhkan menjadi Guru Besar bareng bersama suaminya.

Dari pernikahannya dengan Prof. Dr. H Amat Mukhadis, M.Pd, penulis buku Manajemen Hubungan Sekolah-Masyarakat ini dikarunia tiga anak. Masing-masing Ama Milkha Rosya Qutub Syaqupa (19 tahun), Maula Fadhilata Rahmatika (14 tahun) dan Amira Hasnannuha Ulaya (12 Tahun). “Kami juga selalu menekankan akan pentingnya pendidikan bagi ketiga putri saya. Dan tentu saja, juga pendidikan keagamaan,” tukasnya. “Makanya saya sering bilang pada mereka, jangan beraktivitas pada waktu yang nanggung. Misalnya mengikuti ekstra kulikuler yang mendekati waktiu shalat,” katanya mencontohkan.

Bahkan antara waktu maghrib dan Isya’, adalah merupakan waktu yang khusus bagi keluarganya. Disamping untuk melakukan shalat berjamaah, juga untuk mengaji bersama. “Itu merupakan waktu internal kami. Sebab dengan inilah kami berusaha menangkal dari segala pengaruh buruk yang mempengaruhi kondisi keluarga,” urainya. “Itulah sebabnya, saya dan suami sudah berkomitmen untuk tak menerima telpon antara maghrib dan isya’. Yaa.. kecuali kalau ada urusan yang benar-benar urgen,” tambahnya.

Bagi dosen Pascasarjana di beberapa kampus di Jawa Timur ini, mengelola keluarga itu tak bisa disamakan dengan ketika memenej organisasi birokrasi. Sebab keluarga adalah wadah untuk menyatukan pribadi yang berbeda. Oleh karenanya, ada norma dan nilai-nilai serta visi yang harus diemban oleh anggota keluarga. “Sebab setiap keluarga, akan senantiasa ingin mewujudkan sebuah keluarga yang harmonis dan sakinah,” simpulnya.

Menurutnya, ada tiga syarat utama yang harus dilakukan untuk menggapai cita-cita tersebut. Pertama, adalah kemauan untuk saling menerima. Sehingga apapun keadaan dan latar belakang dari pasangan tentu harus siap untuk menerimanya. “Jadi kalau sudah ada keputusan yang dibuat, maka harus dipegang sampai kapanpun,” tandasnya.

Yang kedua, bagaimana belajar menyesuaikan antar anggota keluarga dengan cara menanamkan saling percaya. Itulah sebabnya, ketika memilih pasangan hidup kita hendaklah memilih sosok yang pantas untuk dipercaya. Untuk kepercayaan itulah, seseorang haruslah bisa untuk bersikap mengalah. “Lha bagaimana bisa mengalah dengan orang lain, kalau dengan pasangan sendiri saja kita tidak mau mengalah? Padahal mengalah demi pasangan itu akan memunculkan penghargaan yang tinggi,” tukasnya. “Sebab antara mengalah dan percaya itu bisa dikombinasikan. Sepintas memang kelihatannya seperti bertentangan. Tetapi sesungguhnya, hal itu sebenarnya justru saling melengkapi,” ulasnya menerangkan.

Yang unik, pasangan Nurul Ulfatin dan Amat Mukhadis ini ternyata hanya punya satu rekening saja. Meskipun bagi orang lain agak kebilang aneh, namun itulah komitmen yang telah diikrarkan bersama oleh keluarga ini. “Manajemen tiap keluarga mungkin berbeda,” kilahnya. “Bagi kami, selama permasalahan dalam keluarga itu tak begitu prinsip, kami bisa sama-sama saling menoleransi,” jelasnya.

Menurut penulis buku Gender dan Kepemimpinan Sekolah: suatu Tinjauan dari Segi Sosiokultural ini, sebuah kesuksesan hidup itu tak bisa diukur dari jabatan publik yang disandang. Dan itu juga tak dapat digeneralisir antara orang perorang. Sebab setiap orang memiliki watak, target dan kecenderungan sendiri-sendiri. Tapi yang pasti, katanya, niat yang baik akan mendatangkan kebaikan pula.

Jadi menurutnya, ukuran sukses itu adalah ketika seseorang bisa melaksanakan tugas secara baik. Maka kita harus bisa melaksanakan tanggung jawab dan tindakan yang terbaik dengan semangat keunggulan. Sebab pada hakekatnya, jika seseorang berbuat baik maka hal itu akn berpulang pada dirinya sendiri. “Jangan sampai kita bekerja dengan baik karena gaji yang tinggi. Namun bekerjalah yang baik lantaran panggilan profesionalisme,” sarannya. “Sebab  keputusan menjalani profesi, adalah merupakan pilihan amanah dan tanggung jawab,” tambahnya.

Tanggung jawab dan amanah itu tak hanya berlaku di area publik semata, melainkan pula ketika berada di area domestik. Apalagi baginya, urusan anak lebih dipentingkannya daripada masalah karir dan pekerjaan. Sebab keberhasilan anak adalah merupakan masa depan kehidupan yang lebih menggembirakan. “Itulah sebabnya, kami senantiasa berusaha menyelami jiwa anak-anak. Sebab dengan begitu, kita akan lebih mudah untuk memahami persoalan mereka,” tuturnya bersahaja.

Nilai-nilai yang tak boleh pula diremehkan dalam keluarga, kata Ulfatin, adalah kesetaraan dan keseimbangan. Namun tentu saja, untuk membangun hal tersebut tak semudah membalik telapak tangan. Itulah sebabnya, meskipun dirinya dan suami sama-sama sibuk bekerja sebagai pendidik, namun keduanya selalu meluangkan waktu buat keluarganya. “Bagaimanapun juga, keluarga adalah merupakan sesuatu yang sangat penting sekali,” tandasnya. “Tapi ya.. jangan lantas nebeng seolah-olah demi kepentingan anak, padahal itu demi kepentingan diri sendiri,” katanya mengingatkan. Arif

Comments»

1. anis wahdi (pasca sarjana UNIPDU) - 30 Apr 2011

saya bangga punya guru seperti ibu yang mempunyai cita2 terhadap pentingnya ilmu. mudah2an saya bisa meniru jejak langkah ibu sebagai bahan motivasi kami agar kami menjadi orang yang sukses seperti itu, terutama dalam mengenyam pendidikan yang baik.

2. kuntosetyowiyono@gmail.com - 17 May 2012

Ibu Nurul sejak kuliah di AP FIP IKIP Malang memang luar biasa pintarnya

3. Budiono - 12 Jan 2014

Sejak dari SD dulu Prof. Nurul Ulfatin memang sudah memiliki tanda-tanda orang sukses, orangnya cerdas, rajin, tekun ibadah dan didukung oleh keluarga berada dan pesantren, sudah selakyaknya jadi orang besar…..selamat dan sukses buat Bu Nurul Ulfatin……


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: