jump to navigation

Dr. H. Soekarwo, SH. M.Hum 1 Mar 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: ,
trackback

Jawa Timur Bertabur Kado Prestasi

Ada komitmen Dr. H. Soekarwo, SH. M.Hum yang sangat menawan. Sebagai basis ekonomi terbesar di Indonesia, Jawa Timur harus punya basis moral dan spiritual yang kuat. “Ini sebagai salah satu ciri daerah yang maju,” cetusnya. “Oleh karenanya, kualitas pendidikan harus dibenahi secara serius. Dan tidak ada perbedaan antara sekolah umum atau Madrasah Diniyah,” tandasnya.

Gubernur Jawa Timur ini menegaskan, bahwa pemerataan pendidikan harus segera direalisasikan. Pakde Karwo – demikian sapaan karibnya – berpandangan semua masyarakat berhak mendapatkan pendidikan yang layak. “Tidak perlu ada lagi dikotomi pendidikan,” tukasnya. Lantas dilakukanlah sebuah terobosan baru, dengan memberikan Biaya Operasional Sekolah Daerah atau Bosda untuk mendukung BOS yang telah ada. Tak hanya lembaga pendidikan formal saja yang mendapatkan Bosda ini. Pendidikan non formal seperti Madrasah Diniyah (Madin), juga memperoleh alokasi anggaran dana yang sama. Itu semua, adalah demi meningkatkan mutu pendidikan di Jatim.

Tak hanya itu saja. Alumus Magister Hukum Universitas Surabaya ini, juga melakukan terobosan dengan memberikan beasiswa S-1 bagi para ustad Madin dengan menggandeng 45 Perguruan Tinggi di Jatim. Dan hasilnya pun cukup gemilang. Sejak dicanangkan pada tahun 2005, program tersebut kini telah meluluskan sebanyak 4.350 orang ustadz. “Targetnya 10 ribu guru Madin harus segera mendapatkan ijasah sarjana Strata Satu (S1),” harapnya.

Program pendidikan keagamaan tersebut, telah menarik perhatian kalangan DPR RI. Melalui Komisi VIII dan X, para legislator telah menjadkan Jatim sebagai tempat studi banding tentang model baru pendidikan khusus Madrasah Diniyah. Menurut mereka, program pemberdayaan guru Madrasah Diniyah layak dijadikan sebagai program nasional. Bahkan dalam waktu dekat akan dibentuk kelompok kerja khusus yang membahas model pendidikan tersebut.

Keberhasilan model pendidikan yang diterapkan Pemprov Jatim ini, juga mendapat apresiasi dari pemerintah pusat. Kado prestasi tersebut datang di awal tahun ini, berupa Penghargaan Amal Bhakti dari Menteri Agama. Sebab Jawa Timur dinilai memiliki kepedulian yang cukup tinggi terhadap pendidikan Agama dan Keagamaan – salah satunya adalah Madin.

Selain model pendidikan Madin, prestasi di bidang lainnya pun juga cukup membanggakan. Ini ditandai dengan banyaknya pengahargaan yang telah diterima Jawa Timur. Sebut saja Penghargaan Purna Parahita Ekapraya Utama (dalam bidang pengarusutamaan gender) dari Presiden Susilo Bambang Yudhoyono di tahun 2010 lalu. Dalam bidang investasi Jatim juga dinilai telah berhasil dalam memberikan pelayanan. Hadianya adalah penghargaan sebagai Penyelenggara Terbaik Pertama Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP), di bidang Penanaman Modal Badan Koordinasi Penanaman Modal. Pada tahun pertama masa kepemimpinan Pakde Karwo, sempat pula memperoleh award antara lain penghargaan bidang keuangan dari Menkeu.

Di bidang pertanian, provinsi di ujung timur pulau Jawa ini pun mampu meningkatkan produksi tanaman pangannya. Dua tahun berturut-turut – 2009 dan 2010 – Jatim mendapatkan penghargaan dari Presiden RI. Dalam bidang KB, Jawa Timur mencatatkan diri di dalam MURI sebagai provinsi dengan jumlah akseptor Keluarga Berencana menggunakan Intra Uterine Device (IUD) yang terbanyak. Semua prestasi tersebut tentu tidak datang secara instan. Yang pasti, itu tak bisa dilepaskan dari faktor kepemimpinan efektif yang diterapkan Pakde Karwo.

Itulah yang membuat namanya menjadi begitu akrab di telinga masyarakat Jawa Timur. Sosoknya hampir tak pernah lepas dari peci hitam, kacamata minus, kumis tebal dan murah senyum. Dia adalah figur yang begitu hangat dan pribadi yang terbuka kepada siapapun. Apabila ditanya tentang berbagai hal, pasti alumnus SR Negeri Palur Madiun ini menjawab dengan rinci dan runut. Yang pasti tidak pernah sekalipun berbicara tanpa disertai data dan fakta. “Bagaimana mungkin membuat konklusi yang premisnya tidak jelas?” ujarnya bernada tanya.

Gubernur Jawa Timur ini tidak akan mudah mempercayai informasi yang diterimanya, sebelum melakukan cek dan ricek terlebih dahulu sebelum mengambil keputusan. Bagi pria kelahiran Madiun 16 Juni 1950 ini, ketika sebelum melangkah ke masa depan dirinya terlebih dahulu mengambil pelajaran berharga dari masa silamnya. Itulah yang membuat anak petani asal Palur Kebonsari ini menyusun langkah demi langkah agar sesuai dengan prosedur. “Saya tidak bisa bekerja tanpa prosedur yang jelas,” imbuhnya.

Selain kejelian dalam mengambil setiap keputusan, alumni Fakultas Hukum Unair Surabaya ini sangat konsisten dalam mengawal keputusan yang telah diambilnya. Dirinya tak mau beranjak ke persoalan lain, sebelum persoalan sebelumya tuntas. Mantan Sekretaris Daerah Provinsi Jatim ini pun selalu melakukan pekerjaan itu tahap demi tahap sampai kelar. Ini sebagai bukti tanggungjawabnya. Bapak tiga anak ini memang dikenal sebagai tipikal pekerja keras yang mengedepankan tanggung jawab. “Sebab segala keputusan itu ada resiko yang harus dipertanggungjawabkan,” simpulnya.

Pengalaman masa kecil dan seluruh perjalanan hiduplah, yang telah mengajarkan untuk menjaga keteraturan dan kestabilan. Dan yang pasti, dengan itu Gubernur yang berpasangan dengan Wagub H. Saifullah Yusuf ini memiliki orientasi yang jelas dalam bekerja. Baginya, sebuah ketentuan memiliki arti yang sangat penting. Itu semua demi menjaga agar berbagai hal dapat berjalan dengan lebih baik. “Karena saya terbiasa tertib, rasanya malu jika suatu ketika akan melakukan tindakan di luar aturan,” ujarnya.

Namun demikian, ada persoalan lain yang membuat doktor lulusan Universitas Diponegoro Semarang ini merasa prihatin. Di antaranya, adalah maraknya kasus SARA akhir-akhir ini. Pada setiap kesempatan, dirinya tak bosan-bosannya selalu mengingatkan untuk menciptakan dan menjaga kenyamanan dan keamanan. Karena penciptaan kenyamanan dan keamanan baginya merupakan fundamen dalam menunjang pembangunan di Jatim. Sebab dengan terciptanya kondisi yang kondusif, akan sanggup mendatangkan investasi yang bisa membantu kesejahteraan masyarakat.

Persoalan lain yang kerap mengganggu pikirannya adalah masalah prostitusi. Suatu ketika pernah berujar bahwa dirinya sangat takut jika tidak bisa menuntaskan masalah yang satu ini. Pakde menyadari, bahwa sebagai seorang pemimpin pasti akan dimintai pertanggangjawaban tak hanya kepada masyarakat yang dipimpinya, tapi juga kepada Tuhan. Maka dia pun berjanji akan terus beruapaya mengurangi jumlah wanita tunasusila (WTS) di Jatim. “Pengurangan angka itu saya pastikan dimulai tahun ini,” janjinya. Dan saat ini telah disiapkan beberapa ustadzah yang akan membimbing mereka secara langsung. Dan tentu saja, mereka juga akan diberikan pekerjaan yang sesuai agar mereka tidak kembali lagi pada pekerjaan lamanya.

Di mata keluarga, mantan Komisaris Utama Bank Jatim ini merupakan figur teladan bagi ketiga anaknya. Didampingi sang istri sekaligus sahabat tempatnya berbincang dan berbagi, Hj. Nina Kirana, sebagai orangtua dia selalu mengupayakan agar segala urusan dan kepentingan keluarga dapat berjalan dengan lancar. “Saya berusaha menyeimbangkan antara urusan pekerjaan dan rumah tangga,” tuturnya. Oleh karenanya, meskipun pekerjaan dan kesibukannya berjibun, masih menyempatkan diri untuk membangun komunikasi dengan anak-anaknya. Secara terbuka mereka diajak berdiskusi dan sesekali terlibat dalam pengambilan keputusan keluarga. Il/Sumber: Website Kemenag RI, Website Humas Pemprov Jatim, Kompas, Tempo interaktif, Surya, Duta Masyarakat.

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: