jump to navigation

KIR MTsN Kediri 2 2 Feb 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Madrasah di Jawa Timur.
Tags: , , ,
trackback

Pusat Riset dengan 100 Karya Ilmiah Pertahun

Pernah dengar kecap dari biji kluwek? Itulah salah satu penemuan yang telah dihasilkan oleh tim KIR (Karya Ilmiah Remaja) MTsN Kediri 2. Hasil penelitian itu kini menjadi salah satu dari lima naskah yang diikutkan dalam ISPO (Indonesian Science Project Olypiad) tahun 2011. “Ada lima naskah yang kami kirimkan,” ujar Enik Kurniawati, S. Pd salah satu guru pembina KIR ini meyakinkan.

Kluwek yang dalam bahasa ilmiah bernama pangium edule ini, adalah buah dari pohon kepayang. Biasanya biji yang sudah berwarna coklat tua itu dimanfaatkan sebagai masakan. Namun setelah dicampur dengan daun serei dan rebusan ikan asin, ternyata bisa dihasilkan kecap yang tak kalah dengan kecap dari bahan kedelai. “Rasanya enak kok.. kita semua sudah mencobanya,” kata wanita kelahiran Kediri 4 Mei 1976 ini bernada promosi. “Apalagi ini kan sudah diujicobakan di laboratorium,” tegasnya.

Tak hanya kluwek saja yang disulap menjadi kecap oleh anak-anak KIR MTsN Kediri 2 ini. Ada beberapa lagi penemuan yang cukup unik; seperti pembuatan tempe dari biji trembesi, pembuatan warna alami dari kulit pohon mangga, serta yang lainnya lagi. Mereka juga menemukan sistim pengawetan ubi kayu yang lebih hebat dari pada di simpan dalam lemari es. Caranya cukup sederhana, cukup hanya dengan medium pasir. “Ubi tadi cukup dibenamkan di dalam pasir kok,” ujar Pembina KIR dan OSN ini.

Bahkan mereka juga telah menemukan isi tinta spidol dari buah mangsi. Ini didasari karena setiap hari dalam proses belajar mengajar, selalu digunakan papan putih yang berarti dibutuhkan spidol. Nah untuk efisiensi biaya, mereka mencoba alternatif pengganti tinta toko. Akhirnya buah mangsilah yang mereka lirik. “Dan ternyata bisa,”  ujarnya dengan tawa lirih.

Yang menarik, ternyata penelitian siswa madrasah yang berada di daerah Ngronggo itu, ide penelitiannya murni dari siswa sendiri. Jadi mulai penentuan tema, observasi, pengujian bahan hingga penulisan dilakukan secara mandiri. “Saya hanya membantu membacakan hasil labnya saja agar mereka mudah menganalisisnya,” tukasnya.

Kemampuan para siswa Madrasah Berprestasi Tingkat Nasional tahun 2004 ini, tak lepas berkat dorongan dari sekolah juga. Sebab pihak madrasah telah memasukkan KIR sebagai kurikulum wajib sejak kelas VII. Maka secara otomatis, KIR menjadi salah satu mata pelajaran wajib yang masuk penilain rapor. “Jika tidak dapat nilai KIR, berarti di buku rapornya ya kosong,” jelas wanita yang bertahi lalat di dagu ini.

Selain masalah nilai, untuk memacu kemampuan siswa dalam penelitian, sekolah juga mengadakan lomba KIR setiap tahunnya. Dan peminatnya pun membludak. Ini wajar. Karena sejak kelas VII mereka sudah dibebani tugas pembuatan karya ilmiah, even lokal itu pun tak pernah sepi peminat. “Bahkan hampir setiap tahunnya, dari kelas VII ini saja sudah menghasilkan seratus buah jenis karya ilmiah,” ungkapnya.

Peserta lomba penelitian sendiri tidak terbatas diikuti oleh kelas tertentu. Semua siswa dan semua kelas berhak mengikuti. Nantinya dari semua naskah yang masuk akan diseleksi menjadi 25 buah naskah yang memiliki nilai tertinggi. “Jadi ketika ada even kita tidak pernah kehabisan stok,” kata Drs. Mustain.

Selain even lokal tersebut, kata Kepala MTsN Kediri 2 ini, hampir tiap tahun tim KIR ini mengikuti berbagai lomba penelitian mulai dari tingkat regional hingga nasional. Dan prestasinya cukup membanggakan. Pada tahun 2004 dan 2005, secara berturut-turut meraih medali emas dalam Olimpiade Biologi/Sains SMP/MTs. Di tahun 2006 menjadi Juara II LPIP (Lomba Penelitian Ilmiah Pelajar ). Dan pada tahun 2007 menjadi Finalis LPIR Depdiknas 2007 Tingkat Nasional. Di tahun 2008 sempat pula menyabet juara pertama LKIR Tingkat Nasional. ”Waktu itu kita bahkan berkesempatan ketemu langsung dengan bapak Presiden,” ujar pria kelahiran Kediri 15 Juli 1964 ini dengan mata berkaca-kaca.

Pada tahun 2009, madrasah ini mengirimkan lima tim KIR pada ajang ISPO. Dan semuanya masuk sebagai finalis pada even nasional tersebut. Prestasi terakhir yang ditorehkannya, adalah menjadi Juara III LKIR ke 42 yang diselenggarakan LIPI tahun 2010. Dengan prestasi tersebut, tak heran jika tim KIR madrasah yang baru saja menerima penghargaan sebagai madrasah berprestasi ini menjuarai di setiap even lokal dan regional.

Prestasi inilah yang membuat pengelola madrasah tidak tanggung-tanggung menggelontorkan dana setiap tahunnya. Dua tahun terakhir, anggaran KIR dipatok mencapai 20 juta rupiah. ”Itu pun kadang bisa membengkak ketika mengikuti banyak even,” tutur mantan guru MAN III Kediri ini. ”Karena selain untuk biaya riset juga untuk biaya akomodasi tim,” tukasnya.

Untuk menunjang kegiatan KIR tersebut, pada tahun 2008 lalu madrasah ini telah mendirikan Research Centre yang dipimpin langsung oleh seorang direktur atau ketua tersendiri. Lembaga inilah yang selama ini membina tim KIR dan olimpiade di sini. ”Saya rasa.. ini merupakan satu-satunya madrasah yang memiliki pusat riset. Karena umumnya pusat riset itu kan dimiliki perguruan tinggi,” ungkapnya.

Sejak adanya pusat riset tersebut, membuat para siswa keranjingan melakukan penelitian hingga lupa waktu. Apalagi selain dilengkapi laboratorium MIPA, pusat riset tersebut juga memiliki laboratorium komputer. Maka tak heran setiap hari dua laboratoium tersebut ramai dikunjungi siswa. ”Bahkan jika ada pekerjaan yang perlu segera diselesaikan, tak jarang mereka harus menginap di rumah saya. ”Saya pun suka-suka aja.. Kan bisa ngajari mereka sambil momong anak,” ujar Enik sambil melepas tawa.

Tapi lulusan IKIP Malang ini mengaku terkadang sempat pula dibuatnya jengkel. Sebab mereka memang terkenal sebagai anak yang kritis, suka protes dan sedikit ngeyel. Seperti ketika dirinya bilang, bahwa pengujian ini harus dilakukan tiga kali. ”Eee.. mereka malah tanya, kenapa sih Bu kok harus tiga kali? Satu kali saja kan sudah cukup,” ucapnya menirukan protes salah seorang siswa.

Mendengar protes semacam itu, tanpa banyak bicara biasanya istri Nur Salam ini pun mendiamkan sementara dan menunggu saat yang tepat untuk membuat mereka mengerti. Ketika mengikuti ajang di Serpong, baru siswa-siswi itu tahu kalau harus melakukan pengujian sampai lima kali. Di saat itulah, dirinya mengembalikan pertanyaan tersebut pada mereka. ”Nah, saat itulah mereka menyadari kalau pengujian satu kali itu ternyata tidak cukup,” tutrnya sambil menghela nafas. ”Namun kami menyadari, proses semacam itu wajar saja terjadi demi menuju sang juara. Ketika mereka berhasil meraih juara, rasa-rasanya hati ini bergetar,” ungkap Pembina KIR IPA ini dengan wajah berbinar.

Yang merisaukan, sambungnya, ketika karya dari siswa madrasah ini dibajak oleh pihak-pihak yang tak bertanggung jawab. ”Banyak motifnya. Ada yang langsung menjiplak, atau bahkan pura-pura datang ke sekolah sambil mewancarai beberapa siswa,” timpal Mustain geram. Oleh karenanya, tahun ini pihaknya berencana mengurus hak paten dari semua hasil penelitian siswanya. Sehingga ke depan nanti, jika menjalin kerjasama dengan perusahaan untuk membuat produksi massal, hasil penelitian siswa MTsN Kediri 2 tidak mengalami hambatan yang berarti. Ded, Pri

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: