jump to navigation

Petugas Rutan pun Butuh Bimbingan Mental Spiritual 1 Jan 2011

Posted by Dedy Kurniawan in Wawancara.
Tags: ,
trackback

1.644 orang ditahan di Rutan Kelas I Medaeng Surabaya. 113 diantaranya wanita. Dan tak kurang dari 100 anak di bawah usia 18 tahun tercatat sebagai penghuni Rutan. Padahal, rutan ini hanya mampu menampung 504 tahanan. “Setiap kamar idealnya dihuni oleh 5 hingga 6 orang. Tapi dengan jumlah tahanan yang sudah over load, tiap kamar terpaksa dihuni oleh sekitar 16 orang,” ujar Suwanto, SH prihatin.

Tak ayal, banyak penghuni rutan yang tidur di luar sel. Tapi semuanya masih dalam batas penjagaan di tiap blok masing-masing. “Bagi tahanan dengan hukuman berat, kami tempatkan mereka di kamar. Sementara tahanan dengan kejahatan ringan seperti pencurian dan pencopetan berada di luar,” terang Kepala Seksi Pelayanan Tahanan Rutan Klas I Medaeng Surabaya ini. Tapi bagaimana pun juga, para tahanan itu tetaplah manusia yang harus dimanusiakan. Walau secara fisik seperti tak ada masalah, tapi kondisi psikis mereka kerap mengalami depresi. Lantas bagaimana pihak Rutan Medaeng mengatasi hal tersebut? Berikut penuturannya kepada MIMBAR Pembangunan Agama:

Bagaimana menangani masalah kondisi mental dan psikologi tahanan yang kerap mengalami goncangan itu?

Kami bekerjasama dengan dokter dan tokoh agama. Sebab, selain kami, hanya merekalah yang diperbolehkan untuk mendekati para tahanan. Merekalah yang memberikan terapi psikis dan mental spiritual sesuai dengan agama yang diyakini masing-masing napi. Selain itu, kami juga menghimbau kepada Pengadilan Tinggi Agama, agar menunda gugatan cerai yang dilayangkan pasangan terpidana hingga mereka keluar. Sebab saat menjalani proses tahanan di Rutan Medaeng, otomatis mereka tak akan diperbolehkan keluar untuk mengikuti proses sidang cerai.

Bagaimana tanggapan Pengadilan Tinggi Agama?

Sejauh ini, himbauan yang kami utarakan belum mendapatkan tanggapan yang berarti. Buktinya, sidang gugatan cerai terus berlangsung. Kasihan para napi. Di saat mereka butuh dorongan mental guna menghadapi kasusnya, mereka malah ditinggalkan oleh orang-orang yang dicintainya.

Dari jumlah napi yang ada, kasus apa yang paling banyak menyeret mereka sehingga memaksanya untuk meringkuk di rutan ini?

Kebanyakan adalah tahanan narkoba. Selebihnya karena kasus perampokan, perjudian, pencurian dan penggelapan.

Apa yang menyebabkan mereka tersandung kasus tersebut?

Sebagian besar pelaku kejahatan didorong oleh faktor tuntutan ekonomi. Hal ini juga tak terlepas dari pengaruh pergaulan dari lingkungan yang salah.

Atau karena mereka tak memiliki bekal wawasan keagamaan yang cukup?

Lho, jangan salah. Tak sedikit dari napi di sini adalah ustadz. Banyak napi yang sudah lancar membaca al-Qur’an. Bahkan, ketika kami mendatangkan ustadz untuk mengajar tim rebana beberapa waktu lalu, tak disangka ada napi yang malah lebih ahli dari ustadznya.

Jika demikian, siapa yang patut bertanggung jawab atas kondisi ini?

Semua ikut bertanggung jawab. Pemerintah, khususnya Departemen Agama yang merupakan departemen pembinaan mental dan moral keagamaan, orangtua, ulama, lembaga pendidikan dan keagamaan, serta semua elemen masyarakat secara luas.

Lantas, upaya apa saja yang sudah dilakukan pengurus Rutan Medaeng untuk membantu rehabilitasi mental spiritual para narapidana?

Beragam kegiatan keagamaan kami selenggarakan. Di rutan ini, ada program baca tulis al-Qur’an dan pelatihan shalat bagi yang masih awam. Untuk mereka yang sudah lancar, dapat menyempurnakan bacaannya dengan mengikuti program tajwid. Mereka pun bisa mengikuti khataman al-Qur’an pada setiap minggunya di Masjid Al-Husna yang terdapat di dalam tahanan. Training movitavasi, pembinaan dan penyuluhan keagamaan juga rutin kami lakukan. Jika di bulan Ramadhan, maka kegiatan keagamaan yang mereka ikuti di Masjid Al-Husna menjadi semakin padat. Guna membekali para napi selepas dari rutan, beragam skill keterampilan juga kami berikan. Diantaranya, salon, laundry, pertukangan maupun menjahit. Bahkan kami telah membuka tempat cuci sepeda motor yang dikelola para napi. Guna menambah wawasan keilmuan para napi, kami juga menyediakan ruang perpustakaan.

Bagaimana antusias para napi dalam mengikuti kegiatan keagamaan maupun kelas keterampilan yang ada?

Respon mereka luar biasa sekali. Dari semua diklat keterampilan yang pernah kami selenggarakan, selalu penuh. Mereka pun sangat antusias sekali mengikuti program keagamaan yang ada. Jika tiba waktu shalat Jum’at, sudah dipastikan masjid Al-Husna tak muat menampung jamaah. Sebab masjid itu hanya cukup menampung 300 orang. Jadinya, banyak napi yang mengikuti shalat Jum’at hingga merembet ke blok tahanan. Bersama para napi, kami juga telah membentuk tim rebana sebulan yang lalu.

Dalam melakukan setiap kegiatan itu, Rutan Medaeng bekerja sama dengan pihak mana saja?

Kami bekerjasama dengan Departemen Sosial, Depertemen Pendidikan dan Kebudayaan, IAIN, lembaga-lembaga sosial-keagamaan seperti YDSF dan beberapa lembaga keagamaan lainnya. Total ada 9 lembaga keagamaan Islam dan 22 Gereja yang ikut membantu kami.

Bagaimana dengan Departemen Agama?

Itulah yang kami sesali. Hingga kini, Rutan Medaeng masih belum mendapat bantuan apa pun dari Departemen Agama, khususnya di bidang pembinaan dan penyuluhan. Sebenarnya, kami pernah mengajukan permintaan bantuan. Tapi hingga kini, masih belum juga terealisasi.

Apa kendalanya?

Saat itu, kami terbentur jadwal yang diajukan oleh pihak Depag. Mau mereka, kami yang mengikuti jadwal mereka. Itu kan tidak mungkin. Tiap napi memiliki jadwal proses persidangan yang padat dan beragam.

Sebenarnya, apa saja yang dibutuhkan Rutan Medaeng untuk pembinaan ini?

Dana pembinaan kerohanian di sini masih sangat minim. Jumlahnya hanya sekitar 120 ribu perbulan. Jelas sekali kami butuh dana besar untuk membayar ustadz-ustadzah, biaya operasional kegiatan, serta penyediaan sarana prasana yang masih jauh dari memadahi. Peralatan keagamaan di sini pun masih sangat minim. Untuk latihan rebana saja, kami masih pinjam. Buku koleksi di perpustakaan jumlahnya juga sangat sedikit. Untuk tenaga ustadz-ustadzah di rutan medaeng ini, juga sangat minim. Jumlahnya masih tak sebanding dengan besarnya napi yang ada. Khususnya untuk tenaga ustadzah, kami sangat kekurangan.

Lantas, apa upaya pengurus rutan ini untuk menambal kebutuhan yang ada?

Kami berupaya membiayai secara swadaya. Itu hasil infaq kaleng di masjid, serta buah dari keuntungan usaha pencucian sepeda, laundry dan lain-lain. Selebihnya, kami hanya bisa berharap akan uluran tangan para aghniya’ yang dermawan yang mau peduli dengan nasib para napi. Selama ini kami sangat terbantu dengan kehadiran lembaga dakwah YDSF, yang kerap memberikan bimbingan training motivasi keagamaan dan bimbingan baca tulis al-Qur’an secara gratis.

Ke depan, apa harapan Anda?

Kami berharap, Departemen Agama lebih pro aktif lagi. Kami berharap mendapat bantuan dana pembinaan, serta tenaga ustadz-ustadzah. Kami membuka lebar-lebar pintu kerjasama dengan Departemen Agama. Untuk bimbingan dan Diklat, kami sediakan waktu dari jam 7 pagi hingga 5 sore. Kalau malam hari, hal itu tidak mungkin. Sebab para napi harus sudah masuk ke dalam blok masing-masing. Ini semua juga demi keamanan. Sebab rutan ini hanya memiliki 138 karyawan, dengan jumlah petugas yang hanya sekitar 75 orang. Itu masih dibagi dalam 4 shift. Jadi pada setiap shiftnya, hanya ada sekitar 18 petugas keamanan mengamankan 1.644 narapidana. Bisa dibayangkan jika para napi memberontak, kami bisa apa?

Bagaimana perasaan Anda ketika harus betemu dengan para napi setiap hari?

Sejujurnya, kami juga kerap dilanda stress. Bayangkan, tiap hari kami harus dikelilingi banyak napi, dengan modus kejahatan yang bertingkat. Maka kalau boleh jujur, tidak hanya para napi yang perlu bimbingan mental spritual, kami para petugas juga membutuhkannya. Ded

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: