jump to navigation

Prof. Dr. Muchlas Samani 12 Dec 2010

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags: , , ,
trackback

Mimpi Pendidikan Mantan Kuli Bangunan

Kisah panjang perjalanan hidup Prof. Dr. Muchlas Samani, ternyata ber­awal dari sebidang tanah kosong tak bertuan. Tanah pinggiran sungai di desa Carat Ponorogo itu tak cukup besar; hanya berukuran 3×4 meter saja. Tetapi dari sanalah cerita itu bermula. Ketika musim paceklik melanda dae­rahnya di tahun 1960-an, tanah itulah yang dipergunakan ayahnya untuk menanam cabe – meskipun waktu itu musim kemarau. Ketika aliran sungai melimpah, maka tanah itu pun akan mendapatkan rembesan air yang cukup.

Namun bukan itu yang mengantar sejarah hidupnya, melainkan di tempat inilah terjadi sebuah dialog yang sangat membekas. Waktu itu Muchlas kecil masih belum lulus Sekolah Dasar. Sambil melakukan pekerjaannya, lelaki kelahiran Ponorogo 15 Desember 1951 ini mendengarkan keluh kesah bapak­nya: “Ya… beginilah hidupnya sese­orang yang bodoh itu. Cukuplah saya saja yang merasakannya. Anak cucu saya nanti jangan sampai ada yang mengalami nasib seperti ini. Makanya, kelak kamu harus jadi orang yang pinter.”

Untaian kalimat tersebut benar-benar membakar jiwanya. Sejak saat itulah semangat belajarnya terasa menggebu-gebu. Tak salah se­waktu SMP dia dikenal sebagai anak yang cerdas dan pintar. Sayangnya, ketakadaan biaya menghalanginya untuk meneruskan ke jenjang SMA. Inilah yang melatarbelakangi kenapa dirinya lebih memilih sekolah STM. “Itu pun dengan me­ngor­bankan masa depan kakak perem­puan saya. Dia ter­paksa berhenti tak bisa melanjutkan studinya. Sebab waktu itu biaya yang ada hanya cukup untuk satu anak saja,” tuturnya ber­terus terang.

Selepas itu – tepatnya pada tahun 1969 – anak pasangan Parto Samani dan Kosanah ini hengkang ke Sura­baya tanpa tujuan yang pasti. Yang ada di benaknya, hanyalah ingin terus melanjutkan studinya sambil bekerja. Demi tuntutan perut, dirinya rela bekerja sebagai apa saja. Termasuk sebagai kuli bangunan di IKIP Su­rabaya. “Ketika berkunjung ke Surabaya, ayah saya menangis tak tega melihatnya,” kisahnya menge­nang. “Saya tak menyesal, karena itu­lah pilihan jalan hidup yang memang harus saya lalui,” tambahnya bernada tegar.

Waktu pun berselang, ayah tiga anak ini mendapatkan pekerjaan yang agak mendingan; bekerja di sebuah bengkel. Ketika dirinya diangkat se­bagai karyawan Pertamina di bagian teknisi, garis hidup pun mulai ber­ubah. Kini dirinya sudah bisa me­lanjutkan cita-cita studinya. Yang menjadi pilihannya, adalah tempat di mana di­rinya pernah bekerja sebagai kuli bangunan di sana. Tetapi akhirnya Gu­ru Besar Unesa ini pun merasa tak kerasan terus menerus bekerja seba­gai teknisi. “Saya me­rasa tak akan berkem­bang jika terus mene­kuni bidang peker­jaan tersebut,” kilahnya.

Lalu di tahun 1975 segera diambil keputusan untuk keluar dari pekerja­annya. Sementara untuk membiayai kuliahnya, dirinya nyambi les privat dan mengajar di sekolahan. Setelah mengantongi gelar  S-1 pada tahun 1978, dirinya mencoba bekerja sebagai konsultan teknik. Apa pun pekerjaan yang dilakukan, tak pernah menyurut­kannya untuk berpikir dan selalu berpikir tentang dunia pendidikan. Itulah yang menggiringnya untuk memilih menjadi dosen di IKIP.

Pada tahun 1981, Staf Ahli Men­dik­nas ini memutuskan untuk mem­persunting teman seperkuliahan Dwi­yani Ratna Dewi. Ketika dikaruniai dua anak, justru meninggalkan pekerjaan dosennya. Sebab dirinya ingin me­lanjutkan sekolah S2 di IKIP Yog­yakarta – mengambil konsentrasi Pendidikan Teknis Kejuruan. Setelah se­lesai, langsung melanjutkannya ke IKIP Jakarta untuk menekuni bidang evaluasi. “Saya sangat merasa senang dan kian terpikat dengan dunia pendi­dikan,” simpulnya. “Pendidikan itu mo­dal pokok untuk mengembangkan diri,” tandasnya.

Maka ide-ide pengembangan pen­didikan pun mengalir bagai air bah. Yang menjadi bidikan pertama, adalah kurang realistiknya konsep pendidikan Indonesia. Pasalnya, teori yang selama ini diterapkan adalah serba penyera­gaman. Padahal masyarakat pendidi­kan yang ada, memiliki latar belakang etnis dan kultural yang sangat bera­gam.

Laiknya makanan, resep masakan Jakarta belum tentu cocok bagi lidah Surabaya. Apalagi jika hal itu dipak­sakan buat daerah-daerah terpencil di Jawa Timur. “Mengapa sekolah tidak diberikan kebebasan berkreasi, agar bisa menentukan keinginannya sen­diri,” tukasnya bernada tanya. “Dari sanalah awal mula pemikirannya, se­hingga terumuskan menjadi konsep School Based Management dan ke­mudian berkembang ke teori life skill,” ungkapnya.

Tak hanya berhenti di situ saja. Ide itu pun terus bergulir, hingga di awal abad 21 muncul teori baru yang diberi nama Kurikulum Berbasis Kom­petensi (KBK). Selama 4 tahun teori pendidikan ini diujicobakan. Ha­silnya pun sangat menggembirakan. Teori ini kemudian diartikulasi menjadi Ku­rikulum 2004. “Penyempurnaan Ku­rikulum 2004 oleh Badan Standar Na­sional Pendidikan inilah, yang sebentar lagi dilegalisasi menjadi Kurikulum 2006,” jelasnya.

Rupanya, Prof. Dr. Muchlas Sa­mani masih menyimpan mimpi pen­didikan yang lain. Pertama, perlu­nya mereorientasi konsep life skill. Kedua, bagaimana bisa mensinergikan se­ge­nap po­tensi yang tersebar. Ketiga, kita harus memiliki grand design pen­di­dikan. Jadi semacam planning atau arah pendidikan ke depan, yang semua pihak bisa menjadikannya sebagai acuan masa depan pendidikan ber­sa­ma. “Cuma yang ketiga ini terasa  sa­ngat sulit terwujud. Entah bagaima­na caranya, jika kita tak ingin keting­galan dengan negara lain, maka hal ter­sebut harus segera kita miliki,” tu­kas­nya meng­akhiri wawancara. Il, Yan

Advertisements

Comments»

1. antok malang - 7 May 2011

Salut buat pak Prof. Muchlas Samani, smg terus mengeluarkan karya2 pendidikan terbaik. Akan menjadi inspirasi buat saya pribadi…Trims

2. abiluwi - 29 Jun 2011

inspirasi baru buat saya

3. Alifah Rossy A. (@Lif_Alifah) - 19 Oct 2012

Subhanallah….smg smgat prof muchlas menular k saya…

4. mujianto - 1 Dec 2012

Ya Allah yang Maha Hidup, di tanganMu nasib hambamu, limpahkan kepada beliau Prof Samani barokah dan karuniaMu. Teguhkan langkah kakinya demi terwujudnya perubahan Pendidikan di negeri ini. Panjangkan umurnya dan jadikan ia sebagai pemberi manfaat bagi sesama.

5. Bapak Rektor Qu | irnarahmawati - 17 Dec 2012

[…] untuk yang lebih lengkap klik : disini […]

6. Christian - 17 Jun 2015

Profesor yang saya kagumi, pengajar yang hebat.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: