jump to navigation

Membaca Gunung Cahaya 15 Nov 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , ,
trackback

Oleh Mulyani Taufiq Ismas *)

Ketika berada di Makkah al-Mukarramah, saya pernah terperangah menatap Goa Hira’ dari sudut kejauhan. Berkali-kali saya menatap lekat “goa permenungan” itu. Masya Allah… posisi goa – yang letaknya tak jauh dari pusat kota Makkah – itu, persis orang yang sedang bersujud menghadap Ka’bah. Sungguh, semua ciptaan di semesta raya ini memang senantiasa bersujud dan bertasbih menyebut asmaNya.

Maka hatipun tiba-tiba bergetar mengingat kisah Rasulullah SAW saat bermenung; selama berwaktu-waktu beliau menguras energi dan air mata di tempat kegelapan yang amat sangat pekat tersebut. Sebab dirinya merasa, sebutan al-Amin yang disematkan kaum Quraisy di pundaknya nyatanya tak cukup untuk membuat mereka berpaling dari jalan kesesatan.

Tahannus di Goa Hira’, adalah merupakan titik akhir dari puncak keresahan ruhani Nabi Muhammad SAW – sebelum mendapat bimbingan kalam suciNya. Dari puncak tertinggi kesunyian itulah, beliau bisa melepas pandang menatap hamparan kota Makkah dan Ka’bah yang berdiri dengan kokohnya. Dari tempat itu pula dapat disaksikan rumah-rumah perkampungan, perilaku penduduk dan rusaknya tatanan sosial, ketimpangan moral, serta hancurnya akhlak para penghuninya.

Sebagai manusia biasa, gejolak dan pergolakan batin pun tak dapat ditampiknya. Hanya saja, dirinya tak mengerti dari mana harus memulai arah perjuangan untuk membangkitkan sebuah perubahan bagi kaumnya. Sebab ternyata kejujuran dan sikap teladan yang lahir dari perilakunya selama ini, tak jua membuat kaumnya tak bergeming untuk bergegas menirunya. Mereka tetap saja memilih jalan tradisi Jahiliah untuk menggerakkan roda perguliran sosial-kemasyarakatannya.

Pada saat puncak keresahan meliputi segenap jiwanya, maka Allah SWT memerintah Jibril untuk menyapa Sang Nabi Agung: “Iqra’ ya Muhammad!” Tiba-tiba saja dada beliau bergemuruh. Lisannya yang tak pernah terkotori dengan kedustaan sepanjang hidupnya, tetap saja bungkam membisu. Tak sepatah katapun meluncur dari bibirnya. Sebab dirinya merasa tak bisa membaca aksara. Lantaran Ruh al-Qudus itu berkali-kali memerintahkannya untuk tetap saja membaca, maka dengan tubuh berpeluh keringat dan bibir bergetaran karena rasa takut terucaplah kalimat; maa ana biqari’ (aku bukanlah orang yang bisa membaca). Maka Jibril dengan ujud aslinya menyuruhnya untuk membaca; Iqra’ bismi rabbikal ladzi khalaq… (QS. Al-Alaq: 1 – 5).

Jika sejenak kita mau merenungkan peristiwa tersebut, maka betapa anehnya seruan Jibril kepada Nabi Muhammad SAW itu; perintah membaca terhadap sosok diri yang tak bisa membaca. Lebih mempesona lagi, lembaran yang dibaca juga tak ada – sebab waktu itu al-Qur’an memang belum ada. Itulah sebabnya, perintah tersebut lebih merupakan perintah untuk membaca diri dan kondisi sosial masyarakat dengan asmaNya. Berangkat dari bacaan itulah, lantas Rasulullah dengan sifat siddiq, amanah, tabligh dan fathanah beranjak membimbing kaumnya untuk keluar dari jalan kesesatan yang sangat nyata.

Sejak peristiwa turunnya al-Qur’an di Goa Hira’ pada tanggal 17 Ramadhan/6 Agustus 610 M itulah, nama perbukitan tersebut dinamai dengan sebutan Jabal Nur. Betapa menawannya nama itu; sebuah tempat kegelapan yang hingga kini tak terdapat sebuah lampu penerang pun, dianugerahi sebutan sebagai Gunung Cahaya.

Pemberian nama itu, tentu saja dirujukkan dengan seberkas cahaya al-Qur’an yang turun di tempat tersebut. Sebab al-Qur’an adalah bagaikan cahaya yang menerangi hati-hati yang gelap-gulita agar menuju jalan aqidah yang menyala. Al-Qur’an merupakan cahaya kehidupan, obat kegundahan jiwa, penawar kegalauan hati, serta cahaya kasih sayang bagi semesta alam. Sebab di dalamnya berisi tonggak keimanan, yang mendorong manusia untuk berlaku taqwa dan beramal shalih.

Bagi yang mengimaninya, al-Qur’an akan menjadi hujjah dan pedoman hidup untuk menuju keselamatan haqiqi baik di dunia maupun di akhirat kelak. Namun bagi mereka yang mengingkarinya, maka akan diturunkan segenap laknat kutukan terhadap mereka; “Wal Qur’anu hujjatun laka au ‘alaika.” (HR. Muslim). Maka sungguh, al-Qur’an tak bisa dibuat main-main baik dari sisi bacaannya, pemahamannya, ataupun sekedar dijadikan dalih sebagai penguat pendapat pribadi untuk memperoleh kemenangan. Oleh karenanya, sikap kehati-hatian dan rasa tawadhu’ mutlak diperlukan untuk memuliakan al-Qur’an.

Yang bisa dipetik dari pertemuan Jibril dan Rasulullah di Gunung Cahaya itu, bahwa sebagai makhluk yang lebih mulia dari malaikat beliau dengan rela hati memposisikan diri sebagai murid di hadapan Jibril. Betapa Rasulullah yang tak hanya indah dari segi fisik namun juga kelengkapan ruhaniah dan ketinggian derajatnya, beliau begitu mudah meletakkan keberadaan Jibril sebagai gurunya. Hal ini mengisyaratkan, bahwa dari manapun juga datangnya kebenaran, maka kita harus sanggup menerima dan memposisikan itu sebagai kebenaran.

Dan satu lagi, firman itu disampaikan di Goa Hira’; sebuah tempat yang senantiasa bersujud memujiNya. Maka betapa dekilnya kita, jika tak mau patuh tunduk sujud padaNya jua. Sebab batu besar yang tak berakal dan berada di singgasana kegelapan itu saja tak pernah berhenti untuk memujinya, lha masak sebagai manusia yang berakal kita justru mengingkariNya?

Wallahu a’lam bish-shawab!

*) Penulis adalah Pemimpin Redaksi Majalah Jendela Santri

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: