jump to navigation

PP. Modern Darussalam Malang 4 October 2010

Posted by decazuha in Pesantren di Jawa Timur.
Tags: , ,
trackback

Pelatihan Outbound di Pesantren Buah Naga

Ingin tahu pondok pesantren yang rindang, asri dan menyejukkan? Datang saja ke pondok pesantren Modern Darussalam Lawang, Malang. Hampir di seluruh areal pesantren, tengah ditumbuhi pohon buah naga dengan ketinggian rata-rata 1 meter. Ribuan pohon itu menghampar memenuhi sudut-sudut pesantren. Mulai dari pintu gerbang, areal masjid, halaman sekolah, lingkungan rumah Kiai, hingga sampai ke tapal batas tanah pesantren. Rasanya sejauh mata memandang selalu tertuju pada buah naga. Sungguh sebuah pemandangan yang amat mempesonakan jiwa.

Yang lebih mempesonakan, ternyata buah naga di pondok ini membuat para pemerhati budidaya buah naga terkesima melihat pertumbuhannya. Kalau di tempat lain memerlukan ketinggian 1,5 meter untuk berbuah, di sini cukup satu meter. Maka tak salah jika majalah Trubus di tahun kemarin memberikan Award untuk Pondok Modern Darussalam ini. “Disamping faktor tanahnya, energi masjid ternyata dahsyat sekali,” tukas KH. Achmad Toha, MA bernada kelakar. “Dengan penghargaan inilah, nama pesantren di sini kini makin populer,” ucapnya bersyukur.

Dengan lahan yang cukup strategis seluas 6,5 Ha, pondok yang terletak di sebuah lereng bukit di desa Turirejo Lawang ini, begitu leluasa mengembangkan usaha agrobisnisnya. Sebelumnya, sebenarnya pernah dicoba usaha di bidang peternakan dan perikanan. “Namun kenyataannya memang  belum cocok, sehingga belum bisa memberikan manfaat yang berarti bagi pesantren,” kilahnya. “Akhirnya pengelola pesantren melirik usaha agrobisnis. Dan ternyata kok ya cocok,” tambahnya sambil tertawa lirih.

Ketika budidaya buah naga ini belum berkembang, hampir semua tanaman seperti lombok, kacang panjang, terong dan sejenisnya telah memenuhi areal pesantren. Sehingga ketika mahasiswa dan mahasiswi dari UNIBRAW Malang bertandang kesana, mereka sempat dibikin terkesima. “Mereka yang lama belajar ilmu pertanian di kampus, merasa kalah jauh dengan anak-anak pesantren di sini. Ketika di bangku perkuliahan mereka masih menghafal teori-teori, ternyata di pesantren ini sudah lebih dulu mempraktekkannya,” ungkapnya membandingkan.

Enam tahun yang silam, pohon buah naga itu semula hanya ditanam di lokasi sebelah utara masjid pesantren. Tak berselang lama, komoditi tersebut ternyata menunjukkan tanda-tanda keberhasilannya. Melihat momentum inilah, sehingga pengembangan pohon buah naga ditanam secara massal. Mengenai jenisnya, yang ditanam adalah termasuk jenis super red – yakni sejenis buah naga super dengan warna buah sangat merah waktu masak. “Buah naga jenis ini tergolong mahal dan paling banyak dicari. Hal inilah yang ikut mengatrol harga jual bisa tetap tinggi,” terang khatib Masjid Al-Akbar Surabaya ini menjelaskan.

.Maka tak heran jika masa panen tiba mampu meraup keuntungan yang cukup besar. Jika satu pohon bisa berbuah satu hingga enam kali dengan berat rata-rata 0,7 gram, berarti setiap pohon mampu menghasilkan 4,2 kg buah siap jual. Berarti dari 100 pohon, mampu menghasilkan 420 kg. Jika harga per kg buah naga terendah Rp 30.000, berarti akan menghasilkan Rp 12.600.000. “Lha kalau jumlahnya seribu lebih, bisa dibayangkan berapa hasil yang didapat,” ulasnya sambil mengulum senyum.

Untuk segi penjualannya pun juga tak mengalami kesulitan. Sebab para pembeli biasanya datang ke tempat lokasi. Mereka umumnya datang dan memetik langsung. Walaupun demikian tidak berpengaruh pada harga jual. Biasanya perbedaan harga sangat mencolok antara harga di kebun dengan harga di pasaran. Dan penjualan itu akan semakin meningkat jika memasuki hari Imlek. “Ketika hari Imlek, habis semua diborong oleh orang cina,” bebernya.

Selain disokong dari hasil agrobisnis, pendapatan lain yang didapat adalah dari hasil penyewaan tempat untuk pelatihan dan outbound. Tiap minggunya tidak kurang dari 100 orang dari organisasi kemasyarakatan dan kemahasiswaan yang menggunakan pesantren ini. “Bahkan kalangan Kristiani juga pernah menggunakan tempat ini. Asal yaa.. tidak membuat upacara-upacara ritual saja,” tutur bapak tiga putri ini menerangkan.

Untuk penyewaan tempat pelatihan tersebut, awalnya terjadi secara tidak sengaja. Sebab sejak semula memang tak didisain sebagai tempat pelatihan dan outbound. Namun seiring dengan perkembangan zaman, akhirnya lokasi itupun disewakan. “Kami di sini tak hanya memfasilitasi outbound secara sarana fisik saja, melainkan pula para instrukturnya,” ujarnya. “Disamping lokasi pesantren yang rindang menyejukkan, kami juga memberikan kemudahan dan kelonggaran bagi mereka,” tambahnya setengah berpromosi.

Meskipun pengembangan agrobisnisnya mengalami kemajuan yang pesat, namun pondok pesantren Darussalam tak mau melupakan tujuan semula dari didirikannya pesantren tersebut. Sehingga hasil dari usaha bisnis, semata dipergunakan untuk menunjang pengembangan dan memenuhi kebutuhan pesantren itu sendiri. Tentulah hal ini akan menjadi cerminan bagi sikap kemandirian pondok pesantren. “Sudah menjadi keharusan pesantren untuk mengatasi permasalahannya sendiri, tanpa pernah menengadahkan bantuan kepada pihak lain,” tandasnya.

Sebelum pondok Darussalam berdiri, sebenarnya lokasi di sana masih merupakan semak belukar yang sangat angker. Tak heran jika warga di sanapun merasa takut ketika melintasi daerah tersebut. Di sisi lain, daerah itu merupakan wilayah yang kering karena tak ada sumber air. Hal itu dikarenakan kondisi geografis yang berupa lereng dengan batu-batu cadas, sehingga tak mungkin dilakukan pencarian sumber air. “Kalapun dipaksakan, tentu membutuhkan biaya yang tidak sedikit,” jelasnya.

Namun ketika pesantren ini berdiri di tahun 1994, ternyata sanggup menemukan sumber mataair di wilayah bekas bakal lokasi perluasan Kuburan China Sentong. Dengan ditemukannya sumber air tersebut, karuan saja dapat mengubah imej desa Turirejo yang selama ini tak banyak dilirik oleh orang. Dari sanalah kemudian pondok pesantren terus mengembangkan sayapnya, hingga menjadi seperti sekarang ini.

Lebih-lebih setelah dikenal sebagai “pesantren buah naga”. Banyak orang yang terus berdatangan ke tempat tersebut. Kesempatan itulah yang kemudian dimanfaatkannya untuk mempromosikan pondok Darussalam. “Minimal ini akan menghilangkan imej pesantren sebagai sarang teroris,” tukas alumnus Ummul Qura’ University ini menegaskan. “Pesantren itu merupakan min sya’airillah yang harus diagungkan dan dimuliakan. Jadi sangat salah jika ada kelompok yang takut, apalagi mencurigai keberadaan pondok pesantren,” tandasnya.

Selama ini, katanya, orang hanya mengetahui bahwa min sya’airillah itu hanya Baitullah saja. Padahal al-Qur’an, masjid, majlis dzikir dan juga pesantren merupakan min sya’airillah. Rasulullah pernah bersabda: “Bagi siapa yang melewati sebuah taman surga, maka berbahagialah.” Lalu seorang sahabat bertanya: “Apa taman surga itu?” Maka Nabi pun menjawab: “Itulah majelis dzikir.”

Maka seharusnya berbagai pihak tak mencurigainya, dan justru merasa senang dengan adanya pesantren. Dengan prinsip itulah, pihaknya membuka pintu lebar-lebar untuk siapa saja tanpa memandang latar belakang sosio-keagamaannya. “Ini agar orang-orang merasakan aura yang ada di pesantren sehingga merasakan kebahagiaan,” tandas pria keturunan Banjar ini meyakinkan.

Meskipun usaha bisnisnya mengalami peningkatan yang luar biasa, tapi dirinya membatasi keterlibatan santri-santri yang ada di sana. Terutama untuk santri yang masih baru. Sebab tugas utama mereka adalah belajar dan belajar. “Untuk yang baru-baru, mereka cukup mengetahuinya saja tanpa harus terlibat secara langsung,” ujarnya memberikan alasan. Hanya santri seniorlah yang diberi kepercayaan untuk mengelola usaha bisnis tersebut. Di samping Karena masa belajarnya sudah tamat, mereka juga telah berniat mengabdikan diri sepenuhnya untuk pengembangan pesantren.

Pada mulanya, pesantren ini hanya menerima santri yang belajar agama saja. Namun karena desakan masyarakat, akhirnya dibuka pula pendidikan formal. Jadi selain lebih mengutamakan pendidikan Diniyah, juga telah memiliki pendidikan formal. Pada tahun 1998 mulai didirikan SMP Plus Darussalam, dan di tahun 2001 didirikan pula SMA Plus Darussalam. Hal itu semata-mata demi melayani kebutuhan masyarakat akan pendidikan. “Ketika belum memiliki lembaga pendidikan formal, bagi santri yang telah menyelesaikan kurikulum pondoknya diikutkan ujian persamaan di Pondok Modern Gontor. “Tapi kini sudah tak lagi, karena telah memiliki lembaga pendidikan formal sendiri,” tuturnya.

Namun demikian, pesantren ini tetap mengutamakan pendidikan Diniyah. Ini dimaksudkan agar tak terlampau larut ke dalam pendidikan formal. Untuk pendidikan Diniyah sendiri, menggunakan kurikulum perpaduan antara kurikulum Gontor dan pesantren salafiyah. Selain setiap hari diwajibkan memakai bahasa Arab dan Inggris, juga diberi pengetahuan kitab khas pesantren salaf seperti  Jurumiyyah, Taqrib, Ahkam, Arbain Nawawi, Bulughul Maram dan sebagainya.

Yang jelas, pondok pesantren Darussalam Lawang telah sanggup memberikan fasilitas, serta menjadi penawar atas kebutuhan masyarakat. Baik berupa pendidikan agama, maupun pendidikan umumnya. Pantas jika kini banyak masyarakat yang berbondong-bondong menitipkan pendidikan anaknya di tempat tersebut. Hisy, Pri

Advertisements

Comments»

1. Mila Lafuku - 25 March 2012

berapa biaya masuk ponpes buah naga

2. asrurisyamsruri syam - 5 April 2013

Mohon ijin copas untuk profile dan promosi pondok……

3. Gathering Karyawan - 27 September 2015

Can I just say what a relief to discover someone who
genuinely knows what they’re talking about on the web. You certainly know how to bring an issue to light and make it
important. More people have to look at this and understand this side of the story.
It’s surprising you are not more popular since
you certainly have the gift.

4. Outbound Malang - 7 April 2016

You’re so cool! I do not believe I have read through a single
thing like this before. So nice to discover somebody with genuine thoughts on this
subject matter. Seriously.. thanks for starting this up.
This site is something that is needed on the web, someone with a bit of originality!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: