jump to navigation

Kemanjaan Ilahiah 1 Sep 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags:
trackback

Oleh Ilung S. Enha *)

Dari proses-proses perjalanan ta­sawuf, seringkali para penempuh jalan tasawuf, mendapatkan bonus kemuda­han-kemudahan; baik pada wilayah mo­ral-spiritualitas maupun dalam rea­litas kehidupan secara nyata. Seperti halnya kemudahan-kemuda­han sosial-ekonomi, yang diterimanya tanpa upa­ya yang susah payah.

Kemudahan-kemudahan sema­cam itu, bah­kan tak jarang  datang se­cara tiba-tiba — tanpa adanya upaya se­­kedar pun, serta sama sekali berada di luar jang­kauan praduganya. Namun sayangnya, peristiwa-peristiwa se­ma­cam ini pun kerapkali pula me­nye­rim­pung, hingga melemparkan kedi­rian para pejalan tasa­wuf ke dalam lo­bang-lobang ke­khila­fan. Se­misal si­kap me­re­meh­kan atas setiap kejadian, yang me­nim­pa­nya pada kehi­dupan keseharian. Ala­san yang kerapkali di­u­sungnya, toh Tuhan akan segera menyele­saikannya se­cara tiba-tiba.

Itulah awal mula yang menjadikan diri­nya, untuk senantiasa ber­manja-manja ria de­ngan anugerah Sang Ilahi. Bahkan fatalnya, lama-kelamaan keman­jaan ilahiah semacam itu, dijadikannya seba­gai pegangan strategi kehidupannya. Se­hing­ga apa pun bentuk ke­rumitan yang menam­par­nya, dirinya tinggal mengontak Tuhan se­ca­ra batin, sehingga per­masalahan itu pun se­gera sirna secara tiba-tiba.

Kemanjaan sema­cam ini, jikalau diterus-teruskan akan dapat me­ngarah kepada sikap ke­tele­doran, yang bisa ber­ten­tangan de­ngan ajaran agama. Seperti hal­nya para pe­laku ta­sawuf yang kerapkali malati. Artinya jikalau orang lain tak menuruti dari se­tiap ucapannya, maka petaka pun akan datang menim­panya. Semisal ketika seseorang berta­mu kepadanya dan hendak berpamitan pulang, lalu dengan serta merta dia melarangnya. Pada saat seseorang tadi memaksakan diri untuk pulang, maka di tengah per­jalanan di­rinya akan be­nar-benar di­timpa sebuah musibah kece­lakaan.

Terjadinya kemanjaan-kemanjaan seperti itu, dikarenakan rasa kedekatan terhadapNya. Semisal bocah kecil ke­pada orang tuanya. Ketika sang bo­cah meminta uang untuk membeli per­men coklat, maka sang ayah pun tidak mem­be­rinya lantaran kuatir sakit giginya semakin kambuh. Lalu sang bo­cah pun menangis sejadi-jadinya, bah­kan de­ngan melempar-lempar kaca rumah. Meskipun sang ayah tahu bahwa per­buatan melempar-lempar kaca ru­mah itu salah, namun dia tak meng­hu­kum anak tersebut bahkan diberinya uang yang diminta­nya.

Ketika kemanjaan-kemanjaan ila­hi­ah tersebut hinggap pada sang pe­ja­lan tasawuf, maka hendaknya dirinya me­ngerti bahwa hal yang semacam itu hanya pantas terjadi pada sang bocah kecil. Dan bagi kedewasaan spiritu­alitas seseorang, maka harus berani me­ngatakan, bahwa melempar-lempar kaca itu adalah termasuk perbuatan yang salah. Sehingga setiap kali terjadi sebuah tragedi menimpa orang lain — yang diakibatkan oleh ucapan dan pe­ri­lakunya, maka diri­nya akan se­cepat mungkin beristighfar kepa­daNya.

Sebab bagaimana pun juga, aga­ma telah jelas-jelas melarang untuk men­celakakan orang lain. Jika pun ada orang lain yang mela­ku­kan kesalahan ter­hadap dirinya, ma­sih terbentang ja­lan lain yang jauh lebih arif dan bijak­sana. Maka sama sekali tak elok, jika­lau dirinya yang dikenal sebagai sese­orang yang dekat de­ngan Tuhan­nya, te­tapi justru bikin ku­wa­lat orang lain.

Apalagi sang Ra­­­­sul agung pun tak pernah mengajari u­mat­nya, bahwa sese­orang dengan keting­gian peringkat keima­nan­nya, akan absah-absah saja jikalau me­lakukan suatu perbua­tan yang dapat men­ce­la­­kakan orang lain. Semisal membikin orang yang tegak ber­diri lantas dibikin ja­tuh tanpa menggerak­kan sehelai jemari pun. Sebab yang di­ajar­kannya, justru ba­gaimana agar orang-orang yang se­dang ter­­jatuh hingga diri­nya menjadi lemah itu, dapat diba­ngun­kan dan di­bangkitkan eksis­tensinya.

Dengan demi­ki­an, apa pun yang tum­buh dari sikap dan uca­pannya, se­nan­tiasa membikin o­rang lain merasa­kan kete­duhan, kete­nangan dan ke­nyamanan — apabila ber­­san­ding dan berdampingan de­ngannya. Maka alangkah nikmatnya hidup seperti itu; sebuah kehidupan yang penuh damai dan selalu berham­par semerbak kedamaian.

*) Penulis buku “Mencari Tuhan di Warung Kopi; Meraih Cinta Tanpa Guru”

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: