jump to navigation

Dr. KH Abdullah Syukri Zarkasyi, MA 1 Sep 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Ketegaran Hidup dan Jiwa Perjuangan

Dr. KH. Abdullah Syukri Zarkasyi, MA memang sangat dikenal sebagai lelaki yang bersahaja. Kesederhanaan bak pakaian keseharian yang dikenakannya untuk menemaninya beraktivitas. Maka tak usah heran jika di pondok yang santrinya juga datang dari berbagai negeri manca, pria kelahiran Gontor 19 September 1942 ini masih kerap melakukan tugas keseharian dengan tangannya sendiri – semisal membersihkan sampah dan menariknya dengan gerobag bersama santri-santrinya.

Hal semacam itu, sudah merupakan pekerjaan rutin baginya. Tak segan-segan pula putra pertama KH. Imam Zarkasyi (salah seorang pendiri pondok modern Darussalam Gontor) ini nimbrung di tengah-tengah tukang bangunan, yang sedang menyelesaikan pembangunan yang ada di kompleks pondok. Sebab sudah menjadi doktrin pesantren, bahwa semua yang ada di pondok ini harus mau bekerja. Termasuk pula, para anak pejabat yang tengah menempuh pendidikan di sana.

Teladan semodel itu, agaknya  memang mulai sirna dalam tradisi pesantren. Padahal justru hal itulah yang akan dijadikan contoh bagi warga pesantren. Karena sebuah teladan, memang tak cukup hanya dengan omongan semata, melainkan harus dibuktikan di dalam amal nyata. Itulah yang membuat Pimpinan Pondok Modern Gontor ini merasa enjoy saat melakukan tugas-tugas keseharian yang membutuhkan tenaga fisik.

Menurutnya, setiap pesantren haruslah dijadikan sebagai lapangan perjuangan. Oleh karena itulah, para pengelolanya hendaknya sungguh-sungguh dalam melakukan perjuangan seperti itu. Baik dalam segi pengelolaannya, atau pun manajemen yang hendak diterapkannya. Keterbukaan dalam visi dan misi, kiranya sangat diperlukan sekali. Dan yang terpenting dari itu semua, pimpinannya harus memiliki wawasan yang memadai dan  jaringan kerja secara luas.

Pendidikan Syukri Zarkasyi dimulai dari Sekolah Dasar pada tahun 1954 di Gontor sendiri. Kemudian dirinya melanjutkannya di Kulliyatu-l-Mu’allimin Al-Islamiyah (KMI). Selepas dari sana lantas melanjutkan studinya di IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta, hingga mendapatkan gelar Sarjana Muda pada tahun 1965.  Adapun gelar Lc-nya disandang dari al-Azhar University Kairo Mesir pada tahun 1976. Dua tahun kemudian dirinya kembali menempuh studinya di tempat yang sama hingga meraih gelar MA.

Bagi Ketua MP3A Depag  (Majlis  Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama) ini, resep terpenting dalam melakukan segala tugas dan kewajiban adalah pil ketegaran. Dengan ketegaran hidup itulah, kita tidak terlalu larut dalam kesedihan di saat duka menimpanya. Begitu pun sebaliknya, pada saat riang pun kita tak akan terlena di dalamnya. “Apapun permasalahan yang tengah kita hadapi, kita harus tetap tegar untuk menghadapinya,” tandasnya.

Toh permasalahan apa pun yang sudah, sedang maupun yang akan dihadapi manusia, menurutnya cuma berkutat pada empat hal; permasalahan dengan orang lain, permasalahan dengan alam, permasalahan dengan Allah dan yang paling berat adalah permasalahan manusia dengan dirinya sendiri. Maka dengan ketegaran hidup, semua permasalahan tersebut akan dapat kita atasi dengan baik.

Dengan ketegaran semacam itu, terbukti KH. Abdullah Syukri Zarkasyi kebilang sukses sebagai orang yang diperhitungkan di negeri ini. Padahal banyak sekali berbagai urusan pesantren dan organisasi di luar pondok yang telah dijalaninya. Disamping pernah menjadi Pengurus HMI Cabang Ciputat Jakarta di tahun 1964, juga pernah duduk sebagai pengurus HPPI (Pelajar Islam) Cairo (1971), pengurus PPI Den Hag Belanda (1975) dan Ketua Majlis Ulama Indonesia Kabupaten Ponorogo.

Sedangkan jabatan yang masih dipegangnya hingga sekarang, adalah Pimpinan/Pengasuh Pondok Modern Darussalam Gontor, sebagai Ketua Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren Jawa Timur, Ketua Forum Silaturrahmi Umat Islam Ponorogo, Ketua MP3A Depag  (Majlis  Pertimbangan Pendidikan dan Pengajaran Agama) dan sebagai Dewan Penasehat MUI Pusat.

Tentang kunjungan ke luar negeri yang pernah dilakukannya, adalah Tour ke Belgia, Jerman dan Perancis, Internasional Visit Program ke Amerika Serikat selama 1 bulan, juga pernah ke London, Seminar Bahasa Arab di Brunei Darussalam, Study Tour ke Thailand bersama 20 guru Gontor, Aligarh University India, Comparative Study ke Pakistan pada tahun 1991 dan 2000, serta kunjungan ke Universitas Antar Bangsa (IUU) Malayasia.

Lawatan seperti itu, teramat penting sebagai perbandingan guna merancang program-program dan arah masa depan. Sebab dalam menghadapi masa depan tersebut, tak setiap orang memiliki landasan yang sama. Ada yang dikarenakan oleh rasa keterpanggilan, ada pula karena keterpengaruhan orang lain, serta ada yang menghadapi masa depan berangkat dari rasa keputusasaan atas nasib. “Memang begitulah wujud manusia sejak zaman Nabi Adam as sampai sekarang ini,” tukasnya.

Untuk itulah, yang ditekankan bagi santri-santri Gontor adalah jiwa perjuangan, sehingga terjadi keseimbangan dalam memperebutkan hak dan kewajiban. Sebab kalau manusia cuma memperebutkan hak saja, mereka termasuk orang tamak yang tidak mengerti kepentingan perjuangan. Yang paling parah, ketika perjuangan itu justru dijadikannya sebagai alat untuk memenuhi kepentingan dirinya sendiri.

Padahal Allah Swt. telah berfirman: in tansurullah yanshurkum wa yutsabbit aqdamakum. Kalau kita memenangkan Allah, maka Allah akan memenangkan kita bahkan senantiasa menguatkannya. Harta kita akan dikuatkan, kesehatan kita dikuatkan, tubuh kita dikuatkan dan ilmu kita juga akan dikuatkan. “Jadi, manusia akan dikuatkan dengan catatan in tanshurullah. Tetapi kalau yang dilakukannya itu yanshuru nafsahu wa yanshuru qabilatahu wa `ailatahu, manusia-manusia model seperti ini tidak berbuat untuk Allah, dan Allah pasti tahu apa yang mereka niatkan,” tuturnya menjelaskan. “Maka dalam mengarungi lautan ilmu, lautan perjuangan, lautan pengalaman dan lautan hati kita sendiri, kita harus benar-benar memperbaiki dan menguatkan niat,” tandasnya.

KH. Abdullah Syukri Zarkasyi agaknya tak hanya berjuang dengan ucapan dan tindakannya saja, melainkan juga melalui tulisan. Banyak sekali karya tulis yang sudah ditelorkannya. Di antaranya adalah Pokok-pokok Pikiran untuk Perubahan Pendidikan Nasional, Refleksi dan Rekonstruksi Pendidikan Islam: Model Pendidikan Pesantren Ala Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, Menggali Sumber Keuangan Madrasah: Strategi dan Teknik, Pengelolaan Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo, dan Pengelolaan Pendidikan dan Pengajaran di Pondok Modern Darussalam Gontor Ponorogo

Termasuk pula tulisannya yang berjudul Pola Pendidikan Pesantren Sebuah Alternatif, Strategi dan Pola Manajemen Pendidikan Pesantren, Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia, Etika Bisnis dalam Islam dan Relevansinya Bagi Aktivitas Bisnis di Dunia Pendidikan Pesantren: Studi Kasus Pondok Modern Darussalam Gontor, Strategi Alternatif Pembelajaran Bahasa Arab di Pondok Modern Darussalam Gontor, Optimalisasi Peran Sektor Pendidikan dalam Pengembangan Ekonomi Islam di Indonesia: Pengalaman Pondok Pesantren di Era Modern, Pendidikan Pesantren di Era Modern, serta Peran Agama dan Budaya Islam dalam Mendorong Perkembangan Iptek: Iptek di Pondok Modern Darusssalam Gontor. Il, MK

Advertisements

Comments»

1. mohamedkhudry - 9 Oct 2010

syukron zajil

2. mohamedkhudry - 9 Oct 2010

Daarul mughni almaaliki

3. purnama - 21 Nov 2010

terimakasih… senang bisa berkunjung ke blog ini..
🙂


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: