jump to navigation

Tetesan Keringat Ramadhan 10 August 2010

Posted by decazuha in Artikel.
Tags: , ,
trackback

Oleh Nur Cholis Huda *)

Setiap kali Ramadhan tiba, saya teringat Pak Min dan Pak Syam. Banyak pelajaran berharga dari keduanya. Pak Min adalah tukang becak dan Pak Syam tukang batu.

Pak Min tak lagi muda, kulitnya hitam keriput dimakan usia. Menarik becak satu-satunya sumber nafkahnya. Dia aktif berjamaah di mesjid dan ikut pengajian. Apakah pekerjaan yang berat menyebakan dia tidak berpuasa?

”Sampai hari ke 28 ini saya tidak pernah batal puasa”, katanya pada suatu Ramadhan lampau.

”Bagaimana Pak Min sebagai penarik becak bisa kuat?”

”Itu tergantung niatnya,” katanya enteng. ”Semua perintah Tuhan sudah diukur sesuai kemampuan hambanya.”

Inilah kalimat penuh makna yang diucapkan dengan nada datar, jauh dari kesan menggurui. Seandainya setiap orang punya pandangan sama dengan Pak Min, tentu tidak ada orang mengeluh menjalankan perintah agama. Sudah diukur sesuai kekuatan hambanya.

Agar dapat menjalani puasa penuh, Pak Min pada Ramadhan hanya bekerja ”paruh waktu”. Pagi hari sampai jam 9 lalu istirahat. Sore hari setelah salat asar sampai menjelang maghrib. Tentu penghasilannya berkurang. ”Tidak apa-apa, hanya sebulan dalam setahun. Bekerja mencari rezeki halal di bulan Ramadhan pahalanya sudah dilipatgandakan,” katanya dengan nada riang. Dia tidak bicara jumlah. Kepuasan hidupnya tidak di perut tetapi sudah di atas perut.

Dalam Ramadhan kita menahan lapar dan haus. Tetapi Pak Min menahan lapar, haus, plus penghasilannya berkurang. Bisakah kita tetap gembira sekiranya penghasilan harus menyusut karena berpuasa? Pak Min bisa!

Tidak ada rasa tertekan sekalipun di ujung Ramadhan ada idul fitri yang memerlukan belanja tambahan. Pak Min telah memilih jalan mendaki, jalan yang tidak mudah. Bukan jalan menurun, jalan mudah dan kesenangan sesaat. Dan dia tidak pernah menyesali pilihannya. Falahtahamal aqabah? (QS.90:11)

Ciuman Nabi

Pak Syam tak kalah hebat. Dia tukang batu yang rajin dan amanah. Dia selalu bekerja lebih panjang setengah jam atau satu jam daripada tukang batu lainnya. Mungkin untuk mengganti waktu yang digunakan salat berjamaah di musalla terdekat..

Tapak tangannya kasar dengan jari-jari besar. Tapak tangan kasar itu mengingatkan kejadian pada masa Rasulullah yang diceritakan sahabat Saad al Anshari.

Suatu hari Nabi Muhammad melihat tangan seorang sahabat yang hitam dan melepuh. Nabi lalu menanyakan sebabnya. Orang itu menjawab, tangannya hitam dan melepuh karena pekerjaannya membelah tanah yang keras dengan kapaknya. Itulah cara dia memperoleh rezeki yang halal untuk keluarganya.

Mendengar itu Nabi meraih tangan hitam yang melepuh itu lalu menciumnya. Dengan cara demikian beliau seakan menunjukkan kepada para sahabat, inilah tangan yang dicintai Allah karena bekerja keras mencari rezeki halal.

Perhatikanlah di sekitar kita. Banyak tangan sejenis itu. Tangan hitam karena bekerja keras. Seperti tangan hitam para kuli batu di jalan raya. Tangan anak-anak asongan di lampu merah sepanjang jalan mencari makan. Tangan buruh tani dengan upah rendah. Tangan pekerja kasar lainnya. Mereka bekerja tanpa pernah mengenal perlindungan asuransi.

Diantara kita boleh jadi ada yang merasa lebih terhormat karena tangannya lebih lembut dan empuk. Pakaian lebih mahal dan bersih karena tidak tersentuh debu. Ketika berangkat kerja berada di mobil ber-AC dengan udara sejuk, bau parfum harum semerbak dan musik mengalun merdu.

Keadaan terus bersambung di tempat kerja. Kelembutan, kesejukan, bau parfum harum, ruangan bebas debu dan musik mengalun merdu. Tak ada peluh dan tak ada tangan melepuh.

Tetapi di mata Tuhan apakah kita lebih mulia dan terhormat dari pada mereka yang kulitnaya hitam terbakar matahari dan bertangan melepuh? Belum tentu. Bisa jadi lebih hina jika rezeki yang kita peroleh bukan rezeki halal. Kita asal ambil, asal dapat dan asal masuk.

Islam sangat menghargai kerja keras dan menaruh perhatian sangat serius soal kebersihan harta. Orang menjadi kaya itu sangat baik. Asalkan dengan harta bersih. Kelak semua karunia Allah seperti soal umur, kesehatan, kesempatan, masa muda dan lainnya hanya ditanyakan satu kali kecuali tentang kakayaan ditanyakan dua kali. Min aina iktasabahu (darimana diperoleh). Wa ila aina anfaqahu (ke mana dibelanjakan). Sumbernya ditanya dan penggunaannya ditanya. Sumbernya bersih, Oke. Tetapi tidak cukup. Penggunaannya harus oke juga.

Kembali pada Pak Syam. Sebagai tukang batu dia terikat waktu, tidak bebas seperti Pak Min. Di luar Ramadhan bekerja dari jam 8 pagi sampai jam 4 sore. Maka dalam Ramadhan jam kerja itu tidak berubah, 8 pagi – 4 sore.

Laki-laki berusia 50-an tahun ini di siang yang panas pada bulan Ramadhan kadang membungkus kepalanya dengan handuk basah. Setiap kali kering handuk itu dibasahi lagi. Agaknya itulah cara Pak Syam melawan sengatan matahari ketika membuat bangunan di bulan Ramadhan.

Sementara kawan-kawannya bebas makan ketika istirahat dan bebas minum ketika haus, Pak Syam tetap istiqamah berpuasa. ”Itu tergantung niatnya. Kalau niat berpuasa, maka keinginan makan minum pasti hilang. Tubuh juga akan menyesuaikan,” katanya. Cara pandang yang luar biasa bukan? Niat adalah kekuatan dahsyat. Pak Syam telah membuktikannya.

Jika tidak ada niat, selalu ada alasan untuk menghindar dari tugas dan kewajiban. Ini tidak hanya soal Ramadhan tetapi dalam segala hal perbuatan baik. Niat adalah penggerak segala perbuatan.

Kita yang bekerja tanpa mengeluarkan otot dan tidak terpanggang panas matahari tentu secara fisik lebih ringan. Tetapi apakah puasa kita lebih berkualitas daripada Pak Syam?

Seharusnya kita melakukan puasa lebih baik, dengan zikir lebih tekun, salat lebih khusyu’, dan infaq lebih banyak sebagai ungkapan syukur. Semua kenikmatan, akan ditanya Tuhan. Al quran menegaskan: ”Kemudian pasti kamu akan benar-benar ditanya pada hari itu tentang segala kenikmatan (yang kamu terima).” QS.At-Takatsur:8)

Pada malam-malam Ramadhan Pak Syam berbaris pada shaf depan melaksakanan salat tarawih. Juga selalu ikut tadarrus, mengaji ulang membaca al-Qur’an. Tidak terdengar keluhan walaupun siang hari membanting tulang. Dia seperti tidak ada masalah apa-apa. Sesungguhnya sebuah masalah itu timbul karena kita sendiri yang menganggap ada.

Hidup ini deretan dari satu kejadian ke kajadian lain. Apakah kejadian itu sesuatu yang menyenangkan atau me nyedihkan sangat tergantung pada respon kita. Orang yang suka mengeluh akan punya banyak deretan masalah panjang. Semuan dianggap masalah dan dikeluhkan Tetapi orang yang berpikir positip memandang kejadian selalu berujung kebaikan, bukan kesedihan. Pak Syam termasuk yang kedua.

Ada kenyataan lain yang menggelisahkan kita. Ramadhan datang tiap tahun. Masyarakat menayambut penuh semarak. Tetapi suasana relijius segera hilang bersama perginya Ramadhan. Mengapa latihan rohani dalam Ramadhan tidak memberi bekas?

Bukan cuma Ramadhan, ibadah lain seperti salat dan haji juga tidak berbekas. Kesalehan ritual belum berdampak pada kesalehan sosial. Ada orang tiap tahun pergi umrah, tetapi sepulangnya perilaku buruknya tidak berubah. Yang lebih ironis, ada penegak hukum menerima suap untuk biaya pergi umrah.

Tetapi sebaiknya kita lebih melihat diri sendiri daripada mengamati orang lain. Jangan-jangan ketekunan kita beribadah juga belum berimbas pada kesalehan sosial kita. Jangan-jangan kita termasuk pendusta agama. Yaitu orang yang tekun salat tetapi tidak punya kepedulian kepada mustadlafin (Surat Al-Maun).

Tentu ada banyak sebab mengapa semua ini terjadi. Salah satu sebab penting adalah kita tidak sungguh-sungguh membersihkan hati dan membersihkan penghasilan. Selama penghasilan kita kotor, susah mendekati Allah yang Maha Bersih.

Mari bertekad semua rezeki yang kita bawa pulang ke rumah untuk anak istri adalah rezeki yang bersih.

*) Wakil Ketua Muhammadiyah Jatim

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s

%d bloggers like this: