jump to navigation

Penegasan Teologis dan Penataan Kehidupan 10 Aug 2010

Posted by decazuha in Artikel.
Tags: , , ,
trackback

Oleh Asmuni Mth *)

Meski hadir setiap tahun, semangat untuk menyambut bulan Ramadhan tak pernah surut. Berbagai variasi penyambutan pun kerap dilakukan masyarakat muslim. Memang bulan ini sarat dengan nilai historis dan juga filosofis mengingat segudang keistimewaan dan keunggulan ibadah di dalamnya. Puasa pada bulan suci ini pertama-tama diperintahkan pada tahun ke-2 H. Pada saat itu kehidupan  masyarakat muslim tergolong relatif mapan, terutaama dalam bidang akidah, ekonomi, dan sosial kemasyarakatan. Pada saat itu shalat telah menjadi bagian integral dari kehidupan umat Islam. Situasi yang kondusif ini membawa mereka pada sikap yang mudah dan secara sadar, dapat mentaati apa yang telah diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya.

Itulah sebabnya puasa merupakan ibadah strategis dalam membina dan membersihkan jiwa. Ia merupakan ibadah ruhiyah murni, kebalikan dari maddiyah yang menjadi kebutuhan fundamental fitrah kemanusiaan, bahkan materi menduduki tempat penting dalam naluri kemanusiaan, ia menjadi kebutuhan hidup dan sekaligus sebagai alat untuk mempertahankan kehudupan itu sendiri. ”Kamu sekalian makan harta warisan dengan cara yang sangat lahap, dan mencintai harta terlampau batas.” Demikian sindiran al-Qur’an terhadap sikap naluri kemanusiaan terhadap materi.

Ibadah pusa berbeda dengan ibadah-ibadah lainnya. Keberadaan puasa fokus pada pelarangan nafsu dari segudang kenikmatan halal yang pernah dijamahnya. Ia adalah ibadah yang bersifat rahasia antara seorang hamba dengan Tuhan-nya. Kerahasiaan ini tercermin pada unsur pengawasan terselubung dalam diri seorang hamba mukmin oleh sang Pencipta Allah SWT. Karena itu puasa memiliki keterkaitan dengan suatu hakikat yang paling besar yang ada dalam eksistensi fitrah manusia. Cara pandang al-Qur’an terhadap manusia itu sendiri dalam konteks keberadaannya sebagai suatu ”kesatuan yang utuh” material maupun spritual sekaligus tidak dapat dipisahkan apalagi dibagi-bagi, terlebih manusia sebagai makhluk hidup yang berakal, berpikir, memiliki kebebasan sekaligus sebagai pengemban tanggung jawab sudah sewaajarnya diperkuat oleh dua konponen, yaitu material dan spritual.

Aspek materialitas wujud kemanusiaan sangat nampak pada kehidupan dan cara mempertahankan kehidupan itu sendiri. Kebutuhan akan makanan, minuman, bahkan melestarikan keturunan dengan perkawinan sampai pada kematian tidak pernah lepas dari materi. Islam menjadikan puasa sebagai ibadah wajib, bahkan menjadi salah satu rukun Islam yang lima. Tujuannya adalah semata-mata untuk memperkuat dan mengawal kesadaran manusia dalam berbagai dimensi keberadaannya. Hal ini tentu tidak lepas dari orisinalitas akidah tauhid yang meniscayakan ketakwaan dalam diri manusia.

Aspek spritual adalah adanya keharusan untuk membedakan keberadaan manusia dengan makhluk-makhluk hidup lainnya, terlebih al-Qur’an mengisyaratkan adanya ”unsur ruh” dalam hakikat kemanusiaan: faizâ  sawwaituhu wanafakhtu fîhi min rûhi.

Penegasan Akidah Tauhid

Tergolong cukup ironis jika hikmah puasa diuraikan berangkat dari filsafat lapar, haus dan berbagai pelarangan yang lekat di dalamnya. Apalagi kondisi lapar dan serba pelarangan tersebut dijadikan dijadikan causa dalam menghubungkan makna puasa sebagai jihad melawan hawa nafsu dengan kehidupan kemanusiaan dalam arti menata kehidupan secara baik dan anggun. Betul lapar dan berbagai pelarangan dalam berpuasa pada hakekatnya menyebabkan kelemahan fisik dan penyiksaan terhadap kekuatan. Tetapi apakah tujuan utama Tuhan dalam memerintahkan puasa hanya untuk berlomba untuk menahan lapar dan disusul kemudian lomba untuk berbuka sehingga menjadi tontonan menarik dalam satu bulan penuh. Jika hikmah puasa berbasis pada situasi dan kondisi lapar, pertanyaan yang mengemuka kemudia apakah puasa tampil relatif sebagai uqûbah (hukuman) ataukah ibâdah.

Memang tidaklah dipungkiri bahwa lapar mengakibatkan kelemahan fisik sebagai konsekuensi dari keterputusan sumber energi dalam kurun waktu satu bulan secara berturut-turut. Akan tetapi makna ini bukanlah menjadi tujuan ketuhanan yang bersifat utama mengingat puasa merupakan ibadah yang bersaifat ruhiyah semata. al-Qur’an sendiri mendeklarasikan tujuan puasa dalam rangka membentuk ketaqwaan dalam pengertiannya yang universal. Hikmah puasa juga bukan untuk merasakan keadaan lapar seperti yang sering dirasakan oleh kaum fakir miskin. Jika hikmah dan tujuan puasa adalah edukasi terhadap keadaan miskin, mengapa perintah puasa tidak khusus untuk kalangan orang-orang kaya. Padahal perintah puasa bersifat umum bagi kaum miskin dan kaum berada, bagi kaum terdahulu dan bagi kita sekarang.

Keberadaan perintah puasa yang umum tanpa kriteria status sosial dan ekonomi semata-mata dalam rangka untuk mengatur berbagai urusan kehidupan dari generasi ke generasi berikutnya. Artinya kewajiban puasa ditetapkan agar manusia menyadari kebutuhan kemanusiannya berupa makanan dan minuman termasuk kematian adalah merupakan suatu keniscayaan bagi kemanusiaan. al-Qur’an juga memperkuat dan mempertegas sifat-sifat kemanusiaan pada para rasul agar umat manusia tidak menjadikan siapa pun menjadi Tuhan selain Allah SWT.

Dengan redaksi yang anggun dan apik al-Qur’an menegaskan status Isa al-Masih sebagai rasul putra dari Maryam yang keduanya membutuhkan makanan seperti layaknya manusia. Artinya Isa al-Masih adalah seorang rasul yang memiliki naluri kemanusiaan berupa makan, minum dan lain-lain. Makan dan minum juga kematian tidak menjadi sifat ketuhanan, melainkan menjadi sifat fundamental terhadap kemanusiaan. Sifat ketuhanan memberi makan, bukan diberik makan ”yuth’imu wa lâ yuth’amu”. Sifat kemanusiaan dimiliki oleh semua Rasul. ”Kami tidak menjadikan mereka jasad yang tidak memakan makanan dan mereka pun tidak akan hidup abadi” ”Wamâ ja’alnâhum jasadan lâ ya’kulûna at-tho’âm wa mâ kanû khâlidîn”.

Atas dasar inilah bahwa makanan, minuman dan kebinasaan (kematian) adalah bagian dari konsekuensi kemanusiaan. Puasa diwajibkan untuk menyadarkan manusia akan posisi kemanusiannya, mengetahui ukuran kemampuannya, dan jangan sampai manusia melampaui batas menerjang batas-batas ketuhanan sehingga akan tampil zalim dan semena-mena.

Penataan Kehidupan

Pengertian takwa yang diisyaratkan al-Qur’an sebagai tujuan puasa dijelaskan oleh al-Qur’an dan dirinci oleh sunnah. Misalnya al-Qur’an menjelaskan dalam ayat al-birru. Al-birru dan at-taqwa merupakan dua pengertian yang universal dan komprehensif dan memiliki kesesuaian dalam maknanya seperti dalam firman Allah SWT ” Laisalbirru an tuwallû wujûhakum qibalal masyriqi wal magribi…dst”.

Dalam ayat tersebut ditegaskan, sebagian besar indikasi al-taqwa.  Secara rinci yang oleh Islam dijadikan tujuan dari puasa mencakup berbagai aspek kehidupan. Dengan begitu meski puasa adalah ibadah ”negatif” karena melarang nafsu dari berbagai selera yang notabenenya adalah halal, namun tujuan ibadah ini adalah sangat ”positif” yaitu berhubungan dengan pengaturan kehidupan manusia di permukaan bumi baik itu dalam ruang lingkup keimanan maupun implementasinya dalam kehidupan sehari-hari.

Ayat-ayat yang mengandung perintah puasapun penuh dengan nuansa hikmah. Menyentuh iman, akidah, akal, nurani  dan perasaan, antara satu sama lainnya secara organik berintegral dan salaing mempengaruhi. Ayat-ayat itu juga mengandung nilai-nilai ta’dîb (pendidikan yang multidimensional) sehingga masyarakat muslim secara ikhlas dapat  menerima perintah ilahi, menghormati dan melaksanakannya dengan penuh semangat. Keunikan ayat-ayat tentang puasa terletak pada uslub dan susunan katanya yang sangat indah, serta mengandung ajaran fiqhu al-da’wah, yang mempertimbangkan faktor lingkungan, unsur kejiwaan dan keadaan.

Pengaruh Kemenangan Ruh dan Jasad

Apabila tabiat kebinatang telah menang, menguasai kehidupan dan mengalahkan perasaan serta indra manusia, kemudian perut menjadi poros kehidupannya, maka ia akan disulitkan oleh segala yang ada di antara dirinya dan kesenangannya, oleh apa saja yang menyibukkannya di dalam memuaskan kerakusannya dan oleh segala sesuatu yang mengingatkan kepada asal dan tempat kembalinya, kepada hari perhitungan segala amalnya beserta pahala dan siksanya. Seluruh hidupnya ia pergunakan tanpa waktu yang bening, hati yang tenang, akal yang bergairah, dan perasaan yang hidup. Sehingga ibadah, dzikir dan segala implikasinya akan terasa berat baginya dan ia tidak akan merasakan kenikmatan dari keduanya.

Dengan caranya yang khas Gazali menerangkan tujuan puasa adalah agar manusia berakhlak dengan akhlak Allah yang maha perkasa lagi maha agung, yaitu ketergantungan segala sesuatu kepadanya dan sebisa mungkin mencontoh para malaikat di dalam menahan hawanafsu, karena mereka adalah makhluk yang disucikan dari hawanafsu. Derajat manusia berada di atas derajat binatang, karena kemampuannya di dalam menghancurkan hawanafsu dengan petunjuk akalnya.

Namun demikian, tidaklah ia sederajat dengan para malaikat, karena keadaannya yang dikuasai oleh hawanafsu dan diuji untuk melawannya. Oleh karena itu, setip kali ia terlena dalam buaian hawanafsu, berarti ia telah terjerumus dan berada pada derajat yang sangat rendah, lalu bertemu dengan kumpulan binatang. Namun, setiap ia dapat mengalahkan hawanafsunya berarti ia telah naik tinggi setingi-tingginya dan bertemu dengan jamaah para malaikat.

Tujuan puasa adalah membebaskan ruh manusia dari cengkeraman hawa nafsu yang menguasai jasmaninya menuju sasaran pensucian dan kebahagiaan yang abadi. Puasa bertujuan membatasi intensitas keinginan hawanafsu dengan jalan lapar dan haus menggerakkan manusia untuk ikut merasakan betapa banyak manusia di dunia ini yang harus pergi tanpa sedikit makanan, menyulitkan setan dalam memperdayakannya, dan mengekang organ – organ tubuhnya  agar tidak membelok kearah hal-hal yang membawa kerugian dunia dan akhirat. Demikianlah, bahwa puasa itu merupakan kendali bagi orang-orang yang takwa, perisai bagi para pejuang dan disiplin untuk berbuat baik. Selanjutnya Ibn Qayyim mengatakan: Puasa sangat manjur dalam memberikan perlindungan terhadap anggota badan bagian luar dan dalam . Ia mencegah kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh timbunan materi yang sudah busuk. Ia mengusir racun-racun bakteri (toxin) yang merusak kesehatan. Ia mengobati sakit-sakit yang berkembang dalam tubuh yang disebabkan oleh kekenyangan yang berlebihan. Dan ia sangat berguna bagi kesehatan dan sangat membantu untuk dapat hidup saleh dan bertakwa.

Pada dasarnya, demikian tulis  al-Nadwi, kehidupan adalah nama lain bagi “peperangan” antara desakan-desakan hawanafsu dengan bisikan-bisikan kalbu. Tetapi, di dalam “peperangan” ini bukanlah dorongan-dorongan hawa nafsu saja yang selalu menang sebagaimana yang diduga oleh kebanyakan manusia. Karena hal itu adalah buruk sangka yang dilemparkan terhadap tabiat kamanusiaan, dan menyalahi kenyataan.

Sebenarnya kekuatan yang menggerakkan roda kehidupan dengan cepat dan memenuhi dunia ini dengan kehidupan dan kegiatan adalah keimanan terhadap adanyanya manfaat. Keimanan inilah yang membangkitkan petani pada suatu hari yang sangat dingin, tanpa baju penghangat, pergi ke ladang di pagiyang buta. Keimanan inilah yang mendorongnya untuk menentang panasnya hari, teriknya matahari dan hembusan angin panas. Keimanan inilah yang memisahkan pedagang dengan keluarganya untuk pergi menuju tempat berdagang. Dan keimanan inilah yang menghiasa tentara dengan kematian di medan perang, yang memisahkannya dari orang-orang yang dicintai dan keluarganya, yang tiada arti baginya suatu kesenangan, kekayaan dan kenikmatan. Semua itu adalah keimanan terhadap adanya manfaat-manfaat dan keinginan atas kebaikan. Dan inilah poros tempat berputarnya kehidupan.

Ada keimanan yang pengaruhnya lebih besar dan dalam terhadap jiwa daripada keimanan yang telah dicontohkan tadi. Keimanan itu adalah keimanan akan adanya manfaat-manfaat yang diberitahukan oleh para Nabi dan Rasul sebagaimana terakumulasi dalam Kitab Suci. Manfaat-manfaat itu berpusat kepada keridlaah Allah, pahala dan balasan-Nya di dunia dan akhirat.

Jihad Melawan Nafsu

Al-Qur’an menyatakan bahwa ia turun pada bulan puasa ”Hudan linnâs wabaiyinâtin minal hudâ wal furqân”. Keberadaan al-Quran sebagai ”hudan” bagi semua umat manusia adalah sangat jelas dan mudah dipahami dari berbagai petunjuk qurani ”walaqod yassarnâ al-Qurân lizikri fahal min muddakir”. Demikian pula dalam ayat ”bilisânin ’arobiyin mubîn”. Istilah ”huda” mengandung makna yang sangat mudah dipahami oleh semua umat manusia.

Adapun kata al-bayyinât mengandung makna yang lebih cermat dan spesific karena berupa bukti-bukti dan argumen-argumen rasional yang menjadi produk nalar akal. Di sinalah al-Quran mengkombinasikan antara akal dan wahyu.

Dalam konteks ini puasa sebagai jihad melawan nafsu kembali kepada dedikasi ruh, pembukaan akal, pencahayaan jiwa, Allah menjadikannya sarana yang efektif untuk pemberdayaan akal dan jiwa untuk merenung al-bayyinât tersebut yang unsur-unsurnya adalah bukti-bukti dan argumen yang meyakinkan yang berhubungan dengan hakikat yang maha besar utamanya adalah kepercayaan terhadap Allah SWT, yang lekat di dalmnya nilai-nilai yang agung yaitu kebenaran, keadilan, kebebasan persamaan antara kemanusiaan, kesantunan, kebaikan, kebajikan, pengorbanan dan perjuangan yang menjadi ciri manusia yang berperadaban sekaligus sebagai pemisah antara al-hâq dan al-bâthil, atau pemisah antara kegelapan peradaban yang sudah berakhir dan terputus dengan kehidpan kemanusiaan yang utama yang dimulai sejak turunnya nikmat besar untuk semua manusia ”wabaiyinâtin minal hudâ wa al-furqân”.

Tidak disangsikan lagi bahwa keadaan-keadaan tertentu terlebih ruhiyah yang ikhlas memiliki pengaruh kuat terhadap kemampuan dan kekuatan moril dalam diri kemanusiaan. Perasaan akan menjadi tajam dan responsif, jiwa menjadi bersih dan bercahaya, akal menjadi terasah dan terbuka sembari berpikir dan merenung karena jiwa dan ruh yang bersih lebih mampu mengungkap rahasia-rahasia al-bayân al-ilâhi. Kekuatan al-rûh adalah harta immaterial manusia. Dengan kekuatan al-rûh akan terwujud eksistensi kemanusiaan kapan pun. Puasa adalah termasuk pembantunya yang paling kuat karena mencegah dari berbagai selera hawa nafsu yang bersifat material meskipun halal dan mengubur sikap egoisme kemanusiaan. Fakta ini dialami oleh Rasul sendiri pada bulan puasa setiap tahun di mana nabi mempersedikit tidur, makan dan minum seperlunya, beliau mendaki gunung Hira untuk mencari pertolongan dengan puasa dan ketaatan dalam berpikir dan merenung dalam upayanya mengungkap hakikat ketuhanan yang maha tinggi.

Hakikat kehidupan spritual nabi pada bulan puasa mengandung hikmah yang berhubungan dengan kemurnian akidah tauhid. Hikmah puasa tidak terbatas pada filsafat lapar dan berbagai pencegahan dan larangan yang berhubungan dengan puasa. Keterkaitan hikmah puasa dengan kemurnian aqidah tauhid yang menjadi rukun pokok dalam risâlah islâmiyah saling bertemu pada tujuan umum al-Qur’an. Sebagian besar ayat atau tanda rubûbiyah dalam nikmat besar ini yang diberikan Allah untuk semua umat manusia disertai dengan mayoritas ayat atau tanda ubûdiyah pada kewajiban puasa, yaitu ibadah ruhiyah nurni.

al-baiyyinât minal hudâ wa al-furqân” mengharuskan berpikir mendalam untuk untuk menghadirkan bukti dan argumen rasional  agar dengan perenungan dan berpikir itu menjadi tangga menuju kesempurnaan kemanusiaaan berdasarkan usaha sendiri. Sebaliknya, dengan meninggalkan puasa dan memisahkan diri dengannya akan menjadi kemanusiaan menjadi hina, akan didominasi oleh hawa nafsu. Dalam bahasa al-Quran, akan merusak tatanan kemanusiaan dalam kehidupaan berupa kejahatan, pelacuran, permusuhan dan kezaliman. []

*) Dosen PPs. FIAI UII Yogyakarta, Dewan Pengawas Syariah Lembaga Keuangan Syariah, dan Alumnus al-Bayt University Yordania

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: