jump to navigation

Muhammad Sholeh Drehem, Lc, MAg 10 August 2010

Posted by decazuha in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Ditegur Allah Lewat Anak

Kesuksesan, kerapkali lahir dari rangkaian jalan kegetiran. Menyembul dari ruang sempit kehidupan; yang miskin, dan dianggap tak berdaya.

Muhammad Sholeh Drehem, Lc, M.Ag, adalah salah satu dari sekian orang yang lahir dalam paras kegetiran. Ayahnya wafat saat dirinya masih berayun dalam kandungan ibunya. Bocah ini pun lahir dalam kesendirian sang ibu. Sebab kakak perempuan Muhammad – yang karena keterdesakan ekonomi – harus tinggal di Situbondo dan hidup dalam pengasuhan pamannya.

Lelaki yang memiliki nama asli Muhammad ini menghabiskan masa kecilnya di bumi Sumenep Madura. Hidup dalam didikan ibunya yang miskin dan buta aksara. Tapi ibunya bukanlah sosok wanita yang lemah dan menyerah pada garis nasib. “Ibu adalah sosok wanita yang penuh semangat dan keras dalam memegang prinsip,” ujarnya.

Seolah membaca masa depan, ibunya bersikukuh menyekolahkan Muhammad di Madrasah. “Kalau tidak ngaji di madrasah, buat apa sekolah,” tuturnya mengingat pesan ibunya. Maka, Muhammad pun lantas menjalani aktivitas pendidikannya di SD sambil bersekolah di madrasah. “Paginya saya sekolah di SD dan sorenya di MI,” kenangnya. Tentu saja, di sela-sela kesibukan belajarnya, Muhammad masih harus membantu ibunya menjajakan dagangannya.

Uniknya, waktu tempuh belajarnya di MI jauh lebih lama dibanding saat bersekolah di SD. Saat dirinya lulus dan memasuki bangku SMP, Muhammad masih harus meneruskan masa belajarnya di madrasah ibtidaiyah. Tapi bukannya dia tidak lulus. Namun lebih dikarenakan tidak ada kelas untuk jenjang MTs waktu itu.

Umumnya, setelah merampungkan jenjang pendidikan madrasah selama enam tahun, dirinya berhak untuk mengajar adik kelasnya. Namun karena stok guru yang melimpah, dia harus merelakan kesempatan mengajarnya dan bergabung kembali dengan adik-adik kelasnya. Bukan sebagai guru, tapi kembali sebagai siswa. “Mau gimana lagi, jika saya berhenti, ibu pasti marah,” tutur anak pasangan Sholeh dan Zahroh ini.

Selama “tinggal kelas” itulah, dirinya harus memendam rasa malu pada teman-temannya. “Saya kerap diejek karena dianggap tidak lulus,” ujarnya. Meski kesal, dia mencoba tetap realistis. Mau tidak mau, marah atau tidak, dirinya tetaplah siswa MI. Tapi, kesabarannya untuk tinggal kelas itu akhirnya menuai hikmah. Muhammad lantas tampil sebagai sosok yang disegani karena penguasaan ilmu agamanya, khususnya di bidang nahwu. “Ternyata, ilmu itu semakin sering kita ulang semakin mudah kita memahami,” ucapnya.

Meski hidup dalam kondisi yang pas-pasan, ibunya tak ingin jika anak lelakinya itu sampai putus sekolah. Beruntung, Muhammad mendapat beasiswa selama tiga tahun penuh ketika duduk di bangku SMPN 1 Sumenep. Saat melanjutkan pendidikannya di SMAN 1 Sumenep, Muhammad juga sudah mampu membiayai sekolahnya sendiri dengan bekerja sebagai pelayan toko.

Selepas SMA, dirinya menuju ibukota demi melanjutkan sekolah di LPBA Jakarta – sekarang LIPIA. Setelah mengikuti serangkaian tes, dirinya diterima dan berhak langsung duduk di level II. Dari kampus inilah, pintu cakrawala keilmuan dan kesempatan belajar di luar negeri terbuka. Pada tahun 1985, bersama sembilan orang lainnya, dia terpilih mewakili LIPIA Jakarta untuk mendapatkan beasiswa belajar ke Arab Saudi. Kesempatan itu pun disambutnya dengan penuh suka cita.

Namun belum lama kegembiraan itu berlangsung, cobaan pun datang menghampirinya. Menginjak tahun keduanya belajar di negeri padang pasir, dia mendapat kabar ibunya sedang sakit parah. Yang sangat disesalinya, adalah berita kematian sang ibunda yang datang terlambat. “Saat ibu wafat, tak ada satu pun keluarga yang mengabari. Barangkali, mereka tak ingin mengusik ketenangan belajar saja,” ujar aktivis PPI (Persatuan Pelajar Indonesia) di Arab Saudi ini bersedih.

Kabar kematian sang ibunda, baru diketahuinya saat dia tengah menjalani ibadah umrah. Waktu itu, dirinya sedang berada dalam masa liburan panjang perkuliahan. Ketika di tanah suci, secara tak sengaja dirinya bertemu dengan ustadz Bahasin Baharun, guru ngajinya saat di kampung dulu. Sewaktu ditanya tentang keadaan sang ibunda, ustadz Bahasin pun menjawab dengan nada berat. “Ya Muhammad! Saat ini saya tidak bisa berbohong, apalagi sekarang Ramadhan. Sesungguhnya ibumu sudah meninggal dua bulan yang lalu,” tuturnya.

Sontak saja, berita itu sungguh mengejutkannya. Tapi keberadaannya di masjidil haram mampu menjadikannya lebih tegar dalam menerima kenyataan itu. Tak berselang lama, dirinya pun berkesempatan untuk berumrah lagi yang diniatkan untuk ibunya.

Dua puluh tiga tahun sepeninggal sang ibunda, bayangan wanita kolot yang lebih mementingkan pendidikan agama daripada keilmuan umum itu terus membayang dalam benak Muhammad. Wajahnya kerap hadir di sela-sela padatnya aktivitas dakwahnya. Sebab dari didikan keras ibunya itulah, lelaki yang kini lebih dikenal dengan Ustadz Sholeh Drehem itu menjadi da’i terkemuka di Jatim.

Ketua IKADI (Ikadan Da’i Indonesia) Jatim ini kini sibuk mengajar dan ceramah. Hal inilah yang membuat mursyid Ma’had Ali Al-Akbar Surabaya ini menjadi jarang di rumah. Hampir saban hari, dirinya harus memulai aktivitas dakwahnya semenjak subuh dan baru pulang ketika jarum jam menunjukkan pukul sepuluh malam. “Saya pun kerap pulang tengah malam saat anak-anak telah mengakrabi mimpinya,” ujarnya.

Namun belakangan, ustadz Sholeh Drehem memilih mengurangi jadwal ceramahnya. Sebab dirinya sadar, bahwa anak-anaknya di rumah juga butuh perhatiannya. “Saya baru tersadar ketika saya dilapori salah seorang guru anak saya,” ujarnya. Ketika Sholeh, anaknya, ditanya gurunya tentang cita-citanya, anak itu menjawab ingin jadi dokter. “Gurunya menjelaskan pada saya. Sholeh tidak ingin jadi seorang da’i seperti ayahnya, karena katanya, da’i hanya bisa ngomong doang,” ucapnya lirih.

Pernyataan anaknya itu, sungguh membuat dirinya terkejut dan serasa ditampar pipinya. “Saya merasa telah menelantarkan mereka. Mendakwahi orang lain, tapi anak sendiri tak terurus,” ujarnya dengan suara berat dan tubuh bergetar. “Allah telah menegur lewat anak saya,” tambahnya.

Sejak saat itulah, dirinya bertekad akan mengajari sendiri anak-anaknya soal agama. Dia kini lebih rajin mengajak keluarganya shalat Maghrib dan Isya’ berjamaah. Waktu antara Maghrib dan Isya’ biasa mereka gunakan untuk membaca al-Qur’an bergiliran. Sehingga tak jarang mereka bisa menghatamkan al-Qur’an tiap dua bulan sekali. Selesai mengaji al-Qur’an, mereka juga biasa bercerita tentang apa saja. “Sejak saat itulah, saya menemukan kembali pancaran kebahagiaan di wajah anak-anak saya setelah sekian lama meredup,” tuturnya penuh syukur. Ahmad Suprianto

Advertisements

Comments»

1. ahmad - 26 August 2010

Saya kagum atas apa yg ustadz ceritakan mengenai pengalaman hidupnya. Memang, terkadang kalo mau jadi orang sukses, kudu merangkak dulu baru bisa berjalan “tegap”

2. nfrozi - 25 November 2010

Subhaanallah, memang setiap kesuksesan (dakwah), tak dapat ditempuh hanya dengan sedikit peliknya kehidupan. Semoga Allah selalu memberikan rahmat-Nya kepada beliau dan kepada kita semua.

3. hendro - 7 January 2011

Barokallhu fiikum yaa Ustadz

4. umar - 19 April 2011

masya’allah smoga bumi ini dipenuhi orang” seperti anda sepeninggal generasi emas Rosulullah SAW. amin

5. Suharno - 27 May 2011

Semoga lebih seimbang antara dakwah untuk keluarga dan masyarakat.

6. raih - 17 March 2013

^^
Subhanallah..

7. raih - 17 March 2013

jd g sabar mendengar beliau berdakwah dalam penutupan RAPIMNAS di Universitas Airlangga tanggal 31 Maret 2013..

8. Aryono - 3 August 2015

Sosok Ulama yang lurus pantas dijadikan sebagai tokoh dan panutan masyarakat, sebagai ulama pasti faham akan hukum dan syariat islam. beragam persoalan umat pasti dapat terselesaikan dengan tata aturan islam. Layak kiranya Ustad dicalonkan menjadi umaro. Surabaya butuh perubahan yang lebih berarti ke arah cahaya islam. Songsong Calon baru, Calon Pemimpin Umat, masyarakat adil makmur dalam kepemimpinan Ust. Muhammad Sholeh Drehem, Lc., M.Ag

Deki Rukmana - 3 August 2015

Setuju. Majulah bagi kami, maju demi kesejahteraan kami.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: