jump to navigation

Menjaring Lailatul Qadar 10 August 2010

Posted by decazuha in Wawancara.
Tags: , , , , ,
trackback

Ramadhan telah di ambang pintu. Bulan penuh berkah di mana terdapat satu malam istimewa, yakni lailatul qadar, senantiasa dinanti kehadirannya. Hanya saja, penentuan kapan mulai berpuasa dan berlebaran tak jarang terjadi perbedaan sehingga acapkali melahirkan ketegangan sosial. Bagaimana penerapan metode hisab dan rukyat dalam menentukan awal Ramadhan dan Syawal? Dan, apa yang perlu dipersiapkan untuk menyongsong lailatul qadar?

Saiful Amin Ghofur, koresponden JENDELA SANTRI di Yogyakarta, menjumpai Pakar Ilmu Falak UII Yogyakarta dan Anggota BHR Pusat Drs. H. Sofwan Jannah, M.Ag di kediamannya untuk mengurai hal itu. Berikut petikan wawancaranya:

Menurut Anda apakah Ramadhan tahun ini sudah bisa diperkirakan kapan dimulai?

Untuk awal Ramadhan kemungkinan ada sedikit perbedaan. Menurut metode hisab, awal Ramadhan jatuh pada tanggal 11 Agustus. Sebab, ketinggian hilal sudah 6-7 derajat di atas ufuk. Hanya saja, untuk Ramadhan ada kriteria minimal 2 derajat, bisa jadi ada yang mulai tanggal 12 Agustus. Tapi yang jelas, tanggal 10 Agustus nanti akan diadakan rukyat.

Kalau di Indonesia, metode yang lebih mengemuka hisab atau rukyat?

Inilah masalahnya. Seringkali ada yang mengatasnamakan rukyat, padahal itu hisab. Tapi yang didahulukan memang hisab, baru kemudian disempurnakan dengan rukyat. Jadi, hisab dan rukyat saling melengkapi, bukan menegasikan.

Lantas apa perbedaan dua metode ini?

Sebenarnya bisa dipertemukan dalam satu titik. Hanya saja, kriteria 2 derajat dianggap sebagai syarat minimal bisa dirukyat, sehingga jika di bawah 2 derajat ada yang tidak mengakui.

Apakah ada metode lain yang digunakan untuk ini?

Ada, tapi tidak lazim. Ini yang terkadang menyebabkan beberapa kali terjadi perbedaan, baik saat penentuan Ramadhan maupun Syawal. Misalnya, Jamaah Naqsabandiyah  baik yang di Padang maupun Sulawesi. Mereka berpatokan pada pasang-surut air laut. Memang secara teori ada kaitan pasang-surut air laut dengan ketinggian bulan, tapi tidak terlalu signifikan. Inilah yang menyebabkan perbedaan satu atau dua hari dari penentuan dengan metode lazim, hisab atau rukyat. Menurut saya, mereka lebih berpegang pada ‘urfi atau kebiasaan. Kelihatan ilmiah, tapi sebenarnya tidak. Hanya memodifikasi metode tersebut.

Metode ‘urfi ini juga bisa diamati di Keraton Jogja. Meski lebaran lazim mengikuti ketetapan pemerintah, namun metode ‘urfi untuk menentukan lebaran masih dilestarikan. Jika lebaran hari ini, misalnya, maka grebeg Syawal dilaksanakan keesokan harinya. Sehingga, secara tidak langsung, lebaran Keraton Jogja terjadi bersamaan dengan grebeg tersebut. Di sisi lain, inilah kearifan lokal untuk menghargai jasa-jasa Sultan Agung.

Jika terjadi perbedaan, baik awal Ramadhan maupun hari raya, apa yang perlu dilakukan?

Kita bisa belajar pada sejarah Nasrani.  Penanggalan masehi pernah terjadi perbedaan sampai 10 hari setelah pemberlakukan Dekrit Paus Gregorius XII pada abad ke-16. Tempo itu, hari Kamis tanggal 4 Oktober 1582, maka esok hari tidak disebut tanggal 5 Oktober, tapi langsung tanggal 15 Oktober. Ada selisih 10 hari. Dekrit Paus Gregorius itu tak serta merta diikuti oleh seluruh umat Nasrani. Baru di akhir abad ke-19 dekrit itu baru diakui. Ini berdampak pada perbedaan tanggal perayaan Natal sampai lebih dari seminggu.

Jadi, jika ada selisih satu atau dua hari saat penentuan Ramadhan atau lebaran sebenarnya tingkat toleransinya sangat tinggi. Akan tetapi, di Ramadhan atau lebaran ada akidah yang dipegang teguh Islam. Misalnya, haram makan di hari Ramadhan atau puasa di hari raya. Dikhawatirkan, jika perbedaan tidak disikapi secara arif dan bijak akan timbul persoalan di masyarakat seperti saling mengklaim benar dan menyalahkan yang lain. Pada gilirannya, klaim seperti ini bisa mengancam persatuan umat. Nah, di sinilah dibutuhkan peran tokoh masyarakat untuk memberi kesadaran dan pemahaman yang menyeluruh agar umat terhindar dari perpecahan. Sebab, perbedaan itu rahmat.

Tapi jika ditelisik lagi lebih jeli, akar dari perbedaan itu berasal dari mana?

Menurut saya, dari aspek penanggalan hijriyah sendiri. Hilal yang menjadi patokan penanggalan hijriyah sangat unik. Jika penanggalan masehi berdasar tengah malam di bujur 180 timur/barat. Seolah-olah rata saja dari timur ke barat. Tapi ketinggian hilal variatif. Kadang-kadang utara dulu baru ke selatan. Kadang sebaliknya, selatan dulu baru ke utara. Kadang-kadang timur baru ke barat. Jadi, garisnya kadang lurus hampir vertikal, terkadang miring.

Bisa jadi Saudi Arab belum bisa melihat hilal, tapi di Indonesia sudah terlihat. Artinya, dari selatan ke barat. Lebih khusus lagi, kadang hilal sudah terlihat di Aceh, tapi tidak terlihat dari Pelabuhan Ratu. Kondisi ini memang bisa menciptakan peluang besar perbedaan lebaran. Misalnya, di Aceh terlihat hilal bisa lebaran, tapi di Papua belum terlihat sehingga belum lebaran. Namun demikian, kita bisa berpegang pada logika balap perahu. Pengemudi yang duduk di bagian belakang perahu dinyatakan menang jika ujung depan perahunya bisa mencapai finish, meski pengemudinya masih berjarak beberapa meter dari garis finish. Nah, Indonesia ini tak ubahnya sebuah perahu besar. Jika di Aceh sudah lebaran, di Papua semestinya juga boleh lebaran. Apabila logika ini diinsyafi bersama niscaya perbedaan bisa diminimalkan.

Selain masalah tersebut, bagaimana pendapat Anda tentang Nuzulul Qur’an?

Al-Qur’an pertama kali diturunkan di bulan Ramadhan. Hanya saja, selama ini dipersepsikan Al-Qur’an turun pada tanggal 17 Ramadhan. Padahal, Nabi sendiri menyerukan agar mengoptimalkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadhan. Ini mengindikasikan bahwa Al-Qur’an turun pada kisaran akhir-akhir Ramadhan.

Lantas, kaitannya dengan lailatul qadar?

Dalam sejumlah kitab memang dijelaskan ciri-ciri turunnya lailatul qadar, terutama tentang kondisi alam. Akan tetapi, ini bukanlah patokan utama. Lailatul qadar memang rahasia ilahi.

Kita coba menyingkap sejenak faktor alam dalam dinamika perkembangan Islam. Contohnya, saat Perang Badar di mana 300an tentara muslim menghadapi tak kurang dari 1000 tentara kafir Quraisy. Legitimasi doktrinal selama ini diyakini bahwa tentara Islam bisa memenangi peperangan dengan bantuan malaikat yang menjelma sebagai tentara tak terlihat. Sebenarnya, konsepsi tentara tak terlihat tidak harus diartikan malaikat. Sebab, tempo itu kondisi alam berpihak pada tentara Islam. Angin berembus kencang dari arah tentara Islam menuju tentara Quraisy, sehingga angin turut membantu pergerakan tentara Islam, termasuk juga anak panah melesat dengan kecepatan berlipat-lipat. Sedangkan tentara Quraisy tidak hanya menghadapi tentara Islam, tapi juga melawan angin yang berembus sangat kencang. Jadi, wajar jika tentara Islam menang. Hanya saja penting dicatat, strategi peperangan yang menyesuaikan dengan kondisi alam ini bisa terjadi atas bimbingan wahyu.

Terkait dengan lailatul qadar, tanda-tanda alam memang direkam dalam sebuah hadis. Namun harus diperhatikan, apa yang digambarkan hadis tersebut adalah fenomena kesejarahan yang tak sepenuhnya bisa dibawa dan dijadikan tolok ukur dalam konteks kekinian. Ketika malaikat Jibril membawa wahyu ketika itu pada malam lailatul qadar bisa jadi pada saat pergantian musim yang tenang. Awan saja di Mekkah pada umumnya bersih. Jadi, harus ditelaah dulu bagaimana konteks historis yang sesungguhnya.

Jika demikian, bagaimana cara efektif untuk mendapati lailatul qadar?

Selama ini kebanyakan kita memang sering berpikir instan. Untuk mendapati lailatul qadar saja seolah-olah mengundi malam-malam ganjil di sepuluh malam akhir Ramadhan dengan selalu menempatkan kriteria kosmis dan tanda-tanda alam. Hal ini sesungguhnya bisa menciderai kualitas ibadah di bulan suci Ramadhan.

Cara efektif mendapati lailatul qadar adalah dengan mengoptimalkan ibadah iktikaf saban malam, terutama di sepuluh malam terakhir Ramadhan. Ini dimaksudkan untuk menjaring lailatul qadar, bukan memancing di salah satu malamnya.

Terakhir, bagaimana dampak orang yang mendapati lailatul qadar?

Sejatinya ibadah diawali dengan fokus kepada Allah. Ini bernilai vertikal, baru kemudian bernilai horizontal. Puasa misalnya, diakhiri dengan zakat. Ini fokus vertikal baru horizontal. Intinya, habl min Allâh dan habl min an-nâs atau âmanû wa amil ash-shâlihât, beriman seraya terus melakukan kebajikan.

Jadi, orang yang mendapati lailatul qadar semestinya berdampak positif dalam kehidupannya. Menjaga kesetimbangan relasi vertikal dan horizontal. Dengan demikian mekanisme kehidupan bisa terkontrol menuju kualitas sempurna sebagai insân kâmil.

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: