jump to navigation

Menikmati Khilafiyah 22 Jul 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , , ,
trackback

Perdebatan soal perbedaan antara NU dan Muhammadiyah di kalangan umat Islam di Indonesia masih saja meruncing. Tapi benarkah jika NU dan Muhammadiyah berbeda soal ajaran agama?

Forum Komunikasi Santri Kursus Al-Qur’an Al-Falah Surabaya kembali menggelar kajian perbandingan madzhab yang diisi oleh Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA. Acara yang berlangsung di aula Darussalam lantai II Masjid Al-Falah Surabaya, Sabtu, (17/7), itu tidak saja dihadiri oleh santri kursus Al-Qur’an Al-Falah. “Kajian ini dibuka untuk umum,” tutur ustadzah Mumayyizah.

Hal ini menurutnya, untuk menjembatani pemahaman masyarakat yang acap kali keliru dalam memandang NU dan Muhammadiyah. Selain menjelaskan perbedaan kedua ormas Islam terbesar di Indonesia itu, kajian ini juga membedah beberapa madzhab yang berkembang dalam Islam.

Sejak peradaban Islam dimulai, sudah banyak madzhab dan aliran (firqah) tumbuh dalam sejarah perkembangannya. Menurut Ustadz Zahro, hal itu dipicu oleh perbedaan pemahaman dalam menafsirkan ajaran Islam. Namun, antara madzhab dan firqah, jelasnya, memiliki perbedaan yang membentang. “Madzhab adalah pendapat, sementara firqah adalah sebuah kelompok aliran,” jelasnya.

Perbedaan antar madzhab, paparnya, hanya pada tataran cabang yang bersifat mukhtalafi dan tidak sampai pada pembentukan suatu aliran. Sedangkan firqah, memiliki perbedaan pada hal yang bersifat ushuliyah (mujma’ ‘alaih). “Dalam berislam, kita hanya boleh berbeda dalam hal furu’iyah dan bukan pada wilayah ushuliyah,” tukasnya. “Sesuatu yang bersifat mujma’ ‘alaih (aklamasi) adalah final, bukan wilayah ijtihad,” tambahnya menandaskan.

Di antara pokok ajaran Islam yang sudah final adalah mengakui Muhammad Saw. sebagai nabi yang terakhir dan meyakini Al-Qur’an sebagai kita suci. Kewajiban puasa di bulan Ramadhan maupun berhaji di bulan Dzulhijjah juga merupakan suatu yang final. Waktunya sudah ditentukan. “Jadi kita tidak boleh berijtihad untuk mengganti, mengurangi maupun menambah pada waktu-waktu yang lain,” jelasnya.

Lantas bagaimana dengan NU dan Muhammadiyah? “NU dan Muhammadiyah jelas bukan sebuah aliran. Perbedaan di antara keduanya hanyalah sebatas pada wilayah furu’iyah, bukan ushuliyah,” ujarnya.

Perkembangan Islam di Indonesia, jelasnya, banyak dipengaruhi oleh dakwah walisongo. Dalam perjalanan dakwahnya, walisongo memang sangat adaptif terhadap kultur Indonesia, khususnya di Jawa yang animisme dan dinamisme. Mereka tak langsung serta merta melarang ritual berbau klenik yang musyrik tersebut.

Dengan halus, walisongo memasukkan ajaran Islam dalam kegiatan ritual mereka. Hingga pada akhirnya, mereka meyakini bahwa Allah adalah tuhannya yang harus disembah. Masalahnya, hingga mereka berislam, ritual itupun tetap lestari hingga sekarang, walaupun dalam konteks dan makna yang berbeda. “Walisongo jelas bukan orang NU. Tapi tinggalan walisongo banyak dianut oleh NU,” ucapnya.

Sementara orang Muhammadiyah, tak mau mengikuti jejak walisongo. Sebab mereka khawatir, jangan-jangan apa yang dilakukan adalah bid’ah. “Jadi orang Muhammadiyah berpendapat, lebih baik tidak daripada salah,” tuturnya. Sedangkan orang NU yang tetap melakukannya berpendapat, masih ada keutamaan yang bisa didapatkan dari hal tersebut (Fadhail a’mal). “Jadi jelas, NU dan Muhammadiyah bukan beda soal ajaran. Tapi soal pemahaman kultural,” tegasnya. “Kalau sudah menyangkut kultural, rileks-rileks saja. Tidak ada bid’ah dalam ibadah sosial. Bid’ah itu selalu menyangkut masalah ritual,” tambahnya menjelaskan.

Meski demikian, dalam ritual masih berpeluang adanya perbedaan. Tata cara peribadatan memang telah dicontohkan oleh nabi. Tapi tetap saja memiliki beragam macam bacaan. “Misalnya sujud dalam shalat. Ada 15 ragam bacaan dalam sujud. Kita pun boleh menambahnya dengan doa. Yang terpenting ada tuntunannya,” ujarnya. “Yang tidak boleh itu, jika kita membaca al-Qur’an dalam sujud, walaupun sampai khatam karena tidak ada tuntunannya,” selorohnya berkelakar. Ded

Advertisements

Comments»

1. Habib Lutfi: Kita Wajib Pertahankan NKRI | Bani Madrowi - 18 May 2011

[…] Menikmati Khilafiyah […]


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: