jump to navigation

Memahami Isra’ Mi’raj di Antara Sains dan Keimanan 22 Jul 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , ,
trackback

Prof. DR. H.M. Sholeh, M.Pd, PNI yang dikenal sebagai Prof. Tahajud, mengkritik tajam standar sains yang diterapkan para ilmuwan. Tak terkecuali DR. Ir. H. Abdullah Syahab yang saat itu menjadi narasumber seminar bertajuk “The Miracle of Isra’ Mi’raj”, Ahad (11/7) di Basement Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya.

Isra’ Mi’raj, antara keimanan dan sains. Itulah topik utama yang tengah diangkat Abdullah Syahab. Isra’ mi’raj, menurut keyakinan Syahab, adalah sebuah fenomena yang tidak mungkin bisa dijelaskan secara sains. “Metode ilmu pengetahuan bersifat empirik dan tidak menuntut keimanan. Sementara isra’ mi’raj adalah sebuah mukjizat yang hanya bisa dipahami dengan pendekatan keimanan,” tukasnya.

Isra’ mi’raj, jelasnya, adalah cara Allah dalam menguji keimanan hamba-Nya. Menurutnya, ada dua hal yang bisa dijadikan acuan untuk membuktikan fenomena isra’ mi’raj. Pertama, adalah bukti sumber otoritas. Bukti ini berasal dari kebenaran yang disampaikan Allah melalui al-Qur’an dan al-Hadits yang mutawatir.

Kedua, adalah bukti empiris-historis. Bukti kedua ini untuk menjawab penolakan kaum Quraisy terhadap bukti pertama yang dikemukakan nabi.  “Pertemuan nabi dengan kafilah yang sedang mengadakan perjalanan pulang dari Syam dan deskripsi Rasul tentang masjid al-Aqsha adalah bukti emipiris di luar jalur keimanan,” tegasnya. “Dan setelah ditunjukkan bukti secara empiris kepada orang Quraisy, apakah mereka lantas beriman,” tambahnya dengan nada tanya.

Baginya, tetap saja menjadi sulit untuk memadukan antara isra’ mi’raj dan sains. “Dan saya bukan termasuk kelompok yang senang mencari hal-hal yang tak jelas jluntrungannya,” katanya. Sebab menurutnya, adakalanya seseorang dalam menjelaskan kebenaran agama, dengan mencari-cari sesuatu yang kadang-kadang menghasilkan sesuatu yang kurang pas. “Bahkan, kesimpulan yang didapat itu tidak meningkatkan, tapi malah menurunkan kadar keimanan,” ujarnya.

Selain perjalanan isra’ mi’raj, dalam al-Qur’an disebutkan beberapa fenomena aneh yang hingga kini belum bisa dijelaskan oleh dunia sains. Kita pernah membaca kisah Ashabul Kahfi yang tinggal di goa selama 309 tahun. Kita pun meyakini usia Nabi Nuh as. yang mencapai 950 tahun. Juga ada kisah seseorang yang dimatikan selama seratus tahun. Belum lagi cerita istana Ratu Balqis yang diboyong ke negeri Nabi Sulaiman as. hingga kisah Nabi Musa as. yang membelah lautan. “Bagaimana sains menjelaskan fenomena ini? Menjadi jelaslah, ada sesuatu hal yang tidak bisa diurai oleh sains ketika sudah masuk dalam domain-domain keimanan,” paparnya.

Kebenaran agama dan sains, tandasnya, sangat berbeda. Domainnya sendiri-sendiri, walaupun dirinya mengakui kadang ada interpretasi antara kebenaran agama dan sains. “Tapi tidak selalu keduanya bisa digabungkan,” tukasnya. “Kalau bisa dengan mudah digabungkan, maka para ilmuwan adalah orang pertama yang masuk Islam, dan ternyata tidak,” tambahnya.

Menurutnya, kebenaran sains itu harus dicari. Sehingga kalau kita mau menentukan fenomena alam yang menunjukkan bahwa fungsi Y sama dengan X, maka kebenaran itu harus dicari. “Karena itu sains membutuhkan metodologi penelitian untuk menemukan kebenaran. Sementara kebenaran agama menunjukkan dirinya sendiri,” terangnya.

Nilai kebenaran sains pun bersifat tentatif. Kebenaran yang diyakini hari ini, belum tentu benar keesokan harinya. “Jadi hati-hati memasukkan unsur kebenaran sains dalam kebenaran agama,” ucapnya mengingatkan. Sementara kebenaran agama, adalah mutlak dan bersifat benar selamanya. “Sejak lebih dari 1.400 tahun lalu hingga sekarang, kebenaran Islam tetap dan tidak berubah,” tandasnya.

Kebenaran sains juga harus bisa diterima secara rasional. Sementara kebenaran agama diterima secara intuitif. Kebenaran sains pun menuntut penalaran. Tapi kebenaran agama menuntut keimanan. “Ketika menerima statemen sains, awalnya kita tak langsung percaya. Setelah ada pembuktian baru kita bisa percaya,” tuturnya. “Sangat berbeda ketika kita menerima statemen agama. Sejak awal kita percaya. Kalau pun kita mencari pembuktian, itu untuk meneguhkan kepercayaan kita agar lebih baik,” tambahnya memaparkan.

Dalam mencari kebenaran, jelasnya, ada empat metode yang bisa kita gunakan. Selain metode kebiasaan, juga ada metode otoritas, metode intuitif dan metode ilmu pengetahuan. “Metode otoritas inilah yang digunakan untuk memahami kebenaran agama,” ucapnya.

Apa yang dikatakan Allah dan Rasul-Nya adalah benar. Tidak ada kreativitas di sini dan juga tidak ada penelaahan laboratorium. “Kalau ingin mengaitkan ayat yang satu dengan yang lain boleh-boleh saja. Tetapi tidak ada kreativitas,” tukasnya. Itulah yang sering dia sampaikan kepada Jaringan Islam Liberal yang berusaha kreatif di bidang yang tidak perlu kreatif. “Agama itu taat. Agama itu pasrah. Tidak butuh alasan rasional, meskipun kadangkala ada penjelasan secara rasional yang bisa diterima,” ucapnya.

Dirinya pun mengingatkan agar hati-hati dalam menggunakan ilmu pengetahuan dalam mencari kebenaran. Ilmu pengetahuan selalu menggunakan konsep dan teori, pendefinisian dan pengendalian varibel, juga penekanan pada pengujian empiris. “Maka jika ingin meneliti kebenaran isra’ mi’raj, orang sains akan menuntut kepada rasulullah untuk membuktikan kembali bahwa dirinya bisa melakukan itu dan saat itu juga,” ujarnya

Pembuktian empirik, terangnya mengingatkan, memang bisa meneguhkan keimanan, tapi bukan jalur yang aman. “Pembuktian empirik tidak menjamin keimanan. Perhatikanlah dengan seksama QS. Al-Hijr (s.15) ayat 14-15 dan QS. Al-An’am (s.6): 111,” tuturnya.

Sekali lagi dirinya menekankan, bahwa iman itu percaya pada sesuatu tanpa pembuktian empirik. “Dalam hal yang bisa kita persepsi, diindera, dilihat dan diraba, kita tak perlu mengimani,” jelasnya. Maka dalam al-Qur’an disebutkan, bahwa salah satu ciri orang yang beriman itu adalah mengimani yang gaib.

Kalau demikian, lanjutnya, keimanan menuntut metodologi yang sifatnya non saintifik dan non empirik. “Iman tidak butuh sains. Hal ini bisa dilihat dalam QS. Al-Maidah (s.5) ayat 115,” terangnya.

Pernyataan Abdullah Syahab tentang iman yang tak butuh sains, langsung dibantah keras oleh Prof. DR. H.M. Sholeh, M.Pd, PNI. Saya perlu merespon apa yang disampaikan oleh DR. Abdullah Syahab dan mudah-mudahan saya keliru,” ujar Prof. Sholeh mengawali pendapatnya. “Saya melihat DR. Abdullah Syahab ini tengah membenturkan agama dan sains. Agama diletakkan dalam satu pulau tertentu dan menempatkan sains di pulau lainnya. Jadi tidak pernah ketemu. Ini namanya sekuler,” tandasnya.

Dirinya dengan tegas menampik bahwa peristiwa isra’ mi’raj hanya bisa diterima oleh iman tanpa teruji dan diuji oleh akal. Sebab menurutnya, agama itu memang untuk orang yang berakal sehat. “Maka aneh jika isra’ mi’raj dan semacamnya itu hanya bisa diterima oleh aspek keimanan saja,” ujarnya. “Jangan sedikit-sedikit mengatakan bahwa isra’ mi’raj itu hanya iman. Jika demikian kapan umat Islam ini maju? Silakan akal mengujinya,” tambahnya.

Kalau pun kita belum bisa menemukannya, sambungnya mengingatkan, bukan salah agama dan bukan salah al-Qur’annya. Tapi akal kita yang belum sampai. Baginya, standar ilmiah yang selama ini diyakini harus ditambah. Sebagai umat Islam, katanya, hendaknya unsur ilmiah tak hanya sebatas logic dan empiris. Tapi juga mengikutsertakan kecerdasan qalbu dalam memahami sesuatu. “Jika sains dan teknologi dibiarkan hanya dipahami oleh otak saja, maka siap-siaplah stress. Karena otak tak akan menemukan kesejatian kebenaran,” ucapnya.

Maka untuk memahami isra’ mi’raj, simpulnya, kita tak cukup hanya memahami melalui pikiran, tapi juga dengan riyadloh. Sebuah metode mendekatkan diri kepada Allah yang tidak cukup hanya dengan menjalankan hal-hal yang diwajibkan Allah, tapi juga menjalankan yang sunnah. “Orang yang hatinya bersih, maka hatinya akan terisi Allah. Jika sudah bersama Allah, lantas apa yang tidak bisa dipahami,” tuturnya memaparkan. Ded

Advertisements

Comments»

1. alsoloni - 3 Aug 2011

pandangan konservatif akan selalu menolak sains, karena sains membutuhkan usaha keras dan teliti dalam jangka panjang. sedangkan kepercayaan yang asal percaya tidak membutuhkan apapun kecuali pernyataan percaya-yakin –> wahyu Qurani sendiri menganjurkan agar manusia menggunakan seluruh perangkat indranya untuk mempelajari tanda kebesaran Allah swt di alam semesta yang terbuka dengan mempergunakan akal fikirannya ….. jika seseorang seperti paduka DR tersebut tidak memiliki pengetahuan mengenai elemen kimiawi dan proses reaksi kimia, tidak mengenal fisika teori dan matematika teori, tidak faham apa itu fisika kwuantum dan tidak pernah melakukan riset pada tabrakan partikel yang terjadi di pusat bintang dan dalam pesawat pemercepat larinya partikel LHC (Large Hadron Collider) ya tentu saja tidak bisa memahami Isra’ dan Mi’raj di atas dasar sains –> hebatnya wahyu Qurani yang dimuat dalam QS.53 (Surah An-Najm) ayat 1-18 justru menjelaskan permasalahan pewahyuan, isra’dan mi’raj rasulullah Muhammad saw yang hanya mungkin bisa difahami dengan sains modern bidang fisika relativistik dan fisika kwantum beserta microbiology dengan seluruh perangkat teori dan praktek yang digunakan dalam bidang tersebut. Dalam buku “Bagaimana Alam Semesta Siciptakan, Pendekatan Al-Quran dan Sains Modern” terbitan PT. Dunia Pustaka Jaya Jakarta 2003 pada bagian I – Wahyu dan Pengetahuan, dengan pendekatan sains secara cekak aos dapat dijelaskan penalaran atas pewahyuan dan dari hal tersebut juga dapat dilanjutkan guna memahami bab mi’raj maupun isra’ rasulullah Muhammad saw.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: