jump to navigation

Dekatkan Anak Didik pada Al-Qur’an 22 Jul 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , ,
trackback

Orang yang membenci Islam takut, kalau orang Islam melakukan dua hal: tertib zakat dan tekun shalat berjamaah. Sayangnya, banyak orang Islam yang enggan melaksanakan keduanya.

Zakat dan shalat berjamaah, selalu mengandung interaksi antar umat Islam. Jika kedua hal tersebut bisa dilakukan, niscaya benang silaturrahmi akan kuat terjalin. Kerukunan antar umat Islam pun dapat segera terwujud. Inilah yang sangat tidak diinginkan oleh musuh Islam. “Sehingga beragam cara akan mereka lakukan untuk menghalangi dua hal itu terwujud,” tukas Prof. DR. H. Imam Suprayogo saat menyampaikan ceramah ilmiahnya dalam peringatan Isra’ Mi’raj di Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya, Senin (12/7).

Tapi, tampaknya orang kafir kini tak perlu repot-repot menghalau orang Islam untuk membayar zakat maupun melaksanakan shalat berjamaah. “Belum dicegah, eh.. sudah banyak orang Islam yang malas menunaikan zakat dan shalat berjamaah,” selorohnya.

Keengganan umat Islam untuk melaksanakan ajaran agama ini, menurut lelaki kelahiran Trenggalek, 2 Januari 1951 itu, disebabkan rendahnya kesadaran makna dan fungsi ajaran Islam dalam kehidupan sehari-hari. Karenanya, pada moment peringatan isra’ mi’raj ini, Rektor UIN Malang ini mengajak jamaah untuk menemukan kembali ruh spiritualitas agama yang terkandung dalam perjalanan nabi Muhammad Saw. saat menemui Allah Swt.

Peristiwa isra’ mi’raj, paparnya, adalah wilayah imaniyah, bukan tataran ilmiah. Peristiwa ini memang kerap dicoba untuk diilmiahkan oleh para ilmuwan. Namun hingga kini, belum ada teori sains pun yang mampu menguak fenomena ini. “Hanya kira-kira. Belum ada kepastian keilmuan yang bisa menjelaskannya,” ujarnya.

Dalam perjalanan isra’ mi’raj inilah Rasulullah Saw. menerima perintah shalat langsung dari Allah Swt. Kesediaan menerima perintah itu, didorong oleh keimanan yang dibangun atas dasar keyakinan yang kokoh. Sedangkan keyakinan itu didasarkan atas kesaksiannya secara langsung melalui peristiwa isra’ dan mi’raj tersebut. “Ayat-ayat al-Qu’ran ibarat teori atau konsep. Sementara isra’ mi’raj adalah semacam proses pembuktian nabi dengan persaksiannya langsung bertemu Allah,” jelasnya. “Jadi wajar jika nabi sangat begitu khusuk saat melaksanakan shalat,” tambahnya.

Kondisi ini dirasakan begitu berbeda oleh umat Muhammad Saw. Mereka tidak merasakan dan melihat sendiri peristiwa yang dahsyat itu. Gambaran tentang alam semesta, baik tentang benda-benda langit, kehidupan umat manusia, bahkan surga dan neraka, diperoleh melalui kisah-kisah yang dibawakan oleh Nabi Muhammad. “Barangkali itulah sebabnya, betapa umat Islam sulit membangun kekhusukan dalam shalat. Sebab umat Islam tidak pernah melakukan isra’ dan mi’raj, sebagaimana yang dialami oleh Rasul-Nya,” ucapnya.

Jika benar bahwa dengan melihat secara langsung akan melahirkan keyakinan yang kokoh dan mendalam, maka Guru Besar Fakultas Tarbiyah Universitas Islam Negeri Malang ini berpendapat, umat Islam masih bisa melakukan “isra’ mi’raj” melalui pendidikan. “Proses itu secara sederhana bisa dilakukan oleh siapapun,” tutur suami Hj. Sumarti.

Melalui perkembangan ilmu pengetahuan yang semakin maju, maka keagungan ciptaan Allah bisa dilihat dan dirasakan oleh siapa pun. Perkembangan ilmu biologi, fisika, kimia, sosiologi, psikologi, sejarah dan lain-lain, adalah merupakan instrument bagi siapa pun untuk memahami alam dan jagat raya ini. “Dengan berbagai ilmu itu, jika diniati untuk menyaksikan dan memahami ayat-ayat Allah, maka akan mengantarkan bagi siapa saja sampai pada puncak keyakinan hingga menyebut kalimat subhanallah,” ujarnya. “Artinya, pintu marifatullah telah mulai terbuka,” tandasnya.

Maka siapa pun yang telah berhasil mengenal Allah – apalagi dalam hatinya telah tumbuh suasana mencitai-Nya – maka akan menjadi mudah tatkala harus menunaikan segala perintah-perintahnya. Lantas bagaimana mempelajari ayat-ayat qauliyah dan ayat-ayat kauniyah agar berhasil melahirkan suasana batin kagum, haru, takut, dan sekaligus mencintai, sehingga semua perintah-Nya ditunaikan dengan khusuk?

Menurut pria yang meraih gelar doktornya di bidang sosiologi Universitas Airlangga Surabaya ini, hal tersebut akan terjadi, jika seseorang mempelajari kitab suci dan ilmu pengetahuan bukan sebatas agar lulus ujian. “Jadikan jembatan ilmu fisika, biologi, kimia, sosiologi, psikologi dan lain-lain sebagai bagian menuju makrifatullah yang dibarengi dengan hati ikhlas,” jelasnya.

Sebab agama memberikan tuntunan bagaimana membangun kehidupan yang saleh secara utuh. Bagi bangsa Indonesia, agama telah dijadikan sebagai dasar dalam kehidupan. Agama telah menjadi bagian dari budaya bangsa. Agama juga mengajarkan tentang siapa sebenarnya manusia, tuhan, alam dan juga keselamatan bisa diraih. Hal inilah yang akan mengantar seseorang untuk mengerti dan paham tentang arti kehidupan. “Dengan memahami eksistensi kemanusiaannya, maka akan terbangun watak dan karakter manusia,” tukasnya.

Tetapi lagi-lagi, pengetahuan itu pun juga belum cukup. Nilai-nilai itu harus ditanamkan melalui pelatihan dan pembiasaan sehari-hari. Konsep-konsep tentang kehidupan yang didapat dari ajaran agama, harus dilatih dan dibiasakan sehari-hari. Untuk melatih dan membiasakan itu semua diperlukan guru, orang tua, atau pelatih. Mereka itu adalah para guru di sekolah, orang tuanya sendiri dan bahkan juga orang-orang dekatnya. “Tanpa pelatihan dan pembiasaan, perilaku berkarakter unggul tersebut akan sulit terbentuk,” tegasnya.

Karena itu, Ketua Majlis Madrasah Terpadu Kota Malang ini memandang pentingnya pendidikan berkarakter. Dan itu pun cukup dilakukan melalui pendidikan agama dalam pengertian yang luas. Dengan demikian, menurutnya, tugas pendidik tak boleh berhenti hanya pada tilawah. Tapi juga harus tazkiyah dan mengajari al-Qur’an – bahkan menghafal al-Qur’an – hingga mengambil hikmah berupa kearifan dan kebijaksanaan. “Selama ini tugas guru di sekolah belum beranjak dari proses tilawah,” tukasnya. “Mereka hanya mentransfer keilmuan dari hasil pembuktian empirik. Guru belum menjadi teladan bagi siswa dan hampir tiada doa untuk siswa yang dididiknya,” tambahnya menyesalkan.

Untuk menuju pendidikan berkarakter, terangnya, anak didik harus didekatkan pada tiga hal, yaitu al-Qur’an, tempat ibadah dan para ulama’. “Jadikan ulama sebagai idola anak-anak kita,” pesannya. Pendidikan karakter juga akan terjadi jika beberapa aspek saling memperkukuh. “Nilai-nilai karakter yang harus dijalankan harus bersumber dari kitab suci, terdapat role model – guru dan orang tua – dan yang ketiga adalah lingkungan pembentuk berkarakter itu sendiri,” paparnya.

Persoalannya, bagaimana semua pihak menjadi ikhlas, tekun, istiqomah, dan sabar menjalankan peran dan tanggung jawabnya masing-masing itu. “Pada tingkat teoritik mudah dilakukan, namun pada tingkat implementasinya, seringkali tidak terlalu gampang dilakukan, apalagi harus bersama-sama (berjamaah),” tandasnya. Ded

Advertisements

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: