jump to navigation

Mengais Rezeki Tanpa Korupsi 15 Jun 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags:
trackback

Oleh Mulyani Taufik *)

Ketika Rasulullah SAW bersama para sahabatnya sedang berbicang-bincang, melintaslah seorang pria dengan tubuh yang kekar tengah berangkat bekerja. Lalu seorang sahabat berkomentar; “Sungguh merugilah pemuda itu!” Seorang sahabat yang lainpun menukas: “Ah, andai saja kekekaran tubuhnya dipergunakan untuk perjuangan fi sabillah…”

Mendengar hal itu, Rasulullah SAW segera menimpali: “Janganlah kalian berkata seperti itu! Sebab seseorang yang bekerja demi dirinya dan keluarganya, maka sungguh dia berada dalam perjuangan fi sabilillah. Dan jika dia bekerja demi kedua orang tuanya yang renta atau mencukupi kebutuhan anak-anaknya yang masih lemah, sungguh itu termasuk jihad fi sabillah. Tapi sekiranya dia bekerja demi kebanggaan diri atau karena ingin menumpuk-numpuk harta, maka dirinya tengah berada di jalan syetan.”

Hadits tersebut telah menginspirasikan kepada kita, betapa mulianya kedudukan mencari nafkah dalam ajaran Islam. Sebab dengan bekerja, seseorang akan memfungsikan segenap potensi yang telah dianugerahkanNya pada dirinya, demi mengatasi permasalahan yang tengah melilit kehidupannya dan juga keluarganya. Islam sangat mengecam orang yang menyia-nyiakan anugerah potensi tersebut, dengan menyandarkan hidupnya pada belas kasih orang lain.

Itulah sebabnya, ketika seorang sahabat Anshar datang kepada Rasulullah dan meminta belas kasih, beliaupun bertanya: “Apakah di rumahmu benar-benar sama sekali tak memiliki apapun?” Lelaki itu menjawab: “Ya Rasulullah, di rumahku hanya ada kantong kain terpal. Satu bagian kupakai dan satu bagian lagi aku bentangkan untuk istirah. Sedangkan yang lainnya, adalah sebuah gelas yang kupakai untuk minum.” Maka Rasulullah pun langsung menukas: “Bawalah kedua barang itu kepadaku.”

Setelah barang itu diserahkan kepada Rasulullah, lalu beliaupun melelangnya: “Siapakah yang akan membeli barang-barang ini dariku?” Seseorang menjawab: “Aku akan membeli keduanya seharga satu dirham.” Kemudian Rasulullah menawarkannya kepada sahabat yang lain: “Siapa yang mau membeli dengan harga yang lebih tinggi dari tawaran itu?” Lantas seorang sahabat menyahut: “Aku akan membelinya seharga dua dirham.”

Setelah transaksi tersebut usai dilakukan, Rasulullah memberikan dua dirham itu kepada sahabat Anshar tadi seraya berkata: “Belilah makanan dengan satu dirham dan berilah makan keluargamu. Sedangkan satu dirham lainnya belikanlah kapak dan bawalah kapak itu kepadaku.” Maka sahabat Anshar itupun menuruti apa yang dikatakan Rasulullah. Setelah kapak itu diserahkan, Rasulullah memasangkan tangkai pegangan pada kapak tersebut. Lalu kapak itu diserahkan kepada sahabat Anshar tadi sambil berkata: “Pergilah. Potonglah kayu dan juallah. Dan jangan datang kepadaku sebelum lima belas hari.”

Orang itu melakukan apa yang diperintahkan Rasulullah dan datang lagi setelah lima belas hari dengan membawa uang sepuluh dirham, sehingga dia bisa membeli makanan dan pakaian. Maka Rasulullah SAW bersabda: “Ini jauh lebih baik bagimu, daripada engkau muncul pada hari Kiamat dengan tanda di wajahmu yang menunjukkan bahwa engkau adalah peminta-minta.”

Dalam sebuah Hadits yang diriwayatkan Ibnu Majah dari Miqdam bin Ma’dikariba disebutkan, bahwa Rasulullah SAW bersabda: “Tidak ada mata pencaharian yang lebih baik daripada yang diperoleh dengan tangannya sendiri. Sehingga apa saja yang digunakan untuk dirinya, anaknya dan orang-orang yang dalam tanggunganya merupakan sedekah.”

Dan pada Haditsnya yang lain Rasulullah bersabda: “Sungguh, lebih baik bagi seseorang membawa seikat kayu bakar dipunggungnya untuk dijualnya, daripada meminta-minta kepada orang lain yang mungkin akan memberinya atau menolaknya.” (HR. Malik, Bukhari, Muslim, Tirmidzi dan Nasai). Rasulullah SAW juga bersabda: “Barangsiapa yang bisa menjaminku untuk tidak meminta-minta suatu kebutuhan apa pun kepada seseorang, maka aku akan menjamin buatnya surga.” (HR. Ahmad dan yang lainnya).

Dari peristiwa di atas jelas-jelas menggambarkan, bahwa Rasulullah sangat tak menyukai kehidupan yang menjadi beban orang lain dengan jalan meminta-minta. Sehingga seseorang akan jauh lebih mulia bekerja kasar, yang meskipun itu terkadang dipandang sebagai pekerjaan rendah oleh kebanyakan orang. Namun sebagai Muslim, kita tak boleh memandang pekerjaan sekasar apapun sebagai pekerjaan yang memalukan – jika itu dilakukan dengan cara yang halal. Sebab dengan itulah, seseorang dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya.

Islam melarang seseorang yang lebih memilih menganggur daripada bekerja kasar. Sebab dirinya memiliki tanggung jawab kepada istri, anak dan orang-orang yang berada dalam tanggungnya. Itulah sebabnya, Rasulullah SAW pernah menegur seorang sahabat, yang keseharian hidupnya suntuk berzikir di dalam masjid: “Berikhtiarlah mencari rezeki yang halal untuk keluargamu. Kemudian sisihkan sebagiannya untuk para dhuafa’. Dan jalanilah semua itu dengan penuh ketulusan. Maka hal yang demikian itu, jauh lebih mulia daripada seribu tahun kamu berzikir di dalam masjid.”

Bahkan pernah suatu ketika Rasulullah berjamaah Maghrib dengan para sahabatnya. Seusai shalat ada seorang sahabat yang tak berzikir, melainkan langsung tidur lantaran kecapekan. Melihat hal itu, tak sedikit di antara para sahabat yang mencibirnya. Kemudian Rasulullah mengatakan bahwa Malaikat Jibril baru saja memberitahukannya, bahwa ada seorang sahabat di antara yang berkumpul di  masjid tersebut yang semua dosanya telah diampuni oleh Allah SWT. Maka para sahabatpun bertanya-tanya, siapakah orang itu? Maka Rasulullah berkata: “Dialah orang yang kini sedang tidur.”

Mendengar jawaban tersebut, para sahabatpun merasa keheranan. Lalu Rasulllah SAW menjawab: “Sesungguhnya dia seharian bekerja mencari nafkah demi membahagiakan keluarganya. Namun demikian, dia tetap berusaha memenuhi panggilan Allah untuk melaksanakan shalat berjamaah. Karena tadi tak kuat menahan puncak keletihan tubuhnya, dirinya tak dapat lagi berzikir sehingga tertidur. Maka Allah SWT ridha terhadapnya dan berkenan mengampuni segala dosanya.”

Bahkan dalam sabdanya yang lain disebutkan, bahwa sesungguhnya ada sebagian dosa yang tak bisa terhapus oleh puasa atau shalat. Ketika seorang sahabat menanyakan: “Lalu apa yang bisa menghapusnya, ya Rasulullah?” Jawab beliau: “Dengan mencari nafkah penghidupan.” Jadi menurut Rasulullah SAW, orang yang berpayah-payah dalam memperoleh nafkah yang dicapainya secara halal, bekerja keras hingga kurang tidur demi mendapatkan nafkah yang halal, mereka akan memperoleh pahala yang bisa menghapuskan dosa-dosanya.

Namun sayangnya, dalam kenyataan sehari-hari, justru banyak sekali orang yang mencari nafkah dengan tanpa landasan ajaran Islam yang sebenarnya. Mereka bersusah-payah menghabiskan waktu dan tenaganya guna mengais rezeki, namun hal itu dilakukan demi memenuhi selera hidupnya yang gemerlap, demi menumpuk-numpuk harta kemewahan, serta untuk memuaskan nafsu keserakahannya.

Bahkan tak jarang yang malah mengambil jalan pintas untuk memperoleh itu semua, asal dari apa yang diinginkannya bisa tercapai. Sehingga muncullah berbagai tindak kejahatan yang diakibatkannya; mulai dari penipuan, pencurian, perampokan, hingga pada tindak korupsi dan pembunuhan. Dari media cetak dan elektronika kita bisa menyaksikan, betapa korupsi telah terjadi di lembaga-lembaga tinggi negara; ekskutif, legislatif, maupun yudikatif. Bahkah tindak korupsi tersebut, telah terjadi hampir di segala lini kehidupan masyarakat kita.

Dulu, pada kehidupan Muslim generasai awal, hal semacam itu bukannya tak terjadi. Kasus-kasus pencurian dan penggelapan harta rampasan, memang telah terjadi di sana. Hanya saja, sedikit orang yang melakukannya tersebut, adalah mereka yang memang benar-benar hidup dengan serba kekurangan; kondisi ekonominya betul-betul sangat terjepit. Karena tak kuat menahan himpitan ekonomi inilah, sehingga mereka terpaksa melakukan tindak pelanggaran terhadap syari’ah agama.

Tapi yang terjadi di era sekarang ini, justru sebaliknya. Penggelapan uang negara malah kerap dilakukan orang-orang yang berkecukupan. Diukur dari strata pendidikan, mereka adalah orang-orang berpengetahuan yang intelektualitasnya sangatlah cemerlang. Ditinjau dari status sosial, mereka bukanlah tergolong masyarakat kelas bawah yang terhimpit keadaan. Dipandang dari sisi birokrasi, mereka termasuk orang-orang yang menduduki jabatan papan atas dengan kelas yang terhormat. Lebih naif lagi, mereka bukanlah orang yang buta terhadap KUHP dan perundang-undang korupsi. Bahkan merekalah yang gemar berkoar tentang pentingnya penegakan hukum dan keadilan, agar negara ini menjadi sebuah bangsa yang berkemakmuran dan berwibawa di mata dunia.

Namun itulah kenyataannya. Seseorang dengan jumlah kekayaan yang melimpah, ternyata tak menjamin bahwa dirinya tak melakukan tindak korupsi. Demikian pula dengan orang yang memiliki pendidikan tinggi, jabatan tinggi dan jaringan yang luas, itu tak menjamin bahwa dirinya merasa berkecukupan. Entahlah, kemanakah rasa malu itu ketika sudah berpangkat, berkedudukan, berpenghasilan besar dan materinya berlimpah, masih saja mencuri harta negara dengan cara korupsi? Maka tak salah, jika negara ini digolongkan ke dalam kelompok negara-negara terkorup di dunia.

Dalam praktek keseharian, kita menjumpai istilah korupsi dan kolusi. Dan kedua hal tersebut hampir-hampir tak dapat dipisahkan. Sebab keduanya bermuara pada upaya kepemilikan harta yang bukan miliknya agar pindah ke kantong pribadi dengan cara-cara yang tidak sah. Tindak korupsi lebih mengarah pada penggelapan atau pencurian secara langsung. Sedangkan kolusi mendapatkannya dengan melalui cara penyuapan terlebih dahulu.

Kalau merujuk pada perumusan peraturan penguasa militer No. PRT/PM/06/1957, korupsi mengandung dua unsur. Pertama, setiap perbuatan yang dilakukan seseorang untuk kepentingan diri sendiri atau keluarga atau golongan dan atau suatu badan yang langsung atau tidak langsung menyebabkan kerugian bagi keuangan atau perekonomian negara. Kedua, setiap perbuatan yang dilakukan oleh seorang pejabat yang menerima gaji dari keuangan negara atau daerah atau suatu badan yang menerima bantuan dari keuangan negara atau daerah yang dapat mempergunakan kekuasan yang dipercayakan kepadanya oleh karena jabatannya, langsung atau tidak langsung yang membawa keuntungan material baginya.

Yang pasti, Islam jelas-jelas mengutuk perilaku korupsi dan kolusi. Sebab hal itu sangatlah bertentangan dengan Maqoshidu asy-Syari’ah; yakni tujuan diberlakukannya hukum Islam. Larangan dan keharaman secara qath’i ini, didasarkan pada ayat, hadits serta kesadaran logis para ulama’. “Allah melaknat orang yang menyuap dan menerima suap,” tandas sebuah Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Pada masa Rasulullah SAW, terjadilah sebuah peristiwa tatkala para sahabat berpulang dari peperangan dengan membawa ghanimah (rampasan perang). Setelah dichek, ternyata ada sehelai kain wol warna merah yang telah raib. Setelah dicari dalam catatan inventarisasi, juga tak ketemu. Lalu ada seorang sahabat yang mengatakan, mungkin kain wol itu dibawa oleh Rasulullah sendiri. Maka Allah SWT menurunkan ayat ke 161 surat Ali Imran yang menyatakan, bahwa beliau bukanlah orang yang curang dan bertindak korupsi atas harta rampasan perang.

Islam memandang tindak korupsi sebagai perbuatan yang khianat yang dilarang oleh Allah. Sebab penyalahgunaan jabatan untuk memperkaya diri sendiri atau orang lain, adalah merupakan perbuatan yang mengkhianati amanah yang diberikan masyarakat kepadanya. (QS. 8: 27). Bahkan perbuatan korupsi tergolong ke dalam jenis perbuatan yang lalim dan aniaya. Sebab pengumpulan harta negara itu dipungut dari segala lapisan masyarakat. Termasuk pula warga negara miskin dan buta huruf yang mereka peroleh dengan susah payah. Maka Allah akan mengancamnya dengan kecelakaan yang besar bagi pelakunya (QS. 43: 65).

Termasuk ke dalam praktik korupsi dan kolusi, jika seseorang memberikan fasilitas negara kepada seseorang lantaran menerima suap dari orang yang menginginkan fasilitas tersebut. Sabda Rasulullah SAW: “Barangsiapa yang telah aku pekerjakan dalam suatu pekerjaan lalu kuberi gajinya, maka sesuatu yang diambil di luar gaji itu adalah penipuan.” (HR. Abu Daud).

Oleh karenanya, Islam sangat menekankan agar kita mengais rezeki dengan tanpa korupsi. Sebab dari rezeki yang halal itulah, akan mendatangkan keberkahan, ketenangan hidup, ketenteraman dan kedamaian. Rasulullah SAW pernah bersabda: “Wahai sekalian manusia, makanlah yang halal dan baik dari apa yang menghampar di muka bumi ini.” Lalu Sa’ad bin Abi Waqqash berdiri sambil berkata: ”Wahai Rasulullah, berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku orang yang mustajab doanya.”

Kemudian beliau berkata kepadanya: “Hai Sa’ad, bersihkan makananmu. Tentu kamu akan jadi orang yang mustajab doanya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad ada dalam kekuasaanNya, sungguh seorang hamba yang telah memasukkan sesuap makanan haram ke dalam perutnya, maka tidak akan diterima amalnya empat puluh hari. Dan nerakalah yang lebih utama baginya.”

Yang terlintas di pikiran Sa’ad bin Abi Waqqash waktu itu, mungkin setelah didoakan Nabi SAW maka doanya akan mustajab. Lalu dirinya akan berdoa agar diberi kekayaan olehNya. Namun Rasulullah justru memberikan sebuah wejangan yang sangat berharga. Hal itu seakan bermakna, apalah artinya sebuah doa jika kehidupan kita masih tetap saja tak bisa keluar dari jeratan jaring lingkaran dosa keharaman syetan.

Harta dan jabatan, memang kerapkali membuat orang terpana dan terpesona. Mereka terserap oleh bayangan imajinya bila dapat meraup harta kekayaan yang melimpah. Maka jabatanpun dikorbankan karena tergiur iming-iming impiannya tersebut. Apalagi di dalam diri manusia itu selalu hadir syetan yang senantiasa memompa nafsu syahwatnya, sehingga sangat serakah dalam meraup gemerlap kekayaan dengan cara-cara yang nista. Maka benar kata seorang filosuf: “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup seluruh umat manusia. Tapi bumi tak akan sanggup untuk memenuhi keinginan nafsu keserakahan satu orang.”

Wallahu a’lam bishshawab.

*) Pimred Majalah Jendela Santri

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: