jump to navigation

MENEMUKAN KEMBALI KEJUJURAN 15 Jun 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , ,
trackback

Oleh Prof. Dr. H. Nur Syam, MSi *)

Di dalam sebuah acara workshop yang diikuti oleh sejumlah guru yang mengampu mata pelajaran Civic education, maka ada sebuah pertanyaan yang kontennya menggelitik kita semua. Pertanyaan itu berbunyi sebagai berikut: “Sebagai seorang guru, kita ini selalu mengajarkan kepada siswa tentang kejujuran di dalam kehidupan. Akan tetapi di semua layar televisi selalu disajikan tentang berbagai tindakan kejahatan korupsi, kolusi dan nepotisme. Semua tersaji dengan gamblang dan semua diceritakan dengan sangat jelas.” Selanjutnya juga dinyatakan: “Lalu, kita rasanya berhadapan dengan benturan antara kenyataan dan idealitas atau antara cita dan fakta, antara harapan dan kenyataan.”

Yang dikemukakan oleh guru tersebut adalah sekelumit cerita tentang bagaimana tantangan pendidik dalam menghadapi keluhan tentang langkanya “kejujuran”. Jujur merupakan kata sifat yang menggambarkan tentang perilaku atau tindakan seseorang di dalam relasinya dengan yang lain. Manusia memang selalu memiliki berbagai macam relasi, baik di dalam relasi structural, cultural, agama bahkan juga politik.

Kejujuran sesungguhnya merupakan kata kunci di dalam kehidupan. Betapa banyak masalah yang diakibatkan oleh ketidakjujuran itu. Masalah korupsi yang indeks Indonesia menempati ranking tertinggi, juga sebenarnya berasal dari ketidakjujuran itu. Orang kepingin menjadi kaya, banyak uang dan sejahtera. Akan tetapi dengan menggunakan tindakan yang tercela. Bukankah korupsi hampir saja menenggelamkan Indonesia di dalam lubang hitam kenistaan. Korupsi yang menggurita hampir saja membuat ekonomi Indonesia menjadi kolap. Krisis ekonomi yang dampaknya masih dirasakan hingga saat ini adalah diakibatkan adanya salah kelola keuangan terutama yang berbentuk korupsi itu.

Kemudian, kolusi dan nepotisme juga tidak akan pernah terjadi jika di dalam kehidupan masyarakat mengembangkan perilaku kejujuran. Kolusi terjadi karena orang melakukan tindakan mengutamakan perkawanan, persahabatan, kekeluargaan sehingga menafikan keahlian, profesionalisme dan kinerja yang baik. Bisa jadi orang yang sangat berkompeten, ahli dan professional dalam suatu pekerjaan, akan tetapi kalah oleh familialisme dan koncoisme. Demikian pula kolusi juga tidak akan terjadi jika orang tidak melakukan penyelewengan wewenang dan kekuasaan di dalam menentukan sesuatu.

Oleh karena itulah sekarang dikembangkan pakta integritas. Artinya perjanjian untuk melakukan kejujuran di dalam melakukan tindakan khususnya para pejabat. Di dalam sumpah jabatan dewasa ini dilangsungkan juga penandatangan pakta integritas. Perjanjian khusus bagi para pejabat tersebut diberlakukan untuk menjamin terimplementasikannya kejujuran dalam melakukan apa saja.

Kejujuran seharusnya tidak tergantung kepada selembar kertas. Juga tidak hanya sekedar tandatangan di atas meterai. Sebab kejujuran adalah bagian integral di dalam kehidupan kita. Kejujuran adalah pengawasan melekat (waskat). Kejujuran merupakan sesuatu yang built in di dalam kehidupan ini. Kejujuran seharusnya menjadi tabiat. Yaitu tindakan yang dilakukan tersebut secara mekanik dipandu oleh seperangkat kesadaran tentang mana yang boleh dan bisa dan mana tidak boleh dan tidak bisa dikakukan.

Kejujuran sebagai tabiat itu dapat disimak di dalam cerita Khalifah Umar bin Khattab ketika beliau melakukan inspeksi mendadak (sidak) terhadap seorang penggembala yang konon katanya seorang Badui. Khalifah Abu Bakar menyatakan akan membeli domba penggembala itu dengan catatan agar nanti kepada Tuannya dinyatakan saja, jika domba itu dimakan serigala. Penggembala itu justru menyatakan: “Tuan saya mungkin tidak tahu akan apa yang saya lakukan, tetapi Allah pasti akan mengetahuinya. Jika itu saya lakukan lalu dimana Allah.”

Tercenganglah Khalifah Umar bin Khattab mendengar ungkapan itu. Seorang penggembala domba ternyata memiliki iman yang luar biasa kuat. Bersyukurlah Khalifah Umar bin Khattab sebab ternyata di dalam diri warganya telah tertanam keimanan yang tangguh. Iman kepada Allah ternyata menjadi “pengawas” di dalam berbagai tindakan yang dilakukan.

Jika umat manusia sudah memiliki prinsip “faa’inallah” atau di manakah Allah, yang menjadi pengawas segala tindakan, maka akan terjadi pengawasan melekat yang berimplikasi kepada kejujuran dalam melakukan tindakan.

Wallahu a’lam bi al shawab.

*) Guru Besar Sosiologi dan Rektor IAIN Sunan Ampel

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: