jump to navigation

Prof. Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE 18 May 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , ,
trackback

Belajar Ekonomi Islam dari Surat An Naba’

Buah jatuh, memang tak pernah jauh dari pohonnya. Darah yang mengalir dalam diri Prof. Dr. H. Suroso Imam Zadjuli, SE, sungguh mewarisi tiap benih dan bakat sang ayah. Pintar, kritis, religius dan pantang menyerah. Maka tak heran, jika Suroso kecil pun telah menjadi incaran PKI, karena dianggap membahayakan. “Tiap generasi yang lahir dari orangtua yang pintar, akan meneruskan kepandaian pendahulunya, bahkan bisa melebihi orangtuanya. Maka, kita juga harus membunuh bocah ini,” tukasnya menirukan sekawanan PKI waktu itu dengan nada geram.

Peristiwa itu terjadi pada tahun 1948, saat terjadi pemberontakan PKI di Madiun. Tangan dan kaki lelaki kelahiran Madiun, 13 Juni 1944 ini telah dipegang oleh beberapa orang dari Pemuda Rakyat. “Saya akan disembelih,” tukas anak pasangan Imam Zadjuli dan Hj. Asmini ini. Kalaupun Suroso masih bisa menghirup udara kebebasan, itu karena perjuangan sang ibunda yang terus merengek agar anak sulungnya tersebut tidak dibunuh. “Ia hanya anak kecil yang tak tahu apa-apa,” kata ibunya meyakinkan. Sulung dari empat bersaudara ini pun kemudian dilepaskan, tapi ayahnya tetap ditahan. Bersyukur, ayahnya masih bisa diselamatkan oleh pasukan Siliwangi.

Ayah Suroso adalah tokoh masyumi jebolan pesantren Tebuireng Jombang. Seorang pejuang dari tentara Hizbullah yang pada saat zaman Belanda pernah menyamar menjadi guru pemberantasan buta huruf, sebagai tameng perjuangannya. Selain itu, ayahnya adalah seorang petani sekaligus saudagar kain yang kaya dan sukses dengan jalur perdagangan Surabaya-Madiun-Pekalongan.

Walaupun hanya tamatan SR (Sekolah Rakyat), ayahnya mampu menguasai Bahasa Belanda dan Inggris. “Itu adalah hasil pergaulannya dari hubungan dagang dengan warga Singapura dan Bawean,” jelasnya. Pada setiap kepulangannya dari berdagang, ayah Suroso selalu membawa oleh-oleh buku. “Ayah tak ingin anak-anaknya tumbuh menjadi manusia buta huruf,” ujarnya.

Tapi setelah tragedi memilukan itu, jadilah keluarga Suroso miskin mendadak. “Semuanya dikompas oleh PKI,” katanya ketus. Peristiwa itu lantas menumbuhkan benih luka kebencian pada diri Suroso terhadap PKI. “Hati ini terus terbakar ingin melakukan balas dendam,” katanya.

Kepedihan batin Suroso bertambah, ketika pada tahun 1952 ayahnya meninggal. “Saat itu, ayah tengah berbaring dikelilingi anggota keluarga. Beliau mengajak kami berdzikir, lantas berdoa. Setelah selesai, ayah memandang ke arah kami semua dengan tersenyum. Dan…,” Suroso tiba-tiba menghentikan kalimatnya. Ia menghela nafas panjang. Dengan gemetar ia membuka katup bibirnya. “Tiba-tiba semua keluarga menangis. Saya tak tahu apa yang mereka tangisi. Sebab yang saya tahu, ayah hanya terus tersenyum,” kenangnya penuh haru. “Meski saya telah duduk di kelas 2 SD, waktu itu saya masih belum menyadari kalau ayah telah meninggal,” tutur Ayah tiga anak ini.

Yang selalu membekas dalam benaknya, adalah pesan sang ayah. “Suroso, kamu jangan nakal ya nak. Ingat apa yang kamu lihat di koran dulu.” Ayahnya pernah memperlihatkan pada dirinya sebuah koran pada tahun 1948. Di halaman surat kabar tersebut, terpampang gambar Bung Karno, ibu Fatmawati, Dr. Moh. Hatta, KH. Agus Salim, Abdul Natsir sang pemersatu negara-negara Arab dan beberapa tokoh lainnya.

Saat itu usianya masih sekitar empat tahun dan belum bisa membaca. Dia hanya bisa memandangi foto-foto itu sambil mendengarkan cerita ayahnya. Tiap kisah yang diceritakan sang ayah, tampaknya telah terpahat kuat dan begitu melekat pada tabung memorinya. Buktinya, setelah mendengarkan cerita tersebut, Suroso pun lantas berkhayal. “Kalau sudah besar, saya ingin menjadi seorang Doktor ahli ekonomi seperti Moh. Hatta, ingin memahami agama seperti KH. Agus Salim yang begitu alim, dan ingin mempunyai istri dari Sumatera seperti Ibu Fatmawati. Syukur-syukur saya bisa berkunjung ke negaranya Abdul Natsir,” ujarnya mengenai impiannya waktu itu.

Sebagai anak yatim, ia kerap dicemooh. Yang menyakitkan, hal itu dilakukan oleh kerabatnya sendiri. “Anak janda saja sekolah,” ucapnya menirukan sindiran mereka. Sebutan sebagai anak janda itupun terus melekat pada dirinya, meskipun pada tahun 1954 ibunya telah menikah dengan Moh. Anwar – teman ayahnya saat mondok di Ngadirejo.

Hatinya memerih menahan sakit. Dia marah. Tapi apa mau dikata, kenyataan hidupnya memanglah demikian. Meski begitu, dirinya tak mau berputus asa. Ejekan itu ternyata telah menjelma menjadi energi yang begitu dahsyat. Semakin diejek, kian kuat pula dorongan semangat hidupnya. “Saya hanya ingin membuktikan, bahwa anak janda pun bisa sekolah,” tekadnya.

Dirinya semakin rajin belajar dan mengaji. Setelah lulus Sekolah Dasar, Suroso ikut tantenya di Madiun. Untuk bisa melanjutkan sekolah, tiap seminggu dua kali Suroso ikut temannya bekerja sebagai kacung tennis pada orang Belanda dan Tionghoa. Pekerjaan itu dilakoninya hingga dirinya lulus SMA. Suroso pun kemudian melanjutkan pengembaraan ilmunya ke jenjang Perguruan Tinggi.

Dengan membawa sepeda pancal, pakaian ala kadarnya, serta 12 buku tulis yang dimasukkan ke dalam Besek dari bambu, dia berangkat ke Surabaya. Suroso kuliah pada Fakultas Ekonomi Unair Surabaya Jurusan Ekonomi Umum. Untuk bisa lulus, dirinya harus menempuh waktu selama tujuh tahun. “Kala itu, memang masih pakai modul Belanda. Mahasiswa yang lulus, akan memperoleh gelar setingkat Master,” ujarnya.

Sambil kuliah, dirinya juga berdagang beras. Tapi sejak dirinya duduk pada tingkat Doktoral I, dia tak lagi berdagang beras. “Saya malu,” tukasnya singkat. Suroso lantas merambah bisnis yang lebih besar. Dirinya mulai menjalankan jual beli besi tua. Sebagian modal usahanya juga disalurkan di bidang ekspor impor yang dijalankan oleh temannya yang sukses dan telah memiliki empat toko besar. Suroso pun kemudian berhasil dan punya duit banyak.

Setelah lulus, Suroso diangkat sebagai dosen di Fakultas Ekonomi Unair. Semangat belajar Suroso tak pernah kendur. Beragam studi/kursus spesialisasi rajin dia ikuti hingga ke luar negeri. Diantaranya, pada Lembaga Demografi Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, tahun 1970 dan di United Nation Asian & Pasific Development Institute, Bangkok tahun 1978. Selain itu, tahun 1979 juga pernah memperdalam ilmu di Population Institute East West Centre, Hawaii, USA dan Korean Development Institute, Seoul, Korea Selatan, tahun 1979, serta United Nations Centre of Regional Development Institute, Nagoya University, Jepang, tahun 1989.

Walaupun demikian, dirinya masih belum puas kalau belum bisa menjadi Doktor seperti Moh. Hatta. Maka Suroso pun kembali kuliah. Studi S3 nya pada Fakultas Pascasarjana Unair Surabaya Bidang Ilmu Ekonomi Sektoral dan Perwilayahan, mampu dirampungkannya tahun 1986 dengan Promotor Prof. DR. H. Emil Salim (kemenakan KH. Agus Salim). “Sketsa impian masa kecil saya semakin sempurna, ketika saya benar-benar mendapat jodoh istri dari Sumatera,” tutur Suami Hj. Nurdjannah ini sambil senyum dikulum.

Tapi anehnya, semua pengalaman itu tak pernah melepaskan dahaga Guru Besar pada Fakultas Ekonomi dan Pascasarjana Unair Surabaya ini untuk terus mereguk mata air keilmuan. Ia kembali belajar dan mencari kebenaran yang lebih hakiki. Suroso akhirnya menemukan semua itu pada al-Qur’an. “Sejak dulu, ternyata saya masih iqra’ belum bismirabbika,” tuturnya. “Untuk memperoleh suatu kebenaran, ternyata ada tingkatan derajat kebenaran yaitu: Ilmu Yaqin, Ainul Yaqin dan Haqqul Yaqin,” simpul mantan Dekan Fakultas Ekonomi Unair ini.

Rektor Universitas Kebangsaan Bandung ini lantas mempelajari ekonomi Islam secara mendalam. Dia mencoba memadukan konsep ekonomi konvensional dengan ekonomi Islam yang sesuai dengan al Qur’an. Dia berkesimpulan, matematika dan statistika yang ada sekarang, bukanlah merupakan satu ilmu. Tetapi hanya merupakan sarana atau alat berpikir saja hasil perjanjian yang statis. “Para ahli matematika belum memasukkan dimensi ruang dan waktu, sehingga masih patut kita ragukan derajat kebenarannya,” kritiknya.

Dalam matematika modern, papar Dosen mata kuliah Prinsip Dasar Ilmu Ekonomi Islam Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel ini, diajarkan peralatan berpikir sebagai berikut: Himpunan ayam 3 + himpunan ayam 2 = himpunan ayam 5. Sedangkan himpunan ayam betina 1 + himpunan telor bebek 9 tidak dapat dijumlahkan karena tidak homogen/heterogen. Hal ini sesuai dengan perjanjian statis baik pada matematika tradisional maupun matematika modern.

Hal ini, menurutnya, sangat berbeda dengan prinsip dasar matematika yang tertera pada surat An-Naba’. “Himpunan bumi/tanah (ayat 6) + himpunan sinar matahari (ayat 13) + himpunan air (ayat 14) + himpunan 1 benih (ayat 15) = menjadi himpunan kebun-kebun yang lebat (ayat 16),” jelasnya.

Semakin hari, Suroso kian berkeyakinan bahwa ekonomi Islamlah yang memang benar-benar bisa diandalkan untuk mengatur roda perekonomian manusia secara benar. Maka sejak tahun 1995, Suroso telah memasukkan materi ekonomi Islam kepada mahasiswanya. Untuk menguatkan pendapatnya, dia menulis sejumlah makalah, berbicara dalam berbagai seminar, maupun menulis di koran.

Usahanya tak sia-sia. Atas sumbangan pemikirannya dalam mengembangkan ilmu ekonomi dan keuangan Syari’ah, dirinya mendapat Syari’ah Award 2002. Penghargaan itu dia terima dari Ketua Umum MUI dan Gubernur BI, serta Direktur Bank Muamalat Indonesia.

“Sudah saatnya melaksanakan praktek “norma ekonomi Islam yang terkandung dalam Al Qur’an dan Al Hadits” dalam kehidupan masyarakat sehari-hari dalam bentuk “Ekonomi Islam Positif”,” kata Ketua Program Doktor Minat Studi Ilmu Ekonomi Islam Program Pascasarjana Unair Surabaya ini. Ded

Advertisements

Comments»

1. Made Surya - 18 Aug 2010

Beliau adalah Maha Guru Saya, Maju terus Prof. sukses selalu, salam

2. Dama Wijayanti - 26 Mar 2013

Subhanallah..
Smoga kami bisa mneruskan perjuangan beliau, mengembangkan ilmu ekonomi Islam di Indonesia demi kebermanfaatannya bagi masyarakat luas. Amiin..
Trimakasih banyak atas motivasi dan keteladanan bapak Suroso 🙂
Merdeka!!

Siswa smada madiun,
Calon Maba Ekis Unair 2013. Amiin..


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: