jump to navigation

Prof. DR. Abdul Aziz Hubeisy, Apt 18 May 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , ,
trackback

Anak Ulama’ yang Hidup di Lab

Jika ingin tahu lebih banyak soal obat-obatan, tanyakan saja pada Prof. DR. Abdul Aziz Hubeisy, Apt. Sebab lelaki kelahiran 14 Juli 1938 ini, memang ahli di bidang obat. Maklum, sejak tahun 50-an, dirinya memang telah menggeluti dunia farmasi. Hampir seluruh hidupnya, ia habiskan untuk meneliti obat di Laboratorium. 

Sejak tahun 1973, ia telah dipercaya menjadi Ketua Yayasan RS Al-Irsyad Surabaya hingga sekarang. Tapi karena kesibukannya mengajar di kampus, membuat dirinya tidak bisa maksimal. Baru setelah memasuki masa tuanya, Aziz Hubeisy kerap terlihat di RS Al-Irsyad. Ia pun merasa sangat senang karena masih bisa menjalankan amanat yang ditugaskan kepada dirinya di RS Al-Irsyad. “Setelah pensiun dini dari Kampus Unair, saya jadi lebih banyak waktu untuk mengurus RS Al-Irsyad,” ujarnya bersyukur.

Awalnya, Aziz Hubeisy bercita-cita ingin menjadi dokter. Tapi kenyataan yang dihadapinya, berkata lain. Meski demikian, ia masih patut bersyukur karena tetap bisa menggeluti dunia kesehatan. Hingga sekarang pun, jika disuruh memilih, Aziz Hubeisy tetap mengatakan lebih memilih menjadi dokter daripada seorang apoteker. “Dalam dunia dokter, kita akan selalu ditantang dengan berbagai macam penyakit yang dihadapi oleh pasien. Sedang seorang apoteker, hanya bergelut dalam dunia perkembangan obat dan harus hidup dalam lab,” ujarnya.

Dunia yang dijalani Aziz Hubeisy memang sangat berlainan dengan apa yang ditekuni oleh ayahnya. Pria yang lahir dan dibesarkan dalam lingkungan sangat religius ini, adalah anak pasangan Ustadz Umar Salim Hubeisy dan Salma Zakin. Ayahnya, merupakan tokoh Al-Irsyad dan seorang ulama yang ahli di bidang fiqh. Aziz Hubeisy belajar banyak dari ayahnya mengenai soal agama. “Ayah selalu menekankan pentingnya menjaga akhlak yang baik,” katanya. Barangkali yang membuat sama adalah, mereka sama-sama menjadi guru. “Ayah seorang guru agama, sedang saya guru farmasi,” ujarnya sambil senyum dikulum.

Saat kecil, Aziz Hubeisy menimba ilmu agama di sekolah Al-Irsyad. Setelah lulus sekolah dasar, bungsu lima bersaudara ini melanjutkan ke SMP Al-Irsyad. Memasuki kelas 3, ia pun pindah ke SMP PGRI karena di SMP Al-Irsyad tidak ada kelas 3. Tahun 1954, ia melanjutkan sekolah ke SMAN 3. Setelah lulus, Abdul Aziz mencoba mendaftarkan diri kuliah di Kedokteran Unair Surabaya, namun tidak diterima. Sebenarnya dia diterima di Kedokteran UGM, namun tidak dijalaninya. “Kondisi Jogja waktu itu, tidak memungkinkan saya untuk memilih kuliah di sana,” ujarnya tanpa menceritakan persisnya.

Tapi Aziz Hubeisy tak perlu bersedih. Sebab dirinya diterima di Fakultas Farmasi pada Universitas ternama di Bandung. “Saya diterima di ITB dan lulus tahun 1964,” ujarnya bangga. Saat meneruskan kuliah di Jurusan Apoteker, dirinya diminta menjadi asisten dosen. Setelah lulus, ia langsung diangkat sebagai dosen pada 1966. Tahun 1973, ia kembali ke Surabaya karena diterima sebagai dosen di Unair dan mengajar di Fakultas Farmasi.

Nasib mujur diterimanya, saat ia dikirim untuk menempuh studi di Sub Fakulted Farmasi Univ. Leiden di negeri Belanda tahun 1976. Dalam tesisnya, ia mengambil Judul, “Theofilin: Study Eksperimental Profil Pharmacokinetic.” Sebagai pembimbingnya, adalah Prof. Nanizar Yaman Yunus, Farmdi. Sedang Ko Promotornya Prof. D.D. Braimer dan Prof. Dr. Sitiawan seorang doktor spesialis paru. Theofilin, kata Abdul Aziz, adalah sebuah obat pilihan utama untuk penyakit asma. Pharmacokinetic, merupakan studi matematik metabolisme obat dalam tubuh yang menjelaskan tentang nasib obat dalam tubuh manusia. Mulai dari absorbsi, penyerapan, distribusi, metabolisme sampai ekskresi.

Aziz Hubeisy mengatakan, bahwa telah diketahui jika perbedaan ras mempengaruhi kecepatan metabolisme dan nasib obat dalam tubuh. “Saya ingin membuktikan, apa benar ada pengaruh obat theofilin pada orang Indonesia,” katanya. Demi membuktikan itu semua, tahun 1977, ia pulang guna melakukan penelitiannya. Waktu itu, Aziz mengambil 60 sampel dari mahasiswa yang bersedia menjadi sukarelawan. 30 orang diberikan kapsul yang mengandung theofilin dengan melewati mulut (oral) dan 30 orang lainnya lewat injeksi.

Untuk mengukur kadar darah dalam plasma setelah minum obat, tiap 25 menit selama 6 jam, diambil sampel darah sebanyak 3CC dan diukur dengan alat Spectrophotometer. Lantas, Aziz Hubeisy, memplot melalui grafik dan menganalisa, serta melakukan penghitungan secara matematis. Dengan begitu, maka bisa diketahui posisi obat dalam darah. “Dari keterangan tersebut, kita baru bisa merancang dosis yang tepat untuk tiap individu,” katanya.

Setelah diteliti, ternyata memang ada pengaruhnya. Orang Indonesia, katanya, mengeliminasi obat theofilin lebih cepat dibanding orang Barat. Penyebabnya, bisa saja dari faktor genetik, lingkungan, diet, makanan, maupun besaran tubuh (body size). Ia juga menemukan, bahwa ada perbedaan antara individu yang satu dengan lain, mengenai kecepatan absorbsi maupun besaran absorbsinya. Dikatakan, waktu paruh eliminasi untuk orang Indonesia adalah 5-6 jam, sedang untuk orang Barat adalah 7-8 jam. Dengan demikian, hal ini berpengaruh pada dosis yang akan diberikan.

Kadar obat theofilin secara therapeutic, kata suami Muznah Umar Baridwan ini, adanya dalam darah orang Barat berkisar antara 10-20 mikrominigram/mm. Jika kadarnya kurang dari 10 mikrominigram, efeknya sub therapeutic (tidak memberikan efek). Dan jika kadarnya di atas 20 mikrominigram, ada gejala toksik karena mengalami over dosis. Sehingga penderita akan mengalami pusing, jantung berdebar, mual-mual, bahkan muntah. “Tapi setelah saya uji secara klinis di RS Dr. Soetomo pada pasien paru, ternyata dosis yang tepat untuk orang Indonesia berkisar antara 5-15 mikrominigram/mm,” kata kakek 4 cucu ini.

Oleh karena itulah, dalam menangani setiap pasien, haruslah dilakukan secara menyeluruh dan detail. “Sebaiknya pemberian obat kepada pasien tidak secara empirik, tapi pasti,” ujarnya. Sebab yang menentukan efektivitas obat, kata Aziz Hubeisy, bukan tergantung dari besarnya dosis. Tapi tergantung dari kadar obat di dalam plasma. Sehingga terapi obat yang benar menurut Aziz Hubeisy adalah individual dosis. “Dosis harus dirancang sesuai dengan individu masing-masing,” tandasnya.

Sayangnya, hal ini tidak bisa dilakukan di Indonesia. Minimnya fasilitas, diakui Aziz Hubeisy sebagai kendala utama. Sehingga yang terjadi, dokter di Indonesia langsung memberikan obat kepada pasien tanpa melalui proses analisa yang didasarkan pada profil pharmacokinetic terlebih dahulu. Atas penelitian yang dilakukan, pada tahun 1983, dirinya dikukuhkan menjadi seorang Doktor. Tahun 1991, ia diusulkan menjadi Guru Besar Ilmu Farmasetika Fak. Farmasi Unair Surabaya. Setelah merasa cukup mengabdi di Unair, tahun 2003 dirinya mengundurkan diri dan meminta pensiun dini di usia 65 tahun. Sebenarnya Aziz Hubeisy mau diperpanjang hingga umur 70 tahun, tapi dirinya menolak.

Belum lama dari pengunduran dirinya, Aziz Hubeisy, didatangi oleh Dekan Fak. Farmasi Ubaya dan memintanya untuk menjadi Guru Besar Tetap di Ubaya. Sejak saat itu, ia kembali ke dunia kampus dan mengajar di Ubaya. Aziz Hubeisy, juga semakin senang dengan kemajuan dunia farmasi saat ini. Menurutnya, farmasi sekarang orientasinya sudah menuju kepada bagaimana memberikan suatu terapi yang baik pada pasien. Apoteker sekarang, menurut Aziz Hubeisy, memang harus bisa memberikan pelayanan yang baik (care given) kepada pasien. Disamping itu, seorang apoteker harus memiliki kemampuan sebagai leader, manajer, serta mempunyai jiwa yang selalu ingin belajar (life long learner). Selain itu, ia juga harus bisa menjadi seorang communicator, teacher, decision maker, dan memiliki jiwa kewirausahaan.

Jadi idealnya, menurut pria yang pernah menjadi konsultan di Scofindo Laboratorium ini, para dokter nantinya harus selalu didampingi oleh seorang apoteker. “Harus ada jalinan kerjasama antara dokter dan apoteker dalam menangani pasien. Dokter yang menangani penyakitnya, apoteker yang mengembangkan obat yang dibutuhkan pasien,” katanya. Sebab sudah menjadi pekerjaan seorang apoteker, yang bergerak dari satu lab ke lab lain, untuk selalu memperbaiki kualitas obatnya. Namun minimnya tenaga apoteker yang ada, membuat pria ini prihatin. “Saat ini RS Al-Irsyad hanya memiliki 2 apoteker. Padahal, paling tidak tiap RS memiliki minimal 5 apoteker,” ujarnya.

Berbicara mengenai peredaran obat yang sekarang marak, Aziz Hubeisy berpesan kepada masyarakat agar lebih selektif dalam memilih obat. “Hati-hati terhadap peredaran obat palsu,” katanya. Abdul Aziz juga berpesan, agar masyarakat sebaiknya membeli obat di apotek, bukan di warung. Sebab katanya, beli obat di apotek, kualitas dan keasliannya terjamin. “Orang Indonesia sekarang pinter-pinter. Mereka dengan mudah meniru dan memproduksi obat yang biasanya diproduksi di pabrik,” ujarnya. Di pasaran obat, lanjutnya, masyarakat akan sangat sulit mengenali antara obat yang asli dengan yang palsu. “Kalau cuma dilihat dari bungkusnya, masyarakat pasti menilai itu obat yang sama dengan yang dihasilkan di pabrik,” tukasnya.

Masyarakat baru tahu kalau obat yang dibelinya itu palsu, setelah mereka mengkonsumsinya. Biasanya, mereka mengalami pening di kepala, mual-mual hingga muntah. “Jika sudah terjadi demikian, mereka pula yang menanggung kerugiannya,” kata Ketua Yayasan RS Al-Irsyad ini. Dedy Kurniawan

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: