jump to navigation

Drs. H.A. Syakanie Ong (Ong Lie Foe) 18 May 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , ,
trackback

Kokok Ayam Membawanya pada Islam


Menyisir garis hidup Drs. H.A. Syakanie Ong, bak menyusuri deru gelombang lautan. Betapa lika-liku kisah lelaki keturunan Tionghoa ini dalam mencari kebenaran Tauhid sejati, penuh dengan rintangan yang tak ringan. Badai kehidupan acap menghantam tiap sudut perjalanan spiritualnya. Tak surut nyali, ia pun melintasi segala bentuk aral yang melintang tersebut dengan bekal segenggam erat keyakinan; iman dan Islam.


Menambatkan keyakinannya pada agama Islam, bukanlah pilihan mudah baginya. Dia terlebih dulu harus menembus pagar tembok China yang kokoh, untuk keluar dari tradisi nenek moyangnya. Bagi warga etnis Tionghoa, keluar dari agama Konghucu sama halnya dengan memilih untuk berpisah dari keluarga. Apalagi agama Islam sangat dibenci kaum Tionghoa saat itu. Hal itu bukanlah tanpa alasan.

Saat kecil, lelaki yang punya nama asli Ong Lie Foe ini punya pengalaman menyakitkan terlahir sebagai orang Tionghoa. Dirinya kerap diejek teman sepermainannya karena mempunyai mata sipit. Saat peristiwa G 30 S/PKI meletus, rumahnya pernah menjadi sasaran amuk massa oleh warga Tanah Grogot yang beragama Islam. Warga Tionghoa dianggapnya sebagai orang kafir yang pantas diperangi. Sambil memekikkan kalimat Allahu Akbar, warga muslim melempari rumahnya. Kepala Syakanie Ong pun berdarah terkena bongkahan batu.

Karena sikap tak simpatik dari warga muslim itulah, maka etnis Tionghoa pun menjadi antipati kepada agama Islam. Sampai-sampai warga Tionghoa pun bersepakat jika sampai harus berpindah agama, maka mereka tak akan memilih Islam sebagai agamanya. Ketika Gestapu berkecamuk, para penganut Konghucu tersebut lantas lebih memilih agama Katholik sebagai agama baru mereka. Bersama warga lainnya, ia pun lantas sering pergi ibadah ke Gereja Pantekosta. Tapi dirinya mengaku hanya ikut-ikutan.

Sejak usia belia, pria yang lahir di Tanah Grogot Kab. Pasir Kalimantan Timur, 1 November 1958 ini telah akrab dengan alam. Dengan membaca semesta, ia menjadi mengerti tentang alam kejadian. Kegemerannya mengurai fenomena alam di sekelilingnya, lantas membawanya ke dalam ruang filsafat ketuhanan tentang hukum penciptaan. Serentetan pertanyaan terus membombardir alam pikirannya. Dasar hatinya bergejolak untuk segera menemukan jawabannya. Jiwanya semakin tak tenang ketika pertanyaan tentang Tuhan kembali hadir menyusup ruang sunyinya. Lambat laun, ruang keyakinannya sebagai seorang Katholik menjadi kian kabur. Kegalauan kian menyekap relung bathinnya.

Suatu waktu, dirinya pernah membandingkan dirinya dengan seekor ayam. Saat fajar pagi menyongsong, ia sering merenung. Di pagi itu, Syakani sering melihat teman-temannya yang muslim bangun untuk melaksanakan shalat subuh. Sedang ia dan keluarganya masih mendekap bantal dan guling di kasur empuk. Ia pun semakin terperanjat ketika mendengar suara kokok ayam jantan saling bersahutan. “Sejak saat itu, saya merasa malu memandang diri sendiri. Ternyata saya tak lebih baik dari seekor ayam,” katanya.

Saat duduk di bangku kelas 2 SMA, ia mulai belajar tentang Islam. Pelajaran pertama yang diterimanya adalah masalah Fiqh tentang tata cara penyembelihan hewan qurban. “Kepada hewan pun kita harus sayang, apalagi dengan sesama manusia,” tukasnya menyimpulkan. Sejak saat itulah, ia menemukan ketimpangan antara ajaran Islam yang sebenarnya dengan perilaku warga mulism Tanah Grogot. “Meski mayoritas warga Tanah Grogot beragama Islam, tapi ternyata perilaku mereka masih belum mencerminkan nilai Islam yang sebenarnya” ujarnya.

Semakin banyak ia belajar Islam, bertambah pula rasa cintanya terhadap Islam. ia pun semakin yakin, bahwa agama Islamlah yang selama ini ia cari. Islamlah jawaban atas segala kegundahan hatinya atas ribuan pertanyaan yang bersemayam dalam batinnya selama ini. Tahun 1978 saat bulan Ramadhan, ia pun meminta seseorang untuk datang ke rumahnya. Tujuannya, tidak lain untuk memintakan izin kepada orangtuanya karena ia ingin masuk Islam. Tapi keluarganya dengan tegas menolak.

Syakanie Ong pun harus rela menunda niatnya untuk masuk Islam. Meski urung menjadi seorang muslim, ia tak pernah berhenti mempelajari Islam. Hari berganti hari, bulan berganti bulan, ia lalui perjalanan masa penantian itu dengan penuh kegelisahan. Semakin lama ia tahan niatnya itu, semakin meronta hatinya. “Saat itu saya merasa harus segera menunaikan niat untuk masuk Islam,” katanya.

Selang satu tahun lamanya, tepat bulan Ramadhan, anak ke enam dari sebelas bersaudara ini resmi masuk Islam. Tentunya secara diam-diam. Ia nekat melakukannya, karena tekadnya sudah bulat. Apalagi saat itu kedua orangtuanya sedang berobat ke Surabaya. Sebelum masuk Islam, ia dikhitan terlebih dahulu. Dua bulan berlalu, keluarganya pun tahu. Rasa kecewa tak dapat disembunyikan dari raut wajah kedua orangtuanya. Buyar sudah cita-cita mereka yang ingin mewariskan usaha keluarga kepadanya. Syakanie Ong, memang telah digadang-gadang orangtuanya untuk menggantikannya. Sebab ia adalah anak paling cerdas diantara saudara-saudaranya.

Kemarahan orangtuanya pun tak tertahankan. Apalagi mereka tahu, bahwa anak kesayangannya lebih memilih Islam sebagai agamanya. Sebuah agama yang paling dibenci kaum Tionghoa. Beragam makian pun dilontarkan kepadanya. Tak ketinggalan pula para saudaranya yang kerap mendaratkan cemoohan di wajahnya. “Sejak saat itu, saya sudah tidak dianggap bagian dari keluarga,” ujarnya lirih. Tapi peristiwa itu tak pernah menyurutkan langkah Syakanie Ong sedikitpun. Bahkan aktivitasnya dalam mendalami Islam kian menjadi. Hatinya bertambah tegar.

Setelah kejadian itu, sekitar empat bulan lamanya ia meninggalkan rumah orangtuanya. Meski demikian, ia tak kesulitan mencari tempat tinggalnya yang baru. Sebab nyatanya, banyak sekali warga muslim yang mau menampungnya. Tapi ia lebih memilih tinggal di rumah temannya. Meski demikian, ia masih kerap pulang ke rumah walaupun tanpa tegur sapa. Suasana rumah pun menjadi kaku dan hampa saat ia pulang ke rumah.

Setelah lulus SMA, berbekal beasiswa yang diterimanya karena menjadi lulusan terbaik, ia memutuskan belajar agama ke Gontor. Namun baru setengah bulan tinggal di sana, ia mendengar kalau ayahnya meninggal. Dengan pergolakan batin yang amat keras, ia pun memutuskan untuk kembali pulang ke rumah, mengantarkan kepergian ayahnya ke tempat peristirahatannya yang terakhir.

Setiba di rumah, keluarganya pun terkejut. Seorang muslim yang tidak lagi menjadi bagian dari keluarga, masih mau datang saat upacara kematian ayahnya. Sejak saat itulah, pandangan keluarganya terhadap Islam sedikit demi sedikit mulai berubah. Ia pun diterima kembali menjadi bagian keluarga. Suasana haru pun menyelimuti reuni keluarga besar yang sempat terganggu tersebut. Selang seminggu setelah upacara kematian ayahnya, ia pun pamit untuk kembali belajar di Gontor.

Hanya dua tahun ia menimba ilmu agama di Gontor. Sebab dirinya merasa, bahwa pelajaran yang diberikan di Gontor waktu itu cukuplah lamban. Selain itu, masih banyak pelajaran umum yang telah dipelajarinya harus diulangnya. “Saya kan pergi ke Gontor untuk belajar agama, bukan belajar pelajaran umum,” tukasnya. Karena alasan itulah, dirinya kemudian memutuskan untuk meninggalkan Gontor.

Ia pun memilih merantu ke Surabaya. Dalam pertengahan perjalanan ke Surabaya, ia memutuskan turun di Mojokerto untuk sambang ke rumah sahabat penanya di desa Sidomulyo. Syakanie Ong memang gemar korespondensi. Hal itu dilakukannya saat dirinya menjadi seorang penyiar radio di Kaltim. Saat pencarian itulah, ia kemalaman. Ia pun memutuskan mencari masjid untuk bermalam. Tepat di masjid At-Taqwa, dirinya bertemu dengan takmir masjid yang biasa dipanggil Pak Toha. Atas izinnya, Syakanie Ong lantas menginap di masjid tersebut.

Saat adzan subuh memanggil, bersama jamaah lainnya Syakanie Ong mengambil air wudlu untuk shalat subuh berjamaah. Tak dinyana, setelah salam, sang imam yang tak lain adalah Pak Toha sendiri, meminta dirinya untuk menceritakan perjalanan hidupnya. Ia kagum karena ada muslim Tionghoa yang tengah nyasar di masjidnya. Dengan perasaan kaget campur haru, Syakanie Ong pun lantas menceritakan kisah hidupnya yang hingga pada akhirnya membawa dirinya sampai berada di masjid At-Taqwa.

Saat ia bercerita, ternyata ada seorang jamaah perempuan yang simpatik padanya. Arofah Nur Salim namanya. Ia adalah Ketua Aisyiah Cabang Mojokerto waktu itu. Atas saran perempuan muslimah tersebut, Syakine Ong menuju rumah Ustadz Abduraahim Nur di Sidoarjo dengan diantar adik bu Arofah. Ia pun diterima dan diperlakukan dengan baik oleh sang sang Ustadz. Bahkan atas anjuran Ustadz Abdurrahim Nur, Syakanie Ong diminta untuk menempuh kuliah di Unmuh Surabaya.

Saat di Surabaya, ia tinggal di Kapasan. Tepat di belakang sebuah masjid, ia menempati ruang yang hanya berukuran 3×4 m. Kamar kecil itu pun harus menyatu dengan tempat percetakan sablon dan lain-lain. Di sana, Syakanie Ong rajin sekali membantu membersihkan masjid. Jika ada genting masjid yang bocor, ia tak segan naik ke atap untuk membetulkannya. Sambil kuliah, ia pun mengajar baca tulis Arab di masjid-masjid. Kebetulan, ia suka sekali melukis. Baginya, menulis huruf Arab sama halnya dengan menyalurkan hobi melukisnya.

Setelah menyelesaikan Sarjana Mudanya pada Fak. Ilmu Agama & Dakwah di Unmuh Surabaya, ia melanjutkan studinya untuk meraih gelar S-1 di IAIN Sunan Ampel Surabaya mengambil Jurusan Aqidah & Filsafat pada Fak. Ushuluddin dan lulus tahun 1987. Di tahun itu pula, bersama muslim Tionghoa lainnya, ia mendirikan PITI. Tahun 1996, dirinya ikut merilis pendirian Masjid Cheng Hoo. Hingga saat inipun dirinya masih menjabat sebagai Dewan Pembina Yayasan Haji Muhammad Cheng Hoo Indonesia. Tujuannya, memfasilitasi warga Tionghoa yang ingin mempelajari Islam secara benar.

Gunjingan dan cemoohan ternyata tak hanya mengikuti perjalanan kisahnya saat mengantarnya masuk Islam. Pada saat dirinya telah menjadi seorang juru dakwah, hal tersebut masih kerap didapatkannya. Maklum saja, jalur dakwah yang dipilih Syakanie Ong lain dari pada ustadz-ustadz yang lain. Sebab nyatanya, ia lebih suka berdakwah pada kaum penjudi dan pemabok. Bahkan ia tak canggung jika harus menemani mereka bermain kartu dan catur hingga larut malam. “Saya melihat tak ada bedanya mereka dengan kaum Tionghoa yang dikucilkan di masyarakat. Oleh karena itu, metode yang digunakan bukanlah kita yang memanggil mereka, tapi kita lah yang harus menghampiri mereka,” ujarnya. Dedy Kurniawan

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: