jump to navigation

MTs Darul Ulum Rembang Pasuruan 9 Apr 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Madrasah di Jawa Timur.
Tags: , , , , ,
trackback

Memacu Kreativitas dari Ruang Keterbatasan

Hidup dalam serba keterbatasan, bukanlah hal yang perlu dikeluhkan. Dengan meratapi nasib, kita hanya akan melahirkan ketakberdayaan – yang ujung-ujungnya menjadikan kita sebagai sosok yang tak mandiri. Barangkali, kita perlu mencontoh bagaimana MTs Darul Ulum Rembang memanfaatkan sudut ruang sempit kehidupan untuk melahirkan ide yang cemerlang.

Seperti ghalibnya sekolah yang lahir di desa, tak banyak yang dimiliki MTs Darul Ulum Rembang. Madrasah di bawah naungan Yayasan Peasantren Darul Ulum Rembang Pasuruan itu hanya menempati petak tanah kecil di belakang MI Darul Ulum. Bahkan demi memenuhi syarat akreditasi, sang kepala sekolah pun merelakan ruangnya disulap menjadi perpustakaan dan berkantor satu ruangan dengan para guru.

Fasilitas pembelajaran pun jauh dari memadai. Tengok saja laboratorium komputer yang berada di pojok kanan kantor TU. Jangan membayangkan komputer itu laiknya Pentium berkecapatan tinggi semisal dual core atau bahkan core 2 duo. Untuk mengopi paste satu file berjenis JPEG yang hanya berbobot 300 KB saja, dibutuhkan waktu lebih dari lima menit.

Memang sulit bagi MTs Darul Ulum untuk memenuhi kebutuhan fasilitas pembelajaran yang begitu mahal. ”Jangankan membeli peralatan, gaji guru yang kami berikan pun jauh dari layak,” ucap sang Kepala Sekolah, Drs. H. Mahfud Suhendra, MM lirih.

Suntikan dana kepada MTs Darul Ulum memang minim. Sejak didirikan sepuluh tahun yang lalu, sekolah ini tak pernah menarik uang gedung dan uang pendaftaran. ”SPPnya waktu itu masih 4.500 rupiah. Sementara madrasah ini hanya mampu membayar gurunya 5 ribu per jam,” ujar lelaki kelahiran Tuban, 16 Mei 1959 ini. Baru tahun 2005, SPP itu naik menjadi Rp. 12.500 dan sekolah ini sanggup membayar gaji guru 7.500 per jam.

Beruntung, madrasah ini masih memiliki pemimpin yang memiliki otak dan visi yang cemerlang seperti Mahfud. Sejak diangkat sebagai Kepala Sekolah pada tahun 2003, PNS di lingkungan Diknas itu pun langsung mencanangkan program pemberdayaan kreativitas guru dan murid. Sebab dia sadar, jika kompetisi antar sekolah sudah luar biasa ketat.

Menurutnya, rasio keluaran siswa MI dengan daya tampung MTs di Kec. Rembang adalah seimbang. Sadar akan hal itu, ayah empat anaka itu pun lebih mementingkan perbaikan kualitas daripada memperbesar kuantitas. ”Jika sekolah tidak bisa dibuat besar, maka harus dibuat bagus,” ujarnya. ”Bagus itu dalam artian padat kegiatan baik intra maupun ekstra,” tambah suami Wiwik Winarningsih ini.

Prinsipnya, sarana boleh saja kalah, tapi kegiatan harus jauh lebih padat. Dirinya juga sangat berobsesi menjadikan MTs Darul Ulum sebagai pioner dan madrasah paling inovatif. Pada tiap tahunnya, dia menekankan harus ada sesuatu yang baru. Baik itu gedungnya atau kegiatannya. ”Orang berpikir, banyak kegiatan selalu identik dengan banyaknya biaya. Tapi tidak dengan madrasah ini,” ujar alumnus Jurusan Administrasi Publik FKIP Universitas Gresik ini. ”Jika kami ditanya memiliki apa, modal kami hanyalah semangat guru dan murid,” tukasnya menambahkan.

Untuk menyiasati beban biaya kegiatan yang begitu besar, madrasah ini turut melibatkan partisipasi masyarakat, para tokoh, wali murid, dan juga para alumni dalam agenda kegiatannya. Di bidang pengkaderan alumni, madrasah ini bisa dibilang cukup berhasil. Beberapa alumni diikutkan kursus pelatihan di Saka Bayangkara dan Saka Bhakti Husada dengan biaya mandiri. Ilmu yang mereka dapatkan, selanjutnya ditransferkan kepada adik-adiknya di sekolah. ”Hampir sebagian besar kegiatan kami, khususnya pramuka, dibina oleh para alumni,” ucapnya bangga.

Saat ini, sudah banyak alumni MTs Darul Ulum yang menjadi pendamping pramuka di sekolah-sekolah lain. Yang lebih menggembirakan Mahfud, madrasah ini pernah menjadi wakil peserta dari Jawa Timur dalam Jambore Nasional di Jatinangor Sumedang Jawa Barat pada tahun 2006.

Selain pramuka, madrasah ini masih memiliki kegitan outbound. Tak butuh tempat yang luas. Madrasah ini cukup memanfaatkan kolam dan halaman sekolah yang sempit. Tiap hari Jum’at dan Sabtu, tak usah heran jika kita menyaksikan siswa putra maupun putri banyak berdiri di atap gedung sekolah berlantai dua itu.

Menatap tanpa rasa takut, satu persatu dari bocah-bocah yang baru saja beranjak remaja itu pun dengan riangnya meluncur dari atap gedung menggunakan tali. Di sisi yang lain, perempuan berjilbab meluncur dari lantai dua menuju pohon mangga di sebelah masjid. ”Itu merupakan exstreme game untuk melatih keterampilan individu,” tukasnya.

Selain halaman sekolah, mereka juga memanfaatkan sungai yang ada di sekitar desa. ”Jika di sungai, kami melakukannya sehari penuh dan diikuti seluruh siswa. Kegiatan itu juga bagian dari promosi sekolah kami,” tuturnya sambil mengulum senyum. Tentu saja, pihak sekolah tak sembarangan memberikannya. Sebelum diajarkan ke siswanya, pihak madrasah terlebih dahulu mendatangkan pelatih dari BASARNAS (Badan SAR Nasional) untuk melatih para guru. Selama seminggu penuh, para guru berlatih di bawah bimbingan tenaga profesional.

Ketika ada lomba outbound tingkat SLTA se-Kab. Pasuruan beberapa waktu lalu, madrasah ini turut serta berpartisipasi. ”Lombanya memang tingkat SLTA, tapi panitia membolehkan MTs/SMP ikut jika memenuhi syarat,” terangnya. Hasilnya, MTs Darul Ulum ditetapkan sebagai Juara III dalam lomba itu.

Madrasah ini juga memiliki kegiatan sambang deso, meski sifatnya tidak wajib. Tiap sebulan sekali pada minggu ke empat, siswa OSIS bersama guru olah raga mengunjungi situs-situs bersejarah dengan menggunakan sepeda angin. Tidak itu saja. Ketika ada warga desa yang meninggal, maka seluruh siswa termasuk guru segera menghentikan proses belajar mengajar. Semua pergi melayat. ”Momen itu biasa kami gunakan untuk memberikan pengalaman langsung kepada siswa. Bagaimana cara memandikan, mengkafani, menyalati hingga menguburkan mayat,” jelasnya.

Di kala penerimaan siswa baru tiba, madrasah ini menggelar MOS selama tiga hari dan mewajibkan murid baru menjalani karantina di sekolah. Yang menarik, pengisi materinya kebanyakan dari luar. Selain alumni, juga melibatkan tokoh masyarakat semisal Kepala Desa, Kapolsek Kec. Rembang, IPNU, Kyai, hingga modin kampung. ”Semuanya gratis. Bahkan tak jarang mereka sendiri yang menawarkan ingin mengisi,” ucapnya bersyukur.

Kerjasama dengan berbagai elemen masyarakat tersebut, ternyata tak hanya berhenti sampai di situ. Warga yang memiliki keterampilan tertentu pun kerap dihadirkan untuk mengisi pelajaran di sekolahnya. ”Biasanya kami sesuaikan dengan materi jam pelajaran di kelas,” ujar alumnus S2 Prodi SDM Unmer Malang ini.

Maka, jika ada warga yang pandai membikin kerajinan, akan diberi waktu pada jam pelajaran seni dan budaya. ”Itu pun mereka lakukan dengan suka rela dan tanpa mengharap imbalan,” terangnya. ”Jadi, guru di sini selain mengajar, juga harus bisa berfungsi sebagai manajer, fasilitator, mediator dan moderator,” tambah mantan Ketua Koperasi Serba Usaha ”Permai” Bangil ini.

Proses karantina ternyata tak hanya berlaku bagi siswa baru. Siswa yang tengah menempuh UN pun harus menjalani proses karantina di sekolah. Minimal selama empat hari, bersamaan dengan pelaksanaan ujian. Kegiatan ini biasa mereka sebut Super Camp atau mondok luar biasa yang dikemas santai. Jadwalnya padat. Mulai pukul 3 pagi hingga jam 9 malam.

Yang menarik, semua jatah makan tiap siswa ditanggung sendiri oleh wali murid sendiri. ”Kami tidak masak. Orangtua wajib mengirim pada jam-jam yang kami tentukan. Dan itu pun harus berupa makanan, tidak boleh dikasih uang,” papar mantan Pengurus Yayasan Pesantren Industri Pasuruan itu.

Selain itu, madrasah ini masih memiliki tim rebana al-Banjari. Juga seni penulisan Khat al-Qur’an – khususnya khat Farisi – yang telah menjadi ciri khas madrasah ini. ”Sebelumnya, kami juga sempat memberikan keterampilan cetak sablon. Sayang hanya bisa berjalan setahun karena biayanya mahal,” sesalnya.

Padatnya beragam kegiatan yang dimiliki sekolah, tentu memerlukan kerja ekstra dari para guru. ”Menjadi guru itu, pintar saja tidak cukup. Tapi juga harus bener dan kober,” tegasnya. Demi kesejahteraan gurunya, pihak sekolah terus memperjuangkan haknya untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi. Saat ini, dari 20 guru yang ada, enam diantaranya sudah bersertikasi. ”Dan alhamdulillah, setelah ada BOS, sedikit demi sedikit kami sudah mulai dapat memperbaiki kesejahteraan guru dengan memberikan gaji Rp. 12.500 per jam,” tuturnya.

Fasilitas pembelajaran pun mulai ditingkatkan, meski belum maksimal. Di lima ruang kelas yang tak bisa dibilang bagus itu, kini sudah dilengkapi dengan VCD Player dan TV 21 Inchi. Beberapa buku sudah mulai tampak memenuhi rak-rak perpustakaan. Wali murid pun kini lebih tenang, karena anak-anaknya tak lagi dipungut biaya sekolah alias gratis. Tapi, ada obsesinya yang belum terwujudkan. ”Kami ingin ada english dan arabic area dengan penggunaan bahasa terapan,” harapnya. Dedy Kurniawan

Advertisements

Comments»

1. Mahfud Suhendra - 10 Aug 2010

Mas Dedy, meski terlambat banget, mewakili seluruh rekan2 di lembaga kami, kami mengucapkan jazakallah khoiron katsiro. Semoga jadi amal ibadah yang mampu memotivasi atau menginspirasi rekan sejawat lain.
Barokah usaha ikhlas mas Dedy, MTs Darul Uum Rembang Pasuruan, kini seluruh jenjang kelasnya paralel.
Prestasi enam bulan terakhir sbb:
1. Juara I baca puisi pd pekan muharam ,
2. Juara I Al-Banjari,
3. Juara I Lomba pidato Bahasa Arab HUT Proklamasi ke 65,
4 Juara III Lomba Tingkat 3 Pramuka
5. Juara III Lomba Pidato Bahasa Inggris,
Yang berbentuk ekspedisi
1. Penyelenggara Perjusami tk kecamatan,
2. Pelaksana Upacara Hari Jadi Pramuka,
3. Pembina Damping dalam out bond tigkat SD,
Yang belum diumumkan:
1. Lomba Gerak Jalan dalam rangka HUT Prolaasi ke 65.
Mohon do’a dan advis serta dukungan moril ,materiil maupun spiritual untuk kemajuan ke depan.
Mohon rekan kunjungi blog kami di: http://darululumrembang.blogspot.com
juga kirim advis anda ke e-mail kami : darul_ulum_rmbg@plasa.com

2. MTs Darul Ulum Rembang Pasuruan : Memacu Kreativitas dari Ruang Keterbatasan « Dunia Guru, Madrasah dan Tulisan Sekedar - 12 Oct 2010
3. aries - 10 Nov 2010

JUARA AKADEMISINYA MANA PAK…
NE BLOG TEAM CREATIV SUNAN AMPEL JUARA I LOMBA BERGENGSI BLOG SEKOLAH TAHUN 2009 YANG DIADAKAN PT. TELKOM KERJA SAMA DENGAN DIKNAS KOTA DAN KABUPATEN PASURUAN.Klik disini salam


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: