jump to navigation

Korupsi Itu Tanda Matinya Nurani 9 Apr 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Wawancara.
Tags: , , , , , , ,
trackback

KORUPSI di Indonesia sampai detik ini masih membudaya. Ibarat jamur di musim penghujan, korupsi telah mewabah hampir di setiap lini kehidupan berbangsa-bernegara mulai dari institusi pemerintah hingga institusi swasta. Mesti upaya pemberantasan korupsi telah dilakukan, namun ternyata hasilnya masih jauh dari harapan. Lalu, dari mana semestinya upaya pemberantasan korupsi dimulai? Apa saja yang harus dibenahi untuk mewujudkan Indonesia yang bebas korupsi?

Saiful Amin Ghofur, koresponden JENDELA SANTRI di Yogyakarta, menemui Prof. Dr. Ahmad Syafii Maarif, MA, mantan Ketua Umum PP. Muhammadiyah, di kediamannya beberapa waktu lalu.

Berikut petikan wawancaranya:

Buya Syafii, sebelum kita membincangkan ihwal korupsi, bisa cerita sedikit tentang sesuatu yang amat berkesan dalam hidup Buya?

Sebenarnya tak ada yang sangat berkesan dalam hidup saya, kecuali memang kebetulan saya dilahirkan dalam keluarga dengan lingkungan keislaman yang kental di Sumpurkudus, Sumatera Barat, 31 Mei 1935.  Keluarga saya selain bertani juga berdagang. Mungkin karena sudah terbiasa dengan keadaan yang serba pas-pasan, sampai sekarang saya berusaha untuk hidup sederhana dan bersahaja. Tidak glamor. Ya, bisa dibilang prinsip hidup, Mas.

Apa ada kaitannya dengan proses pendidikan Buya?

Dulu saya sekolah di sekolah rakyat negeri. Nggak punya ijazah,  sebab masih zaman revolusi. Beruntung saya bisa merangkap sekolah di Madrasah Mualimin Lintau, Sumatra Barat sampai kelas tiga. Tapi sebelum ke Lintau saya sempat nggangur tiga tahun karena revolusi. Baru setelah itu saya belajar di Jogja.

Tapi selama ini Buya dikenal sebagai tokoh yang sering melontarkan kritik?

Begini, Mas. Bagi saya, kritik bukan berarti menghujat. Kritik itu mengingatkan. Ini komitmen saya. Saya nggak segan-segan mengkritik kekeliruan, meski terhadap teman sendiri.

Contohnya?

Pak Amien Rais pernah saya kritik ketika dulu sedang berseteru dengan Gus Dur. Saya bilang kepadanya agar bersikap tepo seliro. Nggak usah mengkritik dengan kalimat-kalimat yang terlalu pedas. Inti kritik ya itu tadi, mengingatkan. Jadi, kalau mengingatkan ya harus dengan cara sopan.

Apa hal itu juga berlaku terhadap aparatur negara?

Oh ya jelas, Mas. Lha kritik kan sama halnya dengan amar makruf nahi munkar.

Bisa Buya beri penjelasan dalam kaitannya dengan fenomena korupsi di negeri ini?

Baik. Kita urai dulu dari kinerja pemerintah saat ini. Saya melihat usaha pemerintah selama ini belum berhasil menangani berbagai bidang. Saya tidak menyebutnya gagal, tapi sangat tidak memuaskan. Dalam penegakan hukum, misalnya. Selama ini, hukum hanya diberlakukan secara kaku dan formalitas, namun tidak memenuhi rasa keadilan masyarakat. Padahal, hukum itu harus diterjemahkan menurut akal sehat dan hati nurani. Karena itu, untuk memenuhi rasa keadilan, harus difungsikan kembali akal sehat dan hati nurani. Hanya hati nurani dan akal sehat itulah yang bisa menjawab siapa yang sebenarnya berada di jalur yang benar dan siapa yang berbuat salah dan culas.

Jadi, sikap moral, etika bernegara dan berdemokrasi itu sangat penting bagi kita. Berdalih di balik aturan yang tertulis dalam hukum itu bisa dipermainkan. Kita lihat saja di antara hakim, jaksa, pembela, dan polisi sudah mempermainkan hukum siang dan malam jika di belakangnya tidak didukung oleh akal sehat dan hati nurani. Jadi, yang sudah lumpuh selama ini adalah akal sehat dan hati nurani. Maka harus dipulihkan secepatnya untuk menatap masa depan bangsa yang lebih cerah.

Apa faktor itu yang menyebabkan korupsi sulit diberantas, Buya?

Bisa juga. Kita dipertontonkan konflik antara sesama penegak hukum seperti KPK, Polri, dan Kejaksaan yang cukup menghebohkan negeri ini di akhir 2009 lalu. Itu sangat memalukan.

Kenapa memalukan?

Karena penyelesaiannya oleh Presiden tidak tegas. Umpamanya begini, waktu masyarakat sudah ramai dan demo-demo agar Bibit dan Chandra dikembalikan ke posisinya semula di KPK, baru Presiden membentuk Tim 8. Tim 8 bekerja selama dua minggu hingga tanggal 16 November. Kinerja yang diserahkan oleh Tim 8 cukup memuaskan. Tapi kemudian hasil Tim 8 itu, oleh Presiden dilemparkan lagi ke Kepolisian dan Kejaksaan. Ini, menurut saya, merupakan pertunjukan yang tidak menarik. Sebab, itu menunjukkan ketidaktegasan dari Presiden. Mestinya sesudah Presiden membentuk Tim 8, ya sudah hasilnya diputuskan, nggak usah dilempar lagi. Sebab makin memperlambat hasilnya. Itu makin meragukan bagi orang tentang efektivitas dari pemerintahan sekarang ini.

Apa ini akibat pola kepemimpinan SBY yang sering dianggap tidak tegas?

Itu memang karena kepemimpinan Susilo Bambang Yudhoyono. Memang kita tidak terlalu berharap banyak dari dia. Hanya karena dia terpilih dan mendapatkan legitimasi konstitusional, kita lihat saja nanti. Mudah-mudahan dia bisa mengubah cara berpikir, bersikap, dan bertindak yang terlalu lamban. Saya tidak tahu, apakah sejauh ini sudah muncul ketidakpercayaan dari masyarakat kepada dia.

Menurut Buya apa yang mesti dilakukan?

Saya kira masyarakat sipil harus bergerak. Namun harus dengan mengindahkan hukum dan konstitusi. Jangan bertindak di luar konstitusi. Sebab, ternyata pemerintah ini hanya mau bertindak jika sudah ada tekanan dari rakyat. Itu malah menghabiskan energi kita dan cukup melelahkan bangsa ini. Penahanan Bibit-Chandra dan upaya kriminalisasi terhadap KPK waktu itu kan terjadi ketika KIB II baru terbentuk. Maka pada 29 November 2009 kemarin bola itu merambat ke mana mana, sampai akhirnya kasus Bank Century diproses. Ini sama sekali tidak membahagiakan dan tidak memberi harapan untuk melangkah ke masa depan menyelamatkan bangsa ini meskipun SBY sudah mendapatkan legitimasi konstitusional dengan meraih 60,8 persen pemilih.

Kalau soal korupsi, bagaimana?

Korupsi itu tanda ketidakjujuran dan matinya nurani. Boleh dibilang, kejujuran sudah tergadaikan. Jika dirunut, ini akibat budaya politik kita yang hipokrit. Budaya ini mulai bersemi setelah beberapa periode Presiden Soeharto memegang kendali kekuasaan sejak mengambilnya dari Presiden Soekarno pada tahun 1965. Gaya Presiden Soeharto dalam mempertahankan kekuasaan politiknya memang secara bertahap diwarnai proses “kepura-puraan”. Pura-pura berdemokrasi pada hal oligarki atau bahkan bisa disebut otoriter. Pura-pura kapitalis padahal lebih dominan pembagian kue ekonomi di sekeliling orang-orang dekat dan keluarganya. Pura-pura negara kaya padahal hanya dalam angka-angka statistik. Banyak lagi perilaku ke pura-puraan, hipokrisi yang sampai akhir kekuasaannya menjadi budaya bangsa yang sukar untuk dihilangkan. Nah, korupsi itu wujud dari sikap pura-pura tadi. Pura-pura memperjuangkan rakyat, tapi justru menjarah uang rakyat.

Jika dikaitkan dengan pendidikan?

Menurut saya, pola pendidikan kita juga ikut andil dalam menumbuhkan sikap korupsi. Lihat saja, berbagai kecurangan dalam pelaksanaan Ujian Nasional lalu. Ada isu soal bocor, sampai kunci jawaban yang sengaja diedarkan. Itu korupsi namanya. Setidaknya, membentuk mentalitas korup. Jadinya para siswa nggak Pede dengan kemampuannya. Mereka sudah diajari nggak jujur dengan dirinya sendiri.

Terakhir, ada pesan dari Buya?

Bangsa ini nggak akan bisa keluar dari jeratan korupsi jika tidak dimulai dari instrospeksi. Pemberantasan korupsi harus terus dilakukan pemerintah. Tapi di sisi lain, saya kira perlu disusun kurikulum pendidikan antikorupsi di sekolah. Sekarang sudah ada kantin kejujuran di sejumlah sekolah. Walau masih belum maksimal, tapi kantin kejujuran itu penting untuk menumbuhkan sikap tanggung jawab terhadap perbuatannya sendiri. []

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: