jump to navigation

Efek Jera Bagi Para Koruptor 9 Apr 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Wawancara.
Tags: , , , , ,
trackback

Banyak pejabat korup ditangkap dan dipenjarakan. Sayangnya, hukuman yang ditimpakan kepadanya, seringkali tak sebanding dengan jumlah rupiah yang “dikemplangnya”. Tak jarang pula, mereka yang baru menjalani setengah dari masa hukumannya bisa kembali menghirup udara bebas. Yang lebih aneh lagi, banyak kasus korupsi yang berhenti di ruang persidangan. Artinya, seseorang yang diindikasikan kuat melakukan korupsi, malah diputus bebas oleh hakim.

Pertanyaan pun menyembul dalam benak: terlibatkah mereka? Apa pula motif seseorang melakukan korupsi? Bagaimana bisa seseorang dapat melakukan korupsi dengan gampangnya? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, wartawan Jendela Santri Dedy Kurniawan mewancarai Direktur Pusat Studi Demokrasi dan HAM (PuSDeHAM) yang juga Dosen Fisip Universitas Airlangga Surabaya, Muhammad Asfar. Berikut petikannya:

Akhir-akhir ini banyak sekali kasus korupsi terungkap. Ironisnya, banyak sekali pejabat yang terlibat. Bagaimana pendapat Anda?

Praktek korupsi, sebenarnya sudah berlangsung sejak lama. Kalau pun sekarang banyak kasus korupsi yang terbongkar, itu karena hasil kerja keras aparat penegak hukum. Dibentuknya lembaga extra ordinary seperti KPK adalah salah satu bentuk komitmen dan keseriusan pemerintah untuk memberantas tuntas korupsi. Hasilnya, tidak sedikit para pejabat pemerintah yang sudah dipenjarakan karena melakukan korupsi.

Tapi ada yang menilai, ada kepentingan politik di balik pengungkapan kasus tersebut?

Banyak orang berspekulasi, bahwa pengungkapan kasus korupsi adalah akibat konflik kepentingan antar partai politik. Menyerang lawan politik dengan mengungkap borok korupsi sang lawan, memang bisa saja dilakukan. Tapi apa pun motifnya, masih ada keuntungan yang bisa dipetik dari pengungkapan kasus tersebut. Dari kasus itu, kita bisa belajar dan jadi semakin tahu, apa saja motif dan bagaimana modus kerja para koruptor. Selain itu, kita juga mengetahui jaringan yang terlibat di dalamnya.

Anda melihat ada yang salah dalam sistem kita?

Dari proses politik hingga proses hukum, semuanya masih masih lemah dalam melindungi dan mencegah terjadinya korupsi. Kejahatan korupsi di Indonesia melibatkan banyak pihak. Polisi penyelidik perkara seringkali terlibat jaringan makelar kasus. Begitu juga dengan jaksa dan hakim yang bisa disogok. Walau demikian, saya yakin korupsi di Indonesia masih bisa diberantas.

Butuh waktu berapa lama?

Memberantas korupsi memang membutuhkan waktu yang lama. Tapi dalam konteks yang dekat, pemerintah harus memaksimalkan penegakan hukum dengan prinsip keadilan dan profesional. Tidak lagi berpihak pada kepentingan.

Seperti apa konkretnya?

Orang melakukan korupsi itu kan karena ada faktor pendorong dan penariknya. Orang tertarik melakukan korupsi, karena dia dapat mengumpulkan uang berlimpah dalam jangka waktu singkat tanpa harus melalui jalan bersusah payah. Sementara faktor pendorongnya, adalah rendahnya gaji pegawai di Indonesia. Meski demikian, korupsi tak akan terjadi, jika sistem penegakan dan pencegahan korupsi berjalan tegak.

Sebagai orang yang taat beragama, bagaimana Anda melihat fenomena ini?

Memandang kasus korupsi yang terjadi di Indonesia, saya lebih suka jika menghubungkannya dengan sistem penegakan dan pencegahan hukum daripada menghubungkan dengan etika, moral maupun agama. Pendidikan, agama, moral dan etika memang membantu pencegahan korupsi. Tapi jika tidak ada sistem yang tegas, hal itu menjadi sia-sia.

Mengapa?

Orang yang melakukan korupsi itu bukan orang yang tidak berpendidikan. Bahkan mereka paham tentang agama. Kita pun sudah tahu, bahwa Departemen Agama juga tak bersih dari praktek korupsi. Bahkan tak jarang para koruptor, malah mencari pembenaran dalam agama.

Usul Anda?

Harus ada efek jera bagi para koruptor. Pelaku korupsi yang merugikan keuangan negara harus dihukum maksimal. Mereka yang melakukan korupsi hingga triliunan rupiah harus dihukum mati. Masak… mereka yang korupsi miliaran, apalagi triliunan rupiah, hukumannya sama dengan yang korupsi jutaan rupiah ? []

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: