jump to navigation

Sulitnya Mencari Wali Nikah di Tosari 23 Mar 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , , , , , ,
trackback

Oleh Dedy Kurniawan

Tosari merupakan pintu masuk ke Gunung Bromo di ka­wasan wisata Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru dari arah Pasuruan. Kecamatan ini berada di ketinggian 1.700 meter dpl, dan sebagian penduduknya merupakan Suku Tengger.

Sementara KUA Kec. Tosari berada di sebelah Barat Pasar Tosari. Letaknya be­r­ada di atas tebing cu­ram. Dari jalanan ke­cil beraspal, kita ma­sih harus naik mele­wa­ti tanah bebatuan yang tak rata, sekitar 100 m. Tepatnya di belakang Masjid be­sar Mujahidin – dulu bernama Masjid A­mal Bhakti Muslim Pancasila. Gedung itu hanya seluas 12 x 6 me­ter, satu area de­ngan masjid. Tak ada pagar pembatas. La­han tanah masjid dan KUA ini, merupakan tanah wakaf dari Pak Paris, yang hingga se­karang masih beragama Hindu. Di depan gedung KUA – atau lebih tepatnya di bawahnya – terhampar sawah dengan tanaman kentang dan kubis.

Tak banyak fasilitas yang bisa ditemui di KUA ini. Hanya sebuah mesin ketik tua, teronggok di meja yang tak lagi terlihat bagus dan telepon kantor yang berada di ruang Kepala. Warna tembok pun sudah usang dilumat cuaca. Bagan pengumuman yang menempel di tembok pun, sudah terlihat begitu tua dengan tulisan ta­ngan yang tak begitu rapi.

Semua proses administrasi di KUA ini dilakukan secara ma­nual, karena masih belum ada komputer. Dokumen yang ada pun, ditempatkan begitu saja pada rak kecil yang sempit. Walau angka N di Tosari begitu kecil, KUA ini jelas membutuhkan tenaga dan fasilitas yang lebih. Sebab wilayah geografis Kec. Tosari berada di daerah pegunungan yang tinggi dan curam.

Antara desa yang satu dengan desa yang lain di Kec. Tosari, dipisahkan oleh hutan pinus, cemara dan sebagian pohon karet. Suhu udara dingin di wilayah ini mencapai 18oC. Kabut pun turun tak mesti. Kadang jam 9 pagi hingga pukul 11 siang. Lalu meng­hilang dan muncul kembali pada jam 12 siang. Tak heran, jika kita akan merasa seperti hidup dalam nuansa pagi sepanjang hari.

Tak banyak sinar matahari menerpa kampung ini. Maka, aktivitas rutin yang dapat kita lihat di sini hanya pada jam 8 hing­ga 4 sore. Sebab mayoritas masyarakat Tosari bermata pen­caharian sebagai petani sayur mayur, sekitar 95 %. Sedangkan sebagian kecil dari mereka hidup sebagai Pegawai Negeri Sipil, buruh, pedagang sayur mayur dan jasa persewaan Home Stay dan Jeep Hard Top sebagai transportasi ke Bromo. “Mengadakan ke­giatan pada malam hari sangat tidak efektif di sini. Paling malam, habis Maghrib,” tutur Kepala KUA Tosari, Rokhmad, S.Ag.

Penduduk muslim di Kec. Tosari hanya berjumlah 6.430 ji­wa, hampir separuh dari jumlah umat Hindu yang mencapai ang­ka 11.643. Sedangkan pemeluk agama Kristen hanya 110 o­rang.

Angka peristiwa N (nikah) di Kecamatan ini termasuk yang paling rendah di antara 24 Kecamatan di Kab. Pasuruan. Sepanjang tahun 2007, hanya ada 73 peristiwa N dan 1 cerai gugat. Jumlah ini menurun pada tahun 2008, menjadi 51 peristiwa N. Sedangkan cerai gugat bertambah satu menjadi 2 kasus.

Rendahnya angka N di tahun 2008 itu, kata suami Ismatul Izzah ini, karena tahun itu adalah Tahun Pahing. Sesuai keyakinan Suku Tengger, tahun Pahing adalah tahun panas dan bukanlah tahun persaudaraan. Jadi sangat tidak baik bagi mereka yang akan melangsungkan pernikahan.

Di KUA Kec. Tosari, ayah dua anak ini hanya dibantu oleh seorang staf, M. Rofik, SHI dan satu orang tenaga sukwan, Al­fi­a­tul Masluro. Selama hampir enam tahun bekerja di KUA ini, Rokhmad telah merasakan manis getirnya sebagai penghulu. Ban bocor di tengah jalan hutan yang sepi sudah sering dialaminya saat akan menikahkan.

Jika sudah demikian, ia biasa menitipkan sepedanya di rumah warga atau modin setempat. Bahkan tak jarang, ia harus menaruh sepedanya begitu saja di hutan, dan selanjutnya meneruskan perjalanan dengan jalan kaki. “Kalau sudah musim hujan begini, sudah pasti kami banyak jalan kaki,” ucapnya.

Selain sulitnya menjangkau lokasi, hal yang paling rumit dihadapi Rokhmad adalah ketika akan melakukan pencatatan nikah dan menjadi penghulu di sini. Permasalahan itu hampir selalu mun­cul dalam setiap prosesi acara akad nikah. “Sulit mencari wali bagi mempelai wanita di sini,” ujar alumnus Fak. Syari’ah Pro­gram Studi Mu’amalah Jinayat pada STAIN Solo ini.

Ketika menjelang akad nikah dilangsungkan, seperti biasanya, Rokhmad selalu bertanya tentang siapa yang akan menjadi wali mempelai perempuan. Dirinya mesti teliti dan berhati-hati dalam menentukan wali. “Kadang ayahnya ada, tapi masih beragama Hindu. Sedangkan pamannya, juga beragama Kristen. Adapun saudaranya yang beragama Islam, tidak bisa menjadi wali karena masih belum baligh,” jelasnya sambil mengernyitkan dahi. “De­ngan demikian, tak jarang pernikahan di Tosari harus dilakukan dengan wali hakim. Dan saya merasa terhormat dan bangga menjadi wali dari suku Tengger,” tambahnya.

Meski hidup dalam lingkungan SARA yang begitu kental, warga Tosari tetap mam­pu membangun kerukunan antar umat beragama. “Ada yang mengatakan, Tosari ada­lah maskotnya SARA di Jawa Timur, bah­kan nusantara,” tukasnya. Sebab, tak sedikit dalam satu keluarga di Tosari, biasa dihuni oleh beberapa pemeluk agama. “An­ta­ra orang tua, anak, kakek maupun cucu, tak jarang memiliki keyakinan yang ber­beda,” terangnya.

Kerukunan ini bisa dicapai, jelas pria yang masuk sebagai CPNS tahun 2000 di KUA Kec. Tosari ini, karena masyarakat Su­ku Tengger mempunyai sifat yang luhur, jujur dan apa adanya. Sikap masyarakat Su­ku Tengger pun dikenal ramah tamah dan ter­buka, menjunjung tinggi rasa persaudaraan dan kegotong royongan, serta tidak menge­nal nama Marga (keluarga) karena di dalam Suku Tengger tidak mengenal Kasta.

Kerukunan antar umat di Tosari, ujar­nya, juga berkaitan erat dengan keyakinan agama asli orang Tosari. Warga Tosari sebenarnya lebih menganut pada Agama Budi Kaweruh. Keyakinan mereka terhadap adat begitu kuat. “Istilahnya, silahkan beragama apapun, tapi tak me­ninggalkan adat Tengger. Sehingga bisa dikatakan, agama orang sini adalah bentuk dari Islam Tengger, Hindu Tengger maupun Kristen Tengger,” katanya. “Jadi, ritual adat semacam Yadnya Ka­sada dan Hari Raya Karo, bukanlah milik agama Hindu seperti yang diklaim banyak orang. Tapi milik warga asli suku Tengger,” tambahnya menjelaskan.

Semua ritual upacara yang ada, selama itu bertujuan untuk mencari berkah keselamatan dan kedamaian, akan didukung oleh semua warga. “Maka jangan heran, jika kita bisa menyaksikan umat Hindu juga merayakan Maulid Nabi Muhammad Saw. di Tosari. Begitu juga umat Islam yang ikut merayakan Hari Raya Karo,” ucapnya.

Secara tradisi, jelasnya, upacara perayaan Hari Raya Karo masih tetap dilestarikan bagi seluruh warga suku Tengger di Gunung Bromo. Hal ini sekaligus sebagai ciri dari Desa Tengger, dan dilakukan oleh mereka yang beragama Hindu, Kristen, maupun Islam. “Upacara biasanya dipimpin oleh seorang dukun yang membacakan puja mantra pembukaan Hari Raya Karo (mekakat). Namun doa penutup upacara dilakukan oleh pimpinan lintas agama, Hindu, Kristen, dan Islam,” katanya.

Selesai melaksanakan upacara Karo, satu per satu warga kemudian saling kunjung untuk bersilaturrahmi (Dederek). Tak heran jika selama Hari Raya Karo warga suku Tengger menyediakan aneka jajan dan makanan serta libur bekerja. “Ini seperti tradisi pada hari raya Idul Fitri bagi umat Islam. Mereka akan merayakan jauh lebih meriah dibanding melakukan upacara Yadnya Kasada,” ucapnya.

Akulturasi budaya Tengger yang begitu kuat dengan Islam, membuat pria kelahiran Pasuruan, 29 Februari 1975 ini harus eks­tra hati-hati dalam berdakwah. Salah sedikit saja dalam me­langkah, bisa mengarah ke perpecahan antar umat beragama. Dan itulah yang tidak pernah diinginkan suku Tengger yang cinta damai.

Ia mengakui, ritual semacam di Tengger memang sangat rawan terhadap aqidah umat Islam. Tapi dengan pendekatan persuasif dan dakwah bil hal, lambat tapi pasti, dirinya yakin umat muslim di Tengger sudah mulai bisa memilih dan memilah mana yang boleh dan tidak boleh dilakukan. “Berdakwah di Tosari harus de­ngan strategi. Konsep dakwahnya harus memakai tipologi uswah dan jangan membawa simbol-simbol agama,” tukasnya.

Pelan-pelan, dirinya menjelaskan Islam secara kaffah melalui berbagai penyuluhan dan kegiatan keagamaan lainnya. Dalam menyikapi adat Tengger yang kuat, dirinya meniru konsep dakwah Nabi saat Amar bin Yahsir dipaksa oleh Abu Jahal meninggalkan Islam. “Nabi berkata wamastukrihu ar ruhi al-Qolam. Yang pen­ting hatinya masih meyakini bahwa Islam tetap menjadi agamanya dan Allah sebagai Tuhannya,” kilahnya. “Saya pun meniru konsep dakwah wali songo. Sebab, metode dakwah yang dipakai para wali songo dalam menyebarkan Islam di Jawa pun terbukti efektif di Tosari ini,” tambahnya.

Hasilnya, sedikit demi sedikit, banyak umat Hindu yang tertarik kepada Islam. “Mereka mengaku tertarik, karena Islam mengatur kehidupan ini dengan begitu lengkap. Akhlaq mulialah yang dapat membuat mereka terpesona dengan ajaran Islam,” tukasnya.

Dari tahun ke tahun, umat Islam di Tosari semakin bertambah. Hingga kini, sudah ada 22 masjid di Tosari. Lebih banyak dari jumlah Pura yang hanya 12 dan 1 Gereja. Meski masih minoritas, kegiatan keagamaan Islam di wilayah ini cukup padat. Ada sekitar 38 majelis taklim tercatat di sana. Tosari juga memiliki 11 TPQ, lebih banyak dari Peradah, yaitu kegiatan keagamaan umat Hindu yang hanya ada 8 kegiatan.

Comments»

1. i GEDE INDRAYASA - 7 Jan 2011

agama yang besar bukan karena kuantitas tetapi lebih ditentukan oleh kualitas dan prilaku moralitas serta implementasi dari ajaran itu bukan hanya JAGO BERCERAMAH DAN BERTEORI TETAPI PRAKTEK NOL BESAR!!!!! HIDUP HINDU

2. dlondonge wong tengger - 12 Jan 2011

reang wong Tengger asli Seng nggarai Rusak Tengger wong tiru rika IKI Ajo kemeroh isine Tengger…Ora suwe RIka ng Tengger ….Pendatang Kesroh Mengagamakan orang beragama Ngrusak tata cara tengger ngawe POlitisasi AGAMA ,,,ajo kakaean bacot nang Tengger nek ora pengen kualat.

3. anom - 13 Jan 2011

untuk komentar yang diatas, sebaiknya jangan terlalu berpendapat bahwa golongan Anda yang terbaik. Saya juga beragama Hindu tapi saya kurang setuju jika harus mengagungkan agama saya di atas agama lain. Semua agama memang tidak sama, tapi tak sepantasnya Hindu mengagungkan diri seperti itu. Kesederhanaan dan rendah hati adalah kunci utama dari sebuah kehidupan yang baik, begitu juga kehidupan beragama.

Mengenai masalah konversi agama pada suku Tengger di Tosari, saya sangat menyayangkan hal itu. Kurangnya Sradha dan pengetahuan yang luas akan Agama Hindu-lah yang menurut saya menjadi faktor utamanya. Ini adalah tanggung jawab kita sebagai generasi penerus Agama Hindu untuk senantiasa mendampingi saudara-saudara yang masih kurang Sradha-nya. Mudah-mudahan saya bisa membantu ketika dibutuhkan.

Sekian komentar dari saya. Salam sukses untuk kita semua. Terima kasih.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: