jump to navigation

Antara Simbol dan Aktualisasi Ajaran Agama 1 Mar 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Artikel.
Tags: , , , , , ,
trackback

Benarkah, Islam kini cuma sebatas simbol semata. Faktanya, di Indonesia – yang mayoritas muslim, nilai ajaran Islam tak lagi bisa berdiri tegak. Korupsi merata di semua lini kehidupan. Kriminalitas merajalela. Kenakalan remaja kian mencuat. Segala ragam rupa tindak maksiat pun, tak lagi tabu di masyarakat.

Menurut Prof. Dr. Ahmad Zahro, MA, ini adalah buah pemahaman agama yang tak dimanifestasikan dalam kehidupan sehari-hari. ”Kata paham adalah wilayah intelektualitas, bukan spiritualitas,” tukasnya. Orang yang paham, jelasnya, bukan berarti mesti menghayati, apalagi mengamalkan. ”Paham itu, hanya sekedar tahu. Yang pasti, orang makin pintar dan paham, makin bisa berbuat banyak. Tergantung apakah akan digunakan untuk berbuat hal yang positif atau negatif,” tandasnya.

Selama penanaman pohon nilai agama masih belum masuk ke dalam relung hati dan diamalkan secara maksimal, tegasnya, maka buah ajaran agama pun akan sulit dipetik. Semua agama, ujar Direktur Program Pascasarjana IAIN Sunan Ampel Surabaya ini menjelaskan, selalu mengajarkan kebaikan. Semua agama melarang korupsi, maksiat, serta perilaku menyimpang lainnya. ”Tapi, ketika agama hanya menjadi sebuah label, sebuah simbol dan hanya menjadi kulit luar, maka sebaik apa pun ajaran itu, tidak akan ada gunanya. Bahkan kadang-kadang disalahgunakan,” papar alumnus Fakultas Adab Universitas al-Azhar Kairo Mesir ini menegaskan.

Walau hanya sekedar ajaran moral, terangnya mencontohkan, namun jika dihayati dan diamalkan bagi orang yang percaya, maka akan berdampak pada nilai-nilai ruhaniyah yang berefek pada tindakan-tindakan jasmaniyah. ”Ini sebenarnya soal internalisasi ajaran, bukan sekedar simbol ajaran, deklarasi ajaran, ataupun formalisasi ajaran,” tukas pria kelahiran di Nganjuk 7 Juni 1955 itu.

Maka, agar pengajaran agama bisa menginternal, paparnya, penanaman nilai-nilai agama harus bersamaan dengan moral agama. ”Semisal ajaran shalat. Kita harus bisa menggali nilai-nilai yang terkandung dalam shalat, sehingga kita benar-benar bisa mencapai tujuan shalat, yaitu tanha ’anil fakhsyai wal munkar,” tuturnya.

Penciptaan lingkungan menjadi sangat penting di sini, agar nilai ajaran itu bisa tertanam dan mudah terlaksana. Sebab, faktor pendidikan yang terpenting, menurutnya, sebenarnya adalah faktor lingkungan. Baik lingkungan keluarga, sekolah maupun masyarakat. ”Setelah itu, baru faktor pendidik dan potensi anak didik itu sendiri. Selain itu, hanyalah sebagai penunjang,” tukasnya.

Menurutnya, ada perbedaan mencolok antara pendidikan zaman lampau dengan sekarang. Hal itu terletak pada faktor keteladanan. ”Dulu, interaksi guru murid lebih personal. Sekarang sudah bergeser kepada lembaga atau institusi. Sebab saat ini, satu guru menangani banyak murid dengan perilaku yang beragam,” paparnya.

Di zamannya dulu, Ustadz Zahro – demikian ia karib disapa – biasa belajar pada keteladanan perilaku guru ngajinya, selain belajar kitab tentunya. ”Dengan meneladani sifat dan sikap guru yang baik, akan memudahkan kita belajar sesuatu. Rasulullah sukses berdakwah pun, karena uswah beliau,” ucapnya.

Maka, peringatan maulid Nabi Muhammad Saw., lanjutnya, merupakan moment penting untuk membangkitkan memori keteladanan Rasul. ”Nama peringatan itu sebenarnya kan memiliki arti tegas, yaitu untuk memperingatkan kita,” ujarnya. Di dalamnya ada ceramah dan pencerahan yang bisa menambah wawasan dan membuka memori keteladanan terhadap Rasulullah. Sebab saat itu, sejarah Rasul (diba’ atau barjanji) dibacakan. ”Sayangnya hanya dibaca sebagai wirid. Memang tidak salah membaca diba’ atau manakib. Tapi ya.. seyogyanya bisa diterangkan makna dan nilai-nilainya,” tukasnya.

Semua pelaksanaan peringatan maulid ini, terlepas dari pro dan kontra atas hukum memperingati maulid nabi. Sebab menurutnya, hal ini lebih merupakan hasil ijtima’ ulama dalam hubungan interaksi sosial.

Inti keteladanan Rasulullah itu, papar penulis buku ‘Tradisi NU; Lajnah Bahtsul Masail 1926-1999’  itu, ada tiga macam. Pertama, adalah Uswah Ta’abbudiyah (ritual). Keteladanan ritual ini harus persis sebagaimana yang dicontohkan nabi. Prinsipnya, ibadah ritual harus sesuai dengan al-Qur’an dan Al-Hadits. ”Jadi tidak boleh mengarang, walaupun tuntunan itu ada bermacam-macam,” ucapnya. ”Semisal shalat Dhuhur harus dikerjakan 4 rakaat dan cara shalat pun demikian. Tapi doanya, ada beberapa macam,” tambah Rektor Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (UNIPDU) Jombang ini.

Kedua, Uswah Ijtima’iyah (keteladanan sosial), yaitu keteladanan nabi yang terkait dengan kemasyarakatan. Semisal, bagaimana model kepemimpinan nabi dalam mengatur negara dan umat. Saat itu, terangnya, nabi masih belum punya mentri. Model pemerintahannya masih sederhana. ”Kalau mau ditiru, ya silakan saja. Kalau mau dikembangkan, juga tidak apa-apa. Intinya yang kita ambil dari keteladanan Rasulullah dalam kaitan ini, adalah ide besar kepemimpinan Rasulullah,” terangnya.

Ketiga, Uswah Tsaqafiyah (Keteladanan Kultural). Ini sifatnya lokal. ”Nabi itu orang Arab. Kita boleh saja meniru budaya Arab dan boleh tidak,” tandasnya. Semisal dalam hal berpakaian. Begitu juga dengan  memelihara jenggot. Menurutnya, semua hal itu adalah produk budaya. ”Lantas, kenapa kita harus saling ngotot memperdebatkannya,” selorohnya. Ded

Comments»

No comments yet — be the first.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: