jump to navigation

Muslimah Hafsari 27 Feb 2010

Posted by Dedy Kurniawan in Tokoh Nusantara.
Tags: , , , , , ,
trackback

Menggambar Pelangi dari Pulau Terpencil

Jika Anda seorang guru, berceminlah pada ketabahan dan keikhlasan Muslimah Hafsari. Pada suatu pagi di pertengahan tahun 70-an, hujan turun sangat lebat. Petir menyambar-nyambar dengan kilatan yang membuat degup jantung kian berpacu cepat. Sepuluh murid yang ada di dalam kelas, diliputi rasa takut yang teramat mencemaskan.

Sementara ibu guru mereka belum juga datang. Kesepuluh siswa itu akhirnya merapat ke dinding papan, agar terhindar dari semburan air hujan yang masuk lewat atap yang bolong. Maklum, atap itu terbuat dari kayu bulin yang dipotong kecil-kecil. Ukurannya sekitar 8 x 30 cm. Kalau terkena panas hujan berkepanjangan, atapnya akan berlubang dan bisa jatuh satu demi satu.

SD Muhammadiyah Gantong Belitong Timur yang reot bak gudang kopra itu, memang hampir saja roboh. Dindingnya yang terbuat dari papan juga tampak mulai rapuh. Sewaktu-waktu akan mudah pula terbang tertiup angin. Yang mengenaskan, jika musim hujan sudah mulai turun. Sebab kambing-kambing pun juga pada masuk, sehingga mengubah ruang kelas itu menjadi kandang kambing. Seperti biasanya, keesokan harinya mereka membersihkan kembali kotoran kambing yang baunya sangat menyengat itu.

Meskipun demikian, semangat Muslimah Hafsari tak pernah mati. Segala kondisi yang ada dijalaninya dengan penuh kesabaran dan ketabahan. Dirinya merasa, ini semua adalah demi menguji keikhlasan hatinya setiap hari. Itulah pasalnya, kesepuluh murid yang terjepit di antaran kilatan petir itu merasa yakin, bahwa Ibu Mus – panggilan karib Muslimah Hafsari – pasti akan datang mengajar.

Tak berselang lama, dari kejauhan tampak Ibu Mus berlari-lari kecil dengan berpayung daun pisang. Perempuan sederhana yang hidupnya jauh dari hiruk pikuk kota ini, memang bukanlah sosok yang mudah runtuh semangatnya hanya gara-gara hujan. Semangat itu pula yang membuat sekolah anak-anak miskin pedalaman ini tetap bertahan. Melihat kondisinya yang memprihatinkan, sekolah ini rencananya memang akan ditutup.

Mendengar kabar buruk tersebut, Muslimah Hafsari kontan saja berteriak kesana-kemari untuk meminta bantuan. Sayangnya, hasilnya hanyalah nol semata. Sebagai manusia biasa, wajar jika dirinya nyaris patah arang. Sebab ketika mencurahkan keluh kesahnya kepada seorang teman di sebuah institusi, dia malah mendapatkan jawaban yang mengenaskan: Sudahlah Mus, kalau anak-anak miskin itu tak mampu lagi melanjutkan sekolahnya, bubarkan saja! “Jujur saja, jawaban itu membuat hati saya terasa sangat sesak sekali,” kenangnya menahan haru.

Padahal jika sampai batas waktu tertentu tak mendapatkan 10 anak, maka sekolah ini segera akan ditutup. Maka satu demi satu murid pun dikumpulkannya. Ketika batas waktu sudah menjelang, masih terkumpul 9 anak. Kegelisahan pun segera menyelimuti jiwanya. Dan tepat beberapa saat hampir habis waktunya, seorang ibu mengatarkan anaknya berlari melewati padang rerumputan menuju sekolah. Itulah pasalnya, Ibu Muslimah memberikan kepada kesepuluh anak itu julukan Laskar Pelangi.

Lewat film Laskar Pelangi yang bertutur tentang kehidupan 11 anak Belitong inilah, nama Muslimah Hafsari dikenal di seantero negeri. Dari sanalah kemudian banyak mata yang terbelalak, betapa ada perempuan berusia 20 tahun yang mau mengabdikan dirinya untuk pendidikan. Padahal gajinya waktu itu cuma Rp. 3.000,-. Bahkan terkadang sebulan hanya dibayar 1.300 rupiah. Untuk hidup kesehariannya, lulusan Sekolah Kepandaian Putri (SKP) ini mengkaisnya melalui keterampilan menjahit dan menyulam.

Namun justru kesederhanaan perempuan inilah, yang membuat hati Andrea Hirata berdesir untuk menulis sebuah karya agung untuknya. Bagi penulis novel Laskar Pelangi – yang pernah mengenyam pendidikan tinggi di UI dan Universitas Sorbonne Paris ini, perempuan berkerudung inilah yang menyihirnya menjadi rakus ilmu dan cinta pengetahuan.

Andrea Hirata merasa lega bisa membayar janjinya, dengan mempersembahkan karya yang dipersembahkan buat ibu gurunya tercinta. Sebab meskipun 30 tahun lebih berlalu, sosoknya masih saja terekam di relung sanubarinya. Namun bagi Muslimah Hafsari sendiri, sebenarnya dirinya tak minta apa-apa. Sebab tak ada hal yang lebih menggembirakan, selain murid-muridnya berhasil mengejar pelanginya. “Kata Andrea, saya ini merupakan sosok pahlawan baginya. Saya pikir kok berlebihan, karena saya hanya manusia biasa,” tuturnya datar-datar saja. “Kalau sudah tinggi, tak usah disanjung-sanjung. Nanti jatuh ke buminya lebih jauh lagi,” tambahnya bernada mengingatkan.

Kesederhanaan Muslimah Hafsari memang teramat luar biasa. Dia tak pernah memimpikan dirinya menjadi orang yang terkenal. Itulah yang membuatnya tak mengenali Andrea Hirata, saat berkunjung kepadanya lima tahun lalu. Ketika Andrea mengaku telah membuat buku khusus sebagai penghargaan kepadanya, Muslimah Hafsari malah menukas: ”Kenapa kisah ini haus ditulis?” tanyanya. “Ketika itu saya sudah mau menangis karena terperangah. Anak sekecil itu kok bisa membaca keprihatinan gurunya,” kata nenek tiga cucu ini mengenang.

Muslimah Hafsari memanglah sosok guru yang sangat mengagumkan. Lantas dari mana sebenarnya dia belajar keteladanan itu? Contoh terbaik datang dari ayah saya. Ketika dia sudah mulai sakit-sakitan, namun tetap saja bersemangat kalau diajak ngobrol soal pendidikan,” ujarnya. “Saya rasa sampai detik terakhir hidupnya, ayah masih mau memberikan ilmu. Jadi.. saya juga harus begitu. Apapun kondisinya akan saya jalani selama diri saya masih mampu,” tekadnya.

Satu hal yang dipesankan Muslimah Hafsari kepada semua guru, janganlah sekali-kali menyakiti anak baik fisik maupun batinnya. Sebab murid akan selalu mengenang gurunya sepanjang hayat. “Kalau kita menyakiti perasannya, dia mungkin akan benci selamanya kepada kita. Tetapi kalau kita memberi sesuatu yang berkesan, ya inilah kenyataannya, ujarnya sambil menunjuk buku Laskar Pelangi.

Kisah Muslimah Hafsari mengingatkan kepada kita, bahwa guru merupakan kunci keberhasilan siswa. Dan kemiskinan bukanlah alasan untuk berhenti belajar, berkreativitas dan mengejar prestasi. Dengan kegigihannya, anak-anak dari pulau kecil yang terpencil di selat Karimata itu, kini telah menjadi orang yang melampaui lulusan sekolah-sekolah favorit ternama. Bahkan figur pribadinya sendiri, telah menginspirasi jutaan orang untuk segera berbuat sesuatu bagi pendidikan di negeri ini.

Betapapun juga sosok teladan dari pulau Belitong ini, telah membangkitkan semangat para guru untuk tetap gigih, sabar, tabah dan ikhlas dalam menghadapi kesulitan yang ada. Kecintaan terhadap dunia pendidikan inilah, yang kelak bakal memajukan anak generasi negeri ini dalam menatap pelangi masa depannya. Sebab pendidikanlah yang bisa mengubah nasib seseorang dan bangsanya.

Muslimah Hafsari sama sekali tak pernah bermimpi, bahwa kelak dirinya bakal bertemu dengan Ketua PP Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin. Dia pun sama sekali tak menyangka, jika sutradara terkenal Riri Reza berkunjung ke rumahnya. Disamping kisah hidupnya difilmkan, dirinya juga mendapatkan penghargaan dari PGRI, Depdiknas di Jakarta, menerima Aisyiah Award di Yogyakarta, serta dari beberapa lembaga lainnya. Lebih bersyukur lagi, perhatian tersebut juga datang dari  para petinggi dan donatur, yang kini turut membantu pendidikan di sebuah sudut dunia yang semula tak kita kenal. Il

Advertisements

Comments»

1. rahardi - 10 Aug 2011

Pertamax… jangan kaya Darsem,, Kacang Lupa Kulit,,


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: